Anda di halaman 1dari 38

PONDASI TELAPAK TERPISAH

DAN PONDASI MEMANJANG

Gambar 3.1. Contoh bentuk – bentuk pondasi


(a). Pondasi Memanjang
(b). Pondasi Telapak Terpisah
Contoh Penyelesaian Soal :
Bangunan bertingkat yang dilengkapi ruang bawah tanah berukuran 10m x 30m akan
dibangun diatas tanah pasir. Perancangan pondasi bangunan tersebut dipertimbangkan
dapat diwakili oleh penampang bangunan pada gambar berikut :
(c) Pembebanan dan dimensi fondasi
Dasar pondasi terletak pada kedalaman 2,5m dari permukaan tanah. Beban – beban
dinding P1 dan P3 sebesar 35 t/m ' , sedang beban kolom P2 sebesar 100 ton. Beban –

beban tersebut sudah termasuk beban – beban lantai, tanah diatas pelat pondasi dan
beban struktur. Garis kerja resultan beban – beban dinding P1 dan P3 eksentris dengan e
= 20 cm kearah dalam bangunan. Dari beberapa pengujian kerucut statis yang dilakukan
pada lokasi bangunan tersebut, kondisi tanah dasar dapat diwakili oleh hasil pengujian
seperti yang terlihat pada gambar diatas. Data berat volume tanah menurut kedalaman
adalah sebagai berikut :
(1). Dari 0 – 2,5m : 1 = 1,65 t/m3
(2). Dari 2,5 – 6m : 2 = 1,65 t/m3
(3). Dari 6 – 9,75m : 3 = 1,8 t/m3
(4). Dari 9,75 – 11,75m : 4 = 1,7 t/m3
Sudut gesek dalam tanah efektif  ' dibawah dasar pondasi rata – rata adalah 35o dan c =

0. Muka air tanah sangat dalam. Hitung dimensi pondasi yang memenuhi syarat faktor
aman terhadap daya dukung dan penurunan (disyaratkan penurunan maksimum 40 mm

dan  
1 
 . Dalam hitungan daya dukung gunakan persamaan Meyerhof (1963).
L 300 
Penyelesaian :
(a). Hitungan Dimensi Pondasi Dan Daya Dukung.
Persamaan daya dukung aman :

qs 
1
F
   
q un  D f  (a)

Persamaan daya dukung ultimit neto :


q un  q u  D f  (b)
Dalam kasus ini kedalaman dasar pondasi yang diperhitungkan dalam hitungan daya
dukung adalah D’. Karena itu persamaan umum daya dukung pondasi memanjang
menjadi
q u  cN c  D' N q  0,5BN 

Dengan memperhatikan faktor kedalaman dan bentuk fondasi maka


q u  s c d c cN c  s q d q D' N q  s  d  0,5BN  (c)

(Karena beban vertikal, i c = iq= i = 1)


Substitusi persamaan (c) ke persamaan (a) dan (b), diperoleh persamaan daya dukung
aman :
1
qs   scd ccNc  sqd q D' N q  s  d  0,5BN   Df    Df 
F
Untuk fondasi pada tanah pasir dengan c = 0 dan  = 35o, maka
1
qs   s q d q D ' N q  s  d  0,5BN   Df    Df 
F

Diketahui  = 35o, dari gambar di atas diperoleh :


N q(m) = 33 dan N (m) = 48
N q(bs) = 43 dan N (bs) = 60

(a.1) Untuk Pondasi P2 (Dibuat Bentuk Bujur Sangkar)


Faktor-faktor bentuk dan kedalaman fondasi untuk fondasi empat persegi panjang yang
disarankan oleh Meyerhof (1963) :

B  N q ( bs )   43 
sq  1   1  1  1  1  1,3
L  N q(m)   33 
 

B  N  ( bs )   60 
s  1   1  1  1  1  1, 25
L  N  ( m)   48 
 

Karena B = L, maka B/L = 1

d q  d   1  0,1
D'
B2
 
tg 45 o   / 2  1  0,1
0,5
B2

tg 45 o  35 o / 2  1 
0,1
B2

100 1   0,1   0,1  
qs   1,3x   x 0,5x1,65x 33  1,25 x 1   x 0,5 xB 2 x1,65x 48   2,5x1,65     2,5 x1,65
2 3 1  B   B2 
B2 
  2    

diperoleh :
100 1,18
 16,19   16,56B 2
B2
2
B2

16,56 B 3 2
2  16,19 B 2  1,18B 2  100  0

Dengan cara coba-coba dan dengan sedikit dilebihkan, diperoleh B2 = 1,6 m


Jadi ukuran fondasi kolom P 2 adalah 1,6 meter x 1,6 meter.
(a.2) Untuk Pondasi Memanjang P1 Dan P2
Diketahui beban eksentris dengan e = 0,2 meter. Bila resultan beban diletakkan pada
pusat fondasi, berlaku persamaan daya dukung dengan beban vertikal dan terpusat.
Oleh karena itu, lebar fondasi yang digunakan dalam hitungan daya dukung adalah lebar
fondasi sebenarnya (B).

