Anda di halaman 1dari 26

FRAKTUR

KLASIFIKASI
I. Berdasarkan hub dengan dunia luar :

1.Fraktur 2. Fraktur
tertutup terbuka

2
KLASIFIKASI
• Gustillo – Anderson :

SMF Bedah FK UKI 3


KLASIFIKASI
II. Berdasarkan garis
patah

1.Komplit 2.Inkomplit

4
KLASIFIKASI
III. Jumlah garis patah

1. Simple 2. Komunitif 3. Segmental


5
KLASIFIKASI
IV. Arah garis patah

1. Transversal 2. Oblique 3. Spiral 4. Kompresi


6
• Comminuted
– Broken, splintered, or crushed into >3 pieces
• Segmental
– Bone broken in 2+ separate places; Fx
lines do not connect
Pemeriksaan Status Lokalis
Tanda tanda klinis pada fraktur tulang panjang :

• Look, cari apakah terdapat :


– Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal
(misalnya pada fraktur kondilus lateralis humerus),
angulasi, rotasi, dan pemendekan.
– Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur
kruris tidak bisa berjalan.
– Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri dan
kanan, misalnya, pada tungkai bawah meliputi apparenth
length (jarak antara ubilikus dengan maleolus medialis)
dan true lenght (jarak antara SIAS dengan maleolus
medialis)
Pemeriksaan Status Lokalis
• Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri
sumbu tidak dilakukan lagi karena akan menambah
trauma
• Move, untuk mencari :
– Krepitasi, terasa bila fraktur digerakan. Tetapi pada tulang
spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa kreitasi.
Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan
menambah trauma.
– Nyeri bila digerakan, baik pada gerakan aktif maupun pasif
– Seberapa jauh gangguan gangguan fungsi, gerakan gerakan
yang tidak mampu digerakan, range of motion ( derajat
dari ruang lingkup gerakan sendi ), dan kekuatan
Fase Penanganan Fraktur
1. Tempat kejadian (Injury Disarter) 

Masyarakat, Sosial worker, Polisi,

petugas medis dll

2. Pra Hospital (Transportation)

3. Hospital  Emergency Room, Operating

Room, ICU, Ward Care

4. Rehabilitasi  Physical, Psycological


Yang Mempengaruhi Penanganan
 Umur

 Kelamin

 Pekerjaan

 Keadaan Fraktur Patologis non Patologis

 Penyakit penyerta
Emergency Orthopaedi
 Jika tak ditolong segera  bisa terjadi †

1. Fraktur terbuka

 Fraktur disertai hancurnya jaringan (Major crush


injury)

 Fraktur dengan amputasi

2. Fraktur dengan ggn neurovaskuler (Compartmen


Syndrome)

3. Dislokasi sendi
Pertolongan Pertama (First Aid)
 Life Saving  ABCD
 Obstructed Airway
 Shock : Perdarahan Interna /External
 Limb Saving
 Reliave pain Splint & analgetic
 Pergerakan fragmen fr
 Spasme otot
 Udema yang progresif.
 Transportasi penderita Dont do harm
Pengelolaan Fraktur di RS
Prinsip : 4 R
 R 1 = Recognizing = Diagnosa
 Anamnesa, PE, Penunjang
 R 2 = Reduction = Reposisi
 Mengembalikan posisi fraktur keposisi sebelum
fraktur
 R 3 = Retaining = Fiksasi /imobilisasi
 Mempertahankan hasil fragmen yg direposisi
 R 4 = Rehabilitation
 Mengembalikan fungsi kesemula
Reduction (Reposisi Fraktur)
 Mengembalikan posisi fraktur keposisi semula

 Idealnya: Kembali ke posisi anatomis

 Kontak 100 %

 Angulasi tidak ada

 Rotasi tidak ada

 Metode reposisi

 Reposisi tertutup

 Reposisi terbuka  Dengan pembedahan


Reposisi Tertutup
 Tanpa pembiusan

 Fraktur masih fase shock

 Fr. yang sedikit bergeser dll

 Dengan pembiusan

 Anestesi lokal

 Anestesi umum

 Teknik

 Dengan tarikan, tekanan secara perabaan

 Memakai C Arm (Portable radiologis)


Indikasi Reposisi Terbuka
 Gagal reposisi tertutup

 Avulsion fracture

 Fr Patela & Fr Olecranon

 Epiphyseal fracture

 Interposisi Jaringan

 Disertai gangguan vascular

 Fraktur Patologis
Reposisi Terbuka
 Teknik

 Tulang dicapai dengan melalui pembedahan

 Harus selalu menjaga perdarahan

 Pada fraktur terbuka harus didahului dengan:

 Dilusi / irigasi  “Dilution is a solution to polution”

 Debrideman

 Reposisi
Retaining (Imobilisasi)
 Mempertahankan hasil reposisi sampai tulang
menyambung

 Kenapa ssd reposisi harus retaining

 Manusia bersifat dinamis

 Adanya tarikan tarikan otot

 Agar penyembuhan lebih cepat

 Menghilangkan nyeri
Cara Retaining (Imobilisasi)
 Isitrahat

 Pasang splint / Sling

 Casting / Gips

 Traksi  Kulit atau tulang

 Fiksasi pakai inplant


Sling / Split
 Sling : Mis Arm Sling

 Splint
Cara Imobilisasi
 Casting / Gips

 Hemispica gip

 Long Leg Gip

 Below knee cast

 Umbrical slab
Retaining (Imobilisasi)
Traksi

 Cara imobilisasi dengan menarik

bahagian proksimal dan distal

secara terus menerus.

1. Kulit

2. Tulang
Retaining (Imobilisasi)
 Fiksasi pakai inplant

■ Internal fikasasi

■ Plate/ skrew

■ Intra medular nail  Kuntsher Nail

■ Ekternal fiksasi
Rehabilitasi
 Mengembalikan fungsi organ fraktur kembali normal

 Otot  supaya jangan atropi (mengecil)


■ Isometric Exersice

■ Isotonik Exersice

 Sendi  supaya jangan kaku

 Bentuk latihan

 Latihan sendiri

 Bantuan orang lain (Fisioterapist)

 Perangsangan Elektrik & Physical Therapy