Anda di halaman 1dari 29

Tutorial Klinik

HIFEMA

Hilmi Zakiyah Nurlatifah


20120310120

Pembimbing :
dr. Awang W, Sp.M
Hifema merupakan keadaan dimana
terdapat darah di dalam camera oculi
anterior (COA) yang dapat terjadi akibat
trauma tumpul yang merobek
pembuluh darah iris atau badan siliar
Anatomi Mata
• COA merupakan ruangan kecil berisi akuos humor yang terdapat
antara endotel kornea dan akar iris.
• Pada bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata.
• Bila terdapat hambatan pengaliran keluar cairan mata, maka akan terjadi
penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata yang mengakibatkan
tekanan intraokuler (TIO) meningkat.
EPIDEMIOLOGI
• Berdasarkan penelitian, 33% dari seluruh trauma
mata yang serius menimbulkan hifema.
• Sebanyak 80% hifema terjadi pada pria.
Perbandingannya 3:1.
• Hifema sering terjadi pada pasien berumur kurang
dari 20 tahun dan pertengahan 30 tahun.
• Olah raga merupakan penyebab dari 60% pada
populasi anak muda yang mengalami hifema.
ETIOLOGI
• Trauma pada mata, yang menimbulkan perdarahan atau
perforasi.
• Terbentuk pada kornea pasca bedah katarak, inflamasi yang
berat pada iris, serta penderita diabetes.
• Perdarahan spontan dapat terjadi pada mata dengan rubeosis
iridis, keganasan pada mata (retinoblastoma, juvenille
xanthogranuloma, iris melanoma), miotonik distrofi, kelainan
darah dan kelainan pembuluh darah (misalnya anemia sickle
cell, hemofilia, dan penyakit von Willebrand),
• Penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya aspirin, warfarin,
etanol).
• Hifema spontan pada anak sebaiknya dipikirkan kemungkinan
leukimia dan retinoblastoma
Perdarahan yang timbul dapat berasal dari
kumpulan arteri utama dan cabang dari
badan siliar, arteri koroid, vena badan siliar,
dan pembuluh darah iris pada sisi pupil
PATOFISIOLOGI
Terjadi kontusio atau benturan  robeknya
pembuluh darah pada iris dan badan siliar

Darah dapat bergerak dalam ruang COA dan


mengotori permukaan dalam kornea

Penekanan pada bola mata anteroposterior,


pengembangan bagian tengah skleral, limbus
menegang, dan perubahan letak lensa/iris
posterior  peningkatan TIO secara tiba-tiba
 kerusakan jaringan lunak pada sudut bola
mata
Peningkatan transien TIO akibat kompresi anteroposterior +
ekspansi bidang ekuatorial  distorsi struktur intraokular 
pembuluh darah di iris dan badan silier mengalami gaya regang
 ruptur dan pembentukan hifema.
Primer • Perdarahan segera setelah trauma

• Timbul 5-7hari setelah trauma


dan lebih hebat dari yang
primer
Sekunder • Resorbsi dari bekuan darah
terjadi terlalu cepat  tdk ada
waktu untuk regenerasi
Penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari COA dalam
bentuk sel darahmerah melalui sudut COA menuju kanalis
Schlemm

Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim


fibrinolitik. Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai
dalam bentuk hemosiderin

Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin, maka akan dapat


masuk ke dalam lapisan kornea  hemosiderosis atau imbibisi
kornea (kornea menjadi bewarna kuning).

