Anda di halaman 1dari 47

GANGGUAN MOOD

CREATED BY : DIONISIUS 11.2015.045


UNIVERSITY : UKRIDA
MOOD DAN GANGGUAN MOOD
• Mood : Emosi yang menetap dan telah meresap yang dialami dan dilaporkan secara subjektif oleh pasien dan
teramati oleh orang lain.
• Gangguan Mood (Afektif) : Suatu sindrom, terdiri atas sekelompok tanda dan gejala yang bertahan selama
berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, yang menunjukan penyimpangan nyata fungsi habtiual seseorang serta
kecendrungan untuk kambuh, dalam bentuk periodik atau siklik.
• Mood meningkat : Ekpansivitas, flight of ideas, tidur berkurang, harga diri meningkat, serta gagasan kebesaran.
• Mood Menurun : Hilangnya energi dan minat, rasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilang nafsu makan, serta
pikiran mengenai kematian atau bunuh diri.
KLASIFIKASI GANGGUAN MOOD
• F30 : Episode manik
• F31 : Gangguan afektif bipolar
• F32 : Episode depresif
• F33 : Gangguan depresif berulang
• F34 : Gangguan suasana perasaan menetap
• F38 : Gangguan suasana perasaan lainnya
• F39 : Gangguan suasana perasaan yang tidak tergolongkan
EPIDEMIOLOGI
• Prevalensi sumur hidup gangguan depresif berat sekitar 15%, pada perempuan 25%.
• Insiden gangguan depresif berat 10% pada pasien yang berobat di fasilitas kesehatan
primer dan 15% di tempat rawat inap.
• Prevalensi seumur hidup bipolar I sekitar 1%.
SEKS
• Prevalensi depresif berat dua kali lebih besar pada perempuan daripada laki-laki.
• Prevalensi bipolar I seimbang antara perempuan dan laki-laki.
• Episode manik lebih sering terjadi pada laki-laki dan episode depresif pada perempuan
USIA
• Awitan gangguan bipolar I lebih dini daripada gangguan depresi berat.
• Bipolar I dengan usia rerata 30 tahun dan gangguan depresi berat sekitar 40 tahun.
STATUS PERNIKAHAN
• Gangguan depresif berat paling sering terjadi pada orang tanpa hubungan antarpersonal
yang dekat atau pada orang yang mengalami perceraian atau perpisahan.
• Gangguan bipolar I lebih lazim terjadi pada orang lajang dan orang yang bercerai daripada
menikah.
FAKTOR SOSIOEKONOMI DAN KEBUDAYAAN
• Bipolar I lebih sering ditemukan pada kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi dan lazim
ditemukan di perkotaan.
• Gangguan depresi lebih lazim pada kelompok sosioekonomi rendah dan di daerah
pedesaan.
ETIOLOGI – FAKTOR BIOLOGIS
• Abnormalitas metabolit amin biogenik – seperti asam 5-hidroksiindolasetat (5-hiaa), asam
homovanilat (HVA), dan 3-metoksi-4-hidroksifenilglikol (MHPG)
• Amin biogenik : Norepinefrin dan Serotonin
• Norepinefrin : Downregulation reseptor β2 – adrenergik
• Serotonin : Dikatikan dengan kegairahan dalam komunitas, impuls bunuh diri
• Dopamin : Reserpin dan Parkinson – Tirosin, Amfetamin, dan Bupropion
REGULASI NEUROENDOKRIN
• Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin dan menerima berbagai
input saraf melalui neurotransmiter amin biogenik.
• Aksis neuroendokrin utama : Aksis adrenal, tiroid, serta hormon pertumbuhan.
• Aksis lain : Melatonin, prolaktin, FSH dan LH, serta testosteron.
KELAINAN TIDUR
• Insomnia – hipersomnia adalah gejala klasik pada depresi, dan penurunan kebutuhan untuk
tidur merupakan gejala klasik mania.
• Awitan tidur yang tertunda, pemendekan latensi rapid eye movement (REM) (waktu antara
jatuh tertidur dan periode REM pertama), peningkatan lama periode REM pertama, serta
tidur delta abnormal.
IRAMA SIRKADIAN DAN KINDLING
• Depresi : gangguan pengaturan irama sirkadian yang abnormal ( jam biologis ZEITGEBERS
endogen )
• Kindling merupakan proses elektrofiologis saat stimulasi berulang neuron di bawah
ambang yang akhirnya mencetuskan potensial aksi. Pada tingkat organ seperti otak,
kindling dapat mencetuskan kejang.
REGULASI NEUROIMUN
• Disregulasi aksis kortisol mempengaruhi status imun.
• Kemungkinan kecil adalah pada beberapa pasien proses patofisiologi primer yang
melibatkan sistem imun akan menyebabkan gejala psikiatri gangguan mood.
FAKTOR GENETIK
• Data genetik menunjukan bahwa faktor genetik yang signifikan terlibat dalam timbulnya
gangguan mood tetapi pewarisan genetik terjadi melalui mekanisme yang kompleks.
• Komponen genetik memainkan peranan yang lebih bermakna di dalam menurunkan
gangguan bipolar I daripada gangguan depresif berat.
• Studi keluarga menemukan keluarga derajat pertama proban gangguan bipolar I
cenderung mengalami gangguan 8-18x dan keluarga proban gangguan depresif berat
cenderung mengalami gangguan 2-10x.
• Kromosom sebelas dan kromosom – X dikaitkan dengan gangguan bipolar I.
FAKTOR PSIKODINAMIK DEPRESI
• Teori Sigmund Freud :
1. Gangguan hubungan ibu-bayi pada fase oral (10 sampai 18 bulan pertama kehidupan)
2. Depresi terkait kehilangan objek nyata atau khayalan
3. Introyeksi objek yang meninggal adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan untuk
menghadapi penderitaan akibat kehilangan objek.
4. Kehilangan objek dianggap sebagai campuran benci dan cinta sehingga rasa marah diarahkan
dalam diri sendiri.
FAKTOR PSIKODINAMIK MANIA
• Teori Karl Abraham meyakini episode manik dapat mencerminkan ketidakmampuan
menoleransi suatu tragedi perkembangan, misalnya kehilangan orang tua.
• Keadaan manik terjadi akibat superego yang bersifat tirani, yang menghasilkan kritik diri
yang tidak dapat ditoleransi yang kemudian digantikan kepuasan diri yang bersifat euforia
yang menyenangkan seperti seks atau impuls yang ditakuti seperti agresi.
FORMULASI LAIN DEPRESI
• Teori Kognitif : Beck memberikan postulat trias kognitif kognitif-depresi yang terdiri atas L
1. Pandangan mengenai diri–aturan-diri yang negatif
2. Mengenai lingkungan - kecendrungan mengalami dunia sebagai sesuatu yang memusuhi dan
menuntut
3. Mengenai masa depan - harapan mengenai pendertiaan dan kegagalan

