Anda di halaman 1dari 23

Oleh Kelompok 4

Iif Adwiyatu Iffa (152310101061)


Findasari (152310101063)
Surtiani Dewi (152310101075)
Arga Rifqi Addinda (152310101143)
Kezia Ria Kristanti (152310101157)
Diah Mangestuti (152310101167)
RR. Hermitha M N (152310101169)

ANALISA STRATEGI PENANGGULANGAN HIV


AIDS: HARM REDUCTION
Keperawatan HIV
HIV & AIDS

Acquired Immune Deficiency Syndrome


(AIDS) merupakan kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh Human
Immunodeficiency Virus (HIV)
(Depkes RI, 2006)
Persebaran
• Di seluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang
hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan
3,2 juta anak berusia <15 tahun. Jumlah infeksi baru HIV
pada tahun 2013 sebesar 2,1 juta yang terdiri dari 1,9
juta dewasa dan 240.000 anak berusia <15 tahun
• Di Indonesia, HIV AIDS pertama kali ditemukan di
provinsi Bali pada tahun 1987 (Infodatin, 2014). Hingga
pada tahun 2016 HIV AIDS sudah tersebar di 407 (80%)
dari 507 kabupaten/kota di seluruh propinsi di Indonesia
Faktor Resiko

Masalah yang sangat mengancam saat ini adalah efek penggunaan


NAPZA melalui jarum suntik terhadap timbulnya HIV/AIDS. Penularan
secara cepat terjadi karena pemakaian jarum suntik bersama. Para
penyalahguna NAPZA suntik ini dapat pula menulari pasangan
seksualnya. Di kalangan pengguna NAPZA suntik, infeksi HIV berkisar
antara 50 sampai 90% (Depkes RI, 2006).
Harm reduction
Harm reduction (HR) menurut internatition associatonal
harm reduction association (2005) adalah suatu kebijakan
dan program yang komprehensif yang berusaha untuk
mengurangi dampak buruk pada kesehatan,sosial dan
ekonomi dari zat yang mengubah suasana hati yang lebih
merujuk ke penggunaan napza keluarga dan komunitas.
Harm reduction merupakan program upaya pencegahan dan
penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan penasun, maka
dikembangkan suatu pendekatan yang disebut “Pengurangan Dampak
Buruk” atau Harm Reduction.
Pengurangan dampak buruk napza dapat dipandang sebagai upaya
pencegahan terhadap dampak buruk napza tanpa perlu mengurangi
jumlah penggunaannya. Dengan kata lain, harm reduction lebih
mengutamakan pencegahan dampak buruk napza, bukan pencegahan
penggunaan napza. Jika pendekatan ini tidak dilakukan, maka semua
tujuan jangka panjang seperti penghentian penggunaan napza dan
rehabilitasinya akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, pendekatan ini
seharusnya dipandang sebagai pendekatan penting dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat secara luas (Komisi
penanggulangan AIDS Jawa Barat, 2008).
Cakupan program atau sasaran
1. LASS (Layanan Alat suntik Steril)
2. Terapi subtitusi Opiat dan ketergantungan napza
3. Program kondom untuk penasun dan pasangan seksual penasun
4. Program KIE (Komunikasi,Iinformasi,Edukasi) untuk para penasun
dan pasangannya.
5. Vaksinasi dan diagnosis
6. Pencegahan dan Diagnosi TB(Tubercolosis)
Mekanisme Program Harm Reduction
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 567/Menkes/
SK/VIII/2006 terdapat empat poin atau prinsip utama yang ditekankan
dalam program harm reduction, yaitu:
1.mendorong Penasun untuk berhenti memakai Napza dan hidup
bebas dari narkoba
2.jika Penasun tetap bersikeras menggunakan, didorong untuk tidak
menyuntikkan narkoba
3.jika masih menyuntik narkoba, didorong untuk menggunakan jarum
