Anda di halaman 1dari 42

Pneumotoraks

Kelompok 4

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURATAN DENGAN


PNEUMOTORAKS
ASUHAN
KEPERAWATAN GAWAT
DARURATAN
PNEUMOTORAKS
Desy Maulida
Heaser Michael Reinehard Jaya
Lida Persa
Maria Theresia Hilda G.D.W
Musriah
Novitha Chiristina Dewi
Octa Wiendra Satria
Surya Wardana
DEFINISI

Pneumotoraks adalah robeknya pembuluh interkosta, laserasi


paru-paru, atau keluarnya udara dari paru yang cedera
kedalam ruang pleura.
(Brunner & Suddart)
Definisi

Apa itu Pneumotoraks?

suatu keadaan dimana terdapat


akumulasi udara ekstra pulmoner
dalam rongga pleura yang dapat
menyebabkan timbulnya kolaps paru.
pada keadaan normal rongga pleura
tidak berisi udara,supaya paru-paru
leluluasa menyembang terhadap
rongga dada.(rahajoe,2012)
Klarifikasi
(Elizabeth, Patofisiologi EGC, 2009).

paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-paru mengalami


kolaps.Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan darah
oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.

tekanan

Terjadi akibat cedera traumatik Pneumotoraks ini di


pada dada. Traumanya bisa duga disebabkan oleh
bersifat menembus (luka pecahnya kantung kecil
tusuk, peluru) atau tumpul trauma spontan berisi udara di dalam
(benturan pada kecelakaan paru-paru yang disebut
kendaraan bermotor). bleb atau bulla
Etiologi

• Infeksi saluran napas


• Adanya rupture ‘bleb’ pleura
• Traumatik misalnya pada luka tusuk
• Acutelung injury yang di sebabkan materi fisik yang terinhalasi dan
tahan kimia
• Penyakit inflamasi paru aku dam kronis (penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK), TB paru, fibrosis paru, abses paru, kangker dan tumor
metastase ke pleura)
diklarifikasikan
Spontan dan traumatik

traumatik
Iatroganik (komplikasi tindakan medis)

terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan atau komplikasi tindakan tersebut,misalnya
pada tindakan parasentesis dada,biopsy pleura,biopsy trasbronkial,biopsy/ aspirasi paru
perkutaneus.

spontan

Pneumotorak spontan dapat di bagi lagi menjadi primer (tanpa adanya penyakit yang
mendasarinya)ataupun sekunder ( komplikasi dari penyakit baru akut atau kronik)
Patofisiologi

Rongga dada mempunyai dua struktur yang penting dan


digunakan untuk melakukan proses ventilasi dan oksigenasi,
yaitu pertama tulang, tulang – tulang yang menyusun struktur
pernapasan seperti tulang klavikula, sternum, scapula.

Kemudian yang kedua adalah otot-otot pernapasan yang sangat


berperan pada proses inspirasi dan ekspirasi Jika salah satu dari
dua struktur tersebut mengalami kerusakan, akan berpengaruh
pada proses ventilasi dan oksigenasi
PATHWAY
MANISFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala

Nyeri pleura dengan yang timbul sianosis sentral,hipotensi, takikardi,


1 secra tiba-tiba 4 dan dioforesis berat

Gawat napas minimal,jika


pneumotoraks ringan,gawat napas agitas,hipoksemia yang terus
2 akut jika pneumotoraks luas. 5 meningkat,.

Kecemasan,dispnea,lapar Pada pneumotoraks sederhana,trakea


udara,penggunaan otot-otot berada di garis tengah,ekspansi dada
3 pernapasan tambahan,sianosis sentral 6 berkurang, bunyi napas mungkin
(pada hipoksemia berat) menghilang,dan perkusi dada
mungkin normal atau hiperresonansi
Manifestasi klinis (lanjutan...)
Berdasarkan klarifikasi

tertutup
Nyeri tajam saat ekspirasi, Peningkatan frekuensi nafas Kecemasan meningkat, Produksi keringat berlebihan, Penurunan
tekanan darah, Takikardi, Inspeksi dan palpasi: penurunan sampai hilang pergerakan dada pada sisi yang sakit.

Tension Spontan

 Inspeksi dan sesak napas berat, penurunan sampai hilangnya Napas pendek dan timbul secara tiba-tiba
pergerakan dada pada sisi yang sakit. tanpa trauma dari luar paru.

