Anda di halaman 1dari 26

PELAPUKAN dan EROSI

Created By : Zahrina (1506103040032)


Pengertian Pelapukan
Pelapukan adalah proses desintegrasi
atau disagregasi secara berangsur dari
material penyusun kulit bumi yang berupa
batuan.
Proses pelapukan batuan
membutuhkan waktu yang sangat lama.
Semua proses pelapukan umumnya
dipengaruhi oleh cuaca. Batuan yang telah
mengalami proses pelapukan akan berubah
menjadi tanah.
Jenis-jenis Pelapukan
 Pelapukan Fisik
Pelapukan fisika adalah proses dimana
batuan pe!ah menjadi kepingan yang lebih
ke!il, tetapi tanpa mengalami perubahan
komposisi kimia dan mineral yang berarti.
Pelapukan fisik ini dapat menghasilkan
fragment/kristal kecil sampai blok kekar
(joint block) yang berukuran besar.
(Sutanto, 2005 : 29-31)
(Sumber : Tanjung, 2015 : 178)
Umumnya pelapukan fisik disebabkan oleh :
◦ Fluktuasi suhu
Perubahan sushu yang terjadi antara siang
(panas) dan malam (dingin) menyebabkan
pengembangan dan kontraksi antara bagian
permukaan dan sakhil (dalam) batujan atau
mineral.
◦ Air membeku
Volume es 9% lebih besar dibanding air; air yang
membeku diretakan batuan mengakibatkan batuan
menjadi pecah. Proses ini merupakan ciri khas
diwilayah yang mempunyai iklim dingin bersalju dan
iklim kutub.
 Pelapukan kimia
Pelapukan kimia membuat komposisi
kimia dan mineralogi suatu batuan dapat
berubah.Mineral dalam batuan yang dirusak
oleh air kemudian bereaksi dengan udara
O2 atau CO2, menyebabkan sebagaian dari
mineral itu menjadi larutan. Selain itu, bagian
unsur mineral yanglain dapat bergabung
dengan unsur setempat membentuk kristal
mineral baru.
Proses pelapukan kimia :
1. Disolusi
Terutama terjadi pada garam-garam yang
larut dalam air seperti natrium klorida (NaCl), dan
gipsum (CaSO4.2H2O); terjadi pelarutan karena
pengikatan antara molekul air kutub ganda
(dipole) dan kation serta anion (penyusun garam)
serta kehilangan ion dalam larutan.

Sumber : (Sutanto, 2005 : 32-33).


2. Hidrolisis
Dekomposisi atau pelapukan oleh air
(H2O) akan terjadi pada garam-garam, baik
yang mudah larut maupun yang sukar larut,
yang terjadi atas basa kuat dan asam lemah
karena disosiasi H2O manjadi H+ dan OH-.
Contoh :
CaCO3 + 2HOH Ca (OH)2 + H2CO3
Sumber : (Sutanto, 2005 : 32-33).
3. Asidolisis
Reaksi mineral dengan ion H3O+ (H+). Reaksi
ini lebih intensif dibandingkan dengan hidrolisis di
dalam air murni. Ion H atau proton terutama berasal
dari asam lemah H2CO3 yang dihasilkan dari reaksi
CO2 atmosfer dan air.
Contoh :
Peranan H+ terhadap CaCO3 :
CaCO3 + H2CO3 Ca(HCO3)2

Sumber : (Sutanto, 2005 : 32-33).


 Oksidasi
Unsur tereduksi (Fe2+, Mn2+, S2)
mengalami oksidasi karena ada oksigen (O2)
dan H2O serta mikroorganisme sehingga
terbentuk Fe3+, Mn4+, S4+. Proses Oksidasi
Fe3+ Fe(OH)3 menyebabkan warna
merah. Tanah berwarna merah menunjukkan
pelapukan lanjut.
Contoh :
 Oksidasi pirit (FeS2) :
4FeS2 + 15O2 + 10HOH 4FeOOH + 8H2SO4

H2O + SO3
 Pelapukan Organik (biologis)
Pelapukan Organik adalah pelapukan batuan
yang terjadi dikarenakan oleh makhluk hidup.
Pelapukan jenis ini dapat bersifat kimiawi ataupun
mekanis, yang menjadi pembedanya adalah subjek
pelakunya, yaitu makhluk hidup berupa manusia,
hewan, ataupun tumbuhan. Misalnya lumut,
cendawan, ataupun bakteri yang merusak
permukaan batuan.

Sumber : (Sutanto, 2005 : 32-33).


(Sumber : Tanjung, 2015 : 178)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pelapukan :
1. Keadaan struktur batuan
Struktur batuan adalah sifat fisik dan
kimia yang dimiliki oleh batuan. Sifat fisik
batuan, seperti warna batuan, sedangkan sifat
kimia batuan adalah unsur-unsur kimia yang
terkandung dalam batuan tersebut. Kedua sifat
inilah yang menyebabkan perbedaan daya tahan
batuan terhadap pelapukan. Batuan yang
mudah lapuk contohnya batu lempeng(batu
sedimen) dan batuan yang sukar lapuk
contohnya batuan beku.
Sumber : (Hartono, 2007 : 69-69)
2. Keadaan Topografi
Batuan yang berada pada lereng yang curam
cenderung akan mudah melapuk jika dibandingkan dengan
batuan yang berada di tempat yang landai.

