Anda di halaman 1dari 20

FARMAKOLOGI ANESTESI

INTRAVENA
Pembimbing: dr. Thoriq, Sp.An

MEGA MULYA DWI FITRIYANI


1620221191
Departemen Anestesi RSUP Persahabatan
INDUKSI ANESTESI

 Induksi anestesi merupakan suatu rangkaian proses transisi dari sadar penuh
sampai hilangnya kesadaran sehingga memungkinkan untuk dimulainya
anestesi dan pembedahan.
 Induksi anestesi terdiri dari pemberian obat anestesi hipnosis secara cepat
melalui intravena. Konsentrasi dalam plasma mencapai puncak 30 – 60
detik dan cepat turun karena proses redistribusi dari obat. Perubahan
konsentrasi plasma secara cepat mengakibatkan perubahan tingkat
penekanan susunan saraf pusat
FASE – FASE ANESTESI

 Kedalaman anestesi berdasarkan pengamatan terhadap induksi inhalasi


anestesi a)
dengan
Plana eter,
1 : yaitu:
Mulai terdapat relaksasi otot somatik, pola
1. Stadium 1 (Analgesia) nafas teratur, gerak
 ditandai denganbola mata
pola aktif
nafas yang lambat, teratur
b) Plana 2 :danMulai
dari diafragma dari bola mata
otot intercostal, berhenti
masih terdapatsampai
refleks bulu mata.
nafas torakal lemah
2. Stadium 2 (Eksitasi, Delirium)  pasien mengalami eksitasi, tidak sadar,
c) Plana 3 : Relaksasi sempurna otot – otot dinding
pola nafas tidak teratur, pupil mulai dilatasi, masih terdapat refleks bulu
perut, dengan pernapasan diafragma,
mata, terdapat resiko spasme laring, muntah sampai aritmia.
refleks bulu mata negatif
3. Stadium 3 (Anestesi
d) Plana bedah)
4 : Mulai  terdapat
nafas torakal 4 fase, yaitu:
berhenti sampai nafas
4.
diafragma
Stadium 4  Intoksikasi (depresiberhenti
berat pusat vasomotor dan respirasi di
medula), ditandai dengan berhentinya denyut jantung dan nafas, pupil
dilatasi
PROPOFOL

 Propofol, 2,6-di-isopropylphenol. Saat ini propofol merupakan obat pilihan


induksi dan sedasi anestesi yang banyak diakai, berhubungan dengan waktu
tidur yang cepat, waktu pulih yang cepat, dan kejadian mual dan muntah
paska bedah lebih sedikit.
 Mekanisme kerja: Propofol memberikan efek sedatif hipnotik melalui interaksi
reseptor GABA. Interaksi melalui cara mengikat subunit ß1, ß2, ß3 dari reseptor
GABA  efek hipnotik, sedangkan interaksi dengan subunit α dan γ di area
hipokampus dan korteks prefrontal  efek sedasi
FARMAKOKINETIK PROPOFOL

 Pemberian propofol 1.5 – 2.5 mg/kg IV (setara dengan tiopental 4-5 mg/kg IV
atau metoheksital 1.5 mg/kg IV) sebagai injeksi IV secara cepat (<15 detik),
mengakibatkan ketidaksadaran dalam 30 detik.
 Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat protein
plasma, eliminasi dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak
aktif, waktu paruh propofol diperkirakan berkisar antara 2 – 24 jam. Namun
dalam kenyataanya di klinis jauh lebih pendek karena propofol didistribusikan
secara cepat ke jaringan tepi. Dosis induksi cepat menyebabkan sedasi ( rata
– rata 30 – 45 detik ) dan kecepatan untuk pulih juga relatif singkat. Satu
ampul 20ml mengandung propofol 10mg/ml.
 Popofol bersifat hipnotik murni tanpa disertai efek analgetik ataupun relaksasi
otot.
FARMAKODINAMIK PROPOFOL

1. Pada system saraf pusat


 Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang
kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada
pemberian dosis induksi (2mg/kgBB) pemulihan kesadaran berlangsung
cepat.
 Dapat menyebabkan perubahan mood tapi tidak sehebat thiopental.
 Dapat menurunkan tekanan intrakranial dan tekanan intraokular sebanyak
35%
FARMAKODINAMIK PROPOFOL

