Anda di halaman 1dari 30

DIANA HANAFI

163110269
Bagian terendah dari bangunan yang
Fondasi meneruskan beban bangunan ke tanah
atau batuan yang ada di bawahnya.

Fondasi

Fondasi Fondasi
dangkal dalam
Fondasi dangkal adalah fondasi yang mendukung
bebannya secara langsung, seperti: fondasi telapak,
fondasi memanjang dan fondasi rakit.

Fondasi dalam didefinisikan sebagai fondasi yang


meneruskan beban bangunan ke tanah keras atau batu
yang terletak relatif jauh dari permukaan, contohnya
fondasi sumuran dan fondasi tiang.
Fondasi telapak Fondasi memanjang

Fondasi rakit
Fondasi sumuran Fondasi Tiang
Berdasarkan hasil uji model, Vesic (1963) membagi
mekanisme keruntuhan fondasi menjadi 3 cara.
1. Keruntuhan geser umum
2. Keruntuhan geser lokal
3. Keruntuhan penetrasi
Kapasitas dukung menyatakan tahanan geser
tanah untuk melawan penurunan akibat pembebanan,
yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di
sepanjang bidang-bidang gesernya.
Untuk terjaminnya stabilitas jangka panjang,
peletakan dasar fondasi harus diperhatikan. Fondasi
harus diletakkan pada kedalaman yang cukup untuk
menanggulangi risiko erosi permukaan, gerusan,
kembang susut tanah, dan gangguan tanah di sekitar
fondasi lainnya.
Kapasitas dukung limit didefinisikan sebagai
beban maksimum persatuan luas dimana tanah masih
dapat mendukung beban tanpa mengalami keruntuhan.
Persamaannya :
𝑃𝑢
𝑞𝑢 =
𝐴
Dengan :
𝑞𝑢 = kapasitas dukung ultimit
𝑃𝑢 = beban ultimit
A = luas fondasi
Untuk pondasi lingkaran ,
𝑞𝑢 = 1,3𝑐𝑁𝑐 + 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 0,3𝛾𝐵𝑁𝛾
Untuk pondasi bujur sangkar,
𝑞𝑢 = 1,3𝑐𝑁𝑐 + 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 0,4𝛾𝐵𝑁𝛾
Untuk pondasi empat persegi panjang,
0,3𝐵 0,2𝐵
𝑞𝑢 = 𝑐𝑁𝑐 1 + + 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 0,5𝛾𝐵𝑁𝛾 (1 − )
𝐿 𝐿

dimana,
𝛾 : Berat Volume Tanah (kN/𝑚2 )
Df : Kedalaman Dasar Pondasi (m)
C : kohesi Tanah (kN/m2)
B : Lebar/ diameter pondasi (m)
po : Tekanan overburden pada dasar pondasi (kN/m2)
po = (𝐷𝑓 . 𝛾)
qult : Daya Dukung Ultimit Pondasi
Nc, Nq, 𝑁𝛾 adalah faktor daya dukung tanah (bearing capacity
factors) yang besarnya tergantung dari sudut gesek tanah (𝜑).
Persamaan kapasitas dukungnya dinyatakan oleh:
𝑃𝑢′ = 𝑃𝑢 + 𝑃𝑠
= 𝑞𝑢 𝐴𝑝 + 𝜋𝐷𝑓𝑠 𝐷𝑓
Dengan :
𝑃𝑢′ = beban ultimit total untuk fondasi dalam (kN)
𝑃𝑢 = beban ultimit total untuk fondasi dangkal (kN)
Ps = tahanan gesek pada dinding fondasi (kN)
𝑞𝑢 = 1,3𝑐𝑁𝑐 + 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 0,3𝛾𝐵𝑁𝛾 (jika berbentuk
lingkaran ) (kN/m2)Ap = luas dasar fondasi (m2)
D = B = diameter fondasi (m)
Fs = faktor gesekan (tabel)
Df = kedalaman pondasi (m)
(1 ) Fondasi berbentuk memanjang:
𝑞 = 𝑝0 . 𝑁𝑞 + 0,5𝛾𝐵𝑁𝛾
(2) Fondasi berbentuk bujur sangkar:
𝑞𝑢 = 𝑝0 . 𝑁𝑞 + 0,4𝛾 𝐵𝑁𝛾
(3) F ondasi berbentuk lingkaran:
𝑞𝑢 = 𝑝0 . 𝑁𝑞 + 0,3𝛾 𝐵𝑁𝛾
(4) F ondasi berbentuk empat persegi panjang:
𝑞 = 𝑝0 . 𝑁𝑞 + 0,5𝛾𝐵𝑁𝛾 (1-0,2 B/L)
dengan
B = lebar atau diameter fondasi.
L = panjang fondasi.
p0 = Dfy = tekanan overburden pada dasar fondasi.
Df= kedalaman fondasi.
Skempton menyarankan pemakaian faktor koreksi
pengaruh bentuk pondasi (Sc) dengan :
Sc = (1 + 0,2 B/L)
B = Lebar telapak pondasi
L = Panjang telapak Pondasi
(1) Fondasi di permukaan (Df= 0):
Nc(per mukaan) = 5,14; untuk fondasi memanjang.
Nc(permukaan) = 6,20; untuk fondasi lingkaran dan bujur
sangkar.

