Anda di halaman 1dari 10

Patofisiologi Laringitis

Laringitis akut
Terjadi akibat infeksi bakteri atau virus, penggunaan suara yang
berlebih, atau inhalasi polutan lingkungan. Laringitis akut
ditandai dengan afonia atau hilang suara dan batuk menahun.
Gejala ini semakin diperparah dengan keadaan lingkungan yang
dingin dan kering.
Laringitis kronik
Laringitis kronik ditandai dengan afonia yang persisten. Pada
pagi hari, biasanya tenggorokan terasa sakit namun membaik
pada suhu yang lebih hangat. Nyeri tenggorokan dan batuk
memburuk kembali menjelang siang. Batuk ini dapat juga dipicu
oleh udara dingin atau minuman dingin. Pada pasien yang
memiliki alergi, uvula akan terlihat kemerahan.
Jenis laringitis kronis
Non Spesifik
• Laringitis kronik simplek
• Laringitis Sika (Laringitis atropi kronik)
• Nodul Pita Suara
• Polip Pita Suara
Polip pita suara lokal
Polip pita suara difus
Spesifik
• Laringitis Tuberkulosis
• Laringitis leutika
LARINGITIS KRONIK SPESIFIK

a. Laringitis Sika (Laringitis atropi kronik)

Ditandai dengan menurunnya vaskularisasi pada mukosa,


akibatproliferasi intima dan fibrosis dinding pembuluh darah
kecil.
Pada kelainan ini struktur kelenjar hilang, meskipun ada
proliferasi sel goblet.
Permukaan epitel laring yang bersilia sering mengalami
metaplasia skuamosa dan menjadi tipis serta atropi dan
terjadi erosi mukosa
Fibrosis tampak pada daerah subepitel yang mengandung
eksudat radang mononukleus
b. Laringitis kronik simplek
• Mukosa laring berwarna merah merata
• Pita suara yang putih seperti mutiara berubah menjadi merah muda
sampai merah redup
• Tepi pita suara tampak membulat.
• Jika pasien bersuara, pola getaran suara tidak sinkron dan pita suara
tampak kendor.
• Suara serak merupakan keluhan utama, suaranya kasar dengan
berbagai perubahan nada (terutama rendah) dan terputus-putus.
• Suara serak lebih buruk pada pagi hari, makin siang suara makin
buruk
• Laring terasa tidak enak dan nyeri (pada kasus baru)
c. Nodul Pita Suara

• Nodul yang biasanya lunak dan berwarna merah ditutupi epitel


skuamosa dan stroma
• Peningkatan vaskularisasi
• Nodul yang lebih matang mengalami fibrosis dan hialinisasi, epitel
permukaan menjadi tebal dan timbul keratosis, akantosis,
parakeratosis.
d. Polip Pita Suara

• Lesi berisikan struma yang edem, pembuluh darah yang melebar,


jaringan fibrosis dan perdarahan
• Polip dini menunjukan gambaran tingkat polipoid dini pada nodul pita
suara
• Lesi matang terlihat fibrosis dan degenerasi hialin dan fibrinoid yang
struma.
d.1 Polip pita suara lokal

• Lesi berisikan struma yang edem, pembuluh darah yang melebar,


jaringan fibrosis dan perdarahan.
• Polip dini menunjukan gambaran tingkat polipoid dini pada nodul pita
suara
• Lesi matang terlihat fibrosis dan degenerasi hialin dan fibrinoid yang
struma
d.2 Polip pita suara difus

• Tepi pita suara secara difus terkena massa jaringan yang


edem.
• Ruang reinke melebar dan terisi oleh bahan mukoid tanpa
sel, jaringan fibrosis dan pembuluh darah.
LARINGITIS KRONIK NON SPESIFIK
• Laringitis Tuberkulosis
Penyakit ini hampir selalu sebagai akibat tuberkulosis paru.

• Laringitis leutika
Radang menahun dan jarang ditemukan. Dalam hubungan penyakit
dilaring yang perlu dibicarakan ialah lues stadium tertier yaitu stadium
pembentukan guma. Bentuk ini kadang-kadang menyerupai keganasan
laring.