Anda di halaman 1dari 29

Ayu Risma Nirmala

Ayu Rissanti

Ayu Ulfah Zakiyah

Bagas Deswanggandara
Pengertian Bencana dan Korban Massal
Macam-macam Bencana
Tiage System
Perbedaan KGD dan KB
Primary dan Secondary System
Tahapan Penaganan Bencana Massal
Peran Perawat dalam Penanggulangan Bencana
 Bencana tingkat 1 : korban kurang dari 50 orang
 Bencana tingkat 2 : korban 51-100 orang
 Bencana tingkat 3 : korban 101-300 orang
 Bencana tingkat 4 : korban lebih dari 300 orang
Dalam Kepmenkes No.45/Menkes/Sk/1/2007 korban massal

Korban massal  korban akibat kejadian dengan


jumlah relatif banyak oleh karena sebab yang sama dan
perlu mendapatkan pertolongan kesehatan segera
dengan menggunakan sarana, fasilitas dan tenaga yang
lebih dari yang tersedia sehari-hari.
Cara penseleksian korban berdasarkan skala
prioritas kebutuhan therapy korban dengan sumber
daya yang tersedia.
Triage dilakukan untuk mengidentifikasi secara cepat korban
yang membutuhkan stabilisasi segera (perawatan di
lapangan) dan mengidentifikasi korban yang hanya dapat
diselamatkan dengan pembedahan darurat (life-saving
surgery).
Triase lapangan dilakukan pada 3 kondisi:
 Triase di tempat (triase satu)
Triase di tempat dilakukan di “tempat korban ditemukan” atau pada tempat penampungan yang
dilakukan oleh tim Pertolongan Pertama atau Tenaga Medis gawat Darurat. Triase di tempat
mencakup pemeriksaan, klasifikasi, pemberian tanda dan pemindahan korban ke pos medis
lanjutan.
 Triase medik (triase dua)
Triase ini dilakukan saat korban memasuki pos medis lanjutan oleh tenaga medis yang
berpengalaman (sebaiknya dipilih dari dokter yang bekerja di Unit Gawat Darurat, kemudian ahli
anestesi dan terakhir oleh dokter bedah). Tujuan triase medik adalah menentukan tingkat
perawatan yang dibutuhkan oleh korban.
 Triase evakuasi (triase tiga)
Triase ini ditujukan pada korban yang dapat dipindahkan ke Rumah Sakit yang telah siap menerima
korban bencana massal. Jika pos medis lanjutan dapat berfungsi efektif, jumlah korban dalam status
“merah” akan berkurang, dan akan diperlukan pengelompokan korban kembali sebelum evakuasi
dilaksanakan. Tenaga medis di pos medis lanjutan dengan berkonsultasi dengan Pos Komando dan
Rumah Sakit tujuan berdasarkan kondisi korban akan membuat keputusan korban mana yang
harus dipindahkan terlebih dahulu, Rumah Sakit tujuan, jenis kendaraan dan pengawalan yang akan
dipergunakan.
TERBAIK UNTUK SEMUA TERBAIK UNTUK SATU ORANG
Primary dan Secondary Survey

1. Primary Survey
Langkah-langkahnya sebagai ABCDE (Airway and C-spine
control, Breathing, Circulation and hemorrhage control,
Disability, Exposure/Environment). Jalan nafas merupakan
prioritas pertama. Pastikan udara menuju paru-paru tidak
terhambat. Temuan kritis seperti obstruksi karena cedera
langsung, edema, benda asing dan akibat penurunan
kesadaran. Tindakan bisa hanya membersihkan jalan nafas
hingga intubasi atau krikotiroidotomi atau trakheostomi.
2. Secondary Siurvey
Formalnya dimulai setelah melengkapi survei primer dan
setelah memulai fase resusitasi. Pada saat ini kenali semua
cedera dengan memeriksa dari kepala hingga jari kaki. Nilai lagi
tanda vital, lakukan survei primer ulangan secara cepat untuk
menilai respons atas resusitasi dan untuk mengetahui
perburukan.
Selanjutnya cari riwayat,termasuk laporan petugas pra RS,
keluarga, atau korban lain. Bila pasien sadar, kumpulkan data
penting termasuk masalah medis sebelumnya, alergi dan
medikasi sebelumnya, status immunisasi tetanus, saat makan
terakhir, kejadian sekitar kecelakaan. Data ini membantu
mengarahkan survei sekunder mengetahui mekanisme cedera,
kemungkinan luka bakar atau cedera karena suhu dingin (cold
injury), dan kondisi fisiologis pasien secara umum.
Manajemen penanggulangan bencna  serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi. a

Dalam penanggulangan bencana, kegiatannya juga


mengikuti siklus bencana yaitu:
1. Fase Pra Bencana; disebut sebagai fase kesiapsiagaan yang
terdiri dari pencegahan dan mitigasi (prevention and
mitigation)
2. Fase Bencana; disebut sebagai fase tanggap darurat
(response ) yang terdiri dari:
 fase akut (acute phase)
 fase sub akut (sub acute phase)
3. Fase Pasca Bencana; disebut sebagai fase rekonstruksi
yang terdiri dari:
 fase pemulihan (recovery phase)
 fase rehabilitasi/rekonstruksi (rehabilitation/reconstruction
phase).
Manajemen Bencana dan Penanggulangannya
Peran Perawat dalam Penanggulangan
Bencana

1. Peran Perawat di Rumah Sakit yang terkena Dampak


Bencana Peran perawat di rumah sakit yang terkena
bencana (ICN, 2009) yaitu:
 Sebagai manager, perawat mempunyai tugas antara lain:
mengelola pelayanan gawat darurat, mengelola fasilitas,
peralatan, dan obat-obatan live saving, mengelola administrasi
dan keuangan ugd, melaksanakan pengendalian mutu pelayanan
gadar, melakukan koordinasi dengan unit RS lain.
 Sebagai Leadership, memiliki tugas untuk: mengelola tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga non medis, membagi
jadwal dinas.
 Sebagai pemberi asuhan keperawatan (care giver), perawat
harus melakukan pelayanan siaga bencana dan memilah masalah
fisik dan psikologis yang terjadi pada pasien
lanjutan…

2. Peran Perawat di Pusat Evakuasi


 Di pusat evakuasi perawat mempunyai peran sebagai :

 Koordinator, berwenang untuk: mengkoordinir sumberdaya baik


tenaga kesehatan, peralatan evakuasi dan bahan logistik,
mengkoordinir daerah yang menjadi tempat evakuasi

 Sebagai pelaksana evakuasi: perawat harus melakukan transportasi


pasien, stabilisasi pasien, merujuk pasien dan membantu
penyediaan air bersih dan sanitasi di daerah bencana
lanjutan…

3. Peran Perawat di Klinik Lapangan (Mobile Clinic)


 Peran perawat di klinik berjalan (mobile clinic) adalah
melakukan: triage, penanganan trauma, perawatan emergency,
perawatan akut, pertolongan pertama, kontrol infeksi,
pemberian supportive, palliative.
4. Peran Perawat di Puskesmas
 Peran perawat di puskesmas saat terjadi bencana adalah
melakukan: perawatan pasien ringan, pemberian obat ringan,
merujuk pasien.
 Sedangkan fungsi dan tugas perawat dalam situasi bencana
dapat dijabarkan menurut fase dan keadaan yang berlaku saat
terjadi bencana seperti dibawah ini;