(2) Fondasi pada kedalaman 0 < Df < 2,5B:


𝐷𝑓
N= 1+02 𝑁𝑐(𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛)
𝐵

(3) Fondasi pada kedalaman Df> 2,58:


Nc = l,5Nc(permukaan)

Daya dukung ultimit fondasi memanjang analisis Skempton:


𝑞𝑢 = 𝐶 𝑢 𝑁𝑐 + 𝐷𝑓 𝛾
Daya dukung ultimit neto:
𝑞𝑢𝑛 = 𝐶 𝑢 𝑁𝑐
Dengan
qu = daya dukung ultimit.
𝑞𝑢𝑛 = daya dukung ultimit neto.
𝐷𝑓 = kedalaman fondasi.
𝛾 = berat volume tanah.
cu = kohesi pada kondisi tanpa-drainase.
Nc = faktor kapasitas dukung Skempton
qu = daya dukung ultimit.
q un = daya dukung ultimit neto.
Df = kedalaman fondasi.
𝛾 = berat volume tanah.
cu = kohesi pada kondisi tanpa-dra.inase.
Nc = faktor daya dukung
Nilai faktor-faktor daya dukung Meyerhof lebih
rendah dari pada yang diberikan oleh Terzaghi. Namun,
karena Meyerhof mempertimbangkan faktor pengaruh
kedalaman fondasi, daya dukungnya menjadi lebih besar
Daya dukung ultimit pembebanan vertikal-eksentris
(qu') diperoleh dengan mengalikan daya dukung ultimit
fondasi dengan pembebanan vertikal-terpusat (qu)
dengan faktor reduksi R, yaitu
𝑞𝑢′ = 𝑅𝑒 𝑞𝑢
dengan
q’ = daya dukung ultimit pada pembebanan vertikal-
eksentris.
Re = faktor reduksi akibat pembebanan eksentris.
qu = daya dukung ultimit pada pembebanan vertikal di
pusat fondasi.
Daya dukung fondasi memanjang dengan dasar horizontal
pada pembebanan yang miring, dinyatakan oleh persamaan:
𝑃𝑣
= 𝑅𝑖 𝑞𝑢
𝐵

dengan
qu = daya dukung ultimit (atau daya dukung diizinkan)
untuk fondasi dengan dasar horizontal pada pembebanan
vertikal.
Ri = faktor reduksi akibat pembebanan miring.
Pv = komponen beban vertikal ultimit.
Persamaan daya dukung untuk fondasi memanjang dengan
pembebana miring di pusat fondasi, diberikan dalam bentuk:

