Anda di halaman 1dari 16

Anggota kelompok

1. Ayu Lu’lu’ul Jannah (151001005)


2. Desi Anjarsari (151001008)
3. Faradela Sendi (151001013)
4. Mitha Febriyantrisna (151001024)
5. Widya Pangestu Ambarwati (151001045)
6. Wiwik Aryunani (151001046)
DEFINISI

• Menurut Smeltzer dan Bare (2001), sindrom nefrotik


merupakan gangguan klinis yang ditandai dengan peningkatan
protein dalam urine secara bermakna (proteinuria),
penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema
dan serum koesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas
rendah (hiperlipidemia).
ETIOLOGI

1. Sindrom nefrotik bawaan


o Diturunkan → resesif autosomal / karena reaksi
maternofetal.
o resisten terhadap semua pengobatan.
o Gejalanya : edema pada masa neonatus
o Prognosis : buruk → biasanya penderita meninggal
dalam bulan-bulan pertama kehidupan.
2. Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh :
o Malaria kuartana atau parasit lain
o Penyakit kolagen seperti lupus eritomatosus diseminata,
purpura anafilaktoid
o Glomerulonefritis akut / glomerulonefritis kronis, trombosis
vena renalis.
o Bahan kimia → trimetadion, paradion, penisilamin, garam
emas, sengatan lebah, racun otak, air raksa
o Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis
membranoproliferatif hipokomplementemik
Manifestasi Klinis

• Edema : umumnya terlihat pada kedua kelopak mata →


lambat laun edema menjadi menyeluruh → pinggang, perut
dan tungkai bawah sehingga penyakit yang sebenarnya
menjadi tambah nyata.
• Kadang-kadang pada edema yang masif terjadi robekan pada
kulit secara spontan dengan keluarnya cairan → edema pada
semua jaringan → menimbulkan asites, pembengkakan
skrotum atau labia, bahkan efusi pleura.
• Proteinuria dan albuminemia.
• Hipoproteinemi dan albuminemia.
• Hiperlipidemi khususnya hipercholedterolemi.
• Lipid uria.
• Mual, anoreksia, diare.
• Anemia, pasien mengalami edema paru
Patofisiologi
Permeabilitas dinding kapiler
glomerulus yang sebabnya belum
diketahui

keluarnya protein terdiri atas campuran albumin dan protein


yang sebelumnya terjadi filtrasi protein didalam tubulus
terlalu banyak akibat dari kebocoran glomerolus dan
akhirnya diekskresikan dalam urin

protein hilang lebih dari 2 gram perhari yang terutama terdiri


dari albumin yang mengakibatkan hipoalbuminemia
edema muncul bila kadar albumin serum turun dibawah 2,5
gram/dl.

edema terjadi karena penurunan tekanan onkotik/ osmotic


intravaskuler yang memungkinkan cairan menembus keruang
intertisial,

Keluarnya cairan keruang intertisial

Edema
Klasifikasi

1. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal (MCNS : minimal change


nephrotic syndrome)
Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada
anak usia sekolah. Anak dengan sindrom nefrotik ini, pada
biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila dilihat dengan
mikroskop cahaya.
2. Sindrom Nefrotik Sekunder
Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus
eritematosus sistemik, purpura anafilaktik, glomerulonefritis,
infeksi system endokarditis, bakterialis dan neoplasma
limfoproliferatif.
3. Sindrom Nefrotik Kongenital
Faktor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif
autosomal. Bayi yang terkena sindrom nefrotik, usia gestasinya
pendek dan gejala awalnya adalah edema dan proteinuria.
Penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian
dapat terjadi pada tahun-yahun pertama kehidupan bayi jika
tidak dilakukan dialysis.
Pemeriksaan Penunjang

1. Urine lengkap
Volume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguria).
Warna urine kotor, sediment kecoklatan menunjukkan adanya
darah, hemoglobin, mioglobin, porfirin.
2. Uji Darah
Albumin serum meningkat,kolesterol serum
meningkat,hemoglobin dan hematokrit meningkat,laju endap
darah (LED) meningkat,elektrolit serum bervariasi dengan
keadaan penyakit perorangan
3. Uji diagnostic
• Rontgen dada menunjukan adanya cairan yang
berlebihan
• USG ginjal, dan CT scan ginjal atau IVP menunjukan
pengkisutan ginjal
• Biopsi ginjal bias menunjukan salah satu bentuk
glomerulonefritis kronis atau pembentukan jaringan
parut yang tidak spesifik pada glomeruli
PENATALAKSANAAN

1. Istirahat sampai edema tinggal sedikit ,batasi asupan natrium


sampai kurang lebih 1 gram/hari secara praktis dengan
menggunakan garam secukupnya dan menghindari makanan
yang diasinkan. Diet protein 2-3 gram/kg BB/hari
2. Cegah infeksi ,antibiotic hanya dapat diberikan bila ada infeksi
Pengobatan kortikostreroid yang dianjurkan International
cooperative study of Kidney Disease in Children adalah selama
28 hari prednison diberikan peroral dengan dosis 60 mg/hari
Terapi :
•Istirahat
•Diet rendah garam, protein
•Diuretic
•Steroid
•Siklofosfamid
• Penatalaksanaan Keperawatan
• Baringkan pasien setengah duduk karena adanya cairan
dalam rongga torak akan menyebabkan sesak nafas
• Berikan bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit
(bantal di letakkan memanjang karena jika bantal melintang
maka ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan
edema berat
KOMPLIKASI

1. Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang


rendah akibat hipoalbuminemia.
2. Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1
gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat
sehingga menyebabkan shock.
3. Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem
koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.
4. Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau
kegagalan ginjal.

Terima kasih 