Anda di halaman 1dari 39

TUTORIAL KLINIK

ASUHAN
PERSALINAN
NORMAL
Disusun:
Poppy Putri K.A/20164011067

Pembimbing:
dr. Bayu Ariwibowo, Sp.OG
PENGERTIAN APN

Pengertian asuhan persalinan normal (APN) adalah


asuhan yang bersih dan aman dari setiap tahapan
persalinan yaitu mulai dari kala satu sampai dengan
kala empat dan upaya pencegahan komplikasi
terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermi
serta asfiksia pada bayi baru lahir
PERSALINAN

Pengertian persalinan adalah proses pengeluaran hasil


konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya
kontraksi persalinan sejati, yang ditandai
PENGELUARAN HASIL KONSEPSI

 Persalinan pre term: pada umur kehamilan antara 20-37


minggu, dibagi menjadi:
- persalinan immatur: umur kehamilan 20-28 minggu
- persalinan prematur: umur kehamilan 28-37 minggu

 Persalinan at term: pada umur kehamilan antara 37-42


minggu

 Persalinan post term: persalinan pada umur kehamilan 42


minggu atau lebih
PERSALINAN NORMAL

Persalinan dan kelahiran dikatakan normal jika:

 Usia kehamilan aterm (37-42 minggu)


 Persalinan terjadi spontan
 Presentasi belakang kepala
 Berlangsung tidak lebih dari 18 jam
 Tidak ada komplikasi pada ibu maupun janin
DIAGNOSIS PERSALINAN
Kontraksi pada persalinan Kontraksi pada persalinan
sejati (true labor) palsu (false labor)
Kontraksi terjadi pada Kontraksi terjadi pada
interval yang teratur interval yang acak
Interval secara bertahap Interval tetap lama
semakin pendek
Intensitas secara bertahap Intensitas tidak berubah
meningkat
Rasa tidak nyaman terasa di
Rasa tidak nyaman
punggung dan abdomen terutama di abdomen
bagian bawah
Serviks membuka Serviks tidak membuka
Rasa tidak nyaman tidak Rasa tidak nyaman
hilang dengan sedasi biasanya reda dengan
sedasi
PROSES PERSALINAN

Adanya kontraksi uterus (his) yang menyebabkan


penipisan serviks dan dan pembukaan kanalis servikalis

Sifat his:
 Dominasi di fundus
 Simetris
 Jarak antara 2 his makin pendek
 Lama his makin memanjang
 His yang baik 3-4 kali dalam 10 menit
PROSES PERSALINAN

 Persalinan normal merupakan sebuah proses berkelanjutan


yang terbagi menjadi 3 tahap, yaitu :
1. Tahap pertama persalinan adalah interval antara onset
persalinan dan serviks membuka lengkap

2. Tahap kedua persalinan adalah interval antara pembukaan


lengkap serviks dan kelahiran bayi

3. Tahap ketiga adalah periode antara kelahiran bayi dengan


lahirnya plasenta.
FISIOLOGI PERSALINAN

Menjelang persalinan terjadi perubahan pada ibu hamil yang


berperan mendukung/menginduksi proses persalinan. Adapun
perubahan-perubahan tersebut meliputi:

 Perubahan pada sistem hormonal

 struktur anatomi pada tubuh ibu

 fisiologi pada tubuh ibu, terutama pada sistem reproduksi.


Perubahan Hormonal
 Tidak banyak terjadi perubahan pada kadar hormon estrogen dan
progesteron menjelang partus. Meski didapat peningkatan kerja hormon
estrogen dan insufisiensi efek progesteron, hal ini lebih disebabkan
perubahan pada reseptor hormon. Menjelang partus, PRA
(progesteron reseptor A) yang bekerja menginhibisi efek
progesteron, jumlahnya meningkat sedang PRB (progesteron
receptor B) yang kerjanya berkebalikan dengan PRA malah
menurun. Hal inilah yang menyebabkan fungsi utama progesteron
untuk menjaga kehamilan jadi berkurang.1,3
 Hal ini juga didukung dengan peningkatan reseptor estrogen α (ERA).
ERA selama kehamilan dihambat kerjanya oleh progesteron, sehingga
peningkatan jumlah reseptor ini akan membantu peningkatan aktifitas
estrogen. Dimana estrogen sangat berperan untuk merangsang
kontraksi uterus. Efek estrogen yang berperan menunjang kontraksi
adalah efeknya dalam aktivasi formasi gap-junction, meningkatkan
reseptor oxytocin dan COX-2 serta meningkatkan sintesis
prostaglandin. 3

