Anda di halaman 1dari 91

SKENARIO 1

BLOK IKM
DOA BELAJAR
DOA BELAJAR

‫ص ْد ِّري‬َ ‫اش َر ْح لِّي‬ ْ ِّ‫َرب‬


‫ل‬ ُ
ْ ‫احل‬ َ
ْ ‫س ْر لِّي أ ْم ِّري َو‬ ِّ َ‫َوي‬
ْ ‫ُع ْق َد ًة ِّم‬
‫ن‬
‫سانِّي يَ ْف َق ُهوا َق ْولِّي‬ َ ِّ‫ل‬
Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul
'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii ’
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah
urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
supaya mereka mengerti perkataanku ”
(QS. Thoha:28-25)
DOA BELAJAR
‫ـي‬ ْ
ْ ِّ‫علمـاورزقن‬ُ ْ َ ً ْ ِّ ‫ي‬ ْ ِّ‫َربِّ ِّز ْد ن‬
.‫مـا‬ ً ‫َف ْه‬
ُ‫ج َع ْل َته‬َ ‫ل إِّال َما‬ َّ َ ‫سه‬ ْ َ ‫اَللهم ال‬
َّ ُ َّ
‫ن‬ َ ‫ح ْز‬ ْ
َ ‫ل ال‬ ُ ‫ج َع‬ ْ َ‫ت ت‬ َ
َ ‫س ْهال ً َو أ ْن‬ َ
ً ‫س ْهال‬ َ ‫ت‬ َ ‫ش ْئ‬ ِّ ‫إِّ َذا‬
Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman
Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza
Syi’ta Sahlaa
“ Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang
baik .”(QS. Thaha : 114)
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan
apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi
kemudahan.”
(HR Anas bin Malik ra)
DOA BELAJAR