 Palpasi,pendorongan trakhea dari garis tengah menjauhi sisi yang


sakit dan distensi vena jugularis.
 Perkusi: hiperresonan pada sisi sakit.
 Auskultasi : penurunan sampao hilangnya suara nafas pada sisi
yang sakit.
Komplikasi
(Elizabeth, Patofisiologi EGC, 2009)

Pneumothoraks tension dapat menyebabkan pembuluh darah


kolaps, akibatnya pengisisan jantung menururn sehingga
tekanan darah menurun.

Pio-pneumothoraks, hidro pneumothoraks/ hemo-


pneumothoraks: henti jantung paru dan kematian sangat
sering terjadi.

pneumothoraks dapat menyebabkan hipoksia dan dispenia


berat, yang menyebabkan kematian
PENANGANAN KEGAWATAN
PNEUMOTORAK
1.Assessment :
AIRWAY
a.Perhatikan patensi airway

b.Dengar suara napas.

c.Perhatikan adanya retraksi otot pernapasan dan gerakan dinding dada

2.Management

a.Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan jaw
thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas

b.Re-posisi kepala, pasang collar-neck

c.Lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi (oral / nasal)


PENANGANAN KEGAWATAN
PNEUMOTORAK

BREATHING 1.Assesment

a.Periksa frekuensi napas

b.Perhatikan gerakan respirasi

c.Palpasi toraks

d.Auskultasi dan dengarkan bunyi napas

2.Management:

a.Lakukan bantuan ventilasi bila perlu

b.Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension pneumotoraks


PENANGANAN KEGAWATAN
PNEUMOTORAK
1.Assesment
CIRCULATION a.Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi

b.Periksa tekanan darah

c.Pemeriksaan pulse oxymetri

d.Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis)

2.Management

a.Resusitasicairandenganmemasang 2 iv lines

b.Torakotomi emergency bila diperlukan

c.Operasi Eksplorasi vaskular emergency


Pemasangan WSD
ASUHAN KEPERAWATAN
GAWAT DARURAT
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN

Pengkajian Umum
Klien tampak sakit berat, ditandai dengan wajah pucat, nafas sesak.

Pengkajian AVPU (Kesadaran)


Untuk menentukan tingkat kesadaran klien dapat digunakan perhitungan Glassglow Coma Scale (GCS).
Untuk klien dengan gangguan tension pneumothoraks, biasanya kesadaranya menurun.
Dapat juga dinilai melalui cara berikut :
A = Alert Penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.
V = Verbal Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara.
P = Pain Penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri yang diberikan oleh penolong, misalnya
dicubit, tekanan pada tulang dada.
U = Unrespon Penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun yang diberikan oleh penolong. Tidak
membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi pada rangsang nyeri.
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN (lanjutan...)

Triage

Mengancam jiwa, akan mati tanpa tindakan dan evaluasi segera. Harus didahulukan  langsung ditangani. Area
resusitasi. Waktu tunggu 0 menit. Maka dapat digolongkan P1 (Emergency).

Primary Survey

Airway

Breathing

Circulation
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN (lanjutan...)

Secondary Survey

S : Sign and Symptom.

Ada jejas pada thorak, Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi, Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat
palpasi, Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek, Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan, Penurunan
tekanan darah

A : Allergies

Riwayat alergi yang diderita klien atau keluarga klien. Baik alergi obat-obatan ataupun kebutuhan akan makan/minum.

M : Medications

(Anticoagulants, insulin and cardiovascular medications especially). Pengobatan yang diberikan pada klien sebaiknya yang
sesuai dengan keadaan klien dan tidak menimbulka reaksi alergi.
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN (lanjutan...)

P: Previous medical/surgical history.

Riwayat pembedahan atau masuk rumah sakit sebelumnya.

L : Last meal (Time)

Waktu klien terakhir makan atau minum.

E : Events /Environment surrounding the injury; ie. Exactly what happened.

Pengkajian sekunder dapat dilakukan dengan cara mengkaji data dasar klien yang kemudian digolongkan
dalam SAMPLE.
ASKEP GAWAT DARURAT
Lanjutan...

A. Aktivitas / istirahat
Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
B. Sirkulasi
Takikardi, frekuensi tak teratur (disritmia), S3 atau S4 / irama jantung
gallop, nadi apikal (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan
mediastinal, tanda homman (bunyi rendah sehubungan dengan denyutan
jantung, menunjukkan udara dalam mediastinum).
C. Psikososial
Ketakutan, gelisah.
D. Makanan / cairan
Adanya pemasangan IV vena sentral / infuse tekanan.
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN (lanjutan...)

