Anda di halaman 1dari 18

Inkontinensia Urin pada Lansia

Riska Cerlyan Mustamu


102013302
D3
Skenario 8
Perempuan 70 tahun diantar berobat ke
poliklinik dengan keluhan tidak dapat menahan
kencing sehingga sering ngompol sebelum
sampai ke wc sejak 3 minggu yang lalu
Rumusan masalah
Perempuan usia 70 tahun tidak mampu
menahan kencing, dan sering ngompol
Anamnesis
• Identitas pasien
– Usia: 70 tahun
– Jenis kelamin : perempuan
• Keluhan utama
– tidak dapat menahan kencing sehingga sering
ngompol sebelum sampai ke wc
• Riwayat penyakit sekarang
• Riwayat penyakit dahulu
• Riwayat penyakit keluarga
• Riwayat sosial
Pemeriksaan fisik
• TTV :
– KU : tampak sakit ringan
– Kesadaran : CM
– nadi : 85x/menit
– TD : 130/80 mmHg
– Suhu : 37oC dan
– RR : 20 kali per menit
• Pemeriksaan pelvis
– perempuan penting untuk menemukan beberapa kelainan seperti
prolapse, imflamasi, keganasan
• Pemeriksaan abdomen
– dengan cara palpasi harus dilakukan untuk mengenali adanya kandung
kemih yang penuh, rasa nyeri, massa, atau riwayat pembedahan
Pemeriksaan penunjang

Kultur urin untuk IVU untuk menilai saluran


Uji fungsi ginjal dan USG
menyingkirkan adanya bagian atas dan obstruksi
ginjal
infeksi atau fistula.

Urodinamik :
Sistoskopi : jika dicurigai
uroflowmetri, Sistometri,
terdapat batu atau
sistometri video,
neoplasma kandung
flowmetri tekanan uretra,
kemih.
Uji batuk
Working
Inkontinensia
stress
Inkontinensia
akut “DIAPPERS”
Inkontinensia
Inkontinensia
urgensi
Inkontinensia
kronik
Inkontinensia
overflow

Inkontinensia
fungsional
Etiologi
• Pada wanita penyebab umum terjadinya Inkontinensia urin
adalah lemahnya sokongan dari pelvis.
• Wanita dapat kehilangan support dari pelvis setelah
melahirkan, operasi, ataupun penyakit yang dapat
melemahkan kekuatan jaringan atau juga setelah kehilangan
esterogen postmenopausal.
• Penuaan dapat menyebabkan inkontinensia akibat adanya
pelemahan kekuatan jaringan ikat, hipoesterogisme,
peningkatan gangguan medis, peningkatan diuresis malam
hari.
Epidemiologi
• Inkontinensia urin biasanya tidak sempat didiagnosis dan juga tidak
dilaporkan karena penderita merasa malu dan tidak ada yang bisa
diperbuat untuk menolongnya.
• Sekitar 50% usia lanjut di instalasi perawatan kronis dan 11-30% di
masyarakat mengalami inkontinensia urin.
• Perempuan lebih sering mengalami inkontinensia daripada laki-laki
dengan perbandingan 1,5:1.
• Dibandingkan dengan ras dan suku, wanita kulit putih memiliki prevalensi
terkena inkontinensia urin yang lebih besar dibadingkan dengan wanita
kulit hitam.
• Sekitar 46% wanita kulit putih menderita inkontinensia urin sedangkan
hanya 30% wanita kulit hitam yang menderita inkontinensia urin.
Gejala klinis
• Prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring meningkatnya usia.
• Usia lanjut seringkali memiliki kondisi medik yang dapat mengganggu proses
berkemih yang secara langsung mempengaruhi fungsi saluran berkemih,
perubahan status volume dan ekskresi urin, atau gangguan kemampuan untuk ke
kamar kecil.
• Pada orang usia lanjut di masyarakat, inkontinensia urin dikaitkan dengan depresi,
transient ischaemic attacks dan stroke, gagal jantung kongestif, konstipasi dan
inkontinensia feses, obesitas, penyakit paru obstruktif kronik, dan gangguan
mobilitas.
• Pada orang usia lanjut di panti, inkontinensia urin dikaitkan dengan terdapatnya
gangguan mobilitas, demensia, depresi, stroke, diabetes, dan Parkinson.
• Risiko inkontinensia urin meningkat pada perempuan dengan nilai indeks massa
tubuh yang lebih besar, dengan riwayat histerektomi, infeksi urin, dan trauma
perineal.
• Melahirkan pervaginam akan meningkatkan risiko inkontinensia urin tipe stres dan
tipe campuran.
Ketika pengisian kandung kemih
Kontraksi kandung kemih disebabkan
terjadi, otot dalam kandung kemih Sphincter uretra internal akan
karena aktivitas parasimpatis yang
yang dinamakan muskulus detrusor tertutup karena akvitas saraf simpatis
dipicu oleh asetilkolin pada reseptor
berelaksasi, sebaliknya saat yang dipicu oleh nor-adrenalin
muskarinik
pengosongan