• Ketidakberdayaan yang dipelajari


GANGGUAN MOOD/AFEKTIF
• Gangguan afektif dibedakan menurut :
• Episode tunggal atau multipel
• Tingkat keparahan gejala :
• Mania dengan gejala psikotik - tanpa gejala psikotik, hipomania
• Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik berat - dengan gejala psikotik
• Dengan atau tanpa gejala somatik
EPISODE MANIK
• Mood yang meningkat, ekspansif, atau iritabel adalah tanda khas. Mood yang meningkat
bersifat euforik. Sebaliknya mood dapat iritabel. Pasien sering menunjukan perubahan
mood yang dominan.
• Kecendrungan mengalihkan tanggung jawab terhadap perbuatan mereka, eksploitasi
terhadap kelemahan orang lain, serta kecendrungan memecah-belah.
• Sifat disinhibisi, judi patologis, kecendrungan menanggalkan pakaian di tempat umum,
menggunakan pakaian serta perhiasan dengan warna mencolok dengan kombinasi yang
tidak biasa atau aneh.
MANIA PADA REMAJA
• Pada remaja sering salah diagnosis sebagai gangguan kepribadian antisosial atau
skizofrenia.
• Gejala mania pada remaja dapat mencakup psikosis, penyalahgunaan alkohol atau zat lain,
upaya bunuh diri, masalah akademik, gehala gangguan obsesif-kompulsif, berbagai keluhan
somatik iritabilitas yang jelas.
EPISODE MANIK
• Gambaran umum : Banyak bicara, sering hiperaktif
• Mood, Afek, dan Perasaan : Euforik, mungkin iritabel, toleransi rendah terhadap frustrasi, labil
• Pembicaraan : Tidak dapat disela, sering menjadi pengganggu bagi orang lain. Ketika mania menjadi
lebih intens, pembicaraan menjadi semakin keras, cepat, dan sulit diartikan, kemudian diisi dengan
lelucon sajak, bermain dengan kata-kata. Pada tingkat yang lebih besar, terdapat asosiasi longgar,
sulit konsentrasi, flight of ideas, word salad, dan neologisme.
LANJUTAN..
• Gangguan persepsi : Waham timbul pada 75% pasien manik. Waham berkenaan dengan kemakmuran,
kemampuan yang luar biasa, atau kekuatan. Waham bizar dan tidak kongruen mood dan halusinasi juga
terjadi pada mania.
• Pikiran : Isi pikir mencakup tema kepercayaan diri dan membesarkan diri. Pasien manik mudah teralih
perhatianya, dan fungsi kongnitif pada keadaan manik ditandai dengan arus gagasan yang tidak tertahan
dan dipercepat.
• Sensorium dan Kognisi : Orientasi dan memori intak.
• Kendali impuls : 75% Pasien bersifat menyerang atau mengancam.
LANJUTAN..
• Penilaian dan Tilikan : Gangguan dalam penilaian merupakan tanda khas.
• Taraf dapat dipercaya : Pasien manik dikenal tidak dapat dipercaya informasinya.
PEDOMAN DIAGNOSTIK – F30.0 HIPOMANIA
• Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek yang meninggi atau berubah disertai
peningkatan aktivitas, menetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut
(4 hari).
• Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai dengan
diagnosis hipomania.
• DD/ Hipertioridi, Anoreksia Nervosa
F30.1 MANIA TANPA GEJALA PSIKOTIK
• Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai
mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa
dilakukan.
• Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas
berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide
perihal kebesara dan terlalu optimistik
F30.2 MANIA DENGAN GEJALA PSIKOTIK
• Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1.
• Harga diri membumbung dan gagasan kebesaran berkembang menjadi waham kebesaran.
• Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut.
• DD/ Skizofrenia, skizoafektif tipe manik
EPISODE DEPRESIF
• Mood yang depresif serta hilangnya minat atau kesenangan adalah kunci gejala. Pasien dapat
mengatakan bahwa mereka merasa sedih, tidak ada harapan, bersusah hati, atau tidak berharga.
• Duapertiga pasien depresi berpikir untuk melakukan bunuh diri, 10-15% berhasil.
• Beberapa tidak menyadari gangguan mood, walaupun mereka menunjukan penarikan diri dari
keluarga, teman, dan aktivitas yang sebelumnya menarik bagi mereka.
