Anda di halaman 1dari 26

FABRICATION AND IN-VIVO EVALUATION OF LIPID

NANOCARRIERS BASED TRANSDERMAL PATCH OF


KOLKISIN

Kelompok 9:
Dindha Pratiwi Setyaningrum (152210101010)
Zulaikha Permata Swardini (152210101024)
Jumahwi (152210101041)
Husniya Faradisa (152210101054)
CONTENT :

1 Latar Belakang Penelitian

2 Bahan

3 Metode

4 Hasil

5 Kesimpulan
Latar Belakang
Penelitian
Gout merupakan suatu Colchicine adalah alkaloid Oral
penyakit yang ditandai yang ditemukan dalam Namun, pengobatan
dengan deposisi ekstrak tumbuhan Colchicum dengan colchicine dikaitkan
monosodium urate autmnale yang merupakan dengan faktor-faktor risiko
monohydrate (MSU) dalam pilihan dalam pengobatan tertentu seperti mual,
cairan sinovial dan jaringan gout akut karena onset aksi muntah diare, sakit perut dll
lainnya. yang cepat
intravena

Tujuan : Topikal
Dipilih sistem nanocarrier (Patch
1. untuk meningkatkan bioavailabilitas colchicine
berbasis lipid seperti SLN Transdermal)
dengan memasukkannya dalam transdermal
memiliki manfaat yaitu:
berbasis SLN
biodegradable, non toksik,
2. untuk mengevaluasi in vivo potensi anti-gout
muatan obat besar,
pada tikus yang diinduksi Monosodium urate.
Skrining awal
Bahan
dilakukan untuk memilih lipid padat. Lipid padat 1. Colchicine
yang berbeda dicoba diantaranya: Kolliwax 2. Kolliwax Glyceryl Monostearate (GMS)
GMS, Creamer GMS, Compritol 888, Asam
stearat. 3. Tween 20
4. Sodium lauryl Sulphate (SLS)
5. Air murni

Dilakukan untuk memilih surfaktan, diantaranya 6. Tikus Wistar jantan dengan berat 230-250
Tween 20 ,Tween 80 dan Pluronic F68 gram digunakan untuk permeasi kulit ex-vivo

4
Preparasi nanopartikel lipoposterik padat
(C-SLNs)

Fase air yang tersisa


Lipid padat dilebur pada suhu ditambahkan dan hasil
75 0C. 6 dispersi, disonikasi selama
. 15 menit kemudian direndam
dalam es untuk pembentukan
C-SLN.
Jumlah obat yang dibutuhkan
1 5
ditambahkan ke dalam massa Selanjutnya disonikasi dengan
yang meleleh, kemudian probe sonikator selama 30 menit,
dipanaskan selama 10 menit lalu didiamkan dengan es batu
pada suhu konstan 75 0C dan disimpan pada suhu 40C
selama 5 menit.
2 4
Fase berair terdiri dari tween
20 (1,5% v / v) dan SLS (0,1% Fase berair ditambahkan ke
fase lipid dan dicampur
b / v). dipanaskan pada suhu 3 secara menyeluruh dengan
75 0C selama 10 menit.
menggunakan magnetic
stirrer pada 600 rpm selama
10 menit.
C-SLN yang disiapkan
dimurnikan dari obat yang
tidak dipreparasi dengan
sentrifugasi.

7
Colchicine di masukkan
dalam SLN pada suhu 4 0C
selama 2 jam menggunakan
lanjutan
sorvallMX,150 ultracentrifuge

8 10
Pellet kemudian di tambah
Pelet SLN Colchicine yang PBS dan digunakan untuk
diperoleh setelah studi lebih lanjut.
sentrifugasi dicuci dua kali 9
dengan buffer fosfat salin
untuk menghilangkan obat
yang tidak ingin dipreparasi
6
C-SLN disiapkan dengan proses ultrasonikasi. Proses sonikasi
bertanggung jawab untuk pengecilan ukuran partikel dengan efek
kavitasi. Siklus sonikasi pertama dilakukan selama kondisi panas
untuk memecah partikel yang terbentuk menjadi ukuran kecil
sementara siklus sonikasi kedua untuk menghindari terganggunya
nanopartikel lipid pada fase solidifikasi
Evaluasi C-SLN
Transmission
Ukuran partikel, Electron
zeta potensial X-Ray Diffraction
Microscopy study (XRD)
dan indeks (TEM)
polidispersitas

Persentase Uji permeasi kulit Uji penetrasi kulit


Entrapment secara ex-vivo dengan mikroskopi
effciency (EE%) fluoresensi dan Uji
Stabilitas

8
HASIL DAN DISKUSI
Ukuran partikel, zeta potensial dan indeks
polidispersitas

Metode : Sampel-sampelnya ditempatkan di dalam cuvette kapiler kemudian


dianalisis menggunakan instrumen Malvern.