2. Pada system kardiovaskular


 Induksi bolus 2-2,5 mg/kg dapat menyebabkan depresi pada jantung dan
pembuluh darah dimana tekanan dapat turun sekali disertai dengan
peningkatan denyut nadi. Ini diakibatkan
 Propofol mempunyai efek mengurangi pembebasan katekolamin dan
menurunkan resistensi vaskularisasi sistemik sebanyak 30%. Pengaruh pada
jantung tergantung dari :
 Pernafasan spontan  mengurangi depresi jantung dibanding nafas
kendali
 Pemberian drip lewat infus  mengurangi depresi jantung dibanding
pemberian secara bolus
 Umur  makin tua usia pasien makin meningkat efek depresi jantung
FARMAKODINAMIK PROPOFOL

3. Pada system respirasi


• Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa
kasus dapat menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada
pemberian diprivan. Secara lebih detail konsentrasi yang menimbulkan efek
terhadap sistem pernafasan adalah seperti berikut:
• Pemberian 2,4 mg/kg:
 Memperlambat frekuensi pernafasan selama 2 menit
 Volume tidal (VT) menurun selama 4 menit • Pemberian 200 µg/kg/min:
 Hanya sedikit mendepresi
• Pemberian 100 µg/kg/min:
VT
 Respons CO2 sedikit menurun  paCO2 menurun
 VT berkurang 40% ,frekuensi pernafasan meningkat 20%
KETAMIN

 Ketamin adalah derifat fensiklidin yang menghasilkan anestesi disosiatif yang


ditandai adanya disosiasi EEG antara sistem thalamokortikal dan sistem limbik,
yaitu efek ketamin berupa aktivitas eksitasi di talamus dan sistem limbik tidak
diikuti penyebaran aktivitas ke daerah korteks.
 Ketamin bersifat unik dan berbeda dari anestesi induksi lain karena ia memiliki
efek hipnotik, amnesia, analgesia yang signifikan dan juga tidak menekan
sistem kardiovaskular maupun pernapasan. Namun ketamin memiliki efek
psikologis yang mengkhawatirkan seperti golongan pensiklidin lainnya
FARMAKOKINETIK KETAMIN

 Absorbsi
 Pemberian ketamin dapat dilakukan secara intravena atau intramuskular
 Distribusi
 Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan didistribusikan
ke seluruh organ.10 Efek muncul dalam 30 – 60 detik setelah pemberian secara
I.V dengan dosis induksi, dan akan kembali sadar setelah 15 – 20 menit. Jika
diberikan secara I.M maka efek baru akan muncul setelah 15 menit.
 Metabolisme
 Ketamin mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi
beberapa metabolit yang masih aktif.
 Ekskresi
 Produk akhir dari biotransformasi ketamin diekskresikan melalui ginjal.
FARMAKODINAMIK KETAMIN

1. Pada system saraf pusat


 Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan
mengalami perubahan tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada
mata berupa kelopak mata terbuka spontan dan nistagmus. Selain itu
Pemberian Ketamindijumpai
kadang-kadang dapat menyebabkan
gerakan yang efek psikologis yang berupa:
tidak disadari (cataleptic
Mimpi buruk seperti gerakan mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Itu
•appearance),
•merupakan efek anestesi dissosiatif
Perasaan ekstrakorporeal yang melayang
(merasa seperti merupakan tanda
keluar darikhas setelah
badan)
•pemberian Ketamin.
Salah persepsi, salah interpretasi dan ilusi
 Euphoria,
•Apabila eksitasi,secara
diberikan kebingungan dan ketakutan
intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8
menit, sering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode
pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. Aliran darah ke otak
meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan darah intrakranial.
FARMAKODINAMIK KETAMIN

2. Pada Mata
 Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi
peningkatan tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada
pleksus koroidalis
3. Pada system kardiovaskular
 Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga bisa
meningkatkan tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah
akibat efek inotropik positif dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
4. Pada system pernapasan
 Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi.
dapat menimbulkan dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya,
sehingga merupakan obat pilihan pada pasien asma
KONTRA INDIKASI KETAMIN