Nyeri / kenyamanan
Perilaku distraksi, mengerutkan wajah. Nyeri dada unilateral meningkat
karena batuk, timbul tiba-tiba gejala sementara batuk atau regangan,
tajam atau nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam.

Keamanan
Adanya trauma dada, radiasi / kemoterapi untuk keganasan.
ASKEP GAWAT DARURAT
PENGKAJIAN (lanjutan...)

Pernapasan
Pernapasan meningkat/takipnea, peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesori
pernapasan pada dada, ekspirasi abdominal kuat, bunyi napas menurun/ hilang
(auskultasi  mengindikasikan bahwa paru tidak mengembang dalam rongga pleura),
fremitus menurun, perkusi dada : hipersonor diatas terisi udara, observasi dan palpasi
dada : gerakan dada tidak sama bila trauma, kulit : pucat, sianosis, berkeringat, mental:
ansietas, gelisah, bingung, pingsan
Pemeriksaan Diagnostik

Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleural; dapat
menunjukan penyimpangan struktur mediastinal.

GDA : variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengaruhi, gangguan
mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi.

orasentesis : menyatakan darah / cairan sero sanguinosa.

Hb : mungkin menurun, menunjukkan kehilangan darah.


Diagnosa Keperawatan

Pola pernafasan tak efektif b/d Bersihan jalan nafas tidak efektif
penurunan ekspansi paru (akumulasi berhubungan dengan adanya
1 udara/cairan) 4 akumulasi sekret jalan nafas

Perubahan kenyamanan : Nyeri akut


Resiko tinggi trauma pernapas b/d berhubungan dengan trauma jaringan
2 pemasangan WSD
5 dan reflek spasme otot sekunder

Kurang pengetahuan mengenai kondisi


aturan pengobatan b/d informasi yang tidak
3 adekuat mengenai proses penyakit dan
pengobatan
6
Pola pernafasan tak efektif

Tujuan : pola pernafasan pasien efektif


Kriteria Hasil :

1. Menunjukkan pola pernapasan normal atau efektif dengan Gas Darah dalam rentang normal.

2. Bebas sianosis dan tanda/ gejala hipoksia


Pola pernafasan tak efektif

INTERVENSI RASIONAL
1) Awasi kesesuaian pola pernapasan bila 1) Kesulitan bernafas dengan ventilator
menggunakan ventilasi mekanik, catat diduga terjadi komplikasi.
perubahan tekanan udara. 2) Area atelektasis tak ada bunyi nafas dan
2) Auskultasi bunyi nafas sebagian area kolaps menurun bunyinya.
3) Kaji pasien adanya area nyeri, nyeri tekan bila 3)Sokongan terhadap dada dan otot
batuk. abdominal membuat batuk lebih efektif
4) Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan/ 4)Distres pernapasan dan perubahan pada
pernapasan sesak, dispnea, terjadinya sianosis, tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres
perubahan tanda vital. fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan
terjadinya syok
Pola pernafasan tak efektif
Lanjutan...

INTERVENSI RASIONAL
1) Catat pengembangan dada dan posisi trakea 1) Pengembangan dada sama dengan ekspansi paru. Deviasi trakea dari
2) Bila dipasang selang dada pada pasien, evaluasi area sisi yang sakit pada tension pneumotoraks.
ketidaknormalan atau kontinuitas gelembung botol 2) Tak adanya gelembung udara dapat menunjukkan ekspansi paru
penampung. lengkap (normal) atau tidak adanya komplikasi.
3) Kolaborasi 3) Mengidentifikasi kesalahan posisi selang endotrakeal, mempengaruhi

Kaji hasil foto thoraks inflamasi paru.


4) Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi
1) Awasi hasil Gas Darah
5) Untuk menurunkan kerja nafas dan menghilangkan distres respirasi
2) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
dan sianosis
3) Pemasangan WSD
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga
"mechanis of breathing" tetap baik.
Resiko tinggi trauma pernapasan

Tujuan :

resiko tinggi trauma pernapasan dapat dicegah.

Kriteria Hasil :

1)Mencari bantuan untuk mencegah komplikasi.

2)Memberi perawatan untuk menghindari lingkungan dan bahaya fisik.


