Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 5

1. BEKKA ALTA SHASKIA


2. M AL-HABBIYAMMA
3. WAHYUDI PRATAMA
DASAR-DAR KATALIS DAN KATALISIS

Pada banyak reaksi:


Ada suatu substansi atau bahan atau zat yang bukan reaktan dan juga bukan produk, tetapi
dapat dan bahkan sangat mempengaruhi kecepatan reaksinya. Substansi inilah yang dinamakan
katalis (atau katalisator). Berzellius pada tahun 1835 merupakan orang (ilmuwan) yang pertama
kali menggunakan istilah “katalis”.

Pendefinisian katalis:
Katalis merupakan suatu zat atau substansi yang dapat mempercepat reaksi (dan mengarahkan
atau mengendalikannya), tanpa terkonsumsi oleh reaksi, namun bukannya tanpa bereaksi.
Katalis bersifat mempengaruhi kecepatan reaksi, tanpa mengalami perubahan secara kimiawi
pada akhir reaksi. Peristiwa / fenomena / proses yang dilakukan oleh katalis ini disebut katalisis.
Istilah negative catalyst (atau inhibitor) merujuk kepada zat yang berperan menghambat atau
memperlambat berlangsungnya reaksi.
GAMBARAN TENTANG KATALIS

1. Katalis dapat teracuni oleh suatu zat dalam jumlah 3. Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh suatu zat yang
yang sangat sedikit yang disebut racun disebut pemercepat katalis (promotor). Contoh:
katalis. Contoh: Efisiensi katalis CuO-ZnO yang digunakan untuk
mengkatalisis reaksi shift conversion (CO (g) + H2O (g) ↔
CO2 (g) + H2 (g)) pada proses pembuatan pupuk urea
ditingkatkan melalui penambahan promotor Al2O3.

4. Katalis yang dapat menghambat atau memperlambat


2. Pada reaksi-reaksi tertentu, terdapat salah satu kecepatan reaksi disebut katalis negatif
produk reaksi yang dapat berfungsi sebagai katalis (atau inhibitor). Contoh:
untuk reaksi yang bersangkutan. Zat atau produk reaksi
ini disebut autokatalis, sedangkan reaksinya biasa
disebut reaksi autokatalitik. Contoh:
FUNGSI KATALITIK KATALIS

AKTIVITAS berkaitan dengan kemampuannya mempercepat reaksi

SELEKTIVITAS ATAU
berkaitan dengan kemampuannya mengarahkan suatu reaksi
SPESIFISITAS

STABILITAS ATAU berkaitan dengan kemampuannya menahan hal-hal yang dapat mengarahkan
LIFETIME terjadinya deaktivasi katalis
KOMPONEN-KOMPONEN KATALIS

1. Komponen (atau fasa) aktif


Fungsi: aktivitas kimia, mengemban fungsi utama katalis untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi.
Pengelompokan fasa aktif katalis disajikan dalam tabel berikut:

2. Penyangga (support atau carrier)


Fungsi: luas permukaan yang tinggi, porositas, sifat-sifat mekanik, kestabilan, aktivitas
fungsional ganda, modifikasi komponen aktif.
Jenis: oksida dengan melting point tinggi, tanah liat, karbon.

3. Promotor
Fungsi pada komponen aktif: elektronik, morfologi, poisoning.
Fungsi pada penyangga: struktural, inhibisi aktivitas, promosi aktivitas.
FOULING (PENGERAKAN)

Deaktivasi katalis akibat pengerakan pada umumnya berlangsung cepat.


™engerakan terjadi jika ada zat-zat dalam reaktor (bisa reaktan, produk, atau intermediet) terdeposit di atas
P
permukaan katalis dan menutup pori-pori (atau active sites) katalis secara fisik.

™arbon (coke/kokas) merupakan bentuk kerak yang paling umum, dan proses pembentukannya dinamakan coking.
K
Misalnya, pembentukan coke (C) pada reaksi perengkahan hidrokarbon dengan katalis silika-alumina:
C10H22 → C5H12 + C4H10 + C(s)
Bentuk coke yang terbentuk bergantung kepada jenis katalis, suhu, dan tekanan parsial senyawasenyawa
karbonnya.

™eberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimasi coking:


B
1. mengoperasikan reaktor dengan waktu tinggal yang singkat
2. menambahkan hidrogen ke dalam aliran proses, untuk mengkonversi karbon (fase gas) menjadi metana
3. meminimasi suhu upstream dari unggun (bed) katalis, karena karbon (fase gas) kurang mudah terbentuk pada suhu
rendah.
POISONING (PERACUNAN)

™eaktivasi katalis akibat peracunan pada umumnya berlangsung lambat.


D
Peracunan disebabkan oleh adsorpsi kimia (chemisorption) zat-zat dalam aliran proses. Zat zat ini kemudian menutup

atau memodifikasi active sites pada katalis. Racun dapat menyebabkan perubahan morfologi permukaan katalis, baik
melalui rekonstruksi permukaan Zat yang bisa menjadi racun pada umumnya adalah pengotor (impurity) dalam aliran
umpan, namun produk dari reaksi yang diinginkan pun bisa berperan sebagai racun.
Ada 3 jenis utama racun, yaitu:
1) Molekul-molekul dengan heteroatom yang reaktif (misal: sulfur)
2) Molekul-molekul dengan ikatan kompleks antar atom (misal: hidrokarbon tak jenuh)
3) Senyawa-senyawa logam atau ion-ion logam (misal: Hg, Pd, Bi, Sn, Cu, Fe)
Ikatan antara racun dengan katalis (atau support katalis) dapat berlangsung lemah atau kuat. Jika ikatannya kuat,

peracunan akan mengakibatkan terjadinya deaktivasi yang ireversibel. Namun jika ikatannya sangat lemah, deaktivasi
katalis yang teramati dapat dibalikkan dengan cara mengeliminasi (menghilangkan) pengotor (racun) dari aliran umpan.
Racun katalis dapat dihilangkan dengan cara:
♦ Pemisahan secara fisik, atau
♦ Treatment kimia, untuk mengkonversi zat racun menjadi senyawa-senyawa yang nontoksik, yaitu dengan oksidasi
(untuk jenis racun 1)) dan hidrogenasi (untuk jenis racun 2)).
Jika produk reaksi dapat berperan sebagai racun, maka reaktor harus dioperasikan pada tingkat konversi yang rendah,
dan/atau memisahkan produk tersebut secara selektif pada tahap intermediet (untuk jenis reaktor multitahap).
SINTERING

™eaktivasi katalis akibat sintering disebabkan oleh pertumbuhan atau aglomerasi kristal yang akan mengubah struktur
D
kimia katalis atau support-nya. Structural rearrangement yang teramati selama sintering mengakibatkan penurunan luas
permukaan katalis, dan karenanya, mengakibatkan penurunan banyaknya active sites katalis secara ireversibel.
Pada umumnya sintering berlangsung jika suhu lokal katalis melampaui sepertiga hingga setengah dari suhu leleh

(melting-point, Tm)-nya. Batas atas suhu (yaitu ½ Tm) diterapkan pada kondisi ”kering”, sedangkan batas bawah suhu
(yaitu 1/3 Tm) diterapkan jika ada steam/kukus/uap dalam aliran proses. Hal ini dikarenakan steam memudahkan
terjadinya reorganisasi beberapa logam, alumina, dan silika.
Berikut adalah daftar beberapa katalis logam dengan suhu sintering-nya.

Untuk mencegah terjadinya sintering (dan/atau proses aglomerasi kristal), katalis biasanya dimodifikasi melalui
penambahan komponen stabilizer yang mempunyai titik leleh tinggi. Beberapa contoh:
♦ Chromia, alumina, dan magnesia (yang mempunyai titik leleh tinggi) sering kali
ditambahkan sebagai stabilizer pada katalis logam.
♦ Sintering platinum dapat dicegah dengan menambahkan sejumlah kecil senyawasenyawa
terklorinasi ke dalam aliran gas. Dalam hal ini, klorin berperan meningkatkan
energi aktivasi proses sintering, sehingga kecepatan sintering menjadi turun.
PENGGOLONGAN KATALIS