Hasil:
• PDI adalah indikasi lebar distribusi ukuran partikel. Semakin lebar
distribusi ukuran partikel, semakin tinggi PDI. Semakin rendah nilai PDI
maka sediaan cenderung lebih stabil.
• Zeta potensial yaitu muatan permukaan. Semakin tinggi zeta potensial
maka semakin besar gaya tolakan antara partikel dan sedikit kesempatan
untuk koalesensi. Formulasi yang memiliki nilai zeta potensial yang tinggi
mengindikasikan sistem terdispersi stabil.
10
Variabel bebas Variabel terikat

a. Pengaruh variabel independen pada


b. Pengaruh variabel independen pada
ukuran partikel
EE%
• Ukuran partikel meningkat dengan
• EE% meningkat dengan peningkatan
peningkatan konsentrasi lipid
konsentrasi lipid.
• Ukuran partikel berkurang dengan
meningkatnya konsentrasi surfaktan.
11
MORFOLOGI 1. Transmission Electron Microscopy
(TEM)

Hasil

Metode
Struktur morfologi dari C-SLN
yang diformulasikan
ditentukan dengan
menggunakan teknik
Transmission Electron
Microscopy (TEM)

12
2.Xeray diffraction studies (XRD)

XRD adalah metode yang digunakan untuk menentukan sifat dari kristal
pada C-SLNs dan mengidentifikasi dari modifikasi polimorfik
yang terjadi selama persiapan C-SLNs.

Metode :Sampel obat murni dan C-SLNs kering dibekukan menggunakan


freeze dryer. Sampel disinari dengan radiasi Cu monokromasi dan
dianalisis antara 2 q hingga 60 q.

The Power of PowerPoint | thepopp.com 13


1) Lyophilized Colchicine C-SLNs.
2) Pure drug Colchicine.

Hasil ini menunjukkan bahwa colchicine telah berhasil dienkapsulasi ke dalam


matriks lipid dari SLNs dalam keadaan kristal amorf atau tidak teratur

The Power of PowerPoint | thepopp.com 14


Uji permeasi kulit secara ex-vivo
Studi permeabilitas ex-vivo
dilakukan menggunakan kulit Ditentukan jumlah
perut tikus Wistar. 6 kumulatif obat dan dihitung
Fluks dan koefisien
permeabilitas.
12,0 ml saline buffer fosfat 1 5
dengan pH 6,4 dianalisis kandungan obat
dimasukkan ke dalam
ruang reseptor untuk metode dengan HPLC pada
panjang gelombang 245
mempertahankan kondisi nm.
fisiologis
2 4
Suhu cairan reseptor Sampel diambil pada
dipertahankan pada interval waktu yang
37 ± 0,5o C
3 berbeda (1, 2, 3, 4, 6, 8,
12, 18, 24, 36 dan 48 jam)

15
Hasil : Studi permeasi kulit secara Ex Vivo bertujuan untuk menentukan
permeabilitas dari formulasi C-SLNs. Formulasi F5 menunjukkan
permeasi obat tertinggi
Uji penetrasi kulit
Metode : dilakukan menggunakan Rhodamin B yang
ditambahkan selama persiapan SLN diterapkan dikulit
dorsal tikus wistar kemudian di amati dibawah mikroskop
yang berfloresensi.

Hasil :
hasil uji penetrasi kulit dengan
menggunakan mikroskop
fluoresensi menunjukkan
bahwa kekuatan penetrasi yang
jauh didalam lapisan kulit yaitu
Rhodamine B solution Rhodamine B loaded SLNs RhB dimuat dalam SLN .