‫ما‬ ْ
ً ‫عل‬ ِّ ‫ك‬ ُ
َ ‫سأل‬َ ْ ‫يأ‬َ َّ ُ َّ
ْ ِّ‫اَللهم إِّن‬
ً ‫مال‬ َ ‫نَافِّ ًعا َو ِّر ْز ًقا طَ ِّيبًا َو َع‬
ً ‫ُم َت َقبَّال‬
Allahumma inni as’aluka ilman naafi’an wa rizqon
thoyyiban wa ‘amalan mutaqobalan
Ya Allah aku mohon kepadamu berikanlah kepadaku
ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang
diterima di sisi-Mu.
(HR Ibnu Majah dishahihkan oleh
Syaikh Al Bani dalam Shahih Ibnu Majah no 762)
Skenario 1:
Dokter A seorang dokter Puskesmas di suatu kecamatan dengan penduduk 30.000 orang. Selama
bertugas di kecamatan tersebut dia menjalankan Program Pemberantasan Penyakit TBC sesuai
program yang telah ditentukan. Namun dia merasa penderita TBC semakin bertambah. Dokter A
mengadakan evaluasi dengan langkah-langkah sesuai dengan indikator keberhasilan
penanggulangan penyakit TBC sbb:
Angka Penjaringan Suspek, Proporsi Pasien TB BTA positif diantara Suspek, Proporsi Pasien TB Paru BTA
positif di antara semua pasien TB paru tercatat/sudah diobati, Proporsi pasien TB Anak di antara
seluruh pasien TB, Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate=CDR), Angka Notifikasi Kasus (Case
Notification Rate=CNR), Angka Konversi (Conversion Rate), Angka Kesembuhan (Cure Rate) dan
Angka Default disamping indikator-indikator yang lain.
Angka-angka yang diperoleh akan dibandingkan dengan target sasaran yang harus dicapai dan
target nasional. Dalam menjalankan pengobatan penyakit TBC dokter A telah melakukan sesuai
petunjuk WHO (OAT) baik yang teratur maupun yang tidak teratur. Pertambahan penderita terjadi
selain dengan penyebaran penyakit, pencatatan yang kurang sempurna juga disebabkan makin
bertambah banyaknya penderita penyakit HIV maka diperlukan pembentukan kelompok-kelompok
kerja dan rujukan pada unit-unit yang ditetapkan. Di samping itu juga banyak penderita TBC yang
mengalami MDR antara lain karena side efek obat. Untuk rujukan-rujukan ke unit yang telah
ditetapkan bila terjadi MDR, dokter A membentuk kelompok-kelompok tersendiri dalam mengatasi
hal tersebut sebagai upaya pencapaian salah satu program pokok Puskesmas
KEYWORD
1. Program pemberantasan penyakit TBC
2. Indikator keberhasilan penanggulangan penyakit TBC
KATA SULIT
1. CDR (Case Detection Rate)
2. CNR (Case Notification Rate)
3. Conversion Rate
4. Cure Rate
5. MDR
6. Angka Default
KLARIFIKASI ISTILAH
1. CDR (Case Detection Rate):
2. CNR (Case Notification Rate):
3. Conversion Rate / Angka Konversi: Presentase pasien baru TB paru BTA positif yang
mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan
intensif. (Nurul Atika, 2015)
4. Cure Rate:
5. MDR:
6. Angka Default:
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tanda dan gejala penderita TB?
2. Bagaimana alur diagnosis penyakit TB?
3. Bagaimana model transmisi penyakit TB?
4. Bagaimana pengobatan penyakit TB menurut petunjuk WHO?
5. Apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB?
6. Bagaimana tindakan preventif untuk penyakit TB?
7. Mengapa bisa terjadi TB-MDR?
8. Bagaimana tindak lanjut terhadap pasien TB-MDR?
9. Faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB?
10.Apa saja indikator keberhasilan program penanggulangan penyakit TB?
11.Program puskesmas apa yang terkait dengan penanggulangan TB?
HIPOTESIS
1. Bagaimana tanda dan gejala
penderita TB?
2. Bagaimana alur diagnosis
penyakit TB?
3. Bagaimana model transmisi
penyakit TB?
4. Bagaimana pengobatan penyakit
TB menurut petunjuk WHO?
5. Apa saja faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pengobatan TB?
6. Apa saja faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pengobatan TB?
7. Mengapa bisa terjadi TB-MDR?
1. Penggunaan antibiotik yang luas
2. Putus/tidak rutin konsumsi OAT
3. Mycobacterium tb sering mengubah struktur protein
4. Karena pasien terlambat terdiagnosis TB sehingga obat tidak
diganti
5. Pasien HIV
8. Bagaimana tindak lanjut terhadap
pasien TB-MDR?
Setelah diketahui TB-MDR  Uji sensitivitas obat  Jika uji berhasil
dan muncul nama spesifik, maka obat tersebut jangan
digunakan. Namun uji sensitivitas obat biasanya tidak
menghasilkan hasil yang spesifik  Ganti OAT lini ke-2 (OAT Injeksi)
: Kinamisin/Amikasin/Kapreomisin/Streptomisin. Namun jika sensitif
thd obat pirazinamid, streptomisin tidak dianjurkan karena
ototoksik.
Bila ditemukan pasien TB-MDR  Rujuk ke dokter spesialis paru.
9. Faktor apa saja yang mempengaruhi
keberhasilan pengobatan TB?
1. Faktor pasien: teratur minum obat
2. Faktor PMO ada/tidak
3. Faktor suplai obat (tersedia di daerah tersebut atau tidak)
4. Kualitas OAT (tergantung penyimpanan sesuai standar atau
tidak)
10. Apa saja indikator keberhasilan program
penanggulangan penyakit TB?
1. Angka Penjaringan Suspek
2. Proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa dahaknya
3. Proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara seluruh pasien TB Paru
4. Proporsi pasien TB anak di antara seluruh pasien TB
5. Angka Penemuan Kasus / CDR
6. Angka Notifikasi Kasus / CNR
7. Angka Konversi
8. Angka Kesembuhan
9. Angka keberhasilan pengobatan
10.Angka kesalahan laboratorium
11. Program puskesmas apa yang terkait
dengan penanggulangan TB?
1. DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse): strategi
pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung yang
dilaksanakan di puskesmas secara bertahap
Tujuannya untuk meningkatkan ketaatan pasien menuntaskan
pengobatannya
Isi program:
1. Menjamin deteksi dini dan diagnosis melalui pemeriksaan
bakteriologis
2. Penyediaan farmasi dan alat kesehatan
3. Memberikan pengobatan sesuai standar dengan pengawasan dan
dukungan terhadap pasien
PETA KONSEP
LO
1. Menjelaskan penyakit TBC (definisi, epidemiologi, patofisiologi,
pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis dan DD,
penatalaksanaan prognosis dan komplikasi)
2. Langkah-langkah pencegahan penyakit TB termasuk
pengendalian program penyakit TB
3. Target dan sasaran yang akan dicapai serta cara menghitung
indikator dalam program penyakit TBC
4. Menganalisa hasil program penyakit TBC
5. Menjelaskan program pokok puskesmas
LO 1
MENJELASKAN TENTANG PENYAKIT TBC
Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat
menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit ini bila
tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat
menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian.