 Prostaglandin dan oxytocin juga meningkat menjelang partus. Selain


dipengaruhi peningkatan estrogen, sekresi PG juga berasal langsung
dari paru janin yang juga mensekresikan PAF. Membran janin juga
mensekresi PAF (platelets activating factors) yang berperan
menginisiasi kontraksi uterus.
Perubahan Anatomi

 Perubahan anatomi yang penting terjadi menjelang persalinan


adalah pada jalan lahir dan jaringan lunak rongga panggul. Dibawah
pengaruh estrogen jaringan otot dan ligamen berelaksasi
sehingga memudahkan akomodasi dari panggul ketika bayi melewati
rongga panggul. Pada uterus, miometrium membesar dan menjelang
persalinan akan mulai muncul HIS (kontraksi uterus). Setiap selesai
kontraksi HIS, miometrium akan memendek. Hal ini akan
menyebabkan tarikan pada SBR (ismus) yang memiliki jaringan otot
yang lebih sedikit, dan selanjutnya akan menyebabkan tarikan pada
serviks sehingga serviks akan mulai menipis dan berdilatasi.
Perubahan Fisiologis

 Menjelang persalinan akan dimulai suatu kontraksi uterus yang


disebut HIS persalinan. Selain itu, karena pengaruh estrogen
dan prostaglandin serviks akan menjadi makin lunak
hipermukus dan hipervaskularisasi. Hal ini akan menyebabkan
sekresi lendir oleh kelenjar yang nantinya akan memberikan
tampakan bloody show (mukus bercampur darah) yang
merupakan salah satu tanda in partu. Apabila pembukaan
sudah lengkap, ibu akan mulai memiliki refleks meneran yang
nantinya dapat membantu kelahiran bayi.
 Perubahan-perubahan diatas adalah perubahan yang terjadi
pada ibu dalam rangka persiapan diri untuk proses
persalinan/kelahiran bayi. Adapun dalam proses
kelahiran/partus, ada beberapa aspek yang berpengaruh,
yaitu power, passage, passenger dan provider. Power adalah
segala tenaga yang mendorong bayi keluar melalui jalan
lahir. Terdiri atas tegangan kontraksi HIS dan tenaga meneran
dari ibu. Passage adalah jalan lahir, termasuk didalamnya
perubahan anatomi pada jalan lahir menjelang persalinan.
Passenger adalah bayi itu sendiri. Sedang provider lebih
terkait dalam manajemen persalinan
FASE PERSALINAN

Pada persalinan normal terdapat beberapa fase, yaitu:

 Kala I: dimulai ketika gelombang HIS dimulai dan/atau pada


pembukaan 1 serviks dan berakhir pada bukaan 10
 Kala II: dimulai sejak bukaan 10 serviks (akhir kala I) dan
berakhir setelah bayi lahir
 Kala III: dimulai setelah kelahiran bayi dan berakhir setelah
kelahiran plasenta
 Kala IV: dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
setelah 2 jam
KALA I

Secara klinis dapat dikatakan partus dimulai apabila timbul his


dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bersemu darah
(bloody show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari
lendir kanalis servikalis mulai membuka atau mendatar.
KALA I
Fase persalinan Kala I

 Fase Laten
pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak
awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm,
fase laten berlangsung dalam 7- 8 jam.
KALA I
Fase persalinan Kala I

 Fase Aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6


jam dan di bagi dalam 3 subfase yaitu:
1. Periode akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3
cm menjadi 4 cm

2. Periode dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam


pembukaan sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm

3. Periode deselerasi yaitu pembukaan berlangsung


lambat kembali, dalam 2 jam pembukaan 10 cm atau
lengkap

Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida


pun terjadi demikian, akan tetapi fase laten, fase aktif, dan fase
deselerasi terjadi lebih pendek.
KALA I

Mekanisme membukanya serviks berbeda pada primigravida


dan multigravida. Pada yang pertama, ostium uteri internum
akan membuka lebih dulu, sehingga serviks akan mendatar
dan menipis. Baru kemudian ostium uteri eksternum membuka.
Sedangkan pada multigravida ostium uteri internum sudah
sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta
penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang
sama. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah
lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13
jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam.
KALA I

