Anda di halaman 1dari 24

Hipoglikemia

Nama Kelompok 5 :
1. Amalia mapilina
2. Della vira
3. Dian tri vita sari
4. Fajar prakarsa
5. Vikih octaviana putri
6. Widya arini
Definisi Hipoglikemia

 Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa darah


<60 mg/dl. Jadi, dapat disimpulkan bahwa, hipoglikemia merupakan kadar
glukosa darah dibawah normal yaitu <60 mg/dl (McNaughton,2011)
 Hipoglikemia merupakan suatu kegagalan dalam mencapai batas
normal kadar glukosa darah (Kedia,2011).
Klasifikasi Hipoglikemia

1. Hipoglikemi Ringan (glukosa darah 50-60 mg/dL)


Terjadi jika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan
adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan
dan rasa lapar.

2. Hipoglikemi Sedang (glukosa darah <50 mg/dL)


Penurunan kadar glukosa dapat menyebabkan sel- sel otak tidak memperoleh bahan bakar
untuk bekerja dengan baik. Tanda- tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup
keetidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, bicara
pelo, gerakan tidak terkoordinasi, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan.
Lanjutan...

3. Hipoglikemi Berat (glukosa darah <35 mg /dL)


Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat sehingga pasien memerlukan pertolongan
orang lain untuk mengatasi hipoglikeminya. Gejalanya mencakup disorientasi,
serangan kejang, sulit dibangunkan bahkan kehilangan kesadaran.
Etiologi
 Produksi insulin yang terlalu banyak oleh pankreas. Hal ini bisa disebabkan oleh obesitas,
mengonsumsi karbohidrat terlalu banyak, tumor pada pankreas, atau efek samping dari
operasi bypass lambung.
 Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras.
 Puasa.
 Menderita penyakit yang menyerang kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ginjal, atau hati.
 Menderita penyakit Addison, (kelainan pada kelenjar adrenal).
 Kekurangan nutrisi.
 Efek samping dari obat-obatan, seperti propranolol untuk hipertensi, asam salisilat untuk
rematik, dan kina untuk malaria.
Patofisiologi
Manisfestasi Klinis
 Tanda dan gejala hipoglikemia menurut Setyohadi (2012) antara lain:
Adrenergik
Neuroglikopenia
 Pucat
 Keringat dingin  Bingung
 Takikardi  Bicara tidak jelas
 Gemetar  Perubahan sikap prilaku
 Lapar  Lemah
 Cemas  Disorientasi
 Gelisah  Penurunan kesadaran
 Sakit kepala  Kejang
 Mengantuk.
Komplikasi
Komplikasi dari pada gangguan tingkat kesadaran yang berubah selalu dapat
menyebabkan gangguan pernafasan, selain itu hipoglikemia juga dapat
mengakibatkan kerusakan otak akut. Hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan
dapat menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang sampai dengan gangguan
neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan dengan sistem saraf pusat
yang biasanya ditandai oleh perilaku dan pola bicara abnormal (jevon, 2010) dan
menurut Kedia (2011) hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan
kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan koma sampai
kematian.
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Gula darah puasa
 Pemeriksaan Gula darah 2 jam post prandial
 Pemeriksaan HBA1c
 Elektrolit
 Leukosit
Penatalaksaan Medis
1. Glukosa oral
2. Glukosa intramuskular
3. Glukosa intravena

 Glukosa oral
Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan pemeriksaan glukosa darah kapiler, 10- 20 gram
glukosa oral harus segera diberikan. Idealnya dalam bentuk tablet, jelly atau 150- 200 ml minuman
yang mengandung glukosa seperti jus buah segar dan nondiet cola. Sebaiknya coklat manis tidak
diberikan karena lemak dalam coklat dapat mengabsorbsi glukosa. Bila belum ada jadwal makan
dalam 1- 2 jam perlu diberikan tambahan 10- 20 gram karbohidrat kompleks.Bila pasien mengalami
kesulitan menelan dan keadaan tidak terlalu gawat, pemberian gawat, pemberian madu atau gel
glukosa lewat mukosa rongga hidung dapat dicoba.
Lanjutan...

 Glukosa intramuskular
Glukagon 1 mg intramuskuler dapat diberikan dan hasilnya akan tampak
dalam 10 menit. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau
pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari
cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan
dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.

