Anda di halaman 1dari 31

Pembimbing

dr. Nasrudin, Sp.M

Oleh
Putri Rachmawati
Pendahuluan

■ Pterigium  jaringan fibrovascular yang berbentuk segitiga melewati


limbus sampai ke dalam kornea.
■ Kekambuhan setelah eksisi tetap menjadi tantangan besar 
operasi autograft konjungtiva  << rekurensi & terapi pilihan pada
pterigium primer
■ Tingkat prevalensi bervariasi secara luas (dari 2% sampai 29%),
tetapi umumnya lebih tinggi di daerah tropis daripada daerah yang
beriklim
■ Pterigium itu terjadi pada garis khatulistiwa yang dibatasi
oleh 40 lintang utara dan selatan, dan berhubungan dengan
sinar ultra-violet
■ Prevalensi meningkat pada geografis menuju khatulistiwa
dan lebih besar pada orang-orang yang ada di luar
lingkungan
■ Selain itu, ada kaitan dengan daerah pedesaan, peningkatan
usia dan jenis kelamin laki-laki, yang berhubungan dengan
pekerjaan luar
Tujuan

■ Untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko


pre-operatif, perioperatif, dan post-operatif
yang mempengaruhi keberhasilan bedah
pterigium
sebuah penelitian
prospektif

39 pasien pterigium
primer atau rekurens,
dirawat di Rumah sakit
dr. Peset ( Valencia,
Spanyol ) dari september
2007 hingga juli 2008

26 pasien datang dari


13 pasien lahir dan
negara lain, sebagian
selalu tinggal di Spanyol
besar dari Amerika Latin
■ Kemudian kuesioner yang terperinci dilakukan dalam rangka
untuk mengevaluasi: tempat tinggal utama ( nama tempat di
mana dia tinggal sepanjang hidupnya ), paparan cahaya
matahari selama hidup, ( jam per hari selama hari kerja dan
istirahat ), menggunakan pelindung terhadap matahari ( tidak
ada, topi, kacamata hitam, keduanya ) dan menggunakan
resep kacamata
■ pengukuran ketajaman visual dengan Snellen, tonometri,
pemeriksaan slit-lamp, funduscopy dan fotografi segmen
anterior dilakukan saat pre-operatif
Kriteria
•Merupakan pterigium primer atau rekurens yang dioperasi
mengikuti kritreria : (i) Gangguan visual baik melalui invasi
pupillary aperture atau secara signifikan mengarah pada
astigmatisma (lebih dari 2 dioptri diukur oleh topografi kornea

Inklusi
dan tidak berkaitan dengan penyebab lain). (ii) tercatat
pembesaran dari waktu ke waktu ke arah pusat kornea. (iii)
gejala peradangan kronis (sensasi benda asing atau rasa sakit,
hiperemia, dellen, defek epitel kornea)

Kriteria
•subyek dengan fitur patologi lainnya atau infeksi dari permukaan
okular yang mungkin mengubah penyembuhan luka, terutama
penyakit jaringan ikat dan
•diabetes mellitus

Eksklusi
Jaringan lem
21 pasien
group (TG)
Teknik
Operasi
Mersilk 7.0
18 pasien
group (MG)
Prosedur

 dilakukan dengan anestesi topikal dan subkonjuntiva (lidokain


2%)
 Pembedahan pterigium dari medial ke lateral
 Kemudian pangkal pterigium, bersama dengan tenon jaringan di
bawahnya, dieksisi
 Jaringan parut episkleral dibuang dan kauterisasi minimal
digunakan untuk mengendalikan perdarahan di tempat operasi
 Daerah pada defek konjungtiva diukur dengan caliper, dan
autograft konjungtiva-limbal diukur dengan ukuran yang sama
terhadap defek konjungtiva yang diperoleh dari kuadran
superotemporal pada konjungtiva bulbar
 Untuk diseksi graft, 2% lidokain disuntikkan di bawah
konjungtiva
 konjunctiva didiseksi dari forniks ke limbus, dan diseksi graft
diperluas 0.5 mm ke kornea untuk memasukkan unsur
autograft
 Diseksi yang teliti dilakukan untuk membuang kapsul tenon
sebanyak mungkin
 Dalam kelompok jahitan, bagian graft melekat pada
konjungtiva berdekatan dan episklera dengan 2 jahitan
Mersilk 7-0
 Dalam kelompok lem jaringan, satu tetes cairan trombin
dilakukan diseluruh sklera yang terbuka dan satu tetes cairan
berkonsentrasi protein dilakukan di seluruh sisi graft
 Graft segera ditempatkan di bagian sklera yang terbuka
 Pasca operasi, terapi kombinasi tobramycin-dexametasone
dilakuan setiap enam jam, tetes mata pranoprofen setiap
enam jam selama empat minggu dan air mata buatan berupa
povidone setiap enam jam selama dua bulan
■ Pemeriksaan dilakukan antara 2 dan 7 hari dan antara 2, 6
dan 12 bulan setelah operasi
■ Kekambuhan didefinisikan sebagai pertumbuhan konjungtiva
ke kornea. Semua pasien bertanya tentang gejala-gejala
subyektif dan dinilai menjadi 4 kelompok: sensasi
asimtomatik, benda asing, sakit ringan, atau sakit parah
(ditentukan oleh kebutuhan analgesik oral).
Analisis Statistik