Untuk fondasi memanjang sq = s = 1


0,1
dq  d   1
B3

1
qs   d q D' N q  d  0,5BN   Df    Df 
F

35 1  0,1   0,1  
 1   x 0,5x1,65x33  1   x 0,5xB 3 x1,65x 48   2,5x1,65    2,5x1,65
B3 3  B 3  
 B 3  

35 2,24
 13,09   13,31B 3
B3 B3

13,31B 32  13,09 B 3  32,76  0

Diperoleh B3 = 1,2 m
Luasan fondasi dibuat simetris terhadap resultan beban. Jadi tekanan pada dasar fondasi
35 2
per meter panjang terbagi rata sebesar  29,2 ton/m
1,2 x1
(b) Hitungan Tambahan Tegangan Vertikal
(b.1) Tambahan Tegangan Vertikal (z) Di Bawah Pusat Pondasi P1
Fondasi P1 dan P3 : qn = 29,2 – (2,5 x 1,65 ) = 25,1 ton/m2
100
Fondasi P2 : q n   (2,5 *1,65)  34,94 ton/m 2
2
1,6

Hitungan faktor pengaruh untuk pondasi memanjang dan pondasi bujur sangkar
diperoleh dari gambar di bawah ini, dengan z = kedalaman lapisan yang dihitung dari
dasar pondasi, dan x – jarak horisontal dari pusat ke pusat luasan pondasi.
Tabel di bawah memperlihatkan jumlah tambahan tegangan (  2 ) di bawah pondasi P1
oleh pengaruh bebannya sendiri dan beban-beban pondasi P2 dan P3 .

 z Dibawah Pusat Pondasi P1 Oleh Pengaruh Beban Pondasi P1 (B1 = 1,2m ; qn =

225,1 t/m2)
Kedalaman z z x x  z  z
(m) (m) B1 (m) B1 qn
(t/m2)
4,25 1,75 1,46 0 0 0,4 10,04
7,875 5,375 4,48 0 0 0,15 3,77
10,75 8,25 6,88 0 0 0,09 3,26

 z Dibawah Pusat Pondasi P1 Oleh Pengaruh Beban Pondasi P2 (B2 = 1,6m ; qn =


34,94 t/m2)
Kedalaman z z x x  z  z
(m) (m) B1 (m) B1 qn
(t/m2)
4,25 1,75 1,10 5 3,13 0,001 0,035
7,875 5,375 3,36 5 3,13 0,008 0,28
10,75 8,25 5,16 5 3,13 0,008 0,28
 z Dibawah Pusat Pondasi P1 Oleh Pengaruh Beban Pondasi P3 (B3 = 1,2m ; qn =
25,1 t/m2)
Kedalaman z z x x  z  z
(m) (m) B1 (m) B1 qn
(t/m2)
4,25 1,75 1,46 10 8,3 0 0
7,875 5,375 4,48 10 8,3 0 0
10,75 8,25 6,88 10 8,3 0 0

Tambahan Tegangan Vertikal (  z ) Dibawah Pusat Pondasi P1 Akibat Pengaruh


Beban - Beban Pondasi P1,P2,P3
Kedalaman  z
(m) (t/m2)
4,25 10,04 + 0,035 + 0 = 10,08
7,875 3,77 + 0,28 + 0 = 4,05
10,75 2,26 + 0,28 + 0 = 2,54
(b.2) Tambahan Tegangan Vertikal (  z )Dibawah Pusat Pondasi P2

 z dibawah pusat pondasi P2 akibat pengaruh beban pondasi P3 (B3 = 1,2m , qn = 25,1

t/m2) sama dengan  z akibat pengaruh beban pondasi P1, karena jarak antara kedua
dinding terhadap kolom P2 sama (x = 5m). Tabel memperlihatkan jumlah tambahan
tegangan (  z ) dibawah pondasi P2 oleh pengaruh bebannya sendiri dan beban – beban
pondasi P1 dan P3