𝑃𝑣 + 𝑁ℎ 𝑃ℎ
= 𝑐𝑁𝑐 + 𝑃𝑜 𝑁𝑞 + 0,5𝐵𝛾𝑁𝛾
𝐴
𝑃𝑣 =komponen beban vertikal yang diterapkan.
𝑁ℎ =faktor daya dukung pada Gambar 3.18.
𝑃ℎ =gaya horizontal pada dasar fondasi yang nilainya tak
boleh melampaui
𝑐 =kohesi.
𝐵 =lebar fondasi.
𝐴 =luas fondasi.
P0 = tekanan overburden pada dasar fondasi.
Df= kedalaman.
𝛾 = berat volume tanah
Jika pembebanan selain miring tapi juga
eksentris, daya dukung tanah akan bergantung pada
orientasi gaya-gayanya. Wack (1961) mengamati bahwa
jika miringnya beban sedemikian hingga arah
komponen gaya horizontal mendekati pusat fondasi,
luas bidang longsor akan berkurang dibandingkan bila
bebannya vertikal ( 𝛿 = 0). Sebaliknya, bila arah
komponen gaya horizontal menjauhi pusat fondasi, luas
bidang longsor akan bertambah dibandingkan bila
bebannya vertikal.
Meyerhof (1957) memberikan persamaan daya dukung untuk
fondasi memanjang yang terletak pada lereng , sebagai
berikut:

𝑞𝑢 = 𝑐𝑁𝑐𝑞 + 0,5𝛾𝐵𝑁𝛾𝑞

qu = daya dukung ultimit.


c = kohesi.
y = berat volume tanah.
B = lebar fondasi.
𝑁𝑐𝑞 = 𝑁𝛾𝑞 = faktor-faktor daya dukung
Untuk tanah dengan 𝜑 > 0, Brinch Hansen menyarankan persamaan
kapasitas dukung ultimit :
𝑄𝑢
𝑞𝑢 = ′ = 𝑠𝑐 𝑑𝑐 𝑖𝑐 𝑔𝑐 𝑐𝑁𝑐 + 𝑠𝑞 𝑑𝑞 𝑖𝑞 𝑏𝑞 𝑔𝑞 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 𝑠𝛾 𝑑𝛾 𝑖𝛾 𝑔𝛾 0,5 𝐵′𝛾𝑁𝛾
𝐵 𝐿′
Dengan :
𝑄𝑢 = beban vertikal ultimit (kN)
𝐵′ 𝐿′ = Panjang dan lebar efektif fondasi (m)
𝛾 = berat volume tanah (kN/m3)
c = kohesi tanah (kN/m2 )
𝑝𝑜 = Df𝛾 = tekanan overburden di dasar fondasi (kN/m2 )
𝑠𝑐 𝑠𝑞 𝑠𝛾 = Faktor –faktor bentuk fondasi
𝑑𝑐 𝑑𝑞 𝑑𝛾 = faktor-faktor kedalaman fondasi
𝑖𝑐 𝑖 𝑞 𝑖𝛾 = faktor- faktor kemiringan beban
𝑏𝑐 𝑏𝑞 𝑏𝛾 = faktor-faktor kemiringan dasar
𝑖𝑐 𝑖𝑞 𝑖𝛾 = faktor-faktor kemiringan beban
𝑔𝑐 𝑔𝑞 𝑔𝛾 = faktor-faktor kemiringan permukaan
𝑁𝑐 𝑁𝑞 𝑁𝛾 = faktor-faktor kapasitas dukung Hansen
Persamaan daya dukung ultimit bila tanah yang di atas
lebih lunak daripada lapisan di bawahnya, dinyatakan
oleh:
𝑞𝑢 = 𝐶1 𝑁𝑚 + 𝐷𝑓 𝛾

