Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

Toxoplasmosis Ensefalitis

Oleh:
Syarifah Rizka Maulida
I11112059

Pembimbing:
dr. Hanartoaji A Pribadi, Sp.S
dr. Ridho Munandha
Dr. I Nyoman Komang
PENYAJIAN KASUS
IDENTITAS
• Nama : Tn. Yanto
• Umur : 37 tahun
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Alamat : Jl. Sagatani
• Pekerjaan : Swasta
• Status Pernikahan : Belum menikah
• Tanggal Masuk RS : 18 Oktober 2017
• Status Pasien : Pasien rawat Inap-BPJS
ANAMNESIS

Keluhan utama :
Lemah sisi tubuh
sebelah kiri Keluhan tambahan :
Nyeri kepala hebat
Anamnesis
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien awalnya mengeluhkan sakit dikepala yang mulai dirasakan sejak
8 bulan yang lalu, sakit kepala dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan terus
menerus dan sejak 8 bulan yang lalu juga pasien mengeluh lemah pada
sisi kiri. Menurut pengakuan ayah pasien, sebelum pasien mengalami
kelemahan sisi tubuh sebelah kiri, pasien memiliki riwayat jatuh dari motor
dan posisi jatuhnya pasien miring kesebelah kanan. Sejak saat itulah
pasien mengalami kelemahan pada sisi tubuh sebelah kiri. Sehingga
jalan pasien seperti mau tumbang. Pasien juga mengeluhkan batuk-
batuk sejak kurang lebih 3 bulan lalu. Batuk dirasakan hilang timbul dan
berdahak dan dahak berwarna putih lendir dan darah tidak ada.
Anamnesis

Demam juga dirasakan oleh pasien sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu.
Pasien mengaku demam yang dirasakan kadang-kadang panas tinggi
muncul kapan saja dan kadang-kadang seperti meriang saja. Mual
dirasakan pasien tetapi muntah tidak ada. Pasien mengaku untuk
mengurangi beberapa sakitnya pasien membeli obat warung tetapi tidak
mengalami perbaikan sehingga pasien dibawa ke rumah sakit. Selain itu
pasien juga mengalami gangguan bicara (bicara pasien tidak jelas) sejak
3 bulanan yang lalu. 8 hari sebelum masuk rumah sakit pasien jatuh lagi
saat dirumah ketika berjalan dan lemah yang dirasakan semakin
memberat. Pasien tidak mengalami gannguan pendengaran dan
gangguan penglihatan. Nafsu makan seperti biasa. Buang air besar dan
buang air kecil tidak ada keluhan.
ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat keluhan serupa belum pernah dialami oleh
pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


• Tidak ada keluarga yang memiliki
keluhan yang sama.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
• Keadaan Umum : Tampak sakit
ringan
• Kesadaran : Compos mentis
• Tanda Vital
• Tekanan Darah : 110/70 mmHg
• Nadi : 76 kali/ menit
• Pernafasan : 18 kali/ menit
• Suhu : 36,5 0C
• Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), pupil bulat, isokor,
diameter 3mm/3mm.
• Telinga : Dalam batas normal, tidak
ada sekret
PEMERIKSAAN FISIK
• Hidung : rhinorhea (-)
• Leher : Deviasi trakea (-),
pembesaran KGB (-)
• Jantung : Suara jantung I/II
reguler, gallop (-), murmur (-)
• Paru : Suara nafas vesikuler
(+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
• Abdomen : Soeple, hepar dan
lien tidak teraba, nyeri ketok
CVA (-/-), Bising Usus (+)
• Ekstrimitas : Akral hangat, CRT<
2s.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Neurologis

• Kesadaran : Compos Mentis


• GCS : E4V5M6
• Pupil : Bulat, isokor, diameter 3 mm/3mm, RCL (+/+), RCTL (+/+)