• 97% pasien mengeluh berkurangnya energi - 80% mengeluh sulit tidur, terutama terbangun
sangat dini hari.
• Ansietas adalah gejala depresi yang lazim dan mengenai 90% pasien depresi.
DEPRESI PADA ANAK DAN REMAJA
• Fobia sekolah dan menempel terus pada orang tua dapat merupakan gejala depresi pada
anak.
• Buruknya kinerja di sekolah, penyalahgunaan zat, perilaku antisosial, berganti-ganti seksual,
bolos sekolah, dan melarikan diri dapat menjadi gejala depresi pada remaja.
DEPRESI PADA ORANG LANJUT USIA
• Depresi lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia daripada depresi pada populasi
umum. Angka prevalensi berkisar 25-50%.
• Depresi pada orang lanjut usia berkaitan dengan status sosioekonomi yang rendah,
kematian pasangan, penyakit fisik, serta isolasi sosial.
EPISODE DEPRESIF
• Gambaran umum : Retardasi psikomotor, agitasi ( meremas-remas tangan dan menarik-
narik rambut), postur tubuh bongkok, tidak ada gerakan spontan, tatapan mata menhindar
memandang ke bawah.
• Mood, Afek, dan Perasaan : Depresi merupakan gejala utama, penarikan diri secara sosial
dan aktivitas umum yang berkurang.
• Pembicaraan : Penurunan laju dan volume bicara
• Gangguan persepsi : waham, halusinasi, Depresi psikotik
LANJUTAN..
• Isi pikir : Pandangan negatif mengenai dunia dan diri mereka. Pikiran berulang mengenai
kehilangan, rasa bersalah, bunuh diri, dan kematian.
• Orientasi : Hampir seluruh pasien depresi memiliki orientasi terhadap waktu, tempat, dan
orang walaupun beberapa tidak memiliki cukup energi atau minat untuk menjawab
pertanyaan.
• Memori : 50-75% memiliki hendaya kognitif (Pseudo Demensia Depresif)
• Kontrol impuls : Dua pertiga memiliki ide bunuh diri, sekita 10-15% berhasil melakukanya-
bunuh diri paradoks.
LANJUTAN..
• Daya Nilai dan Tilikan : Daya nilai paling baik di periksa dengan memperhatikan tindakan
pasien di masa lalu dan saat wawancara. Tilikan biasanya berlebihan.
• Taraf dapat dipercaya : Pasien melebih-lebihkan hal yang buruk dan menutupi hal yang
baik.
PEDOMAN DIAGNOSTIK – F32 EPISODE DEPRESIF
• Gejala utama : • Gejala lainnya :
• Afek depresif • Konsentrasi dan perhatian berkurang
• Kehilangan minat dan kegembiaraan • Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
• Berkurangnya energi yang menuju • Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
meningkatnya keadaan mudah lelah dan berguna
menurunnya aktivitas. • Pandangan masa depan yang suram dan
pesimistis
• Gagasan atau perbuatan membahayakan diri
atau bunuh diri
• Tidur terganggu
• Nafsu makan berkurang
F32.0 EPISODE DEPRESIF RINGAN
• Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
• Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
• Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
• Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu.
• Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.
F32.1 EPISODE DEPRESIF SEDANG
• Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresi
ringan
• Ditambah sekurang-kurangnya 3 dari gejala lainnya
• Lamanya seluruh episode berlangsung minimun sekitar 2 minggu
• Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan
rumah tangga.
F32.2 EPISODE DEPRESIF BERAT TANPA GEJALA
PSIKOTIK
• Tiga gejala utama depresi
• Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat
• Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin
tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
• Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat
berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu
kurang dari 2 minggu.
• Sangat tidak mungkin pasien mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga,
kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
F32.3 EPISODE DEPRESIF BERAT DENGAN GEJALA
PSIKOTIK
• Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2
• Disertai waham atau halusinasi. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan
atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
