Anda di halaman 1dari 26

ELECTRONIC PRESCRIBING

Kelompok 1
PSPA Februari 2018

Kenny Liantogunawan 17/422895/FA/11612


Maria Putri Thalia 17/422897/FA/11614
Muhammad Faishal Mahdi 17/422898/FA/1161
Ni Putu Ayu Linda Permitasari 17/422899/FA/1161
Rifda Latifa 17/422903/FA/11620
Tujuan penelitian: menilai efek sistem peresepan
elektronik terhadap prevalensi, tujuan dan
signifikansi klinis akan kesalahan peresepan dan
pemberian obat, konfirmasi akan identitas pasien
Setting
Bangsal bedah umum
di sebuah rumah sakit
pendidikan di London
Sebelum
intervensi
• Peresepan secara manual
• Obat dibawa dengan troli
• Obat disimpan dalam rak
biasa
Interve
nsi
• Sistem ini terdiri dari tiga bagian, yaitu peresepan
elektronik, penjadwalan, dan perangkat lunak/
software administrasi.

• Terdapat dua terminal peresepan, yaitu di bangsal studi dan


di departemen farmasi. Terdapat juga dua komputer tablet di
bangsal studi yang dapat dibawa dari satu pasien ke pasien
lain dan dapat digunakan untuk melihat, meresepkan dan
menghentikan permintaan obat-obatan. Semua hal tersebut
harus disinkronisasi dengan server yang terpusat di bangsal
melalui sebuah pusat untuk mengetahui sebelum dan
sesudah penggunaan. Perangkat lunak yang digunakan
Intervensi 1: Peresepan Elektronik
• Saat meresepkan, seorang dokter harus dapat mengakses daftar obat yang tersedia di bangsal,
semua obat yang masuk dalam formularium dan daftar obat secara keseluruhan.
• Dalam peresepan diharapkan penulisannya harus lengkap, misalnya tablet soluble aspirin 75 mg
dibandingkan hanya ditulis aspirin saja.
• Dosis standar disarankan untuk beberapa obat.
• Tidak ada pengaruh dari pihak lain dalam pengambilan keputusan.
• Jika pasien memiliki alergi, maka alergi yang dimiliki pasien akan ditampilkan pada layar selama
peresepan.
• Saat pasien dipindahkan dari bangsal lain, apoteker diperkenankan atau diberi wewenang untuk
menuliskan permintaan obat ke dalam sistem.
• Apoteker melakukan pengecekan dan menyetujui adanya permintaan obat dari layar bagian
farmasi. Obat-obatan yang dipesan tidak harus selalu disetujui sebelum akan diberikan oleh
perawat. Saat dalam proses permintaan persetujuan, apoteker dapat menambahkan instruksi yang
berhubungan dengan pemberian obat, instruksi tambahan tidak dapat dimasukan setelah
permintaan disetujui.
Intervensi 2: Pemberian Obat Otomatis Berdasar
Bangsal
• Sebagian besar obat disimpan dalam lemari otomatis yang besar, dosis yang diperlukan dipindahkan
oleh perawat ke troli obat elektronik pada setiap putaran.
• Lemari otomatis, terdiri dari laci-laci yang dikendalikan melalui komputer dan layar sentuh yang
ditempatkan pada ruang perawatan di bangsal.
• Produk yang merupakan stok bangsal diletakkan dalam laci, didalamnya terdapat obat, dosis, dan
formulasi dalam kemasan asli. Sedangkan obat-obat yang bukan merupakan stok diberikan kepada
pasien secara individual dan disimpan dalam laci pasien secara spesifik yang didalamnya dapat
terdapat beberapa obat.
• Nama pasien ditampilkan pada sebuah layar, pada layar juga ditampilkan pasien yang akan diberi
obat pada 2 jam berikutnya, sehingga perawat dapat menyiapkan obatnya.
• Saat akan menyiapkan obatnya, perawat akan menyentuh layar pada bagian nama pasien lalu akan
muncul obat apa saja yang harus disiapkan.
• Saat memilih masing-masing dosis, laci yang sesuai akan terbuka sehingga perawat dapat mengambil
sesuai jumlah yang diperlukan dan meletakkannya dalam troli obat elektronik.
Untuk mengisi ulang stok pada lemari, maka perlu dicetak daftar obat dengan jumlah yang akan
dipesan. Barcode dari masing-masing produk obat digunakan untuk konfirmasi ulang mengenai
data obat yang dimasukkan dalam setiap laci. Obat-obat yang bukan merupakan stok bangsal
dipesan oleh perawat melalui apoteker yang berada di bangsal
Intervensi 3: Troli Obat Elektronik
Terdapat dua troli obat elektronik, tiap troli untuk setengah bagian bangsal. Masing-masing
terdiri dari 20 laci dan dapat dikendalikan secara otomatis.
Saat obat sedang disiapkan untuk satu putaran, maka hanya satu laci yang akan terbuka, dan
nama pasien akan muncul di layar.
Saat semua obat sudah siap, maka sistem akan menginstruksikan kepada perawat untuk
menutup laci pasien pada troli obat sebelum obat untuk pasien selanjutnya disiapkan.