• Tanda rangsang meningeal
• 1). Kaku kuduk : (-)
• 2). Burznski I : (-)
• 3). Burzinski II : (-)
• 4). Laseque : (-/-)
• 5. Kernique : (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK
Kranialis
• 1). N. I (N.olfaktorius) : Dalam batas normal
• 2) N.II (N. Opticus) : Dalam batas normal
• 3) N.III (N. Okulomotorius) : Ptosis mata kiri
• 4). N.IV (N. Trochlearis) : Dalam batas normal
• 5). N. V (N. Trigeminus) : Dalam batas normal
• 6) N.VI (N. Abducens) : Dalam batas normal
• 7) N.VII (N. Fasialis) : Dalam batas normal
• 8). N.VIII (N. Vestibulocochlearis) : Dalam batas normal
• 9). N.IX ( N. Glossopharingeus) : Dalam batas normal
• 10). N.X (N.Vagus) : Dalam batas normal
• 11). N.XI (N.Accesorius) : Dalam batas normal
• 12). N.XII (N. Hipoglosus) ; Dalam batas normal
PEMERIKSAAN FISIK
Refleks Fisiologis

• Motorik 5555 4444 1). Biseps : +2/+2


5555 4444 2). Trisep : +2/+2
3). Patella : +2/+2
4). Archilles : +2/+2

• Sensorik ++++ ++++ Refleks patologis


++++ ++++ Oppenheim : -/-
Hoffmen Tromner : -/-
Chaddock : -/-
Babinski : +/+
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi rutin
Laju Endap Darah : 37 / Jam
• Pemeriksaan Laboratorium
• Hemoglobin : 10.1 mg/dl SGOT : 108 U/L
• Leukosit : 3.200/uL SGPT : 122,8 U/L
• Trombosit : 102.000/uL
• Hematokrit : 30,1% Ureum : 18,7 mg/dL
• Eritrosit : 3.780.000 uL Kreatinin : 1.2 mg/dL

HbsAg : (+) reaktif

PLHA : (+)
1.
PEMERIKSAAN
CT-Scan kepala non kontras
PENUNJANG
Hasil :
- Cenderung gambaran encephalitis
- Oedema cerebri
- Peningkatan tekanan intracranial
- Hidrochepalus
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen Thorak AP

Kesan:
Cor tak membesar
Pulmo: TB Paru
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis Klinis : Ensefalitis Toxoplasma
Diagnosa Topis : Lesi di Cerebrum
Diagnosa Etiologi: Susp Toxoplasma gondii dan HIV infection
Diagnosis Banding
- Meningoensefalitis et causa abses serebri
PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa Medikamentosa
Farmakologi bagian saraf
• Beristirahat, • Inj. Deksametason 4x5 mg (i.v)
Farmakologi bagian Penyakit Dalam
kurangi aktivitas • IVFD RL 30 tpm
berat, • Inj. Ranitidin 2x50 mg (i.v)
• Infus paracetamol 1 gr/8 jam (kp
menasehati T>38,5 °C) (i.v)
pasien untuk • Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam (i.v)
• Cotrimoksazole 2x960 mg(p.o)
rutin minum • Ciprofloxacin 2x450 mg (p.o)
OAT. • Candystatin drop 3x0,5 gtt (p.o)
• Terapi OAT
PROGNOSIS
• Quo ad vitam : Dubia ad bonam
• Quo ad functionam : Dubia ad malam
• Quo ad sanactionam : Dubia ad malam
PEMBAHASAN
Definisi
• Ensefalitis adalah adanya Toksoplasma Ensefalitis (TE) merupakan