 z Dibawah Pusat Pondasi P2 Oleh Pengaruh Beban Pondasi P1 (B1 = 1,2m ; qn =


25,1 t/m2)
Kedalaman z z x x  z  z
(m) (m) B1 (m) B1 qn
(t/m2)
4,25 1,75 1,46 5 4,17 0,009 0,23
7,875 5,375 4,48 5 4,17 0,055 1,38
10,75 8,25 6,88 5 4,17 0,05 1,26
 z Dibawah Pusat Pondasi P2 Oleh Pengaruh Beban Pondasi P2 (B2 = 1,6m ; qn =
34,94 t/m2)
Kedalaman z z x x  z  z
(m) (m) B1 (m) B1 qn
(t/m2)
4,25 1,75 1,09 0 0 0,4 13,98
7,875 5,375 3,36 0 0 0,042 1,47
10,75 8,25 5,16 0 0 0,019 0,66

Tambahan Tegangan Vertikal (  z ) Dibawah Pusat Pondasi P2 Akibat Pengaruh


Beban - Beban Pondasi P1,P2,P3
Kedalaman  z
(m) (t/m2)
4,25 0,23 + 0,23 + 13,98 = 14,44
7,875 1,38 + 1,38 + 1,47 = 4,06
10,75 1,26 + 1,26 + 0,66 = 3,18
(b.3). Tambahan Tegangan vertikal (  z ) Dibawah Pusat Pondasi P3
Hitungannya sama dengan hitungan tambahan tegangan vertikal dibawah pusat pondasi
P1, karena susunan pondasinya simetris terhadap P 2

(c). Hitungan Penurunan


Karena tanah pondasi berupa pasir, penurunan totalnya hanya berupa penurunan segera.
Hitungan penurunan dilakukan dengan menggunakan cara De Beer dan Marten

Hitungan Penururnan Pondasi P1 = P3


Lapisan z qc p 'o p H SI
C
(m) (m) (t/m2) (t/m ) 2
(t/m2) (m) (m)
2,5 – 6 4,25 1200 7,01 10,08 256,8 3,5 0,012
6 – 9,75 7,875 1200 13,28 4,05 135,6 3,75 0,007
9,75 – 11,75 10,75 300 18,35 2,54 24,52 2 0,01
Hitungan penurunan pondasi P1 dapat dilihat pada tabel diatas, sebagai contoh :
Pada lapisan 2,5 – 6 m :
Jarak tengah – tengah lapisan dari dasar pondasi z = 4,25 m
p 'o = (2,5 x 1,65) + (4,25 x 1,65) = 7,01 t/m 2
p = z = 10,08 t/m2 (dari tabel tambahan tegangan vertikal dibawah pusat pondasi P 1
akibat pengaruh beban - beban pondasi P1,P2,P3)
qc 1200
C  1,5x  1,5x  256,8
p 'o 7,01

H Po'  p 3,5 7,01  10,08


SI  ln  ln  0,012 m
C ' 256,8 7,01
Po

Penurunan segera pondasi P1 = P3 dengan ;


 0,012  0,007  0,01  0,029 m  29 mm  40 mm  OK 
S
   S i P 
i P3 3

Hitungan Penurunan Pondasi P2


Lapisan z qc p 'o p H SI
C
(m) (m) (t/m2) (t/m2) (t/m2) (m) (m)
2,5 – 6 4,25 1200 7,01 14,44 256,8 3,5 0,015
6 – 9,75 7,875 1200 13,28 4,06 135,6 3,75 0,007
9,75 – 11,75 10,75 300 18,35 3,18 24,52 2 0,013
Penurunan pondasi P2 :
S
   0,015  0,007  0,013  0,035 m  35 mm  40 mm  OK 
i P2

Dari hitungan diatas diperoleh penurunan maksimum 35 mm < 40 mm. Besarnya beda
penurunan akibat penurunan tak seragam antara pondasi P1 dan P2, atau antara P3 dan P2
  S  S
   SiP   35  29  6 mm
i P2 1

 6 1 1
Distorsi kaku,     OK 
L 500 833 300

Dari pertimbangan faktor aman terhadap daya dukung dan penurunan toleransi, dimensi
dan kedalaman ketiga pondasi memenuhi syarat. Jadi untuk dinding P1 dan P3, dipakai
pondasi memanjang dengan lebar = 1,2 m dan untuk kolom P2 dipakai pondasi bujur
sangkar dengan lebar = 1,6 m
PONDASI DINDING
Contoh Penyelesaian Soal 1 :
Rencanakan suatu pondasi telapak beton tanpa tulangan untuk menopang dinding batu
bata setebal 300 mm seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Beban guna terdiri dari
beban mati (termasuk berat sendiri dinding) 150 kN/m dan beban hidup 300 kN/m.
f c'  20 Mpa , tekanan tanah ijin 250 kPa, berat tanah W e = 16 kN/m3.