Terjadinya imbibisi kornea dapat dipercepat oleh


hifema yang penuh dan disertai glaukoma.
Selain itu adanya penumpukan hemosiderin/siderosis
bulbi bila didiamkan  ptisis bulbi dan kebutaan
KLASIFIKASI
Menurut Edward Layden Menurut Rakusin
1) Hifema tingkat I, bila 1) Hifema tingkat I, bila
perdarahan < 1/3 COA. perdarahan mengisi 1/4
2) Hifema tingkat II, bila bagian COA.
perdarahan antara 1/3 2) Hifema tingkat II, bila
sampai ½ COA. perdarahan mengisi ½ bagian
3) Hifema tingkat III, bila COA.
perdarahan > ½ COA. 3) Hifema tingkat III, bila
perdarahan mengisi 3/4
bagian COA.
4) Hifema tingkat IV, bila
perdarahan mengisi penuh
COA.
Sheppard membagi hifema berdasarkan klinisnya

1) Grade I: darah mengisi kurang dari 1/3 COA dengan prevalensi


kejadiannya sebanyak 58%.
2) Grade II: darah mengisi 1/3 hingga setengah COA dengan
prevalensi kejadiannya sebanyak 20%.
3) Grade III: darah mengisi lebih dari ½ dan hampir total COA
dengan prevalensi kejadiannya sebanyak 14%.
4) Grade IV: darah mengisi seluruh COA dengan prevalensi
kejadiannya sebanyak 8%.
Berdasarkan Penyebab

• Hifema traumatika
• Hifema akibat tindakan medis, misalnya karena
kesalahan prosedur operasi mata.
• Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan
badan siliar, sehingga pembuluh darah pecah.
• Hifema spontan akibat kelainan sel darah atau
pembuluh darah dan keganasan, misalnya juvenille
xanthogranuloma, retinoblastoma.
Manifestasi Klinis
• Sakit pada mata, disertai dengan epifora dan
blefarospasme
• Penglihatan pasien akan sangat menurun.
• Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di
bagian bawah COA
• Iridoplegia  sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi,
fotofobia akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil, pupil
midriasis, anisokor.
• Iridodialisis  penglihatan ganda dengan satu matanya akibat robekan
pada pangkal iris sehingga bentuk pupil berubah menjadi lonjong.
Diagnosis – Anamnesis
• Keluhan perdarahan / adanya darah pada bagian tengah mata.
• Disertai nyeri pada mata, gangguan penglihatan, sensitif pada cahaya.
• Bila terdapat riwayat trauma, ditanyakan mekanisme kejadian, jenis
objek yang mengenai mata, arah terjadinya benturan, dan penggunaan
pelindung mata saat kejadian.
• Riwayat penyakit mata, terutama mengenai penyakit yang
memengaruhi tekanan intraokuler.
• Riwayat tindakan pembedahan atau laser pada mata untuk mengetahui
kemungkinan hifema operatif.
• Riwayat penyakit lain seperti diabetes, hemoglobinopati, atau sickle cell
disease untuk menentukan etiologi dan tatalaksana
Diagnosis –
Pemeriksaan Fisik & Penunjang
• Tajam penglihatan yang menurun (snellen chart)
• Lapang pandang (patologi vaskuler okuler atau glaukoma).
• Dilihat bentuk kornea dan pupil serta adanya perdarahan.
• Pengukuran tonografi.
• Pemeriksaan slit lamp (jumlah akumulasi darah, memastikan
tidak ada darah yang mengeras (clot), dan penyerapan darah
tetap lancar).
• Pemeriksaan funduskopi untuk melihat edema pada retina.
• Pemeriksaan laboratorium berupa darah lengkap, laju
sedimentasi, dan LED untuk melihat apakah terdapat anemia
atau infeksi
Prinsip Penatalaksanaan
• Menghentikan perdarahan
• Mencegah terjadinya perdarahan sekunder
• Mengeliminasi darah dari COA dengan
mempercepat absorbsi
• Mengontrol glaukoma sekunder dan
menghindari komplikasi yang lain
• Berusaha mengobati kelainan yang menyertai
hifema
Manajemen