Resiko tinggi trauma pernapasan
INTERVENSI RASIONAL
1) Anjurkan pasien untuk menghindari 1) Menurunkan resiko obstruksi drainase atau
berbaring atau menarik selang. terlepasnya selang.
2) Kaji tujuan/ fungsi unit drainase dada 2) Untuk mengetahui informasi tentang bagaimana
dengan pasien system bekerja memberikan keyakinan untuk
3) Identifikasi perubahan atau situasi yang menurunkan ansietas pasien.
harus dilaporkan pada perawat. 3) Intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi

4) Observasi tanda distres pernafasan bila serius.

kateter toraks lepas atau tercabut. 4) Pneumothoraks dapat memburuk karena


mempengaruhi fungsi pernafasan dan memerlukan
intervensi darurat.
Kurang pengetahuan

Tujuan : klien dan keluarga dapat mengerti tentang kondisi kesehatan klien.

Kriteria Hasil :

1)Klien dapat mengidentifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medic

2)Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu
dicegah agar tidak menimbulkan masalah baru
Kurang Pengetahuan
INTERVENSI RASIONAL
1)Kaji patologi masalah individu 1)Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman
2)Identifikasi kemungkinan terjadi komplikasi kondisi dinamik dan pentingnya intervensi
jangka panjang terapeutik.
3)Kaji ulang praktik kesehatan yang baik 2)Untuk menurunkan potensial komplikasi.
contoh nutrisi baik, istirahat dan latihan 3)Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan

4)Kaji ulang tanda / gejala yang memerlukan penyembuhan

evaluasi medik cepat, contoh nyeri dada 4)Berulangnya pneumotoraks memerlukan intervensi
tiba-tiba, dispnea, distres pernapasan lanjut medik untuk mencegah/ menurunkan potensial
komplikasi
Bersihan jalan nafas tidak efektif

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

1)Menunjukkan batuk yang efektif.

2)Tidak ada lagi penumpukan sekret di saluran Pernapasan


Bersihan jalan nafas tidak efektif
INTERVENSI RASIONAL
1)Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang 1)Pengetahuan yang diharapkan akan membantu
efektif dan mengapa terdapat penumpukan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana
sekret di sal. pernapasan. teraupetik.
2)Ajarkan klien tentang metode yang tepat 2)Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak
pengontrolan batuk. efektif, menyebabkan frustasi.
3)Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak 3)Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
mungkin 4)Pernapasan diafragma menurunkan frekuensi napas dan
4)Lakukan pernapasan diafragma meningkatkan ventilasi alveolar
Bersihan jalan nafas tidak efektif
INTERVENSI RASIONAL
1)Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian 1)Meningkatkan volume udara dalam paru
secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mempermudah pengeluaran sekresi sekret
mungkin melalui mulut. 2)Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan
2)Lakukan napas ke dua, tahan dan batukkan upaya batuk klien.
dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek 3)Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat
dan kuat. menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah
3)Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien pada atelektasis.
batuk
Bersihan jalan nafas tidak efektif
INTERVENSI RASIONAL
1)Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan 1)Untuk menghindari pengentalan dari sekret atau
viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi mosa pada saluran nafas bagian atas.
yang adekuat Kolaborasi dengan tim 2)Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa
kesehatan lain : kesejahteraan dan mencegah bau mulut
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. 3)Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan
 Pemberian expectoran. lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas
 Pemberian antibiotika. pengembangan parunya
 Fisioterapi dada.
Nyeri akut

Tujuan : nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :

1)Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

2)Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.

3)Pasien tidak gelisah


Resiko tinggi trauma pernapasan
INTERVENSI RASIONAL
1)Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan 1)menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
pereda nyeri nonfarmakologi dan non telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi
invasif nyeri.
2)Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk 2)Akan melancarkan peredaran darah, sehingga
menurunkan ketegangan otot rangka, yang kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi,
dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga sehingga akan mengurangi nyerinya
tingkatkan relaksasi masase 3)Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang
3)Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. menyenangkan.
Resiko tinggi trauma pernapasan
INTERVENSI RASIONAL
1)Kolaborasi dengan dokter, pemberian 1)menggunAnalgetik memblok lintasan nyeri,
analgetik. sehingga nyeri akan berkurang.

2)Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik 2)Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat
klien, 30 menit setelah pemberian obat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan
analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan


perawatan selama 1 - 2 hari.
Thank you
Any Questions?