 Pada pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus


dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada
trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan intraokuler
meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler.
 Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat – obat
simpatomimetik, seperti ; hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll.
PENTHOTAL

 Tiopental sekarang lebih dikenal dengan nama sodium Penthotal, Thiopenal,


Thiopenton Sodium atau Trapanal yang merupakan obat anestesi umum
barbiturat short acting, tiopental dapat mencapai otak dengan cepat dan
memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam waktu 1 menit tiopental sudah
mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 – 10 menit konsentrasi mulai menurun
di otak dan kesadaran kembali seperti semula
 Larutan yang digunakan berkadar 2,5%, bersifat alkalis sehingga bila terjadi
suntikan ekstravaskuler (ekstravasasi) dapat menimbulkan kerusakan jaringan 
nyeri hebat dan bisa nekrosis (jika masuk ke arteri shg menimbulkan vasokonstriksi.
 Mek. Kerja : menghambat reseptor GABA di saraf pusat
FARMAKOKINETIK PENTHOTAL

 Absorbsi
 Pada anestesiologi klinis, barbiturat paling banyak diberikan secara intravena
untuk induksi anestesi umum pada orang dewasa dan anak – anak. Perkecualian
pada tiopental rektal atau sekobarbital atau metoheksital untuk induksi pada anak
– anak. Sedangkan phenobarbital atau sekobarbital intramuskular untuk
premedikasi pada semua kelompok umur.
 Distribusi
 Pada pemberian intravena, segera didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh
selanjutnya akan diikat oleh jaringan saraf dan jaringan lain yang kaya akan
vaskularisasi, secara perlahan akan mengalami difusi kedalam jaringan lain seperti
hati, otot, dan jaringan lemak. Setelah terjadi penurunan konsentrasi obat dalam
plasma ini terutama oleh karena redistribusi obat dari otak ke dalam jaringan
lemak.
FARMAKOKINETIK PENTHOTAL

 Metabolisme
 Metabolisme terjadi di hepar menjadi bentuk yang inaktif.
 Ekskresi
 Sebagian besar akan diekskresikan lewat urine, dimana
eliminasi terjadi 3 ml/kg/menit dan pada anak – anak terjadi 6
ml/kg/menit.
FARMAKODINAMIK PENTHOTAL

1. Pada system saraf pusat


 Dapat menyebabkan hilangnya kesadaran tetapi menimbulkan hiperalgesia pada
dosis subhipnotik, menghasilkan penurunan metabolisme serebral dan aliran darah
sedangkan pada dosis yang tinggi akan menghasilkan isoelektrik EEG. Thiopental juga
turut menurunkan tekanan intrakranial.
2. Pada mata
 Tekanan intraokluar menurun 40% setelah pemberian induksi thiopental atau
methohexital. Biasanya diberikan suksinilkolin setelah pemberian induksi thiopental
supaya tekanan intraokular kembali ke nilai sebelum induksi.
FARMAKODINAMIK PENTHOTAL

3. Pada system kardiovaskular


 Menurunkan tekanan darah dan cardiac output ,dan dapat meningkatkan frekwensi
jantung, penurunan tekanan darah sangat tergantung dari konsentrasi obat dalam
plasma. Hal ini disebabkan karena efek depresinya pada otot jantung, sehingga curah
jantung turun, dan dilatasi pembuluh darah. Iritabilitas otot jantung tidak terpengaruh,
tetapi bisa menimbulkan disritmia bila terjadi resistensi CO2 atau hipoksia. Penurunan
tekanan darah yang bersifat ringan akan pulih normal dalam beberapa menit tetapi
bila obat disuntik secara cepat atau dosisnya tinggi dapat terjadi hipotensi yang
berat. Hal ini terutama akibat dilatasi pembuluh darah karena depresi pusat
vasomotor
FARMAKODINAMIK PENTHOTAL

3. Pada system respirasi


 Menyebabkan depresi pusat pernafasan dan sensitifitas terhadap CO2
menurun terjadi penurunan frekwensi nafas dan volume tidal bahkan
dapat sampai menyebabkan terjadinya asidosis respiratorik. Dapat juga
menyebabkan refleks laringeal yang lebih aktif berbanding propofol
sehingga menyebabkan laringospasme. Jarang menyebabkan
bronkospasme.
TERIMAKASIH 