Saat semua obatnya sudah siap, sambungan antara lemari dengan troli dapat diputus dan troli
dibawa ke bangsal.
Barcode yang terdapat di pergelangan tangan pasien discan, kemudian akan membuat laci pada
troli yang telah terhubung dengan sistem terbuka, sehingga obat dapat diberikan.
Perawat melakukan konfirmasi bahwa pemberian sudah dilakukan melalui layar sentuh yang ada
di troli, termasuk menuliskan alasan jika terdapat obat yang tidak diberikan.
Setelah pemberian selesai dilakukan kemudian hasil pencatatan tadi diunggah ke server utama
tepat saat troli berhenti beroperasi.
Untuk obat-obat yang diberikan hanya saat pelru saja akan diberikan terpisah diluar putaran
pemberian obat yang utama.
Study design
Dilakukan pengumpulan data untuk semua hasil
pengukuran 3-6 bulan sebelum dan 6-12 bulan
setelah intervensi. Data pra-intervensi dikumpulkan
secara untuk melengkapi koleksi data sebelum
implementasi. Data pasca-intervensi dikumpulkan
untuk setiap hasil pengukuran.
Prescribing errors
• Apoteker mengidentifikasi kesalahan penulisan resep selama 4 minggu menggunakan
definisi, klasifikasi dan metode yang sudah ditentukan.
• Selain itu, kepala investigator memeriksa kesalahan peresepan seminggu sekali untuk
membantu mengidentifikasi kesalahan yang belum didokumentasikan oleh apoteker.
• Peneliti mencatat peresepan baik pada kesalahan yang diperbaiki maupun tidak, sebelum
pasien menerima dosis.
• Pembaginya adalah perkiraan jumlah peresepan obat yang ditulis selama setiap periode
penelitian. Perkiraan ini didasarkan pada penghitungan jumlah resep obat yang ditulis untuk
semua pasien, diambil secara retrospektif, dan kemudian diekstrapolasi ke jumlah total
pasien di bangsal selama periode studi.
• Tingkat keparahan potensi kesalahan dinilai oleh lima orang dengan skala dari 0 (tidak ada
salahnya) hingga 1 (kematian), kemudian di rata-rata.
Medication administration errors (MAE) and
checking patient identity
• Apoteker mengamati sampel dari 56 putaran obat (termasuk malam dan akhir pekan) selama 2
minggu menggunakan metode yang sudah ditentukan.
• Pembaginya adalah jumlah peluang kesalahan (Opportunity of Error), didefinisikan sebagai
semua dosis yang diberikan termasuk dosis yang dihilangkan, dapat diklasifikasikan sebagai
dosis yang salah atau benar.
• Setiap dosis IV berpotensi terdiri dari dua peluang kesalahan yaitu, satu untuk persiapan dan
satu lagi untuk administrasi.
• MAE didefinisikan sebagai setiap dosis obat yang menyimpang dari peresepan obat; tidak
termasuk kesalahan waktu dan dokumentasi.
• Tingkat keparahan potensial dari MAE diidentifikasi oleh 4 orang.
Staff time
• Peneliti mengamati dokter yang meresepkan obat rawat inap dan menghitung waktu rata-rata
per peresepan obat.
• Apoteker bangsal sendiri melaporkan waktu yang dibutuhkan untuk memberikan gambaran
klinis layanan farmasi ke bangsal studi setiap hari kerja selama 4 minggu.
• Untuk menilai waktu keperawatan, waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan masing-masing
administrasi obat non-IV dicatat selama periode MAE.
• Peneliti kemudian menggunakan sampling untuk mengevaluasi proporsi waktu administrasi
yang digunakan selama pengobatan.
• Sepuluh periode pengumpulan data, masing-masing sekitar 2 jam, dipilih baik pra-intervensi
dan pasca-intervensi, pada hari yang berbeda.
• Alat pemberi sinyal (JD-7, elektronik Divilbiss, Chanute, Kansas, USA) digunakan untuk
mengidentifikasi 32 sampel waktu acak setiap jam saat aktivitas perawat direkam.
Sample size calculation and statistical analysis

• Ukuran outcome utama yang digunakan adalah tingkat kesalahan peresepan dan MAE.
• Untuk mengidentifikasi pengurangan tingkat kesalahan peresepan dari 2% ke 1%, peneliti
membutuhkan 2319 resep obat yang baru di setiap fase penelitian. Untuk mengidentifikasi
pengurangan MAE dari 5% ke 2,5%, dibituhkan 906 opportunity of error di setiap fase. Diperkirakan
bahwa melalui pengamatan 56 putaran obat dapat dicapai hal tersebut.
• Kedua perhitungan didasarkan pada tes dua sisi menggunakan alfa 0,05 dan beta 0,2. Data nominal
dibandingkan menggunakan X2 dan data kontinu dengan uji t tidak berpasangan; dengan interval
kepercayaan 95%.
Result
A. Prescribing Errors - menurun dari 3,8% menjadi 2,0%
B. Kesalahan
Pengadministrasian
obat dan
Pengecekan
identitas pasien