■ Analisis Statistik menggunakan software Statistik lingkungan


R  Regresi logistik (yang termasuk dalam fungsi glm) dan
analisis survival
■ Interval data menggunakan analisis sensor
Hasil

■ Pasien yang mengalami kekambuhan tersebut,secara


statistik tidak memiliki perbedaan yang signifikan
■ Tabel 2 menunjukkan odds ratio (dengan interval
kepercayaan yang sesuai) antara rekurens dapat dilihat
bahwa jenis kelamin adalah faktor risiko terpenting untuk
hasil bedah.
■ Covariables yang tersisa dalam model setelah pemilihan
variabel adalah jenis kelamin, WDE, NWDE dan WB
■ Tabel 3 menunjukkan perkiraan parameter dan p-nilai
pengujian koefisien nol
■ Rekurensi terutama terlihat pada 2 dan 6 bulan setelah
operasi
■ Interval waktu kelangsungan hidup telah dibandingkan (two
sampel test) terhadap Gender dan WB  Signifikansi P-value
telah diteliti pada gender (p<0,001) dan tidak signifikan pada
WB (p=0,64)
 39 pasien lengkap di follow-up selama 12 bulan dan delapan
dari mereka(22%) menunjukkan kekambuhan selama satu
tahun post-operasi
 Variabel paling penting yang mempengaruhi keberhasilan
opeasi adalah gender
 Semua pasien yang mengalami kekambuhan adalah laki-laki
 Variabel kedua terpenting adalah subyek dengan paparan
sinar matahari berjam-jam, terutama saat bekerja, tetapi juga
saat libur
Diskusi

■ Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki


juga kuat dan secara independen dikaitkan dengan
kekambuhan pterigium setelah operasi
■ Prevalensi meningkat secara geografis ke arah khatulistiwa
dan paparan matahari telah disampaikan sebagai salah satu
faktor paling penting yang mempengaruhi perkembangan
pterigium
■ Dalam sebuah studi retrospektif, 21 etnis Hispanik telah
dilaporkan berpotensi sebagai sebuah faktor risiko penting
untuk kekambuhan dari pterigium primer yang dilakukan
dengan autograft konjugtiva
■ paparan matahari telah menjadi faktor kedua paling penting
mempengaruhi kekambuhan
■ Dalam studi ini, pterigium dengan dasar yang sempit ( kurang
dari 5 mm di limbus ) menunjukkan sebuah hubungan yang
lemah dengan kekambuhan
■ Autografting konjungtival sering dimanfaatkan dengan tingkat
kekambuhan yang rendah dan sukses baik pada pterigium
primer dan rekurens
■ Autograft dapat tetap dengan jahitan atau lem fibrin.
Penggunaan sebuah jaringan perekat menyederhanakan
teknik bedah dan meminimalkan peradangan pasca-operasi,
mengurangi waktu operasi dan rasa nyeri pasca operasi
■ Tingkat kekambuhan apabila menggunakan teknik bedah ini
 dari 2% ke 34%, tergantung pada pengalaman teknik
bedah individu  glued-graft menurunkan rekurensi,
mengurangi waktu operasi dan meningkatkan kenyamanan
pasien pasca-operasi
Kesimpulan

■ Aspek epidemiologi dan klinis yang mempengaruhi


pengembangan pterigium
■ jenis kelamin laki-laki dan paparan sinar matahari yang kuat
berhubungan dengan keberhasilan pembedahan setelah
pengambilan pterigium dan rekurensi post autograft
conjungtival
• Penelitian dilakukan di Spanyol
• Populasi : 39 pasien pterigium primer atau rekurens, dirawat di
Rumah sakit dr. Peset ( Valencia, Spanyol ) dari september 2007

P hingga juli 2008

• kuesioner yang terperinci dilakukan untuk mengevaluasi: tempat


tinggal utama ( nama tempat di mana dia tinggal sepanjang
hidupnya ), paparan cahaya matahari selama hidup, ( jam per
hari selama hari kerja dan istirahat ), menggunakan pelindung
terhadap matahari ( tidak ada, topi, kacamata hitam, keduanya )

I dan menggunakan resep kacamata  analisa faktor risiko


• Melakukan teknik operasi autograft conjungtival terhadap 36
pasien
•Membandingkan seluruh aspek klinis dan epidemiologi
terhadap rekurensi pterigium
•Teknik operasi dengan glued-graft menurunkan rekurensi,
mengurangi waktu operasi dan meningkatkan kenyamanan

C pasien pasca-operasi dibandingkan dengan jahitan Mersilk


7.0

•Dalam sebuah studi retrospektif, 21 etnis Hispanik telah


dilaporkan berpotensi sebagai sebuah faktor risiko penting
untuk kekambuhan dari pterigium primer yang dilakukan
dengan autograft konjugtiva

O
•Variabel yang sangat mempengaruhi rekurensi pterigium
post-operasi pada penelitian adalah jenis kelamin (laki-laki
lbh dominan) & paparan sinar matahari
Critical Appraisal

 Judul penelitian berjumlah 7 suku kata & sesuai dengan


kriteria penelitian
 Tujuan penelitian dijelaskan pada abstrak : untuk
mengidentifikasi faktor-faktor risiko pre-operatif, perioperatif,
dan post-operatif yang mempengaruhi keberhasilan bedah
pterigium
 Kekurangan penelitian : sampel yang diteliti terlalu sedikit
sehingga hubungan antara faktor risiko terhadap
keberhasilan bedah pterigium kurang signifikan
TERIMA KASIH,