Anda di halaman 1dari 13

PENINGKATAN KANDUNGAN TANIN

KALUS DAUN UNGU (Graptophyllum pictum,


L. Griff)
DALAM KULTUR IN VITRO
PENDAHULUAN
Daun ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff)
merupakan tanaman obat-obatan familia Acanthaceae.
daunnya berkhasiat untuk mengatasi wasir
(hemorroid), peluruh kencing (diuritik), dan
mempercepat pematangan bisul serta bagian
bunganya berfungsi sebagai pelancar haid. Khasiat
obat dari Daun ungu ini dikarenakan kandungan
metabolit sekunder di dalam daunnya, yaitu antara
lain tanin, alkaloid, sitosterol, glikosida, saponin,
klorofil, dan lendir. Sedangkan batangnya
mengandung kalsium oksalat dan lemak
. Tanin merupakan senyawa polifenol dengan rasa
sepat, yang mempunyai aktifitas sebagai
antioksidan dan menghambat pertumbuhan tumor,
astringen (meringankan diare dengan cara
menciutkan selaput-selaput lendir), perawatan
luka bakar (dengan mengendapkan protein pada
luka bakar), sebagai antiseptik ringan dengan
membentuk lapisan pelindung bagi jaringan di
bawahnya. Dan sebagai obat penyakit gula
dengan jalan mengatur keseimbangan hormon
yang dihasilkan oleh pankreas.
pada daun ungu, Tanin yang memiliki fungsi sebagai
bahan obat-obatan dihasilkan dalam jumlah yang
sangat terbatas. Maka dari itu perlu dilakukan usaha
peningkatan kandungan tanin dalam Daun ungu.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan
kultur jaringan. Aplikasi hormon 2,4-D yang
diberikan pada media dengan konsentrasi tertentu
serta perbedaan perlakuan dengan pencahayaan dan
stress cahaya (gelap). Dari perbedaan perlakuan
tersebut diharapkan dapat diketahui perlakuan mana
yang paling berpengaruh pada induksi sintesa tanin di
dalam kalus Daun ungu, dan apakah kalus Daun
ungu tersebut mengandung tanin seperti pada
tanaman asal.
BAHAN
a. Bahan tanaman. (Sebagai sumber eksplan dipakai daun
muda dari tanaman daun ungu yang diambil dari
Mojosongo,Surakarta, Jawa Tengah).
b. Media dasar Murashige Skoog (MS)
c. Bahan untuk sterilisasi : Dithane M-45 sebagai
fungisid, bayclin®, Alkohol 70% dan 90% , deterjen,
aquadest steril, dan spiritus.
d. Bahan kimia untuk analisis. Ammonia, larutan
KMnO4, larutan asam indigo sulfonat, besi (III) klorida
5%, kalium ferrisianida, gelatin, protein, H2SO4 Pekat,
H2C2O4 0,005 N,aquadest
Alat
LAF (Laminar Air Flow) pinset
scalpel cawan Petri
botol-botol kultur labu takar
pipet tetes beker gelas
pengaduk kaca aluminium foil
pipet ukur gelas ukur
Pipet tetes tabung reaksi
water bath beker gelas
kertas saring timbangan elektrik
corong kaca glasswool.
SKEMA KERJA
eksplan yang baru dipetik dicuci dengan detergen dan dibilas dengan air mengalir
sampai bersih

dimasukkan kedalam larutan anti fungi 3 % (Dithane M-45) selama 30 menit sambil
digojog

dicuci dengan aquadest steril

direndam kembali kedalam larutan bayclin® 15% yang diberi tween 80 sebanyak 2
tetes selama 8 menit sambil digojog

dibilas dengan aquadest steril

Dilanjutkan sterilisasi dengan alkohol 70% selama 1 menit

Dicuci dengan aquadest selama 3 menit sebanyak 3 kali.


(Setiap pencucian dilakukan penggojogan dan dilakukan di dalam LAF )
ditambahkan Kombinasi hormon 2,4-D dalam media MS.
(Setiap variasi kadar hormon dilakukan perulangan sebanyak 10 kali).

diperlakukan hormon 2,4-D (D) dalam 5 konsentrasi yaitu : Kontrol (tanpa hormon),
0,5 mg/l, 1 mg/l, 1,5 mg/l dan 2 mg/l

diinkubasi dalam pencahayaan dan tanpa pencahayaan.


 Prosentase keberhasilan.
prosentase keberhasilan dilakukan dengan
menghitung jumlah eksplan yang berhasil
membentuk kalus dan membaginya dengan
jumlah seluruh eksplan yang ditanam dan
dikalikan 100%.
 waktu eksplan membentuk kalus.
Pengamatan dilakukan dengan cara mencatat
pada hari keberapa setiap eksplan yang
dikulturkan dapat membentuk kalus, yang
ditandai oleh terbentuknya masa yang
bergerombol berwarna hijau kekuningan.
Analisa tanin (kualitatif)
Ekstrak kalus ditambah dengan air panas dan dipanaskan dengan air mendidih
selama 15 menit kemudian disaring

Filtrat yang dihasilkan dianalisis dengan cara:


1) filtrat ditambah pereaksi besi (III) klorida akan menghasilkan warna biru
kehitaman atau hijau kehitaman.
2) filtrat yang ditambahkan kalium ferrisianida dan amonia menghasilkan warna
merah tua
3) ekstrak kalus yang ditambahkan larutan gelatin 0,5% dengan volume yang
sama akan memperlihatkan hasil pengendapan dari gelatin
4) reaksi pengendapan juga terjadi pada ekstrak kalus yang ditambahkan larutan
protein 5% .
PEMERIKSAAN TANIN SECARA
KUANTITATIF
Pada pemeriksaan tanin secara kuantitatif
digunakan metode permanganometri, dimana
digunakan larutan kalium permanganat sebagai
titrannya dan penambahan asam indigosulfonat
sebagai indikator. Untuk standarisasi larutan
kalium permanganat digunakan larutan asam
oksalat standar. Dimana titik akhir titrasi pada
standarisasi adalah merah muda yang konstan
selama 2-3 menit, sedangkan pada penetapan
kadar terjadi perubahan warna dari biru menjadi
kuning emas
HASIL DAN PEMBAHASAN
KESIMPULAN
penambahan zat pengatur tumbuh 2,4 – D dapat
menginduksi waktu pembentukan kalus daun ungu
dengan waktu induksi tercepat adalah 9 hari diperoleh
dari konsentrasi 2,4 – D 1,5 mg/l pada keadaan terang.
analisa kandungan metabolit sekunder menunjukkan
bahwa hasil kultur jaringan dengan pemberian hormon
2,4 – D pada kalus daun ungu mengandung senyawa
tanin seperti pada tanaman asal. pada perlakuan
terang memberikan hasil kadar tanin yang lebih besar
dibanding pada perlakuan gelap pada masing-masing
variasi hormon. pada analisa kuantitif didapatkan hasil
terbesar adalah 2,13 % dari konsentrasi 2,4 – D 2 mg/l
pada perlakuan terang