17
Uji Stabilitas

Suhu 4-8oC Suhu kamar

HASIL : Semua formulasi tetap jelas tanpa tanda degradasi selama pengamatan. Dengan
demikian, hasil studi stabilitas menunjukkan stabilitas fisiologis semua formulasi pada suhu
4-8oC dan suhu kamar.
18
Pemeriksaan histopatologi kulit tikus
Dilakukan untuk mendeteksi kerusakan pada lapisan kulit karena C-SLN Patch.
Cara Kerja:

Spesimen kemudian diwarnai


Potongan kulit dicuci dua kali
dengan hematoxylineosin dan
dengan garam fisiologis dan
diamati di bawah mikroskop
disiapkan dalam 10% buffer
cahaya yang terpasang
formalin untuk fiksasi jaringan.
dengan komputer.

The Power of PowerPoint | thepopp.com 19


Lapisan stratum korneum kulit yang diobati dengan
patch transdermal sedikit bengkak. Lapisan dalam
menunjukkan pelonggaran kekompakan seluler. Ini
mungkin menjadi alasan yang mungkin untuk nilai fluks
yang lebih tinggi dari patch C-SLN selama studi
permeasi obat ex-vivo

The Power of PowerPoint | thepopp.com 20


Penelitian farmakokinetik in vivo

Metode :
Kelompok 1 : kontrol
dilakukan pada tikus
Kelompok 2 : patch colchicine
Wistar ( BB 230-250
Kelompok 3 : patch C-SLN yang
gram )
mengandung obat

21
• Pada patch colchisin Cmax dan Tmax
39,74 ± 1,38 ng/ml setelah 4 jam.
• Patch transdermal C-SLN, Cmax kurang
(37,75 ± 3,38 ng/ml) dibandingkan dengan
patch kolkisin setelah 6 jam.
• Nilai t1/2 eliminasi meningkat 3,17 jam
ketika obat diberikan sebagai formulasi
patch transdermal berbasis C-SLNs (90,8
vs 28,64) jam dan
• nilai konstanta laju eliminasi didapatkan
lebih rendah dari patch formulasi C-SLN
(0,007 vs 0,024 ).

Hal ini menunjukkan bahwa C-SLN Patch,


obat dilepaskan secara perlahan dan
pelepasan berkelanjutan dengan waktu
tinggal rata-rata lebih tinggi sehingga
meningkatkan bioavailabilitas dari obat
melalui pendekatan patch transdermal.
Evaluasi aktivitas antigout in-vivo
Tikus dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok 1 : normal salin secara subkutan


Kelompok 2,3,4 : diberi 10 mL larutan MSU (1 mg /
ml) yang disuntikkan ke kantong udara tikus.
Kelompok 2 : tidak menerima perawatan apa
pun.
Kelompok 3 : (+) patch colchicine
Kelompok 4 : (+) patch C-SLN

Evaluasi yang dilakukan yaitu pengukuran volume eksudat dan jumlah


leukosit serta uji histopatologi pada kantung udara secara in vivo.
23
• Volume eksudat secara konsisten meningkat pada kelompok kontrol yang diterapi MSU. Dimana peningkatan
volume eksudat dan kekeruhan ini merupakan indikasi infiltrasi sel inflamasi
• Persentase pengurangan volume eksudat ditemukan menjadi 3,04 kali lipat lebih pada 12 jam pada kelompok
yang diberikan patch C-SLN dibandingkan dengan patch colchicine
• Dan pengurangan volume eksudat meningkat lebih lanjut menjadi 19,42 kali lipat pada akhir 24 jam.
Penurunan volume eksudat yang signifikan ini terutama disebabkan oleh pelepasan obat yang berkelanjutan
melalui patch C-SLNs.
• Hasil serupa diamati untuk jumlah leukosit. Jumlah leukosit berkurang signifikan pada 12 dan 24 jampada
formulasi berbasis patch C-SLN dari patch colchicine.
The Power of PowerPoint | thepopp.com 24
Gambar 3 : 3A a) Normal b) phosphate buffer saline, c)Tretmen dengan C-SLNs patch,
d) Treatment with colchicine patch. (panah menunjukkan sel-sel inflamasi)
3B a) Normal, b) phosphate buffer saline, c) Treatment with C-SLNs patch, d) Treatment
dengan colchicine patch) (panah menunjukkan adanya deposisi kolagen )

25
Kesimpulan

Berdasarkan beberapa evaluasi yang digunakan bisa di simpulkan bahwa formulasi


patch transdermal berbasis C-SLN bisa menjadi salah satu pilihan pengobatan yang
menjanjikan untuk perawatan dari gout (asam urat)

26