Anda di halaman 1dari 33

PTERIGIUM GRADE 4

Oleh
Moh Faisal SY Intam
( 11 – 16 – 777 – 14 – 110 )
Pembimbing
Dr. Citra Azma Anggita, Sp.M, M.kes
Pendahuluan
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Seperti
daging, berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal
maupun nasal konjungtiva menuju kornea pada arah
intrapalpebra. Asal kata pterygium dari bahasa Yunani, yaitu
pteron yang artinya wing atau sayap. Hal ini mengacu pada
pertumbuhan pterygium yang berbentuk sayap pada
konjungtiva bulbi. Temuan patologik pada konjungtiva,
lapisan bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan
elastik.1
Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat
ekuator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan
kering. Insiden pterygium di Indonesia yang terletak di daerah
ekuator, yaitu 13,1%. Insiden tertinggi pterygium terjadi pada
pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien dibawah
umur 15 tahun jarang terjadi pterygium. Rekuren lebih sering
terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan
pasien usia tua.2
Anatomi konjungtiva
Anatomi kornea
definisi
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif.
Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian
nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah
kornea. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di
bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah
meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan
berwarna merah.1
Epidemiologi
Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak
di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di
daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering
mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator, yakni daerah
yang terletak kurang 370 Lintang Utara dan Selatan dari
ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat
ekuator dan kurang dari 2% pada daerah yang terletak di atas
400 Lintang. Insiden pterygium cukup tinggi di Indonesia yang
terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1%.4
etiologi
Etiologi pterigium belum diketahui secara jelas. Diduga
merupakan suatu proses peradangan dan degenerasi yang
disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, pasir, cahaya
matahari, lingkungan berangin, dan udara yang panas. Selain
itu faktor genetik dicurigai menjadi salah satu faktor
predisposisi.4,5
 Faktor risiko yang mempengaruhi munculnya pterigium
antara lain:
 Radiasi ultraviolet
 Faktor Genetik
 Faktor lain
Patofisiologi
Gambaran Klinis
 Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan
bahkan sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik).
Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:6
 mata sering berair dan tampak merah
 merasa seperti ada benda asing
 timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh
pertumbuhan pterigium tersebut, biasanya astigmatisme with
the rule ataupun astigmatisme irreguler sehingga
mengganggu penglihatan
 pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi
pupil dan aksis visual sehingga tajam penglihatan menurun.
Klasifikasi
 Pterigium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat sesuai dengan
perluasannya ke kornea dan pupil, yaitu:7,8
 Derajat 1 : jika pterigium hanya terbatas pada limbus
kornea.
 Derajat 2 : jika pterigium sudah melewati limbus kornea
tetapi tidak lebih dari 2 mm.
 Derajat 3 : jika pterigium sudah melebihi derajat 2 tetapi
belum mencapai pinggiran pupil dalam keadaan cahaya
normal, dimana pupil berdiameter sekitar 3–4 mm.
 Derajat 4 : jika pterigium sudah mencapai pupil
Patofisiologi
- Paparan UV
-Iritasi kronik
mata

↑ regulasi kolagen Degenerasi kolagen elastoid


Pelepasan sitokin
↑ migrasi sel +
berlebihan
angiogenesis Jaringan fibrovaskular subepithelial

Merusak
TGF-β membran bowman
VEGF +
Peradangan
Penegakkan Diagnosis

1. Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan penderita seperti mata merah,
gatal, mata sering berarir, gangguan penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan
adanya riwayat mata merah berulang, riwayat banyak bekerja diluar ruangan pada
daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi, serta dapat pula ditanyakan
riwayat trauma sebelumnya.
Penegakkan Diagnosis

2. Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan
konjungtiva. Pterigium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi
ada juga pterigium yang avaskular dan flat.
LANJUTAN….
Penegakkan Diagnosis

3. Pemeriksaan Penunjang
- Topografi Kornea
LANJUTAN….
Diagnosis Banding

1. Pseudopterigium

2. Pinguekula
LANJUTAN….

Penatalaksanaan

Konservatif Operatif
LANJUTAN….
Penatalaksanaan

1.Konservatif

Penanganan pterigium pada tahap awal adalah berupa tindakan konservatif


seperti

penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet

dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical


lubricating drops.

pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata

kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.


LANJUTAN….
Penatalaksanaan

2. Operatif
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah dengan eksisi jaringan
fibrovaskular tersebut.
Ada berbagai macam teknik operasi yang digunakan dalam penanganan pterigium di
antaranya adalah:
A. Bare sclera
B. Simple closure
C. Sliding flap
D. Rotational flap
E. Conjungtival graft
LANJUTAN….
Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul pada pterygium, adalah :
 Astigmatisma
 Penglihatan berkurang
 Mata merah
 Iritasi
 Scar (jaringan parut) kronis pada konjungtiva dan kornea
 Pada pasien yang belum exicisi, scar pada otot rectus medial
dapat menyebabkan terjadinya diplopia.
LANJUTAN….
Komplikasi
Komplikasi post eksisi pterygium, adalah:
 Infeksi, reaksi bahan jahitan (benang), diplopia, scar cornea,
conjungtiva graft longgar dan komplikasi yang jarang
termasuk perforasi bola mata, vitreous hemorrhage atau
retinal detachment.
 Penggunaan mytomicin C post operasi dapat menyebabkan
ectasia atau melting pada sclera dan kornea.
 Komplikasi yang terbanyak pada eksisi pterygium adalah
rekuren pterygium post operasi.
LANJUTAN….
Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah
baik. Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48
jam post operasi.
Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi
ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau
transplantasi membran amnion.
Laporan kasus
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny.H
 Umur : 56 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : Islam
 Pekerjaan : IRT
 Alamat : Jl. Delima
ANAMNESIS
 Keluhan Utama: Kedua mata terasa mengganjal
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien perempuan datang ke Poli Rumah Sakit Umum Anutapura
Palu dengan keluhan kedua mata terasa mengganjal yang dialami sejak ±
4 tahun yang lalu secara perlahan-lahan, awalnya tampak selaput kecil
yang lama-kelamaan membesar. Penglihatan menurun (+), nyeri (-),
mata berair (+),silau(-), kotoran mata berlebih (-), rasa berpasir (-),
riwayat mata merah sebelumnya (-).