dengan
c1= kohesi lapisan lempung atas.
Nm= faktor daya dukung
Df= kedalaman fondasi.
𝛾 =berat volume tanah lapisan atas.
Untuk kondisi ini, tahanan fondasi terhadap gaya tarikan vertikal ke atas
dinyatakan oleh:
𝑃𝑡 = 𝑊𝑝 + 𝑊𝑡 + 𝐹𝑟
𝑃𝑡 =gaya tahanan ultimit fondasi terhadap gaya tarikan vertikal ke atas.
𝑊𝑝 = berat pelat fondasi.
𝑊𝑡 = berat prisma tanah dalam area yang diarsir.
𝐹𝑟 =tahanan gesek di sepanjang tanah yang tergeser.
=0,5𝐷𝑓𝛾 AK0 tg 𝜑(untuk tanah granuler).
=cA (untuk tanah kohesif).
A=luas selimut prisma tanah yang tertarik ke atas.
Df=kedalaman fondasi.
𝛾= berat volume tanah.
𝐾0 = koefisien tekanan tanah lateral saat diam.
𝜑= sudut gesek dalam tanah.
c = kohesi.
1. Tentukan tekanan overburden pada dasar fondasi jika
di ketahui fondasi dengan kedalaman 3m dan berat
volume tanah 45 kN/m3 !
Jawaban :
Diketahui : 𝐷𝑓 = 3𝑚
𝛾 = 45 kN/m3
Ditanya : 𝑝𝑜 = ⋯ ?
Jawab : 𝑝𝑜 = 𝐷𝑓 𝛾
= 3 x 45
= 135 kN/m2
2. Jika diketahui beban ultimit total untuk fondasi dalam
sebesar 50 kN dan beban ultimit total untuk fondasi
dangkal 35 kN. Hitung tahanan gesek pada dinding
fondasi !
Jawaban :
Diketahui : 𝑃𝑢′ = 50 𝑘𝑁
Pu = 35 kN
Ditanya : Ps = ...?
Jawab : 𝑃𝑢′ = Pu + Ps
50 = 35 + Ps
Ps = 15 kN
3. Terdapat fondasi memanjang terletak pada tanah dengan berat volume
tanah 22,3 kN/m2 dengan kohesi tanah 56 kN/m2 dan 𝜑 = 25 ° . Tentukan
kapasitas dukung ultimit jika kedalaman fondasi 2 m dan lebar 2,6 m
dengan tidak terdapat beban merata !
Jawaban :
Dikeahui : 𝛾 = 22,3 𝑘𝑁/𝑚2
C = 56 kN/m2
𝜑 = 25°
Df = 2m
B = 2,6 m
Ditanya : 𝑞𝑢 = ⋯ ?
Jawab : 𝜑 = 25° maka berdasarkan tabel nilai kapasitas
Dukung terzaghi di dapat nilai Nc = 25,1 Nq = 12,7
𝑁𝛾 = 9,7
𝑘𝑁
𝑝𝑜 = 𝐷𝑓 𝛾 = 2 𝑥 22,3 = 44,6 2
𝑚
𝑞𝑢 = 𝑐 𝑁𝑐 + 𝑝𝑜 𝑁𝑞 + 0,5 𝛾𝐵 𝑁𝛾
= 56𝑥25,1 + 44,6 𝑥 12,7 + (0,5𝑥22,3𝑥9,7)
= 2080,175 kN/m2
4. Dengan yang di ketahui sama dengan soal no 3 tentukan kapasitas dukung
ultimit jika terdapat beban merata di atas permukaan sebesar 25 kN/m2 !
Jawaban :
Diketahui : 𝛾 = 22,3 𝑘𝑁/𝑚2
C = 56 kN/m2
𝜑 = 25°
Df = 2m
B = 2,6 m
qo = 25 kN/m2
Ditanya : 𝑞𝑢 = ⋯ ?
Jawab : 𝜑 = 25° maka berdasarkan tabel nilai kapasitas
Dukung terzaghi di dapat nilai Nc = 25,1 Nq = 12,7
𝑁𝛾 = 9,7
𝑘𝑁
𝑝𝑜 = 𝐷𝑓 𝛾 = 2 𝑥 22,3 = 44,6 2
𝑚
𝑞𝑢 = 𝑐 𝑁𝑐 + (𝑝𝑜 + 𝑞𝑜 )𝑁𝑞 + 0,5 𝛾𝐵 𝑁𝛾
= 56𝑥25,1 + 44,6 + 25 𝑥 12,7 + (0,5𝑥22,3𝑥9,7)
= 2397,675 kN/m2
5. Tentukan tahanan gesek pada dinding fondasi yang berada
di tanah kerikil padat jika di ketahui diameter fondasi 1,6 m
dengan kedalaman 2 m !
Jawaban :
Diketahui : 𝐷𝑓 = 2 𝑚 = 200 cm
D = 1,6 m = 160 cm
Ditanya : Ps =...?
Jawab : karena tanah yang digunakan adalah tanah
kerikil padat Maka nilai 𝑓𝑠 = 0,49 𝑘𝑔/𝑐𝑚2

Ps = 𝜇𝐷𝑓𝑠 𝐷𝑓
= 22/7 x 160 x 0,49 x 200
= 49280 kg
= 482944 N
= 482,944 kN