yang dapat menyebkan inkontinensia


Pada inkontinensia urin, inervasi tidak Invervasi sphincter uretra interna dan
urin tipe urgensi akibat tidak dapat
terjadi dengan baik menyebabkan eksterna terjadi oleh persarafan
menahan keinginan berkemih dan
uretra tidak dapat menutup dengan nervus pudendal somatik setinggi
dengan melemasnya sphincter uretra
baik sehingga urin dapat keluar sakral 4
eksterna

apabila adanya tekanan intra


abdomen dan kandung kemih yang
penuh serta dengan otot serat dasar
pelvis yang tidak suportif lagi akibat
sering melahirkan operasi dan
penurunan estrogen menyebabkan
urin dapat keluar menyebabkan
inkontinensia stress

Patofisiologi
Penatalaksanaan nonmedikamentosa
• Biasanya hal yang dilakukan dalam terapi ini ialah dengan
cara melatih otot panggul untuk menahan kemih dengan
teknik distraksi dan relaksasi.
• Usahakan agar berkemih terjadi 6-7 kali saja dalam sehari
atau 3-4 jam sekali.
• Latihan 3-5 kali sehari dengan 15 kontraksi dan ditahan 10
detik saja.
• Serta pasien juga di latih untuk menggunakan penjadwalan
berkemih diupayakan teknik ini sesuai dengan pola
berkemih pasien tersebut.
• Teknik ini sebaiknya untuk inkontinensia tipe fungsional dan
membutuhkan keterlibatan petugas atau pengasuh pasien.
Penatalaksanaan medikamentosa
Antikoligernik Alfa Alfa
Estrogen Kolinergik
dan anti adrenergic adrenergic
agonis agonis
spasmodic agonis antagonis

Oksibutinin 2,5-5 mg
Pseudofedrin 15-30
mg
Oral : 0,625 mg/hari
Tolterodin 2 mg

Propathelin 15—30 Phenylpropanolamin Bethanechol 10- Terasozin 1-10


mg 75 mg 30mg mg/hari

Dicyclomin 10-20mg
Topical : 0,5-1,0
mg/aplikasi
Imipramin 10-50 mg
Imipramine 10-50 mg
Pembedahan
• Kateterisasi luar
• Kateterisasi intermiten
– Terutama pada wanita lanjut usia yang menderita
inkontinensia
– Frekuensi pemasangannya 2 hingga 4x sehari,
dengan sangat memperhatikian sterilitas dan
teknik prosedurmya.
• Kateterisasi secara menetap : (chronic
indwelling catheter)
Komplikasi
• Infeksi saluran kemih
• Lecet pada area bokong sampai dengan ulkus
dekubitus karena selalu lembab
• Gangguan tidur
• Depresi
• Dehidrasi akibat kurang asupan air
Prognosis
• Hasilnya akan baik jika dengan perawatan
yang baik pula dari tim medis.
• Inkontinensia urin mempunyai kemungkinan
besar untuk disembuhkan terutama pada
penderita dengan mobilitas dan status mental
yang cukup baik.
Pencegahan
• Tidak mengangkat barang yang berat sewaktu
muda serta menjalani tindakan-tindakan
operasi yang melemahkan dasar panggul
dapat menjadi tindakan pencegahan
Inkontinensia Urin
• Mengurangi kejadian obesitas
• Tidak merokok
Kesimpulan
• Inkontinensia urin adalah salah satu penyakit yang
banyak diderita oleh para lanjut usia (lansia).
• Dari skenario, dapat diketahui bahwa Ny.A yang berusia
70 tahun yang sering mengompol dan tidak bisa
menahan kencing. ia menderita inkontinensia urin tipe
campuran stres. Hal ini karena Ny.A tidak dapat
menahan miksi sebelum sampai ke WC.
• Inkontinensia urin dapat diringankan dengan
perawatan yang baik, terapi medikamentosa, terapi
non-medikamentosa, dan terapi pembedahan.