Gambar Pondasi Telapak Beton Nir-Tulangan Menopang Dinding


Hitung beban rencana terfaktor :
Wu  1,2WDL  1,6WLL
Wu  1,2150  1,6 300
Wu  660 kN/m

Misalkan tebal pondasi telapak diambil d = 1m (pada akhir perhitungan dilakukan


pemeriksaan terhadap keamanan akibat pemisalan ketebalan pondasi )
Berat pondasi = 1(23) = 23 kN/m2 = 23 kPa
Dimisalkan pula kedalaman dasar pondasi adalah 1,50 m dari permukaan tanah, berat
tanah yang mengurug pondasi = 0,5 x 16 = 8 kN/m2 = 8 kPa.
Maka tekanan tanah ijin neto untuk melawan beban kerja adalah = 250 – 23 – 8 = 219
kPa
Tekanan tanah ijin maksimum untuk perencanaan kekuatan ditentukan melalui
modifikasi yang sesuai dan konsisten dengan yang digunakan untuk beban kerja. Hal
tersebut diselesaikan dengan cara mengalikan nilai tersebut diatas dengan nilai banding
beban rencana total (660 kN/m) terhadap beban kerja total (450 kN/m).
Dengan demikian, didapat nilai tekanan ijin maksimum khusus digunakan untuk
perencanaan kekuatan pondasi telapak. Agar dicatat bahwa tekanan tanah tersebut
jangan diartikan sebagai tekanan tanah ijin aktual.
 660 
219   312,2 kPa
 450 

Selanjutnya lebar pondasi telapak yang diperlukan dapat ditentukan sebagai berikut :
660
 2,11 m  2,2 m
312,2

Apabila digunakan lebar pondasi tersebut, maka nilai tekanan tanah rencana yang
660
digunakan untuk perencanaan pondasi adalah :  300 kPa
2,2

Dengan diketahuinya tekanan tanah rencana, dapat dihitung momen lentur pada pondasi
telapak. Untuk dinding pasangan batu, bata atau blok beton yang di Indonesia dikenal
sebagai batako dsb, letak penampang kritis momen ditentukan pada potongan ditempat
0,25 tebal dinding (SK SNI-15-1991-03 pasal 3.8.4 ayat 2.b). Dengan mengacu pada
gambar diatas, momen rencana ditentukan sebagai berikut :
Mu = 0,5 x 300 x 1,0252 = 157,6 kNm
Dengan memperhitungkan sebagai pondasi telapak tanpa tulangan dan penampang
empat perssegi panjang (lebar = 1m), tegangan tarik beton f t pada sisi permukaan dasar
pondasi adalah :
Mu
ft 
S

Dimana :
S = modulus penampang = 1/6bh 2
b = 1m
h = tebal pondasi total (mm)
Dari SK SNI-15-199103 pasal 3.2.5 ayat 3. Ditentukan bahwa modulus keruntuhan

lentur beton f r  0,70 f c' . Apabila diberikan batasan bahwa tegangan tarik maksimum

ijin yang timbul didalam pondasi beton tanpa penulangan adalah 2/3  fr, dengan nilai 
2
= 0,60. Maka ft maksimum =  0,6 0,7  f c'  0,28 f c'  0,28 20  1,252 MPa dan tebal
3

pondasi telapak diperlukan dapat ditentukan sebagai berikut :