Halusinasi audiotorik atau olfaktorik. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada
stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak
serasi dengan afek.
F31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR (DSM-V)
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
GANGGUAN BIPOLAR I (DSM-IV)
• Kriteria membutuhkan adanya suatu periode mood abnormal yang khas dan bertahan
sedikitnya selama 1 minggu. Sebutan gangguan bipolar I sinonim sebagai gangguan bipolar,
yaitu suatu sindrom dengan seluruh gejala mania terjadi selama perjalanan gangguan ini.
• Gangguan bipolar I, episode manik tunggal : pasien harus mengalami episode manik yang
pertama.
• Gangguan bipolar I, berulang : episode dianggap terpisah jika dipisahkan selama setidaknya
2 bulan tanpa gejala mania atau hipomania yang bermakna.
GANGGUAN BIPOLAR II (DSM-IV)
• Gangguan ini ditandai dengan episode depresif dan episode hipomanik selama perjalanan
gangguan.
• Kriteria diagnostik gangguan bipolar II menentukan keparahan, frekuensi, serta lama gejala
hipomanik tertentu. Kriteria dibuat untuk menurunkan diagnosis berlebihan episode
hipomanik serta penggolongan yang tidak benar untuk gangguan depresif berat.
TERAPI
• Terapi pasien ditujukan pada beberapa tujuan :
1. Keamanan pasien harus terjamin
2. Evaluasi diagnostik lengkap
3. Rencana terapi tidak hanya ditujukan pada gejala saat itu tetapi pada masa mendatang
RAWAT INAP
• Keputusan pertama yang paling penting adalah apakah pasien harus dirawat di RS atau
terapi rawat jalan.
• Indikasi rawat inap adalah kebutuhan prosedur diagnosis :
• Resiko bunuh diri atau membunuh
• Kemampuan pasien menurun drastis untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal
• Riwayat gejala yang berkembang cepat serta rusaknya sistem dukungan pasien
TERAPI NON-FAMARKO - TERAPI PSIKOSOSIAL
• Tiga jenis psikoterapi jangka pendek – terapi kognitif, terapi interpersonal, dan terapi perilaku.
• Terapi kognitif difokuskan pada distrosi kognitif, mencakup perhatian selektif terhadap aspek negatif keadaan
dan kesimpulan patologis yang tidak realistis.
• Terapi interpersonal difokuskan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien saat ini. Terapi ini
diasumsikan pada 2 hal, yaitu masalah interpersonal saat ini cederung memiliki akar pada hubungan yang
mengalami disfungsi sejak awal dan cenderung terlibat dalam mencetuskan atau melanjutkan gejala depresif
saat ini.
• Terapi perilaku, didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptif mengakibatkan seseorang menerima
sedikit umpan balik positif dan mungkin sekaligus penolakan dari masyarakat.
TERAPI NON-FARMAKO - TERAPI PSIKOANALITIK
• Tujuan psikoterapi ini adalah memberi pengaruh pada perubahan struktur atau karakter
kepribadian, bukan hanya untuk meredakan gejala.
• Perbaikan kepercayaan interpersonal, keintiman, kapasitas berduka, serta kemampuan
mengalami kisaran luas emosi adalah tujuan terapi.
TERAPI FARMAKOLOGI BIPOLAR I
• Lini 1
• Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka
panjang (RIJP), penambahan RIJP, aripiprazol

• Lini 2
• Karbamazepin, litium +divalproat, litium + karbamazepine, litium + divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium +
lamotrigin, olanzapin + fluoksetin

• Lini 3
• Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega-3,
penambahan okskarbazepin

• Obat-obatan yang tidak direkomendasikan:


• Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi
TERAPI FARMAKOLOGI BIPOLAR II
• Lini 1
• Litium, lamotrigin
• Lini 2
• Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan, kombinasi dua dari: litium,
lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika atipik
• Lini 3
• Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT
• Obat-obatan yamg tidak dianjurkan:
• Gabapentin
Let’s Learn Further
https://www.youtube.com/watch?v=RrWBhVlD1H8