Sebelum : 1 perawat
menghandle banyak
sediaan untuk banyak
pasien

Sesudah : 1 perawat
hanya mengandle 1
jenis sediaan khusus
secara terpisah (IV
atau oral)
C. Waktu Kerja

Peneliti mengamati waktu peresepan


32 pasien rawat inap sebelum
penggunaan e-prescribing dan 15
setelah penggunaan e-prescribing
dengan hasil, rata – rata
membutuhkan waktu 15 detik untuk
menyiapkan obat sebelum
penggunaan e-prescribing dan 39
detik setelah penggunaan e-
prescribing.
Diskusi
Penggunaan e-prescribing dapat mengurangi kesalahan
peresepan dan pengadministrasian obat hingga setengahnya,
meningkatkan pengecekan identitas pasien dan mengurangi
kemungkinan pasien mengalami kesalahan – kesalahan lainnya
bahkan sebelum obat sampai di tangan pasien.
A. Meningkatkan
keamanan pengobatan
• Sebelum : Drugs trolley
• Setelah : automated dispensing
system + trolley
B. Efek kepada waktu kerja nakes
C. Dampak penggunaan sistem ini pada waktu yang
dibutuhkan staf medis dan apoteker
• Intervensi yang dilakukan meningkatkan waktu yang dibutuhkan oleh apoteker dan staf medis. Pekerjaaan
keperawatan yang digunakan untuk memberikan obat-obatan pada pasien menurun, sehingga dapat
membuat staf medis memiliki lebih banyak waktu yang fleksibel dalam melakukan pekerjaan medis.
Penggunaan e prescribing menambah tugas dokter dan apoteker, karena harus memeriksa pasien identitas
pasien dengan lebih detail dan tepat.
• Karena tugas apoteker menjadi lebih banyak, peningkatan jumlah apoteker dalam waktu sesegera mungkin
jelas dibutuhkan. Meskipun ukuran sampel penelitian peresepan elektronik ini dalam ruang lingkup yang
kecil, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa resep menggunakan komputer mengambil lebih banyak waktu
daripada pada menggunakan kertas biasa.
• Penelitian yang dilakukan di UK sebelumnya hanya bertujuan untuk mengeksplorasi dampak resep elektronik
dengan waktu yang dibutuhkan untuk meresepkan obat. Berdasarkan review sistematis yang telah dilakukan,
dapat diambil kesimpulan bahwa peresepan dengan menggunakan elektronik, umumnya mengurangi
pekerjaan keperawatan yang dilakukan oleh staf medis, namun malah meningkatkan waktu yang dibutuhkan
dokter untuk melakukan peresepan. Yang terakhir, peneliti percaya bahwa perubahan perangkat lunak dapat
mempermudah sehingga mengurangi waktu yang dihabiskan oleh semua tenaga kesehatan dalam
melakukan pelayanan kepada pasien.
Kekuatan dan kelemahan dari studi yang
dilakukan
Kekuatan Kelemahan
• Pengumpulan data dilakukan pada • Kemampuan untuk menggeneralisir hasil penelitian yang
serangkaian langkah-langkah yang didapatkan.
merupakan hasil dari evaluasi
komprehensif. • Adanya kesulitan dalam mengevaluasi sistem di bangsal
• Penelitian ini menggunakan metode untuk yang hanya satu, sehingga apabila sistem yang
mengidentifikasi dan menilai yang telah digunakan ternyata kurang efektif, maka harus dilakukan
divalidasi. penggantian sistem, tidak ada yang membackup.
• Penelitian ini merupakan studi pertama dari • Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa loker
sistem closed-loop yang menggabungkan individu pasien tidak mengurangi kesalahan peresepan
dispensing otomatis dan EMARs. obat. Demikian hasil yang telah kami dapatkan.
• Tidak seperti banyak penelitian US,
penelitian ini dilakukan dengan sistem
• Akhirnya, dalam studi kesalahan resep, lebih sedikit
komersial dan dikembangkan kesalahan yang terjadi apabila resep ditulis per pasien
menggunakan lebih dari satu pengembang. dalam periode pasca intervensi, bukan banyak pasien
dalam satu waktu. Hal ini mungkin terjadi karena sedikit
peningkatan dalam omset pasien selama jangka waktu
studi; jumlah obat perintah ditulis adalah serupa.
Implikasi dari penelitian yang
dilakukan
• Peresep elektronik di rumah sakit, akan menghentikan dua kesalahan dalam setiap 100 resep yang
dituliskan.
• Hasil penelitian ini tidak boleh dilihat sebagai efektivitas resep elektronik, tetapi sebagai awal titik
dari yang ini dapat dikembangkan lebih jauh.
• Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini menujukkan bahwa setiap tempat pelayanan
kesehatan berhak untuk melakukan pengembangan terhadap metode peresepan secara sistematis.