Riwayat Penyakit Mata Sebelumnya:


 Tidak ada
Riwayat Penyakit Lain:
 Hipertensi (+)
 Diabetes Melitus (+)
 Riwayat Trauma:Tidak ada
 Hipertensi (+)
 Diabetes Melitus (+)
Status Ophtalmikus

Status Ophtalmikus OD OS
Visus tanpa koreksi 1/60 1/60
Refleks fundus (+) (+)
Silia/supersilia Madarosis(-), trikiasis(-) Madarosis(-), trikiasis(-)
Palpebra superior Udem -, hiperemis – Udem -, hiperemis –
Palpebra inferior Udem -, hiperemis - Udem -, hiperemis -

Aparat lakrimalis Normal Normal


Konjungtiva tarsalis Hiperemis (-), papil (-), folikel (-) Hiperemis (-), papil (-), folikel (-)
Konjungtiva fornik Hiperemis (-), papil (-), folikel (-) Hiperemis (-), papil (-), folikel (-)
Konjungtiva bulbi Hiperemis (-), papil (-), folikel (-) Hiperemis (-), papil (-), folikel (-)
Terdapat selaput berbentuk Terdapat selaput berbentuk
segitiga di nasal dengan apeks segitiga di nasal dengan apeks
sudah melewati limbus dan sudah melewati limbus dan
menutupi pupil menutupi pupil
Sclera Putih Putih
Kornea Bening Bening
Kamera okuli anterior Cukup dalam Cukup dalam
Iris Coklat, rugae(+) Coklat, rugae(+)
Pupil Bulat, rf (+/+) Bulat, rf (+/+)
Lensa Jernih Jernih
Fundus:
-Papil optikus - Batas tegas - Batas tegas
-retina - perdarahan (-) eksudat (-) - perdarahan (-) eksudat (-)
-macula - refleks fovea (+) - refleks fovea (+)
-pembuluh darah -2:3 -2:3
Tekanan bulbus okuli N (palpasi) N (Palpasi)
Posisi bulbus okuli Orto Orto
Gerakan bulbus okuli Bebas kesegala arah Bebas kesegala arah
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

GDS,CT,BT,HBsAg

I. RESUME

Pasien perempuan datang ke Poli Rumah Sakit Umum Anutapura Palu dengan keluhan kedua mata terasa mengganjal yang
dialami sejak ± 4 tahun yang lalu secara perlahan-lahan, awalnya tampak selaput kecil yang lama-kelamaan membesar.
Penglihatan menurun (+), Hasil pemeriksaan
Inspeksi : OD dan OS Terdapat selaput berbentuk segitiga di nasal dengan apeks sudah melewati limbus dan
mencapai pupil.
I. DIAGNOSIS/ DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis : Pterigium bilateral grade IV


Diagnosis Banding – Pinguekula
- Pseudopterygium

I. PENATALAKSANAAN

1. Tindakan Operatif : OD Eksisi Pterigium + autograf konjungtiva


2. Edukasi : menghindari paparan sinar UV dan debu dengan menggunakan kacamata anti UV

I. PROGNOSIS

- Quo ad vitam : bonam


- Quo ad funtionam : bonam
- Quo ad sanationam : dubia
DISKUSI

Pasien ini didiagnosa dengan Pterigium bilateral Stadium IV, berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis
dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis di dapatkan rasa mengganjal pada kedua mata kanan dan
kiri dialami kurang lebih 4 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan inspeksi OD di dapatkan adanya selaput berbentuk segitiga pada konjungtiva dengan
tepi melewati limbus, dan sudah mencapai pupil, yang menunjukkan tanda pterygium stadium IV dan
pada OS di dapatkan adanya selaput berbentuk segitiga pada konjungtiva dengan tepi melewati limbus,
dan sudah mencapai pupil, yang menunjukkan tanda pterygium stadium IV.
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik untuk pterigium. Tujuan pengobatan
medikamentosa adalah untuk mengurangi peradangan. Bila terjadi peradangan dapat diberikan steroid
topikal. Tindakan pembedahan pada pterigium adalah suatu tindakan bedah untuk mengangkat jaringan
pterigium dengan berbagai teknik operasi.
Teknik operasi yang direncanakan pada pasien ini adalah teknik graft konjungtiva dengan alasan karena
teknik ini dianggap paling bagus dalam menurunkan rekurensi pterygium.
Diharapkan agar penderita sedapat mungkin menghindari faktor pencetus timbulnya pterigium seperti
sinar matahari, angin dan debu serta rajin merwat dan menjaga kebersihan kedua mata. Oleh karena itu
dianjurkan untuk selalu memakai kacamata pelindung atau topi pelindung bila keluar rumah. Menurut
teori, umumnya pterigium bertumbuh secara perlahan dan jarang sekali menyebabkan kerusakan yang
bermakna sehingga prognosisnya adalah baik