 Glukosa intravena
Glukosa intravena harus dberikan dengan berhati- hati. Pemberian glukosa
dengan konsentrasi 40 % IV sebanyak 10- 25 cc setiap 10- 20 menit sampai
pasien sadar disertai infuse dekstrosa 10 % 6 kolf/jam.
Penatalaksanaan kegawatdaruratan hipoglikemia
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita
mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah,
air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama
penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul
dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan,
sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang
bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung
lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan
glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki
resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon.
Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang
pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon
tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15
menit.
Askep Pada Hipoglikemia
 Pengkajian
1. Keluhan utama
2. Riwayat penyakit
3. Head to toe

 Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan
istrahat/tidur
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas,letargi/disorientasi, koma
 Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, kebas dan kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada
kaki, penyembuhan yanglama, takikardia.
Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yangmenurun/tidak ada, disritmia,
krekels, distensi vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung
Lanjutan...
 Integritas / ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan
kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang

 Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri/terbakar, kesulitan
berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeri tekan abdomen, diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria,
jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras,
adanya asites, bising usus lemahdan menurun, hiperaktif (diare)
Lanjutan...
 Nutrisi / cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet, peningkatan masukan
glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu, haus,
penggunaan diuretik (Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensiabdomen, muntah, pembesaran
tiroid (peningkatan kebutuhanmetabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis,
bau buah (napas aseton)

 Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesi,
gangguan penglihatan
Tanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut),gangguan memori (baru,
masa lalu), kacau mental, refleks tendon dalam menurun (koma), aktifitas kejang

 Nyeri / kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
Lanjutan...
 Pernafasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya
infeksi/tidak)
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan meningkat

 Integritas kulit
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya kekuatan umum/rentang
gerak, parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun
dengan cukup tajam)

 Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada
wanita
Lanjutan...

 Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang
lambat, penggunaan obat sepertii steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital
(dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat
diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan
dalam pengaturan diit, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa
darah.
Diagnosa Keperawatan

 Gangguan rasa aman nyaman : Nyeri b.d iskemik jaringan otak


 Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi dan obstruksi jalan nafas
 Perubahan nutrisi kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh yang b.d perubahan
metabolisme, dan kurang asupan makanan.
 Intoleransi aktivitas b.d penurunan suplai glukosa jaringan otot, kelemahan
moskuloskeletal
 Kurang pengetahuan b.d kurang informasi, keterbatasan kognisi, tidak familier
dengan sumber informasi
intervensi
Dx 1 : Gangguan rasa aman nyaman : Nyeri b.d iskemik jaringan otak
Setelah dilakukan tindakan keperawatan ...x24 jam, diharapkan nyeri berkurang
dengan KH :
- Mampu mengontrol nyeri
- Nyeri berkurang
Intervesi
 Lakukan pengkajian karakteristik nyeri PQRST
 Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
 Ajarkan tehnik relaksasi
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik
Lanjutan...
DX 2 : Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d inflamasi dan obstruksi jalan nafas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, diharpkan bersihan jalan nafas
klien kembali efektif, dengan KH :
- Frekuensi pernafasan dalam batas normal
- Irama pernafasan normal
- Kedalaman pernafasan normal
- Klien mampu mengeluarkan sputum secara efektif
Intervensi :
 Pantau irama pernafasan, kedalaman, dan usaha respirasi
 Monitor suara nafas
 Monitor pola nafas
 Auskultasi bunyi nafas
 Berikan posisi yang nyaman
 Ajarkan batuk efektif
 Kolaborasi untuk pemberian bronhodilator sesuai dengan indikasi
Lanjutan...
DX 3 : Perubahan nutrisi kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh yang b.d perubahan
metabolisme, dan kurang asupan makanan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi
adekuat, dengan KH :
- Intake nutrisi tercukupi
- Makan habis 1 porsi
- BB normal
Intervensi :
 Kaji status nutrisi
 Jaga kebersihan mulut, anjurkan untuk melakukan oral hygiene
 Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan tinggi zat besi seperti sayuran hijau
 Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
 Timbang berar badan setiap hari
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin
Lanjutan...

DX 4 : Intoleransi aktivitas b.d penurunan suplai glukosa jaringan otot, kelemahan


moskuloskeletal
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, diharapkan dapat
beraktivitas seperti sehari-hari secara mandiri, dengan KH :
- Pasien dapat beraktivitas
- Pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri
- Pasien tidak terlihat lemah saat beraktivitas
Intervensi :
 Observasi gangguan keseimbangan jala dan kelemahan otot
 Observasi ttv sebelum dan sesudah beraktivitas
 Berikan lingkungan yang tenang, dan pertahankan tirah baring bila diindikasikan
 Anjurkan klien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan
 Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
Lanjutan...
DX 5 : Kurang pengetahuan b.d kurang informasi, keterbatasan kognisi, tidak familier dengan
sumber informasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam, diharapkan pasien dan keluarga
dapat mengetahui tentang hipoglikemia, dengan KH :
- Mengetahui jenis/nama penyakitnya
- Mampu menjelaskan faktor resiko
- Mampu menjelaskan tanda dan gejala penyakit
- Mampu menjelaskan kompliaksi
Intervensi :
 Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan klien/keluarga klien tentang penyakitnya
 Berikan informasi pada klien/keluarga tentang kondisi klien dengan tepat
 Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi
dimasa yang akan datang
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan penyakit