Sumber: InfoDATIN Tuberkulosis tahun 2015. Pusat Data dan


Informasi Kementerian Kesehatan RI
Epidemologi
◦ Menurut laporan WHO tahun 2015, ditingkat global diperkirakan 9,6 juta kasus
TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan.
◦ Dari kasus TB tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dan 480.000 TB
Resistan Obat (TB-RO).
◦ Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB Anak (di bawah usia 15
tahun)

◦ Terus meningkat  berbagai faktor :


1. Belum optimalnya pelaksanaan program TB
2. Belum memadainya tata laksana TB terutama di fasyankes.
3. Masih kurangnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor
4. Pengaruh HIV dan resistensi obat
5. Faktor sosial
Pemeriksaan Fisik TB
Gejala
◦Tanda pemeriksaan fisik paru tersebut dapat
berupa:
◦ fokal fremitus meningkat
◦ perkusi redup
◦ bunyi napas bronkovesikuler atau adanya ronkhi
terutama di apeks paru
◦Pada lesi luas dapat pula ditemukan tanda-tanda
seperti : deviasi trakea ke sisi paru yang terinfeksi,
tanda konsolidasi, suara napas amporik pada
cavitas atau tanda adanya penebalan pleura
Pemeriksaan Penunjang TB
1. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan Dahak / Sputum (SPS)
2. Pemeriksaan Bactec
◦ Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik.
◦ Mycobacterium tuberculosa memetabolisme asam lemak yang kemudian
menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini.
◦ Bentuk lain teknik ini adalah dengan memakai Mycobacteria Growth Indicator Tube
(MGIT)
3. Pemeriksaan Radiologi
◦ Foto toraks PA (umumnya), foto lateral, top lordotik, oblik,
CT-Scan
◦ Gambaran radiologi yang dicurigai lesi Tb paru aktif :
◦ Bayangan berawan/nodular di segmen apikal dan posterior
lobus atas dan segmen superior lobus bawah paru.
◦ Kaviti terutama lebih dari satu, dikelilingi bayangan opak
berawan atau nodular.
◦ Bayangan bercak milier
◦ Efusi Pleura
4. Pemeriksaan Lain
◦Pemeriksaan Darah  LED meningkat
◦Pemeriksaan Serologi
◦ Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
◦ Immuno chromatographic tuberculosis (ICT)
◦ IgG TB

Wahyuningsih. 2014. Jurnal TB Paru FK Undip


Diagnosis
◦ Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala
klinik, pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik,
radiologik dan pemeriksaan penunjang lainnya
Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk combination)
menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari :
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai
penularan, dan mencegah terjadinya resistensi • Empat obat antituberkulosis dalam satu tablet,
kuman terhadap OAT yaitu
OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400
Obat yang dipakai: mg dan etambutol 275 mg dan
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan • Tiga obat antituberkulosis dalam satu tablet,
adalah: yaitu
◦ Rifampisin (R) rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg dan pirazinamid
400 mg
◦ Isoniazid (H)
3. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
◦ Pirazinamid (Z)
• Kanamisin
◦ Streptomisin (S)
• Kuinolon
◦ Etambutol (E)
• • Derivat rifampisin dan INH
2. Kombinasi dosis tetap (Fixed dose
Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB oleh Pemerintah
Indonesia :
◦ Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Untuk penderita baru TBC paru BTA positif, penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.
◦ Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Untuk penderita kambuh, penderita gagal terapi, penderita dengan pengobatan setelah lalai minum
obat.
◦ Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3
Diberikan kepada penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif

Tahap awal/intensif adalah 2HRZE : Lama pengobatan 2 bulan, masing masing OAT (HRZE) diberikan
setiap hari.
Tahap lanjutan adalah 4H3R3 : Lama pengobatan 4 bulan, masing masing OAT
(HR) diberikan 3 kali seminggu.

Sumber:
◦ Wahyuningsih. 2014. Jurnal TB Paru FK Undip
◦ Direktorat Bina Farmasi Komunitasdan Klinik. PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT TUBERKULOSIS. 2005. Departemen
Kesehatan RI
◦ Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia
Komplikasi dan Prognosis
Komplikasi
TB paru yang tidak ditangani secara tepat akan menimbulkan komplikasi,
komplikasi TB paru dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Komplikasi dini: pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis, usus.
2. Komplikasi pada stadium lanjut:
a) Hemoptisis masif (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena sumbatan jalan nafas atau syok hipovolemik
b) Kolaps lobus akibat sumbatan duktus
c) Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
d) Pnemotoraks spontan, yaitu kolaps spontan karena bula/blep yang pecah
e) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal, dan
sebagainya
Prognosis
Prognosis umumnya baik jika infeksi terbatas di paru, kecuali jika infeksi
disebabkan oleh strain resisten obat atau pasien berusia lanjut dengan debilitas
atau mengalami gangguan kekebalan yang beresiko tinggi menderita
tuberkulosis milier.

Pasien yang tidak diobati :


1. 50% meninggal
2. 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi
3. 25% menjadi kasus kronis yg tetap menular.

Pasien yang diobati secara teratur :


1. 95% sembuh total
2. 5% tidak sembuh
Sumber
◦ Tuberkulosis Paru, FK Undip 2011
◦ Depkes 2010
LO 2
LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN PENYAKIT TB
TERMASUK PENGENDALIAN PROGRAM PENYAKIT TB
Langkah-langkah Pencegahan
Penyakit TB
Penderita tidak menularkan kepada
orang lain
◦ menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu tangan ataupun
tisu
◦ tidur terpisah dengan keluarga terutama pada dua minggu pertama
pengobatan
◦ tidak meludah di sembarang tempat, tetapi di dalam wadah yang berisi Lysol,
kemudian dibuang dalam lubang dan ditimbun dalam tanah
◦ menjemur alat tidur secara teratur pada pagi hari
◦ membuka jendela rumah pada pagi hari agar rumah mendapat udara bersih
dan cahaya matahari yang cukup sehingga bakteri penyebab TB dapat mati
◦ pengobatan dini bagi penderita
Keluarga/Masyarakat tidak tertular
dari penderita TB
◦ meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat terutama
konsumsi makanan sehat dan bergizi
◦ tidur dan istirahat yang cukup
◦ tidak merokok dan mengkonsumsi kinuman beralkohol
◦ membuka jendela agar mengoptimalkan cahaya matahari untuk masuk
kedalam kamar tidur dan ruangan lainnya
◦ Imunisasi BCG pada bayi
◦ imunisasi orang-orang yang kontak dengan penderita. tidakan pencegahan
bagi orang orang yang sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas
kesehatan lain)dan lainnya yang terindikasi dengan vaksin BCG
◦ Waspada dan segera periksa apabila batuk lebih dari tiga minggu
◦ menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
◦ meningkatkan pendidikan kesehatan pada masyarakat
◦ memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang meliputi gejala
bahaya dan akibat yang ditimbulkan terhadap petugas kesehatan
◦ tersedia sarana sarana kedokteran dan tempat pemeriksaan
penderita
◦ adanya sistem pelaporan kasus dan pencatatan
◦ Pemeriksaan Screening dengan Tubercullin Test pada kelompo
beresiko tinggi seperti para imigran, orang-orang kontak dengan
penderita seperti keluarga, petugas kesehatan dan petugas di
rumah sakit, serta tindak lanjut bagi yang positif TB
Program Pengendalian Penyakit TB
Strategi DOTS
◦ Directly Observed Treatment Shortcourse
◦ Pengawasan lngsung menelan obat jangka pendek
◦ dilakukan setiap hari oleh PMO (Pengawas Minum Obat)
◦ tujuan: Mencapai angka kesembuhan tinggi, mencegah putus
berobat, mencegah efeksamping obat jika timbul dan
mencegah resistensi
◦ Cara: PMO harus ditentukan dan ikut mendampingi saat di
poliklinik atau saat pasien berobat, untuk dapat diterangkan
mengenai DOTS dan tugas-tugasnya. PMO harus sanggup
membantu pasien sampai sembuh (minimal 6 bulan)
5 kunci utama Strategi DOTS:
◦ komitmen
◦ Diagnosa yang benar dan Baik
◦ Ketersediaan dan lancarnya distribusi Obat
◦ pengawasan penderita menelan obat
◦ Pencatatan dan pelaporan penderita dengan sistem Kohort