suntik steril
4.jika masih menggunakan jarum suntik secara bergantian, dibujuk dan
diajarkan untuk membersihkan terlebih dahulu jarum suntik yang akan
digunakan.
Paket komprehensif layanan pengurangan dampak buruk atau harm reduction
yang sering dilaksanakan dan menyertai pengurangan dampak buruk Napza
adalah:
1.Program penjangkauan dan pendampingan
2.Program komunikasi, informasi dan edukasi
3.Program penilaian pengurangan risiko
4.Program konseling dan tes HIV sukarela
5.Program penyucihamaan
6.Program penggunaaan jarum suntik steril
7.Program pemusnahan peralatan suntik bekas pakai
8.Program layanan terapi ketergantungan Napza
9.Program terapi substitusi
10.Program perawatan dan pengobatan HIV
11.Program pendidikan sebaya
12.Program layanan kesehatan dasar
PENGORGANISASIAN HARM REDUCTION
1. Penjajakan Situasi Cepat (PSC) atau Rapid
Situation Assessment (RAR)
A. Prinsip PSC antara lain: B. Teknik yang dipakai untuk
• Singkat waktu mengumpulkan informasi:
• Dana • Mencari, menyimak dan
• Memakai data yang ada menganalisis informasi yang ada.
• Memakai berbagai sumber • Melaksanakan wawancara
dengan banyak macam orang
• Bekerja dengan kecermatatan yang (tokoh kunci).
tinggi
• Diskusi kelompok terarah.
• Relevansi praktis terhadap intervensi
• Pembahasan
• Memperkuat respon lokal bersama/musyawarah.
• Pengamatan
C. Sumber Informasi dalam Penjajagan Situasi Cepat
1. Institusi yang Memiliki Data Sekunder
2. Sumber Informasi di Masyarakat yang Dapat Memberikan Data Primer
3. Pengamatan Secara Kualitatif
2. Mengembangkan Rencana Program
Sebuah rencana intervensi biasanya meliputi:
• Urutan dan waktu pelaksanaan kegiatan.
• Uraian tugas dan tanggung jawab staf individu untuk
beragam kegiatan.
• Identifikasi mengenai barang-barang yang dibutuhkan
dan bagaimana barang-barang
itu nantinya akan didistribusikan.
• Panduan tentang pelaporan program.
3. Menerapkan Rencana Program
Di dalam pelaksanaan program hendaknya selalu
ditekankan pada pencapaian target untuk masing-masing
kegiatan yang harus dilakukan. Hal ini akan menunjukkan
tingkat perubahan situasi yang ingin dicapai dalam suatu
periode waktu tertentu
4. Monitoring dan Evaluasi
Setiap program dan intervensi memerlukan suatu
mekanisme untuk memonitor dan mengevaluasi efektifitas
program yang dilaksanakan. Monitoring dan evaluasi
memberikan informasi yang berguna untuk
penyempurnaan strategi program dan menyampaikan
laporan program kepada pihak lain seperti pemerintah
yang memberikan dana kepada masyarakt.
Ketercapaian Program
• Pro Kontra Harm Reduction Napza Suntik di banyak
tempat, termasuk Indonesia, pendekatan Harm
Reduction menimbulkan kontroversi karena dipandang
oleh sebagian kalangan sebagai tindakan melegitimasi
penggunaan napza.
• Harm Reduction sesungguhnya bertujuan untuk
mencegah penyebaran HIV sesegera mungkin di
kalangan penasun, pendekatan ini tidak berjalan secara
langsung di Indonesia (non pemerintah) maka perlu
adanya sosialisasi mengenai program agar tidak terjadi
persepsi ganda yang keluar dari tujuan utama Harm
Reduction yang sebenarnya
Menurut undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
narkotika Pasal 18 menyatakan
• Permufakatan jahat adalah perbuatan dua orang atau
lebih yang bersekongkol atau bersepakat untuk
melakukan, melaksanakan, membantu, turut serta
melakukan, menyuruh, menganjurkan, memfasilitasi,