3. Cuaca dan Iklim


Pada daerah yang memiliki iklim lembab dan
panas, batuan akan cepat mengalami proses
pelapukan jika dibandingkan dengan daerah yang
memiliki iklim dingin. Pergantian temperatur antara
siang yang panas dan malam yang dingin akan
semakin mempercepat pelapukan.
Sumber : (Hartono, 2007 : 69-69)
4. Keadaan Vegetasi
Akar-akar tumbuhan tersebut dapat
menembus celah-celah batuan. Jika akar
tersebut semakin membesar, kekuatannya akan
semakin besar pula dalam menerobos
bebatuan. Selain itu, serasah dedauann yang
gugur juga akan membantu mempercepat
proses pelapukan batuan. Serasah batuan
tersebut mengandung zat asam arang dan zat
humus yang dapat merusak kekuatan batuan.
Sumber : (Hartono, 2007 : 69-69)
Pemanfaatan Pelapukan
Akibat pelapukkan mekanaik pada batuan,
batu berubah menjadi pasir, yang bermanfaat
untuk membuat beton pada konstruksi
bangunan. Pasir kwarsa terjadi dari pelapukan
batuan yang mengandung kristal kuarsa yang
dicuci oleh alam misalnya oleh sungai, danau,
serta gelombang air laut di pantai. Kegunaan
pasir kuarsa sangat banyak, seperti tanah liat,
industri kimia, industri keramik dan
pengecoran besi.
Pengertian Erosi
Erosi adalah hasil pengikisan permukaan
bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan
benda-benda, sepertia ir mengalir, es, angin, dan
gelombang atau arus. Secara umum, terjadinya
erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim
(terutama intensitas hujan), topografi, karakteristik
tanah, vegetasi penutup tanah, dan penggunaan
lahan.

Sumber : (Lihawa, 2017 : 47).


Jenis-jenis erosi
1. Erosi Geologi
Erosi geologi merupakan proses
pengangkutan tanah yang terjadi secara
alami.
2. Erosi Dipercepat
Erosi yang terjadi karena pengaruh
interaksi alam dan manusia sebagai
pengguna sumberdaya alam.
Sumber : (Satriawan, 2014 : 12-13)
Faktor-faktor terjadi erosi
1. Iklim
Di daerah beriklim basah faktor iklim yang
mempengaruhi erosi adalah hujan. Besarnya curah
hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan
kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah
dan kecepatan aliran permukaan dan besarnya
erosi.

Sumber : (Satriawan, 2014 : 15-17)


2.Topografi
Dua unsur pokok topografi yang paling
berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi
adalah kemiringan dan panjang lereng. Unsur lain
yang juga berpengaruh adalah konfigurasi,
keseragaman dan arah lereng. Semakin besar
kemiringan lereng, selain akan menyebabkan
semakin besarnya jumlah dan kecepatan runoff,
juga memperbesar energi angkut air.

Sumber : (Satriawan, 2014 : 15-17)


Bentuk lereng dapat menggambarkan
bentuk erosi yang terjadi. Pengamatan
secera umum menunjukkan bahwa erosi
lembar yang besar terjadi pada lereng yang
berbentuk cembung, sedangkan erosi parit
lebih banyak terjadi pada lereng yang
berbentuk cekung.

Sumber : (Satriawan, 2014 : 15-17)


3.Vegetasi
Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan
erosi dapat dibagi dalam empat bagian :
(1) intersepsi hujan oleh akar tanaman;
(2) mengurangi energi, kecepatan aliran permukaan dan
kekuaan perusak air dan selanjutnya mengurangi
kemampuan aliran permukaan untuk melepas dan
mengangkut partikel tanah;
(3) pengaruh akar dan aktivitas biologis yang berhubungan
dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap
stabilitas struktur dan porositas tanah; dan
(4) transpirasi yang mengakibatkan kandungan air tanah
berkuran, sehingga terjadi kesetimbangan kadar air tanah.
Sumber : (Satriawan, 2014 : 15-17)
4.Tanah
Tiap jenis tanah mempunyai kepekaan
terhadap erosi yang berbeda. Kepekaan
tanah yaitu sifat mudah atau tidaknya tanah
tereros, yang merupakan interaksi sifat-sifat
fisik dan kimia tanah.
Permasalahan akibat erosi dan
pencegahnnya
Salah satu penyebab degradasi dipengaruhi
oleh erosi oleh air hujan. Laju erosi akan menjadi
lebih berbahaya apabila didukung oleh hilangnya
tutupan tanah, lahan berlereng dan panjang
ketebalan olahan tanah sehingga terangkutnya bahan
organik yang ada di atas permukaan tanah oleh
aliran permukaan (run off). Erosi adalah peristiwa
terdispersinya agregat tanah kemudian terangkut ke
tempat lain oleh aliran permukaan. Faktor yang
mempercepat proses terjadinya erosi adalah
kegiatan manusia dalam usaha produksi pertanian
maupun kegiatan kehidupan lainnya yang
memanfaatkan sumberdaya alam secara tidak
bertanggung jawab (Arsyad, 2010).
Beberapa usaha yang dilakukan untuk mengendalikan erosi, yaitu :

(a) Menutup tanah dengan tumbuh tumbuhan dan tanaman atau


sisa-sisa tanaman, agar tanah terlindung dari daya rusak butir-
butir hujan yang jatuh. Butir-butir hujan yang jatuh diusahakan
tidak langsung mengenai tanah sehingga tanah tidak
terdispersi. Di samping itu dengan adanya tanaman penutup
tanah (sisa-sisa tanaman yang dapat menutup tanah), akan
menghindari butiran tanah untuk ikut terbawa aliran
permukaan,
(b) Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten
terhadap penghacuran butiran tanah dan terhadap
pengangkutan butir tanah oleh aliran permukaan serta
memperbesar daya tanah untuk menyerap air di permukaan
tanah dan
(c) Mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan
yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang
terinfiltrasi ke dalam tanah (Arsyad, 2010).