◦ Strategi DOTS termasuk efektif, mencegah penularan, terbukti


berhasil mencegah resistensi, efektif dengan biaya relatif rendah

Sumber:
◦ Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis, Debby Fadhilah 2017
◦ Pemberantasan penyakit TB dan Strategi DOTS, Amira Permatasari, 2015
LO 3
TARGET DAN SASARAN YANG AKAN DICAPAI SERTA
CARA MENGHITUNG INDIKATOR DALAM PROGRAM
PENYAKIT TBC
TARGET DAN SASARAN PROGRAM TB
TARGET
SASARAN
•Pasien, individu sehat (masyarakat) dan keluarga sebagai
komponen dari masyarakat
•Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, petugas kesehatan,
pejabat pemerintahan, organisasi
kemasyarakatan dan media sosial
•Pembuat kebijakan publik-> untuk membuat kebijakan seperti
perundang undangan di bidang
kesehatan
Indikator Program TB
INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM

Untuk menilai kemajuan dari pengendalian TB ada beberapa


indikator. Indikator pengendalian TB
secara Nasional ada 2 yaitu :
· Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif (Case Detection
Rate = CDR)
· Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR)
Untuk mendapatkan hasil dari indikator nasional, diperlukan indikator-
indikator seperti dibawah ini :
1. Angka Penjaringan Suspek
2. Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara Suspek yang diperiksa
dahaknya
3. Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru
4. Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB
5. Angka Penemuan Kasus (CDR)
6. Angka Notifikasi Kasus (CNR)
7. Angka Konversi
8. Angka Kesembuhan
9. Angka Keberhasilan Pengobatan
10.Angka Kesalahan Laboratorium
a. Angka Penjaringan Suspek
1. Adalah jumlah supek yang diperiksa dahaknya
diantara 100.000 penduduk pada suatu wilayah
tertentu dalam 1 tahun.
Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya
penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu,
dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu
ke waktu (triwulan/tahunan)
Rumus: Jumlah suspek yang diperiksa x100.000
Jumlah penduduk

63
Contoh soal
◦ Pada tahun 2014, wilayah Z dengan jumlah penduduk sekitar
2.000.000 orang, puskesmas menemukan 856 orang yang
dicurigai menderita TBC untuk selanjutnya melakukan uji dahak.

856 X 100.000 = 42,8


2.000.000
b. Proporsi Pasien TB BTA positif di
antara Suspek
Adalah prosentase pasien BTA positif yang ditemukan di antara seluruh suspek yang diperiksa
dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien,
serta kepekaan menetapkan kriteria suspek
Rumus:
Jumlah pasien TB BTA positif yang ditemukan x100%

Jumlah seluruh suspek TB yang diperiksa

Angka ini sekitar 5-15%.