proses inflamasi pada komplikasi neurologi yang terjadi karena
parenkim otak baik secara infeksi dari protozoa yakni Toxoplasma Gondii
fokal maupun global yang (T.gondii) pada parenkim otak. Komplikasi ini
dapat menyebabkan banyak terjadi akibat reaktivasi dari kista
terjadinya defisit neurologis. jaringan T. Gondii pada pasien dengan
• Inflamasi ini dapat terjadi imunocompromised.
akibat infeksi dari
mikroorganisme antara lain
virus (penyebab tersering dari
banyak kasus), bakteri, fungi,
protozoa,
Etiologi
• Toxoplasma Gondii
merupakan spesies dari
Coccidia yang mirip
dengan Isospora. Hospes
definitif T.Gondii adalah
kucing dan binatang
sejenisnya, sedangkan
manusia dan mamalia
lainnya merupakan hospes
perantara.
Manusia dapat terinfeksi T.Gondii melalui berbagai cara, antara lain :
1. Transmisi kepada janin melalui plasenta apabila ibunya mendapat infeksi primer pada
saat kehamilannya
2. Makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan atau
tachyzoit Toxoplasma
3. Makan makanan yang tercemar ookista Toxoplasma yang berasal dari feses kucing,
biasanya ookista ini terbawa oleh vektor mekanik seperti kecoa dan lalat yang dapat
memindahkan ookista dari tanah atau lantai ke makanan.
4. Infeksi melalui jarum suntik dan alat laboratorium terutama pada orang yang bekerja
pada laboratorium percobaan terhadap T.Gondii
5. Transplantasi organ dari pendonor yang menderita toksoplasmosis laten
6. Transfusi darah lengkap.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis dari TE dapat berupa:
• gangguan status mental
• panas badan yang dapat terus-menerus atau hilang timbul
• sakit kepala
• defisit neurologis fokal
• gelisah sampai terjadi penurunan kesadaran
• kadang didapatkan kejang
• gangguan penglihatan
• Terjadinya defisit neurologis fokal adalah akibat adanya lesi
massa intrakranial, seperti hemiparese, afasia, parese nervus
kranialis, kejang fokal, defisit sensoris, kadang juga didapatkan
adanya gerakan involunter, seperti dystonia, chorea,
athethosis dan hemibalismus. Pada beberapa penderita
dapat timbul pneumonia dan miokarditis.
DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan kepada gejala klinis,
tingkat risiko, pemeriksaan antibodi IgG
terhadap T.Gondii dan hasil dari pemeriksaan
radiologi yang menunjang, selain itu diagnosis
dapat juga didasarkan atas adanya respons
klinis pengobatan terhadap T.Gondii.
Terapi fase akut dapat diberikan pyrimethamine dengan
dosis awal 200 mg perFase oral akut
yang kemudian dilanjutkan
dengan dosis 75 - 100 mg/hari ditambah dengan
sulfadiazin 1 - 1,5 g yang diberikan setiap 6 jam atau 100
mg/kg/hari (maksimum dosis 8 g/hari) dan ditambah pula
dengan asam folat 10 - 20 mg/hari.