Mu
S perlu 
ft

1 Mu 157,6 x10 3
2
bh perlu  
6 ft 1,252

6 x157,6 x10 3
2
h perlu   0,755 m 2
1,252

h perlu = 0,869 m.
Didalam praktek biasanya menganggap bahwa lapisan beton setebal 25 mm sampai
dengan 50 mm pada dasar pondasi yang berhubungan langsung dengan tanah berupa
beton berkwalitas buruk dan diabaikan didalam perhitungan kekuatan, Sehingga tebal
pondasi telapak yang diperlukan ditentukan sbb :
0,869 + 0,05 = 0,915  0,92 m. Nilai tersebut ternyata cukup dekat dan aman terhadap
anggapan awal tebal pondasi sehingga tidak perlu dilakukan revisi hitungan .
Perencanaan pondasi telapak beton tanpa tulangan umumnya mengabaikan peninjauan
kuat geser, karena pondasi cukup tebalnya sehingga pengaruhnya kecil.
Apabila penampang geser kritis terletak pada jarak sama dengan tinggi efektif atau 950
mm (h yang diperlukan) dari garis sisi muka dinding, ternyata tempat tersebut sudah
dekat dengan ujung tepi pondasi. Dengan demikian tentunya gaya geser yang terjadi
ditempat tersebut dapat diabaikan karena sangat kecil.
Apabila menggunakan ketentuan SK SNI-15-1991-03 pasal 3.4.3 ayat 1.1 untuk
komponen struktur yang hanya dibebani oleh geser lentur saja, maka tegangan geser
rata-rata pada pondasi beton tanpa tulangan terletak diatas tanah yang dianggap
1
berperilaku sebagai balok satu arah tidak boleh melampaui  f c'
6

1 1
 f c'  0,8 20  0,596 MPa
6 6

Ternyata nilai batas tersebut cukup tinggi sehingga untuk pondasi yang sedang
dibahas tidak diperlukan gaya gesernya. Pada umunya didalam praktek juga
dipasang tulangan baja memanjang untuk pondasi beton dinding menerus, baik
yang menggunakan tulangan pokok melintang (arah lebar) ataupun tidak.
Pemasangan tulangan tersebut pada hakekatnya akan memberikan integritas
struktural karena dapat mengekang terjadinya pergerakan yang berbeda dari
bagian–bagian pondasi (differential settlement, misal), yang dapat mengakibatkan
timbulnya retak melintang (arah lebar). Dengan dipasangnya tulangan
memanjang juga akan memberikan cadangan kuat lentur arah memanjang
pondasi untuk mengantisipasi munculnya banyak hal yang sukar ditentukan baik
dari perilaku tanah yang mendukung pondasi ataupun beban yang bekerja.
Perencanaan tulang arah memanjang menggunakan nilai minimum.
Diperhitungkan sama dengan tulangan susut dan suhu pada plat penulangan satu arah,
yaitu :
As perlu = 0,0020 bh
As perlu = 0,0020 x 1000 x 920
As perlu = 1840 mm2/m’ lebar.
Apabila digunakan batang tulangan D19 dengan jarak spasi 150 mm yang luas
penampangnya 1890 mm2 kiranya sudah cukup memadai. Dengan demikian tampak
bahwa dengan adanya keharusan memasang tulangan memanjang, meskipun dalam
jumlah minimum sekalipun menghasilkan perencanaan yang tidak ekonomis. Pada
akhirnya membawa pada kesimpulan bahwa penggunaan pondasi beton tanpa tulangan
untuk dinding menerus perlu dipertanyakan, terutama apabila menopang beban yang
cukup berat. Perlu dipikirkan untuk menggunakan alternatif lain misalnya pondasi
pasangan batu yang umumya masih cukup memadai. Untuk mendapatkan gambaran
yang lebih jelas, dengan cara membandingkannya, berikut ini diberikan penyelesaian
kasus yang sama tetapi dengan menggunakan pondasi beton bertulang..
Contoh Penyelesaian Soal 2:
Rencanakan pondasi beton bertulang untuk dinding blok beton (batako) tebal 300 mm
seperti tampak pada gambar dibawah ini. Beban kerja terdiri dari beban mati (sudah
termasuk berat dinding) 145 kN/m’ dan beban hidup 300 Kn/m’. f c'  20  MPa , fy = 300
Mpa, berat tanah 15,7 kN/m3, tekan tanah ijin 240 Kpa. Dasar pondasi terletak pada
kedalaman 1, 5m dari permukaan tanah.

Penyelesaian :
Menghitung beban rencana terfaktor :
Wu = 1,2 WDL + 1,6 WLL
Wu = 1,2 (145) + 1,6 (300) = 654 kN/m
Pertama – tama memperkirakan tebal pondasi = 500mm
Maka berat pondasi adalah = 23 (0,5) = 11,5 kN/m2
Dasar pondasi terletak pada kedalaman 1,50 meter di atas tanah, di atas pondasi terdapat
tanah setebal 1,0 meter yang beratnya adalah = 15,7 (1,0) = 15,7 kN/m2
Tekanan tanah ijin yang akan menopang beban kerja adalah :
240 – 11,5 – 15,7 = 121,8 kPa
Seperti yang dikerjakan pada contoh 1 terdahulu, digunakan nilai banding beban
terfaktor terhadap beban kerja dalam menentukan besarnya tekanan tanah untuk kuat
rencana.
654( 212,8)
 312,7 kPa
445