Proses Pendataran serviks pada Multigravida dan Primigravida


KALA I

Pendataran dan dilatasi serviks sempurna pada Multigravida dan Primigravida


KALA II
Gejala dan Tanda Kala II

 Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2
sampai 3 menit sekali. Karena biasanya kepala janin sudah
masuk di ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan
pada otot-otot dasar panggul, yaitu secara reflektoris
menimbulkan rasa mengedan. Ibu merasa ingin meneran
bersamaan dengan terjadinya kontraksi (Dor-Ran)

 Tekanan pada anus (Tek-Nus)

 Perineum tampak menonjol (Per-Jol)

 Vulva vagina dan sfingter ani membuka (Vul-Ka)

 Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah


KALA II
Menyiapkan Pertolongan Persalinan

 Kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan


esensial
 Menggunakan APD (celemek, sepatu tertutup, tutup
kepala, masker dan kacamata)
 Melepas semua perhiasan pada lengan kemudian cuci
tangan dengan sabun dan air bersih
 Pakai sarung tangan steril dan siapakan oksitosin
Gerakan-gerakan pokok persalinan adalah Engagement, Descens
(penurunan kepala), Fleksi, Putaran paksi dalam, Ekstensi, Putaran
paksi luar dan Ekspulsi
KALA II Engagement

Mekanisme yang digunakan oleh diameter biparietal-diameter


transversal kepala janin pada presentasi oksiput untuk melewati
pintu atas panggul disebut sebagai engagement. Fenomena
ini terjadi pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Turunnya
kepala dapat dibagi menjadi masuknya kepala ke dalam
pintu atas panggul dan majunya kepala.
KALA II Descent

Hal ini merupakan syarat utama kelahiran bayi. Pada wanita


nulipara, engagement dapat terjadi sebelum awitan persalinan
dan desensus lebih lanjut mungkin belum terjadi sampai
dimulainya persalinan kala dua. Pada wanita multipara,
desensus biasanya mulai bersamaan dengan engagement.
Descens terjadi akibat satu atau lebih dari empat gaya4:
 Tekanan cairan amnion

 Tekanan langsung fundus pada bokong saat kontraksi

 Usaha mengejan yang menggunakan otot-otot abdomen

 Ekstensi dan pelurusan badan janin


KALA II Fleksi

 Ketika desens mengalami tahanan, baik dari serviks, dinding


panggul, atau dasar panggul, biasanya terjadi fleksi kepala.
Pada gerakan ini, dagu mendekat ke dada janin dan
diameter suboksipitobregmatika yang lebih pendek
menggantikan diameter oksipitofrontal yang lebih panjang.
KALA II Putar Paksi Dalam

 Yang dimaksud dengan putaran paksi


dalam ialah pemutaran bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah
dari bagian depan memutar ke depan, ke
bawah simfisis. Pada presentasi belakang
kepala, bagian yang terendah adalah
daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah
yang akan memutar ke depan, ke bawah
simfisis. Putaran paksi dalam mutlak
diperlukan untuk kelahiran kepala, karena
putaran paksi merupakan suatu usaha
untuk menyesuaikan posisi kepala dengan
bentuk jalan lahir, khususnya bentuk bidang
tengah dan pintu bawah panggul. Putaran
paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi
selalu bersamaan dengan majunya kepala
dan tidak terjadi sebelum kepala sampai ke
Hodge III kadang-kadang baru terjadi
setelah kepala sampai di dasar panggul.2
KALA II Putar Paksi Dalam

Sebab-sebab putaran paksi dalam yakni 2:


 Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian
terendah dari kepala
 Bagian terendah kepala ini mencari tahanan yang paling
sedikit, yaitu di sebelah depan atas tempat terdapatnya
hiatus genitalis antara antara musculus levator ani kiri dan
kanan.
 Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter
anteroposterior
KALA II Ekstensi

 Setelah putaran paksi dalam selesai dan


kepala sampai di dasar panggul terjadilah
ekstensi atau defleksi kepala. Hal ini
disebabkan karena sumbu jalan lahir pada
pintu bawah panggul mengarah ke depan dan
ke atas sehingga kepala harus mengadakan
ekstensi untuk melaluinya. Kalau tidak terjadi
ekstensi, kepala akan tertekan pada
perineum dan menembusnya. Pada kepala,
bekerja dua kekuatan yang satu
mendesaknya ke bawah, dan yang satunya
disebabkan oleh tahanan dasar panggul yang
menolaknya ke atas. Resultannya ialah
kekuatan ke arah depan atas.2
 Setelah suboksiput tertahan pada pinggir
bawah simfisis, yang dapat maju karena
kekuatan tersebut di atas ialah bagian yang
berhadapan dengan subocciput sehingga
pada pinggir atas perineum, lahirlah berturut-
turut ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut,
dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi.
Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran
disebut hipomoklion.2
KALA II Putar Paksi Luar