KATALIS

Berdasarkan Fase Berdasarkan


didalam reaksi Keberadaan di alam

1. Katalis Biokimia
1. Katalis Homogen
2. Katalis yang dibuat oleh
2. Katalis Heterogen
manusia
BERDASARKAN FASE

K
A
T
A
L
I
S

H
O
M
O
G
E
N
KATALIS HETEROGEN
Katalis heterogen adalah katalis yang tidak dapat
bercampur secara homogen dengan pereaksinya • Sifat-sifat katalis heterogen:
karena wujudnya berbeda. 1. Mudah dipisahkan dari campuran reaksi
Contoh Katalis Heterogen :
2. Tahan dan stabil terhadap suhu relatif tinggi
Katalis berwujud padat, sedangkan pereaksi
berwujud gas. 3. Mudah disiapkan dalam bentuk pellet katalis
padat
Ni(s) 4. Konstruksinya sederhana
C2H4(g) + H2(g) → C2H6(g)
REAKSI DENGAN KATALIS
HETEROGEN

1. Reaksi Hidrolisis Senyawa Hidrokarbon tak Jenuh


Etylene dipanaskan pada temperatur 300oC dengan menggunakan katalis celite akan menghasilkan etanol.
300OC
Reaksinya : C2H4 + H2O -----> C2H5OH

2. Reaksi Hidroklorinasi acitilen dengan HCl, menggunakan mercuri klorida akan menghasilkan vynil klorida.
200OC
Reaksinya : CH=CH + HCl ----> CH2=CHCl

3. Hidrogenasi butana dengan menggunakan katalis Al2o3 dan CuO3 akan menghasilkan 1,3 butadiena.
Reaksinya : CH3CH2CH2CH3 ----> CH2=CHCH2 + 2H2

4. Hidrogenasi ethyl benzene pada temperatur 650oC dengan menggunakan katalis Al2o3 akan menghasilkan styrene.
C2H5 CH=CH2

Reaksinya :
------------>
5. Proses Haber dalam Pembuatan Amonia
Katalis padat Fe untuk Proses Haber pada pembuatan amonia:
N2 (g) + 3 H2 (g) ↔ 2 NH3 (g)

6. Oksidasi Amoniak pada Pembuatan Asam Nitrat


Katalis padat Fe2O3-BiO2 untuk oksidasi amonia pada pembuatan asam nitrat:
4 NH3 (g) + 5 O2 (g) ↔ 4 NO (g) + 6 H2O (g)

7. Hidrogenasi Hidrokarbon
Katalis padat Ni pada hidrogenasi hidrokarbon:
R1CH=CHR2 (l) + H2 (g) → R1CH2CH2R2 (l)
(minyak tak jenuh) (lemak jenuh)

8. Pembuatan Asam Klorida


Katalis arang (C) pada pembuatan asam khlorida:
H2 (g) + Cl2 (g) → 2 HCl (g)

9. Proses Kontak pada Pembuatan h2SO4


BERDASARKAN KEBERADAANNYA DI ALAM
ENZIM

Enzim adalah biokatalis dengan struktur protein. Kadang-kadang kereaktifannya bergantung pada zat bukan protein
( misalnya ion logam) yang disebut koenzim. Hal yang penting dari enzim adalah aktivitas katalitiknya sangat besar,demikian
pula kespesifikannya.
Reaksi yang menggunakan enzim tidak mengikuti persamaan tetapan laju Arrhenius. Hal ini disebabkan karena jika
suhu dinaikkan struktur enzim akan rusak,sehingga sebagian besar enzim tidk aktif pada suhu diatas 60 oC. Enzim bekerja
dengan efisien maksimum pada suhu 37oC, yaitu pada suhu badan atau hewan berdarah panas.
Reaksi enzimatik telah dipelajari oleh Michaelis dan Menten pada tahun 1913.
KESIMPULAN
1. Katalis adalah suatu zat yang ditambahkan pada reaksi kimia dengan tujuan untuk
mempercepat reaksi.
2. Inhibitor adalah suatu zat yang ditambahkan untuk menghambat reaksi dan
disebut juga anti katalis atau katalis negatif.
3. Auto-katalis adalah hasil reaksi yang terbentuk dengan sendirinya yang akan
mempercepat reaksi.
4. Enzim adalah biokatalis dengan struktur protein.
5. Katalis dibentuk dari komponen-komponen yang dapat menunjang sifat-sifat
katalis yaitu aktivitas,selektifitas,stabilitas dan ekonomis. Untuk memenuhi sifat
tersebut dibutuhkan 3 kompponen utama yaitu fasa aktif (catalyst agent),
penunjangg (support), dan promotor (aditif).