Lebar pondasi yang diperlukan adalah :


654
 2,09 m  gunakan 2,10 m
312,7

Gambar Pondasi Beton Bertulang Untuk Dinding


Apabila digunakan lebar pondasi tersebut, maka nilai tekanan tanah rencana yang
digunakan untuk perencanaan pondasi adalah :
654
 311,4 kPa
2,1

Tinggi efektif pondasi aktual (d) didapatkan dengan mengurangkan tebal selimut beton
dan setengah kali diameter batang tulangan baja (dianggap menggunakan batang D 25)
pada tebal pondasi total :
D = 500 – 75 – 12,5 = 412,5
Karena pada umumnya untuk menentukan tebal perlu pondasi beton bertulang
tergantung pada nilai gaya geser yang harus dipakai, maka terlebih dahulu perlu
memeriksa gaya geser tersebut.
Dengan mengacu pada gambar di atas karena cara pondasi dinding dalam menahan gaya
geser mirip dengan kejadian pada balok atau plat penulangan satu arah, penampang
kritis geser terjadi di tempat dengan jarak sama dengan tinggi efektif pondasi (412,5
mm) dari sisi muka dinding (SK SNI-15-1991-03 pasal 3.4.11).
Vu = 0,4875 x 1 x 311,4 = 151,81 kN/m1 dinding
Kuat geser nominal total V n merupakan penjumlahan dari kuat geser beton (V c) dan
kuat geser tulangan geser (Vs). Karena tidak digunakan tulangan geser didapat :
1 
Vn  Vc   Vc'  bd
6 
1 
Vn  0,6 20 1000 412,5
6 
Vn  184,48 kN
Maka Vu  Vn
Dengan demikian maka perkiraan tebal pondasi yang ditetapkan cukup memadai untuk
menahan geser dan tidak diperlukan tulangan geser, sehingga tidak perlu diubah.
Mengacu pada gambar di bawah ini penampang kritis untuk moment terjadi pada tempat
berjarak seperempat tebal dinding dari muka dinding (SK SNI-15-1991-03 pasal 3.8.4.
ayat 2.2)

Gambar Pondasi Beton Betulang Untuk Dinding


PONDASI TELAPAK KOLOM SETEMPAT
Dari ketentuan SK SNI-15-1991-03 pasal 3.4.11. ayat 2, Vc ditentukan dari nilai terkecil
dari persamaan – persamaan berikut :
 2  ' 
Vc   1   2 f c b o d SK SNI-15-1991-03 (3.4 – 36a)
 
 c  

 d  1 
Vc   s  2  f c' b o d SK SNI-15-1991-03 (3.4 – 36b)
 b  12 
 o 

 
Vc   4 f c' b o d SK SNI-15-1991-03 (3.4 – 36c)
 

Dimana :
o = rasio sisi panjang terhadap sisi pendek dari beban terpusat yang bekerja atau
bidang reaksi
bo = panjang keliling penampang kritis geser dua arah yang bekerja pada pondasi
telapak
s = 40 untuk kolom interior
s = 30 untuk kolom eksterior
s = 20 untuk kolom sudut
Kuat geser beton pada pondasi telapak diperhitungkan sebagai berikut :
1 
Vc   f c' b w d
6 

Untuk kedua jenis kuat geser pada pondasi tersebut, apabila untuk keduanya tanpa
penulangan geser, sebagai dasar perencanaan kuat geser adalah :
Vu  Vn Dimana Vn  Vc

Gambar 3.7. Penampang Kritis Untuk Perencanaan Pondasi Beton Bertulang


Yang Mendukung Kolom Atau Umpak Pedestal
PONDASI BUJUR SANGKAR
Contoh Penyelesaian Soal :
Rencanakan suatu pondasi bertulang bujur sangkar yang mendukung kolom beton 500 x
500 mm2 dengan pengikat tulangan sengkang.
Data perencanan :
Beban kerja mati = 1000 kN
Beban kerja hidup = 780 kN
Tekanan tanah ijin = 240 kPa
Pondasi terletak pada kedalaman = 1,7 m dari permukaan tanah
f c' kolom = 20 MPa, fy = 300 MPa
Tulangan memanjang kolom terdiri dari batang tulangan baja D 25