 Setelah kepala lahir, belakang kepala anak memutar


kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi
pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam.
Gerakan ini disebut putaran restitusi (putaran balasan :
putaran paksi luar). Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga
belakang kepala berhadapan dengan tuber ischiadicum
sesisi. Gerakan yang terakhir ini adalah putaran paksi luar
yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu
menempatkan diri dalam diameter anteroposterior pintu
bawah panggul.
KALA II Ekspulsi

 Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah


simfisis dan menjadi hipomoklion untuk kelahiran bahu
belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya
seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.
KALA III
Manajemen Aktif Kala III

Persalinan Kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan


berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban

Manajemen aktif Kala III terdiri dari:


 Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama
setelah bayi lahir
 Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
 Masase fundus uteri.
KALA III
Manajemen Aktif Kala III

Terdiri dari 2 fase, yaitu :


(1) Fase pelepasan plasenta
(2) Fase pengeluaran plasenta

Setelah anak lahir, his berhenti sebentar, tetapi timbul lagi


setelah beberapa menit. His ini dinamakan his pelepasan
plasenta yang berfungsi melepaskan plasenta, sehingga
terletak pada segmen bawah rahim atau bagian atas vagina.
Pada masa ini, uterus akan teraba sebagai tumor yang keras,
segmen atas melebar karena mengandung plasenta, dan
fundus uteri teraba sedikit di bawah pusat.
KALA III

Manajemen Aktif Kala III

Lamanya kala plasenta kurang lebih 8,5 menit, dan pelepasan


plasenta hanya memakan waktu 2-3 menit.
KALA III
Tanda-tanda pelepasan plasenta mencakup beberapa atau semua hal-
hal di bawah ini :

 Perubahan bentuk dan tinggi fundus


 Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus
berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat.
Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus
berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus
berada di atas pusat
 Tali pusat memanjang
 Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (Tanda Ahfeld)
 Semburan darah mendadak dan singkat
 Darah yang terkumpul di belakang plasenta membantu mendorong
plasenta keluar dan dibantu oleh gaya gravity. Apabila kumpulan darah
dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta
melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi
plasenta yang terlepas. Perdarahan agak banyak (±250 cc)
KALA IV

Merupakan kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan


plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama
terhadap bahaya perdarahan postpartum.
Tujuh pokok penting yang harus diperhatikan pada kala IV:
1) Kontraksi uterus harus baik
2) Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital
lain
3) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) Kandung kencing harus kosong
5) Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada
hematoma
6) Resume keadaan umum bayi
7) Resume keadaan umum ibu.
KALA IV
Asuhan dan Pemantauan Kala IV

 Menilai Perdarahan:
Penyebab perdarahan dari laserasi atau robekan perineum dan
vagina.
Klasifikasi laserasi berdasarkan luasnya robekan:
 Derajat 1: Laserasi epitel vagina/ pada kulit perineum saja
 Derajat 2: kerusakan pada otot perineum, tapi tidak
melibatkan kerusakan sfingter ani
 Derajat 3: kerusakan pada otot sfingter
3a: robekan <50% sfingter ani eksterna
3b: robekan >50% sfingter ani eksterna
3c: robekan meliputi sfingter ani interna
 Derajat 4: robekan stadium 3 diikuti robekan pada epitel anus
KALA IV
Asuhan dan Pemantauan Kala IV

1. Memulai IMD untuk melakukan kontak kulit ibu dan bayi (di
dada ibu minimal 1 jam)
2. Setelah IMD selesai:
- Timbang dan ukur bayi
- Beri bayi salep/ tetes mata antibiotik profilaksis
- Suntikkan vitamin K1 1mg IM di paha kiri
- Pastikan suhu tubuh bayi normal (36,5-37,5)
- Berikan gelang pengenal
3. Setelah 1 jam suntikan vitamin K1 berikan imunisasi hepatitis B0
di paha kanan
TERIMA KASIH