Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

1 . Geologi Regional
PENDAHULUAN
2 . Bentang alam
 Menunjukkan relief kasar Bentuk bentang alam sudah tidak
(pegunungan – perbukitan) kerucut
Tersusun atas satuan breksi dan Disebabkan oleh letusan dan proses
satuan tuff erupsi yang cukup intensif
Membentuk lengkungan berdiameter
>2 KM (diduga Kaldera)
Kaldera : menunjukkan gunung api
pernah mengalami erupsi yang cukup
dahsyat
DASAR TEORI
1. Metode geomagnet
DASAR TEORI
2. Forward modelling

Termasuk dalam pemodelan tidak Pengukuran geomagnet mengukur


langsung medan magnet total, yaitu besaran
Bertujuan untuk memberi gambaran medan magnet bumi ditambah
secara matematik geometri benda dengan medan yang beranomali
penyebab anomali Kemagnetan imbasan selalu sejajar
dengan medan magnet bumi.
DASAR TEORI
3. Upward continuation

Kontinuitas ke atas dilakukan dengan Tranformasi ini memperlemah


mentransformasikan medan potensial anomali-anomali sebagai fungsi
Diukur di permukaan tertentu ke panjang gelombang.
medan potensial pada permukaan
lainnya yang jauh dari sumber.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di sungai Berikut adalah peta dari lokasi
Jenelata, perbatasan antara Desa penelitian :
Moncongloe Kecamatan Manuju
Kabupaten Gowa. Luas daerah
penelitian berukuran 70 x 300 m.
Daerah ini dibagi menjadi 8 lintasan
dengan jarak antar titik ukur 10 m.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan satu alat
proton magnetometer dengan
metode looping.
Prosedur penelitian meliputi tahap
akuisisi, pengolahan data dan
interpretasi. Pengolahan data
dilakukan dengan koreksi harian
dan koreksi IGRF serta filter
upward continuation. Pemodelan
dilakukan dengan menggunakan
perangkat lunak Mag2DC.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Sungai Lapisan terbawah pada lokasi tersebut


Jenelata, Kabupaten Gowa, Sulawesi adalah batuan malihan yang berumur
Selatan. Metode yang dipakai adalah kapur dan diatasnya diendapkan
geomagnet dengan akusisi datanya dengan batuan sedimen berumur
berupa looping. Tujuan dari penelitian kapur atas. (Sukamto,1982).
ini sendiri adalah identifikasi struktur
primer di bawah permukaan pada
daerah penelitian dengan luasan
70x300 meter. Filter yang dipakai
adalah upward continuation.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengukuran medan magnet total yang dilakukan di lokasi penelitian
berkisar antara 42.456 sampai 43.111,6 nT. Berikut adalah peta
TMInya :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut adalah kenampakan setelah dikoreksi harian dan koreksi IGRF
dengan intensitas kemagnetannya -640 sampai – 180nT. :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut adalah peta yang sudah di filter upward continuitas :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interpretasi Kualitatif Berikut adalah kenampakan sungai
Interpretasi kualitatif dilakukan yang audah di overlay dengan peta
dengan menganalisa kontur anomali anomaly lokal dan menunjukkan
medan magnetik lokal. Berdasarkan kenampakan dyke :
pola kontur anomali dapat dilihat
posisi dari dyke yang menjadi sumber
anomali. Adapun perbedaan anomali
yang mencolok pada bagian kanan
atas peta kontur anomali residual
timbul akibat perbedaan ketinggian
dan jumlah sedimen yang menutupi
batuan dasar (sumber anomali) yang
tersingkap di dasar sungai.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Interpretasi kuantitatif
Interpretasi kuantitatif dilakukan
berdasarkan profil batuan hasil
forward modeling dari mag2dc dan
informasi geologi dari lokasi
penelitian.
Berikut merupakan kenampakan
sayatan pada kontur anomaly yang
berasal dari sungai yang sudah di
overlay dengan peta anomaly lokal :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kenampakan Sayatan AA’
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kenampakan Sayatan CC’
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kenampakan Sayatan GG’
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan nilai suseptibilitas yang diperoleh dari forward modeling dapat
diketahui posisi batuan bawah permukaan. Dengan menggabungkan hasil dari
model dan informasi geologi yang diperoleh dari lokasi penelitian, diketahui
terdapat 3 batuan utama yang memberikan pengaruh medan magnet pada
lokaasi penelitian, yakni batuan basal dengan nilai suseptibilitas −0.02 x 10-3
sampai 0.02 x 10-3 S. pyroclastic dengan nilai suseptibilitas −0.001 x 10-3 hingga
−0.01 x 10-3 S, dan shale/alluvium dengan nilai suseptibilitas 0.01 x 10 S.