Penyelesaian :
Karena tebal pondasi telapak belum diketahui, maka berat pondasi dan tanah diatasnya
digunakan nilai berat rata – rata 19,6 kN/m3 . Untuk kedalaman 1,7 m dari permukaan
tanah sampai dasar pondasi
Tekanan tanah yang timbul dibawah pondasi akibat beban tersebut diatas adalah : 1,7
(19,6) = 33,32 kN/m3
Maka tekanan tanah ijin efektif untuk mendukung beban total adalah : 240 – 33,32 =
206,7 kN/m3
Luas pondasi yang diperlukan dapat ditentukan baik dengan menggunakan nilai awal
beban kerja dan tekanan tanah ijin maupun nilai beban kerja dan tekanan tanah ijin
terfaktor sesuai dengan SK SNI-15-1991- 03.
Dengan menggunakan nilai awal beban kerja :
1000  780
A perlu   8,61 m 2
206,7

Dipakai pondasi telapak bujur sangkar 2,90 m x 2,90 m = 8,41 m 2, berarti lebih kecil
 2,3 % dari yang diperlukan. Karena penetapan dimensi banyak mengandung anggapan

– anggapan dan ketidakpastian, ukuran bujur sangkar tersebut akan dicoba dengan
harapan dapat memenuhi syarat.
Selanjutnya dihitung tekanan tanah terfaktor yang diakibat oleh beban yang bekerja :
P 1,21000  1,6 780 
pu  u   291 kN/m 2
A 8,41

Tebal pondasi telapak biasanya ditentukan berdasarkan persyaratan kuat geser.


Dalam kasus ini akan diambil langkah memperkirakan terlebih dahulu tebal
pondasi, untuk itu kemudian diperiksa kuat gesernya. Apabila tebal pondasi
ditentukan 700 mm, dengan tebal selimut beton 75 mm, dan menggunakan batang
tulangan D25 untuk masing – masing arah, maka tinggi efektif adalah d = 700 – 75
– 25 = 600 mm merupakan nilai rata – rata tinggi efektif yang akan digunakan
untuk perhitungan perencanaa pada kedua arah kerja struktur kantilever.
Kuat geser pondasi telapak kolom setempat dibedakan menjadi dua keadaan :
1. Bekerja pada dua arah sumbu
2. Bekerja pada satu arah sumbu
Letak penampang kritis untuk masimg – masing kondisi dapat dilihat pada gambar
berikut ini :

Gambar 3.8. Analisis Geser Pondasi Telapak


Untuk Arah Kerja Dua Arah :
B = lebar kolom + (d/2)2 = 500 + 600 = 1100 mm
Gaya geser total terfaktor yang bekerja pada penampang kritis adalah
Vu = pu (W2 – B2)
Vu = 291 (2,92 – 1,1002) = 2095 kN
 2 
Kuat geser beton adalah = Vc  1  2 f c' b o d
  
 c 

Tetapi nilai tersebut tidak boleh lebih besar dari = Vc   4 f c' b o d
 

Karena c = 1, kuat geser maksimum akan menjadi :

 
Vc   4 f c' b o d  4 20 1100 4  600  47226 kN
 
Vn  Vc  0,60 47226  28336 kN
maka Vu  Vn
Untuk Arah Kerja satu Arah :
Gaya geser total terfaktor yang bekerja pada penampang kritis adalah :
Vu = pu WG
Vu = 291 (2,9)(0,6) = 506,3 kN
Kuat geser beton adalah :
1
Vc  
6

f c' b w d 

1
6
 
20  2900  600  1297 kN

Vn  Vc  0,601297   778,2 kN


maka Vu  Vn

Dengan demikian pondasi memenuhi persyaratan geser. Selanjutnya diperiksa anggapan