Jika < 5% : penjaringan suspek terlalu longgar, atau banyak negatif palsu
Jika > 15%: penjaringan suspek terlalu ketat, atau banyak positif palsu

65
Contoh soal :
◦ Pada tahun X, diperkirakan ada sekitar 756 penduduk dari kota Z
yang di periksa dahaknya akibat dicuigai mengindap TBC. Dari
hasil pemeriksaan dahak didapatkan sekitar 496 yang BTA positif

496 X 100% = 65,6 %


756
C. Proporsi Pasien TB Paru BTA positif di antara
Semua Pasien TB paru tercatat/ Sudah diobati
Adalah prosentase pasien TB paru BTA positif di antara semua pasien TB paru
tercatat. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang
menular di antara seluruh pasien TB paru yang diobati.

Rumus :
Jumlah pasien TB BTA (+) baru + kambuh x100%
Jumlah seluruh pasien TB paru (semua Tipe)

Angka ini jangan kurang dari 65%. Bila angka ini rendah, berarti mutu diagnosis rendah,
kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA
Positif)
Contoh Soal
Pada tahun x, jumlah pasien TB yang ditemukan di
Indonesia baik yang sudah terobati/belum, baik anak-
anak/dewasa adalah 599.230 orang. Jumlah kasus baru yang
ditemukan pada tahun tersebut adalah 344.385 orang.

 Jumlah pasien TB BTA (+) baru + kambuh x100%


Jumlah seluruh pasien TB paru (semua Tipe)
= 344.385 x 100% = 57.2%
599.230
Sumber :
Kuliah Pakar dr. Djaka Handaja MPH. 2018. TBC Puskesmas 1. Malang. Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Malang.
Kuliah EPPIT Departemen Mikrobiologi. 2016. Indikator Program TB. Sumatra. Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
D. Proporsi pasien TB Anak di antara seluruh
pasien TB
Adalah prosentase pasien TB anak (<15 tahun) di antara seluruh
pasien TB tercatat.

Rumus :
Jumlah Pasien TB anak <15 tahun yg ditemukan x100%
Jumlah seluruh pasien TB yg tercatat

oAngka indikator ini untuk menggambarkan ketepatan diagnosisi TB


anak, yaitu berkisar 15%. Bila > 15% kemungkinan over diagnosis TB
anak.
Contoh Soal
Pada tahun 2014, jumlah pasien TB yang ditemukan di
wilayah DIY adalah 2.722 orang dari 3.679.200 penduduk.
Sedangkan pasien TB dengan umur 0-14 tahun, ditemukan
sebanyak 190 anak.

 Jumlah Pasien TB anak <15 tahun yg ditemukan x100%


Jumlah seluruh pasien TB yg tercatat
= 190 x100% = 7%
2772

Sumber :
Kuliah Pakar dr. Djaka Handaja MPH. 2018. TBC Puskesmas 1. Malang. FK UMM
Kuliah EPPIT Departemen Mikrobiologi. 2016. Indikator Program TB. Sumatra. FK USU
Infodatin. 2015. Tuberculosis Temukan dan Obati sampai Sembuh. Jakarta. Pusadatin
e. Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate/CDR)
Persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru
BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.

Menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.

Rumus:

Jumlah pasien baruTB BTA positif yang dilaporkan X 100%


Perkiraan jumlah (insidens) pasien baru TB BTA Positif
Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh dari
perhitungan insidens kasus TB paru BTA(+) dikali jumlah penduduk (diantara 100.000 penduduk per
tahun).