Tatalaksana

Terapi fase perawatan dapat diberikan pyrimethamine 25 -


50 mg/hari ditambah dengan sulfadiazine 500 - 1000
mg/hari diberikan sebanyak empat kali per hari dan juga
diberikan asam folat bersama-sama. Apabila penderita
tidak tahan atau alergi terhadap sulfadiazin dapat diganti
dengan clindamycin 1200 Fase
mg diberikan 3 kali per hari.
perawatan
Pencegahan
• Pencegahan dilakukan dengan cara menghindari
makanan yang tidak masak atau memakan daging
yang kurang masak (untuk daging kambing, sapi
dan babi) sebaiknya dimasak pada suhu 165 – 170 ºF
(74 - 77 ºC), mencuci sayuran dan buah-buahan
yang akan dimakan. Bila memiliki kucing di rumah,
maka tempat kotoran untuk kucing harus dicuci dan
dibersihkan setiap hari dan harus mencuci tangan
setelah membersihkannya. Mengusahakan agar
kucing peliharaan tetap di rumah. Cuci tangan
setelah bekerja di kebun.
Prognosis
• Pada umumnya ensefalitis toksoplasma
dapat diterapi dengan baik, sehingga
prognosisnya baik. Angka kematian
berkisar 1 - 25% pada penderita yang
mendapatkan penanganan dengan
baik. Pada penderita dengan defisiensi
imun, terdapat kemungkinan terjadinya
kekambuhan apabila pengobatan
profilaksis dihentikan.
Pembahasan
• Pasien awalnya pasien mengeluhkan sakit dikepala yang mulai
dirasakan sejak 8 bulan yang lalu, sakit kepala dirasakan seperti
ditusuk-tusuk dan terus menerus. Dari anamnesis kita dapat
mengetahui bahwa nyeri kepala pasien bersifat kronis progresif dan
menunjukkan adanya suatu lesi desak ruang pada otak dan sejak 8
bulan yang lalu juga pasien mengeluh lemah pada sisi kiri. Menurut
pengakuan ayah pasien, sebelum pasien mengalami kelemahan sisi
tubuh sebelah kiri, pasien memiliki riwayat jatuh dari motor dan posisi
jatuhnya pasien miring kesebelah kanan. Sejak saat itulah pasien
mengalami kelemahan pada sisi tubuh sebelah kiri. Sehingga jalan
pasien seperti mau tumbang. Ditemukan juga adanya movement
disorder berupa hemiparese sinistra ringan pada pasien ini diduga
berhubungan dengan letak lesi.
• Pasien juga mengeluhkan batuk-
batuk sejak kurang lebih 3 bulan lalu.
Batuk dirasakan hilang timbul dan
berdahak dan dahak berwarna putih
lendir dan darah tidak ada. Demam
juga dirasakan oleh pasien sejak
kurang lebih 3 bulan yang lalu. Pasien
mengaku demam yang dirasakan
kadang-kadang panas tinggi muncul
kapan saja dan kadang-kadang
seperti meriang saja. Adanya demam
menunjukkan adanya infeksi. Bisa
juga dari gejala tersebut kita
mencurigai adanya infeksi di saluran
napas seperti TB paru.
• Ensefalitis toxolasma biasanya terjadi pada penderita yang
terinfeksi virus HIV dengan CD4 T sel < 100/mL. Ensefalitis
toxoplasma ditandai dengan onset yang subakut. Manifestasi
klinis yang timbul dapat berupa defisit neurologis fokal (69%),
nyeri kepala (55%), bingung / kacau (52%), dan kejang (29%).
Pada suatu studi didapatkan adanya tanda ensefalitis global
dengan perubahan status mental pada 75 % kasus, adanya
defisit neurologis pada 70% kasus, Nyeri kepala pada 50 %
kasus, demam pada 45 % kasus d an kejang pada 30 % kasus.
Defisit neurologis yang biasanya terjadi adalah kelemahan
motorik dan gangguan bicara. Bisa juga terdapat
abnormalitas saraf otak, gangguan penglihatan, gangguan
sensorik, disfungsi serebelum, meningismus, movement
disorders dan menifestasi neuropsikiatri.
• Pada pasien tersebut dilakukan tindakan CT Scan
kepala dengan kontras. Karena kasus yang kita curigai
adanya massa sebaiknya dilakukan pemeriksaan CT-
Scan dengan kontras. Dari hasil CT-Scan didapatkan
gambaran tampak lesi hipodens luas di frontal,
temporal dan ganglia basalis, serta didapatkan
gambaran finger like oedema pada cerebri kanan dan
kiri. Pada pasien juga dilakukan pemeriksaan rontgen
thorak AP dan lateral didapatkan kesan pulmo terdapat
TB paru. Dari hasil darah rutin didapatkan peningkatan
(Laju Endap Darah) LED yang mengindikasikan infeksi
kronis yaitu 37/jam.
• Toksoplasmosis pada pasien yang terinfeksi HIV terjadi karena
reaktivasi infeksi kronis, dan biasa nya muncul sebagai
ensefalitis toksoplasma. Pada pasien AIDS, T.Gondii adalah
penyebab tersering infeksi oportunistik yang menyebabkan
lesi fokal otak. Gejala klinis yang muncul perubahan status
mental (62%), nyeri kepala (59%), dan demam (41%)
berhubungan dengan defisit neurologis fokal.
• Progresivitas infeksi dapat menyebabkan kejang, hemiparese,
hemianopsia, afasia, ataksia dan kelumpuhan nervus kranialis.
Kelemahan motorik dan gangguan bicara adalah tanda
progresivitas penyakit ini. Pada pasien ditemukan kedua
tanda progresivitas ini. Jika tidak ditangani dengan cepat,
dapat berakhir dengan koma dalam hitungan hari atau
minggu.
• Prognosis pada pasien ini adalah untuk quo ad
vitam adalah dubia ad bonam
• Untuk prognosis quo ad functionam adalah dubia
ad malam karena kerusakan yang terjadi
irreversible, dan
• prognosis quo ada sanactionam dubia ad malam
karena tergantung kepatuhan pasien untuk
mengkonsumsi profilaksis TMP-SMX. Semakin buruk
kepatuhan maka semakin besar kemungkinan
untuk relaps.
TERIMA KASIH