yang digunakan pada langkah awal mengenai berat pondasi berikut tanah diatasnya,
gunakan nilai berat tanah adalah 15,7 kN/m3
23(0,7) + 15,7(1) = 31,8 kN/m2
Sehingga anggapan yang dipakai 33,32 kN/m2 adalah agak konservatif (aman),
berselisih sedikit sehingga hitungan tidak perlu direvisi.
PONDASI EMPAT PERSEGI PANJANG
Contoh Penyelesaian Soal :
Rencanakan suatu pondasi bertulang untuk mendukung kolom beton bujur sangkar 500
mm berpengikat tulangan sengkang. Satu sisi pondasi dibatasi tidak dapat lebih besar
dari 2,3 m.
Data perencanan :
Beban kerja mati = 780 kN
Beban kerja hidup = 780 kN
Tekanan tanah ijin = 240 kPa
Pondasi terletak pada kedalaman = 1,65 m dari permukaan tanah
f c' kolom = 20 MPa, fy = 300 MPa
Tulangan memanjang kolom terdiri dari batang tulangan baja D 25
Penyelesaian :
Karena tebal pondasi telapak belum diketahui, maka berat pondasi dan tanah diatasnya
digunakan nilai berat rata – rata 19,6 kN/m3 . Untuk kedalaman 1,65 m dari permukaan
tanah sampai dasar pondasi
Tekanan tanah yang timbul dibawah pondasi akibat beban tersebut diatas adalah : 1,65
(19,6) = 32,34 kN/m3
Maka tekanan tanah ijin efektif untuk mendukung beban total adalah : 240 –
32,34 = 207,7 kN/m3
Luas pondasi yang diperlukan dapat ditentukan baik dengan menggunakan nilai awal
beban kerja dan tekanan tanah ijin maupun nilai beban kerja dan tekanan tanah ijin
terfaktor sesuai dengan SK SNI-15-1991- 03.
Dengan menggunakan nilai awal beban kerja :
780  780
A perlu   7,51 m 2
207,7

Dipakai pondasi telapak empat persegi panjang 2,3 m x 3,3 m = 7,59 m 2.


Selanjutnya dihitung tekanan tanah terfaktor yang diakibat oleh beban yang bekerja :
Pu 1,2 780   1,6 780 
pu    288 kN/m 2
A 7,59

Tebal pondasi telapak biasanya ditentukan berdasarkan persyaratan kuat geser. Dalam
kasus ini akan diambil langkah memperkirakan terlebih dahulu tebal pondasi, untuk itu
kemudian diperiksa kuat gesernya. Apabila tebal pondasi ditentukan 650 mm, dengan
tebal selimut beton 75 mm, dan menggunakan batang tulangan D25 untuk masing –
masing arah, maka tinggi efektif adalah d = 650 – 75 – 25 = 550 mm merupakan nilai
rata – rata tinggi efektif yang akan digunakan untuk perhitungan perencanaan pada
kedua arah kerja struktur kantilever. Pertama – tama pemerikasaan terhadap kuat keser :
Untuk Arah Kerja Dua Arah (Lihat gambar 3.9 a) :
B = lebar kolom + (d/2)2 = 500 + 550 = 1050 mm
Gaya geser total terfaktor yang bekerja pada penampang kritis adalah :
Vu = pu (A – B2)
Vu = 288 (7,59 – 1,052) = 1868 kN

2  
' 
Kuat geser beton adalah = Vc  1   2 f c b o d
c  

500 mm
Karena  c   1 , maka kuat geser beton akan menjadi :
500 mm

 2
 1    
 
Vc  1   2 f c' b o d  6 f c'  b o  d 

Tetapi nilai tersebut diatas tidak boleh lebih beasr dari = Vc   4 f c' b o d
 

Sehingga kuat geser maksimum adalah :

 
 
Vc   4 f c' b o d  4 20 1050 4  550  41323 kN

Vn  Vc  0,60 41323  24794 kN


maka Vu  Vn
Gambar 3.9. Analisis Gaya Geser Pondasi
Untuk Arah Kerja satu Arah (Lihat gambar 3.9 b) :
Dilakukan peninjauan hanya terhadap gaya geser melintang sisi pendek saja.
Penampang kritis terletak pada jarak yang sama dengan tinggi efektif pondasi telapak
terhadap sisi muka kolom
Gaya geser total terfaktor yang bekerja pada penampang kritis adalah :
Vu = pu WG
Vu = 288 (2,3)(0,85) = 563 kN
Kuat geser beton adalah :
1
Vc  
6

f c' b w d 

1
6
 
20  2300 550   943 kN

Vn  Vc  0,60 943  566 kN


maka Vu  Vn

Dengan demikian, maka kuat geser pondasi kurang sedikit. Namun karena nilai selisih
sangat kecil maka pondasi dapat dianggap memenuhi persyaratan geser. Selanjutnya
diperiksa anggapan yang digunakan pada langkah awal mengenai berat pondasi berikut
tanah diatasnya, gunakan nilai berat tanah adalah 15,7 kN/m 3
23(0,65) + 15,7(1) = 30,65 kN/m2
maka anggapan awal tekanan tanah 32,34 kPa cukup aman dan tidak perlu direvisi.

Anda mungkin juga menyukai