Target dalam program nasional minimal 70%

Contoh soal:
Di desa Kedaton, Cirebon pada tahun 2016 telah dilaporkan terdapat 31 pasien baru TB paru BTA positif
baik yang belum diobati dan sudah diobati. Dengan jumlah penduduk 18.000. Berapa angka penemuan
kasus di Desa tersebut?
Jawab:
D1: Perkiraan Kasus/Insiden berdasarkan Rencana Aksi Nasional
2015: 326
2016: 316
2017: 303
2018: 291
2019: 278
 Perkiraan Kasus:
Perkiraan kasus/insiden berdasarkan RAN x Jumlah Penduduk
100.000

316/100.000 X 18.000 = 57

 Angka Penemuan Kasus


Jumlah pasien baruTB BTA positif yang dilaporkan X 100%
Perkiraan jumlah (insidens) pasien baru TB BTA Positif

31/57 X 100% = 54%


f. Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate/CNR)
Angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000
penduduk di suatu wilayah tertentu.

Menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.

Rumus:

Jumlah pasien TB(semua tipe) yg dilaporkan x 100.000

Jumlah penduduk
Angka ini berguna untukmenunjukkan kecenderungan (trend)
meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.

Contoh soal:
Di desa Sejo pada tahun 2016 telah dilaporkan terdapat 31 pasien yang terjangkit TB. Dengan
jumlah penduduk 18.000. Sedangkan pada tahun 2017 dilaporkan terdapat 45 pasien. Bagaimana
kecenderungan kasus TB di Desa tersebut?
Jumlah pasien TB(semua tipe) yg dilaporkan x 100.000

Jumlah penduduk
2016 31 X 100.000
= 172
18.000
2017

45 X 100.000
= 250
18.000

Kesimpulan:
Kecenderungan kasus TB di Desa Sejo tahun 2016 dan 2017 mengalami peningkatan
Angka Kesembuhan (Cure Rate)
◦ Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru TB paru BTA positif
yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien baru TB paru BTA positif yang
tercatat.

◦Angka kesembuhan dihitung juga untuk pasien BTA positif pengobatan ulang dengan tujuan:
1.Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kekebalan terhadap obat terjadi di komunitas,
hal ini harus dipastikan dengan surveilans kekebalan obat.
2.Untuk mengambil keputusan program pada pengobatan menggunakan obat baris kedua
(second-line drugs).
3. Menunjukan prevalens HIV, karena biasanya kasus pengobatan ulang terjadi pada pasien
dengan HIV. Menunjukan prevalens HIV, karena biasanya kasus pengobatan ulang terjadi pada
pasien dengan HIV.
Cara menghitung angka kesembuhan untuk
pasien baru BTA positif.

◦ Di UPK, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara
mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 - 12
bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh setelah
selesai pengobatan.
◦ Di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini dapat dihitung dari laporan
TB.08. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka kesembuhan
digunakan untuk mengetahui hasil pengobatan.
Walaupun angka kesembuhan telah mencapai 85%, hasil pengobatan lainnya tetap perlu
diperhatikan, yaitu berapa pasien dengan hasil pengobatan lengkap, meninggal, gagal,
default, dan pindah.
Angka default tidak boleh lebih dari 10%, karena akan menghasilkan proporsi kasus
retreatment yang tinggi dimasa yang akan datang yang disebabkan karena ketidak-
efektifan dari pengendalian Tuberkulosis.
Menurunnya angka default karena peningkatan kualitas penanggulangan TB akan
menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang antara 10-20 % dalam beberapa tahun.
Sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk
daerah yang belum ada masalah resistensi obat, dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk
daerah yang sudah ada masalah resistensi obat.
Angka Konversi (Conversion Rate)
Angka konversi adalah prosentase pasien baru TB paru BTA positif yang
mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan
intensif. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat hasil pengobatan
dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan
dengan benar.
Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien baru
TB paru BTA positif

◦ Di UPK, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu dengan cara
mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6
bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil
pemeriksaan dahak negatif, setelah pengobatan intensif (2 bulan). Di tingkat
kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini dengan mudah dapat dihitung dari
laporan TB.11. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80%.
Angka Default
◦ Adalah prosentase pasienTB yang default di antara
◦ seluruh pasien TB yang diobati dalam kurun waktu tertentu.
Cara menghitung Angka Default