• Bed rest total. Penderita ditidurkan dalam


keadaan telentang dengan elevasi kepala 30
derajat (posisi semi fowler)
• Bebat mata pada mata yang terkena trauma
• Pemberian obat-obatan pada penderita
untuk menghentikan perdarahan,
mempercepat absorbsi, dan menekan
komplikasi yang timbul.
Medikamentosa
Golongan koagulansi (oral /parenteral)
– Untuk menekan perdarahan
– Misalnya Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin,
vitamin K, dan vitamin C.
– Pada hifema yang baru dan terisi darah segar  obat anti
fibrinolitik  bekuan darah tidak terlalu cepat diserap dan
pembuluh darah diberi kesempatan memperbaiki diri dahulu.
– Beberapa penelitian  penggunaan asam amino kaproat oral
(100 mg/kg setiap 4 jam sampai maksimum 30 g/hr selama 5
hari) untuk menstabilkan pembentukan bekuan darah sehingga
menurunkan risiko terjadinya perdarahan sekunder.
Medikamentosa
Midriatika Miotika
• Pemberian miotika akan mempercepat absorbsi, namun
dapat meningkatkan kongesti.
• Pemberian midriatika dapat mengistirahatkan perdarahan.
Pemberian pada komplikasi iridocyclitis.
• Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian
midriatika dan miotika bersamaan dengan interval 30 menit
sebanyak 2 x/hari  mengurangi perdarahan sekunder jika
dibandingkan dengan pemberian salah satu obat saja
Medikamentosa
Ocular Hypotensive Drug Kortikosteroid
• Pemberian acetazolamide • Pemberian steroid tetes
(Diamox) PO 4 x250 mg harus segera dimulai pada
sehari jika ditemukan hifema.
adanya kenaikan TIO. • Pemberian hidrokortison
• Apabila i topikal tidak 0,5% secara topikal akan
efektif, maka diberi obat mengurangi komplikasi
hiperosmotik seperti iritis dan perdarahan
manitol, gliserol, dan sekunder jika dibandingan
sorbitol. dengan antibiotika.
• Pada hifema yang penuh • Jika reflek fundus tidak
dengan peningkatan TIO terlihat, maka diberi
dapat diberikan diamox kortikosteroid topikal dan
dan gliserin dengan sistemik
evaluasi selama 24 jam
Tindakan Operatif
• Parasentesis
– Parasentesis adalah tindakan pengeluaran cairan
atau darah dari COA melalui lubang kecil di limbus.
– Indikasi : jika terdapat tanda-tanda imbibisi kornea,
glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna
hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-
tanda hifema akan berkurang.
– Teknik parasentesis : dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus kearah
kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan
penekanan pada bibir luka maka koagulum dari COA akan keluar.
Bila darah tidak keluar seluruhnya maka COA dibilas dengan garam
fisiologis. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu
dijahit.
Tindakan Operatif
Lavage (membilas) COA dan Evakuasi viskoelastik
menghilangkan bekuan • Dibuat sebuah insisi kecil di
darah menggunakan limbus untuk
instrumen vitrektomi. menyuntikkan bahan
Dimasukkan alat irigasi dan viskoelastik, dan sebuah
probe mekanis di sebelah insisi yang lebih besar
anterior limbus melalui berjarak 1800 dari insisi
bagian kornea yang jernih pertama untuk
untuk menghindari memungkinkan hifema
kerusakan iris dan lensa. didorong keluar
Prognosis
• Prognosis dari hifema traumatik sangat tergantung pada
tingginya hifema, ada atau tidaknya komplikasi dari
perdarahan atau traumanya, cara perawatan, dan keadaan
dari penderita sendiri.
• Hifema yang penuh mempunyai prognosis yang lebih buruk
daripada hifema sebagian dengan kemungkinan terjadinya
glaukoma dan hemosiderosis.
• Pasien dengan penyakit sickle cell memiliki prognosis yang
lebih buruk karena komplikasi yang dapat terjadi.
• Berdasarkan penelitian, pasien dengan hemoglobinopati
sickle cell dapat meningkatkan terjadinya risiko peningkatan
TIO, tetapi tidak dengan perdarahan sekunder
Komplikasi
• Perdarahan sekunder
• Glaukoma sekunder
• Hemosiderosis
• Sinekia anterior perifer
Terimakasih..