memberi konsultasi, menjadi anggota suatu organisasi
kejahatan narkotika, atau mengorganisasikan suatu
tindak pidana narkotika
Efektifitas Program
• Sebuah jurnal menyatakan bahwa di negara kanada program Harm
Reduction menjadi program yang efektif dan menguntungkan
menurut pengguna NAPZA. (K. Adamson et a, 2017).
• Banyak peserta mencatat bahwa pertukaran jarum tidak terbuka
sepanjang waktu, dan ini jelas mempengaruhi penggunaan yang
lebih aman. Sebagian besar peserta mencatat bahwa mereka akan
"berpikir ke depan" dan mencoba untuk memastikan bahwa mereka
memiliki jarum yang lebih aman untuk digunakan, meskipun dalam
banyak contoh jarum "lebih aman" ini adalah salah satu dari jarum
mereka sendiri yang akan mereka pertahankan untuk digunakan
kembali
• Studi menunjukkan bahwa berbagi peralatan injeksi adalah keadaan
yang umum dan sekitar 65% dari semua kasus HIV disebabkan oleh
berbagi jarum suntik (Razzaghi et al., 2006).
Pada intinya ada beberapa isi program yang mulai
berkembang di negara lain dalam mesukseskan harm
reduction:
• Drug Substitution and Maintenance Approaches to
Opiates
• Heroin-Assisted Treatment
• Supervised Injecting Facilities
• Overdose Prevention and Rescue Programmes
Penelitian ini menggambarkan bahwa program harm
reduction di atas memberikan dampak penurunan HIV
AIDS yang cukup banyak.
• Inovasi baru berupa program harm
reduction di Indonesia dimulai pada tahun
2006 yang menggagas pencegahan
pernularan HIV AIDS dari jarum suntik
• Sedangkan untuk laporan efektifitas dari program ini di
Indonesia tidak terlalu banyak terpublikasikan. Pada
tahun 2010 sebuah penelitian di Indonesia menyebutkan
bahwasannya 72% penasun yang mendapat
pendampingan aktif mengakses layanan LASS. Bagi
penasun yang mendapat pendampingan aktif mendapat
jarum suntik dari LSM dan yang nondampingan
mendapat dari apotek. Dari penelitian ini juga didapatkan
hasil bahwa lebih dari 50% responden beranggapan
dirinya berisiko pada transmisi penyakit HIV/AIDS. Hal
ini berdampak kemauan untuk melakukan VCT.
• Dilaporkan bahwa sudah banyak kelompok penasun mencoba untuk
mengurangi tindakan yang berisiko seperti mencoba mengurangi
frekuensi menyuntik, menghindari, atau mengurangi jumlah teman
dalam kelompoknya, selalu mengunakan jarum steril, memfaatkan
layanan subtitusi narkoba dan mencoba konsisten menggunakan
kondom saat berhubungan seks dengan orang lain.
• Walaupun ada beberapa dari penasun yang masih meremehkan
terkait penggunaan jarum suntik bergantian hal ini dikarenakan
beberapa hal Dua hal yang utama adalah mereka menganggap
teman mereka sehat dan tidak menunjukkan gejala HIV AIDS dan
hal yang kedua adalah mereka akan sulit menghindari ini karena
mereka membeli narkoba secara berpatungan (Suparno dkk, 2010).
kesimpulan
Harm Reduction bukan merupakan hal yang memfasilitasi bagi
pecandu narkotika dan bukan merupakan program pendukung
penghalalan narkotika, akan tetapi program ini mempunyai tujuan
kesehatan bagi pecandu. Harm Reduction melakukan pendekatan
kepada pecandu narkotika dari segi kesehatan bukan dari segi
pemberantasan napza. Perkembangan Harm Reduction masih perlu
banyak pengembangan, mekanisme pelaksanaan program harus
dilaksanakan secara runtun dan sistematis untuk menghindari presepsi
ganda dari masyarakat dimulai dari sosialisasi sampai monitoring dan
evaluasi