Angka default tidak boleh lebih dari 10%, karena akan menghasilkan
proporsi kasus retreatment yang tinggi dimasa yang akan datang yang
disebabkan karena ketidak-efektifan dari pengendalian Tuberkulosis.
Menurunnya angka default karena peningkatan kualitas
penanggulangan TB akan menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang
antara 10-20 % dalam beberapa tahun.
LO 4
MENGANALISIS HASIL PROGRAM PENYAKIT TBC
Pemantauan dan Evaluasi Program
◦ Merupakan salah 1 fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan
pelaksanaan program.
◦ Pemantauan dilaksanakan secara berkala dan terus menerus
untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dlm
pelaksanaan kegiatan yg sudah direncanakan.
◦ Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama,
biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan evaluasi dapat
dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan
sebelumnya tercapai.
Hal yang perlu diperhatikan dalam
menyusun rencana pemantauan
dan evaluasi
1. Jenis kegiatan dan indikator
2. Cara pemantauan
3. Pelaksana
4. Waktu dan frekuensi pemantauan
5. Rencana tindak lanjut
Contoh Hasil Analisis Penatalaksanaan
Program Penanggulangan TB Paru di
Desa Lalang 2015
◦ Program penanggulangan TB paru dgn 5 komponen strategi
DOTS dalam pelaksanaannya belum maksimal. Hal ini terlihat dari
kualitas petugas TB paru yg masih kurang dlm upaya penemuan
kasus serta pelatihan kepada pasien TB dlm menampung dahak
◦ Melakukan pmx TB paru hanya sampai fiksasi slide saja.
◦ Tidak pernah melakukan penjaringan suspek secara aktif ke
masyarakat.
◦ Angka penemuan kasus TB rendah
Sumber:
Kemenkes RI. 2011. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia
tahun 2010-2014
LO 5
MENJELASKAN PROGRAM POKOK
PUSKESMAS
DOA SELESAI BELAJAR

َ ‫م ال‬ ْ
‫ل‬ ‫ع‬
ِ ‫ن‬ْ ‫م‬
ِ ‫ك‬َ ‫ب‬ ‫ذ‬ُ ‫و‬ْ ُ
‫ع‬ َ ‫أ‬ ‫ي‬
ْ ِ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫م‬َّ ُ
‫ه‬ َّ‫اَلل‬
ٍ ِ ِ
ْ ‫م‬
‫ن‬ ِ ‫و‬ َ ‫ع‬ ْ ‫ش‬ َ ‫خ‬ ْ َ‫ب ال َ ي‬ ٍ ‫ق ْل‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ ِ ‫و‬ َ ‫ع‬ ْ ‫ف‬ َ ‫يَ ْن‬
‫و ٍة‬ َ ‫ع‬ْ ‫د‬َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ َ ‫ع‬
ِ ‫و‬ ْ َ ‫شب‬ ْ َ‫س الَت‬ ٍ ْ
‫ف‬ َ‫ن‬
ُ َ‫اب ل‬
‫ه‬ ُ ‫ج‬ َ ‫ال َ ُ ْيس َت‬
Allahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa nim aw ,’
’ad nimaw ,’abysat aal nisfannim aw ,’ayshkay aal nibloqwatin
laa yustajaabulaha
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak
khusu’od nad ,saup hanrep kadti gnay usfan ,’a yang tidak dikabulkan .”
DOA SELESAI BELAJAR

ْ ُ ْ
‫حقا َوارزق َنا‬ َ ‫حق‬ َّ ْ َ َ
َ ‫اَللهم أ ِرنا ال‬
َّ ُ َّ
ً ‫طال‬ِ ‫ل بَا‬َ ‫ط‬ ْ َ َ
ِ ‫اعه ُ َوأ ِرنا البَا‬ َ َ‫اتِـب‬
ْ ‫ار ُز ْق َنا‬
ُ‫اجتِ َنابَه‬ ْ ‫َو‬
Allahumma arinal_haqqo _haqqon
warzuqnat tibaa’ahu wa arinal baathila baa-thilan
warzuqnaj tinaabahu
“Ya Allah Tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga kami dapat
mengikutinya Dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan sehingga kami
dapat menjauhinya”