Anda di halaman 1dari 13

PEMBUATAN INSTRUMEN

PENGAWASAN SANITASI INDUATRI


STANDAR BAKU MUTU
1. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 70 tahun 2016 tentang
Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri
2. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 tentang
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
Kesehatan Air untuk Keperluan Hygiene Sanitasi, Kolam Renang,
Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum.
SASARAN PENGAWASAN SANITASI INDUSTRI

1. Penyediaan air bersih


2. Pengolahan limbah cair
3. Penyehatan tanah adan pengelolaan sampah
4. Penyehatan makanan & minuman
5. Penyehatan udara
6. Pengendalian vector
7. House keeping
8. Jamban dan peturasan
9. Fasilitas cuci tangan
Instrumen Pengawasan Penyediaan Air Bersih
Kecukupan penyediaan air minum untuk pekerja dipersyaratkan
minimal sebanyak 5 liter/orang/hari. Sedangkan kecukupan air untuk
keperluan higiene dan sanitasi dihitung berdasarkan kebutuhan
minimal dikaitkan dengan perlindungan kesehatan dasar dan higiene
perorangan. Ketersediaan air sebanyak 20 liter/orang/hari hanya
mencukupi untuk kebutuhan higiene dan sanitasi minimal, sehingga
untuk menjaga kondisi kesehatan pekerja yang optimal diperlukan
volume air yang lebih, yang biasanya berkisar antara 50-100
liter/orang perhari.
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 menyebutkan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk media Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia
Parameter wajib merupakan parameter yang harus diperiksa secara
berkala sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan untuk diperiksa jika
kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi pencemaran
berkaitan dengan parameter tambahan.
Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi tersebut digunakan untuk
pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi,
serta untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan
pakaian. Selain itu Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi dapat
digunakan sebagai air baku air minum.
Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 32 tahun 2017 menyebutkan
bahwa air dalam keadaan terlindung dari sumber pencemaran, binatang
pembawa penyakit, dan tempat perkembangbiakan vektor :
Tidak menjadi tempat perkembangbiakan vektor dan binatang pembawa
penyakit.
Jika menggunakan kontainer sebagai penampung air harus dibersihkan
secara berkala minimum 1 kali dalam seminggu.
Lebih jauh dalam peraturan diatas menyebutkan bahwa air untuk keperluan
hygiene sanitasi harus aman dari kemungkinan kontaminasi :
Jika air bersumber dari sarana air perpipaan, tidak boleh ada koneksi
silang dengan pipa air limbah di bawah permukaan tanah.
Jika sumber air tanah non perpipaan, sarananya terlindung dari sumber
kontaminasi baik limbah domestik maupun limbah industri.
Jika melakukan pengolahan air secara kimia, maka jenis dan dosis bahan
kimia harus tepat.
Persyaratan Air untuk kepentingan industri
Persyaratan kesehatan lingkungan air minum untuk kepentingan di
industri terdapat beberapa ketentuan sebagai berikut:
• Berasal dari sumber air yang improved/terlindung (perpipaan, mata
air terlindung, sumur bor terlindung, sumur gali terlindung dan
penampungan air hujan terlindung).
• Tersedia dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.
• Kualitas air minum diperiksa secara berkala.
• Memenuhi kualitas fisik.
Persyaratan kesehatan lingkungan air untuk
keperluan hygiene dan sanitasi ditetapkan sebagai
berikut:
1. Berasal dari sumber air yang improved/terlindung (perpipaan,
mata air terlindung, sumur bor terlindung, sumur gali terlindung
dan penampungan air hujan terlindung).
2. Tersedia dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.
3. Air yang berasal dari pengolahan air limbah / grey water hanya
digunakan untuk menggelontor toilet dan menyiram tanaman.
4. Kualitas air harus diperiksa secara berkala.
5. Memenuhi kualitas fisik.
Untuk menjaga agar kualitas air untuk keperluan hygiene sanitasi
senantiasa dalam keadaan memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan perlu dilakukan:
1. Pengawasan internal
2. Pengawasan eksternal.

Pengawasan internal merupakan pengawasan yang dilakukan oleh


penyelenggara melalui penilaian mandiri, pengambilan, dan pengujian
sampel air yang dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun.
Pengawasan eksternal dilakukan oleh tenaga kesehatan lingkungan
yang terlatih pada dinas kesehatan kabupaten/kota, atau kantor
kesehatan pelabuhan untuk lingkungan wilayah kerjanya.
CONTOH LEMBAR PENGAWASAN PAB
• LEMBAR CHECKLIST
• PENGAWASAN INTERNAL DAN EKSTERNAL
• Nama Perusahaan : ………………………………………………..
• Alamat : ………………………………………………..
• Kabupaten/Kota : ………………………………………………..
• Provinsi : ………………………………………………..
• Jenis Peruntukan Air : Hygiene-sanitasi
• Tanggal Pengawasan : ...................................................
ADA / DIPERIKSA
TIDAK
NO PARAMETER KET
ADA TIDAK BERLAK
U
1. Fisik
a. Kekeruhan
b. Warna

c. Zat padat terlarut (TDS)

d. Suhu
e. Rasa
f. Bau
2. Biologi
a. Total coliform
b. E. coli
ADA / DIPERIKSA
NO PARAMETER TIDAK KET
ADA TIDAK
BERLAKU
3. Kimia wajib
a. pH
b. Besi
c. Fluorida
d. Kesadahan
e. Mangan
f. Nitrat, sebagai N
g. Nitrit, sebagai N
h. Sianida
i. Diterjen
j. Pestisida total
Kimia tambahan
a
Air raksa
.
b
Arsen
.
c
Kadmium
.
d
Kromium (valensi 6)
.
e
Selenium
.
f
Seng
.
g
Sulfat
.
h
Timbal
.
i
Benzene
.
j
Zat organik (KMnO4)
.
4. Tidak ada koneksi silang dengan pipa air limbah di bawah permukaan
tanah (jika air bersumber dari sarana air perpipaan)
5. Sumber air tanah non perpipaan,
sarananya terlindung dari sumber
kontaminasi baik limbah domestik
maupun industri.
6. Tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor dan binatang
pembawa penyakit
7.
Jika melakukan pengolahan air secara
kimia, maka jenis dan dosis bahan kimia
harus tepat
8
Jika menggunakan kontainer sebagai
penampung air harus dibersihkan secara
berkala minimum 1 kali dalam seminggu.

Penanggung Jawab Petugas Pengawasan

........................................... .................................................