Anda di halaman 1dari 39

GANGGUAN CEMAS MENYELURUH

Pembimbing :
dr. Ami Noviana
dr. Putri Novianty

Oleh :
dr. Sabrina
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : DP
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 29 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan Terakhir : S1
Pekerjaan : Swasta
Status Pernikahan : Belum Menikah

OS dirawat di Tulip pada tanggal 1 Maret 2018 dengan


keluhan nyeri ulu hati (+) mual (+) muntah (-) dengan
diagnosis penyakit dalam sindrom dispepsia.

2
II. RIWAYAT PSIKIATRI

Data diperoleh dari :

• Autoanamnesa pada tanggal 2 Maret 2018

Keluhan utama
Pasien sering merasa cemas akan
kesehatannya sejak tahun 2016

3
B. Riwayat Penyakit Sekarang
o Pasien sering merasa cemas hampir setiap saat sejak
tahun 2016
o Cemas disertai nyeri kepala, Jantung berdebar debar
dan keringat dingin.
o Pasien selalu merasa cemas akan kesehatannya,
terutama pada jantungnya. Dia merasa memiliki sakit
jantung.
o Pasien menarik diri dari lingkungan, merasa nyaman jika
menyendiri dan lebih sering bermenung didalam rumah.

4
Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat Psikiatri
Berdasarkan autoanamnesa, awalnya pasien
mengeluhkan nyeri ulu hati tahun 2016. Nyeri ulu hati
makin bertambah dan disertai keluhan nyeri dada.
Keluhan nyeri dada makin sering dirasakan ditambah
lagi kecemassan yang berlebihan karena takut
mengalami sakit jantung seperti yang dialami oleh
tante pasien.
5
II. RIWAYAT PSIKIATRI

Semenjak itu pasien merasakan cemas disertai


nyeri kepala,jantung berdebar-debar,keringat dingin
dan badannya terasa lemas. Nyeri ulu hatinya pun
juga semakin sering dirasakan. Pasien juga mulai
curiga kepada orang-orang disekitarnya yang
mendoakan buruk terhadap kondisi kesehatannya

6
C. Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat Medis
Pasien di rawat 2x karena keluhan yang sama. Yaitu
nyeri ulu hati

7
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan,merokok
dan alkohol.

8
II. RIWAYAT PSIKIATRI

D. Riwayat Pribadi
1. Prenatal dan Perinatal
Lahir spontan, cukup bulan, ditolong oleh dukun kampung,
menangis spontan, kejang tidak ada, sianosis tidak ada
2. Masa kanak awal (sampai usia 3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan anak seusianya.
3. Masa kanak pertengahan (usia 3-11 tahun)
Pertumbuhan da perkembangan sesuai dengan anak seusianya.
Pribadi yang cenderung tertutup namun memiliki banyak teman.

9
II. RIWAYAT PSIKIATRI

D. Riwayat Pribadi
4. Masa kanak akhir (pubertas hingga remaja)
Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan anak seusianya.
Pribadi yang cenderung tertutup namun memiliki banyak teman.
5. Masa dewasa
• Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai karyawan swasta
• Riwayat hubungan dan perkawinan
Pasien belum menikah

10
II. RIWAYAT PSIKIATRI

D. Riwayat Pribadi
• Riwayat seksual
Pasien tidak mempunyai riwayat penyimpangan seksual,
pelecehan seksual maupun seks bebas.
• Riwayat pendidikan
pasien tamat pendidikan S1
• Agama
Pasien seorang muslim

11
III. STATUS INTERNUS
Keadaan umum : Sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis cooperatif
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Nafas : 18 x/menit
Suhu : Tidak dilakukan
Status gizi : Baik
Status kardiovaskular : Dalam batas normal, tidak ada keluhan
Status respiratorik : Dalam batas normal, tidak ada keluhan
Kelainan khusus : Tidak ada kelainan
12
V. STATUS MENTAL

Kesadaran : Compos mentis cooperatif


Kontak : Cooperatif, bersahabat
Penampilan : Perempuan, sesuai usia, rapi
Psikomotor : Tenang
Mood : eutimia
Afek : Appropriate
Persepsi : Halusinasi (-)
Proses pikir : Asosiasi longgar
Isi pikir : Waham curiga (+)

13
V. STATUS MENTAL

Orientasi : Tempat : baik


Waktu : baik
Personal: baik
Daya ingat : Jangka panjang : baik
Jangka sedang : baik
Jangka pendek : baik
Pengendalian impuls : baik
Insight : Terganggu, derajat 4

14
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

1. Aksis 1
• Pada pasien tidak ada riwayat trauma kepala, yang menyebabkan
adanya disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari tingkat kesadaran,
daya kosentrasi, orientasi masih baik, sehingga pasien ini bukan
penderita gangguan mental organik (F.0)
• Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan kecemasan . Pada
pasien ini ditemukan adanya waham curiga sehingga pada
pasien ini merupakan penderita gangguan cemas
menyeluruh (F41.1)
15
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

1. Aksis 1
• Selain gangguan kecemasan pasien juga mengalami
waham, pasien juga mengalami gangguan suasana
perasaan (mood) yaitu,nafsu makan yang menurun
pada pasien sehingga pasien menjadi malas untuk
makan.

16
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

2. Aksis 2
Saat ini belum ada diagnosis untuk ciri atau gangguan kepribadian
pada pasien karena belum ada data yang cukup dan sesuai untuk
menegakkan kriteria diagnosisnya.

17
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

3. Aksis 3
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien tidak memiliki
gangguan kondisi medik umum.

18
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

4. Aksis 4
Pasien memiliki masalah terhadap lingkungannya
dimana pasien merasa sangat sedih.

19
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

5. Aksis 5
Menggunakan skala Global Assessment of Functioning
(GAF) Scale : 90-81

20
VIII. PROGNOSIS

Quo ad vitam : bonam


Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanationam : bonam

21
IX. RENCANA PENATALAKSANAAN

a. Terapi non-farmakologis
1) Kepada Pasien
• Memberikan edukasi tentang penyakit dan gejala-
gejala yang ada pada pasien.
• Memberikan informasi tentang obat, cara meminum
obat, manfaat penggunaan obat, lama pengobatan,
dan kontrol pengobatan.
• Memberikan informasi tentang efek samping obat.
• Memberikan motivasi kepada pasien untuk semangat
dalam menjalani kehidupan, mulai mencari tujuan
hidup, mencari cita-cita yang mungkin akan
membuat pasien semangat dalam mengejar
impiannya tersebut.
22
IX. RENCANA PENATALAKSANAAN

a. Terapi non-farmakologis
1) Kepada Pasien
• Menganjurkan pesien untuk tetap rajin beribadah
agar emosi dalam dirinya terjaga dan dapat di atasi
oleh pasien.

23
IX. RENCANA PENATALAKSANAAN

a. Terapi non-farmakologis
2) Kepada keluarga pasien
• Memberikan edukasi dan informasi kepada
keluarga pasien tentang kondisi pasien, penyakit
yang diderita pasien, perjalanan penyakit yang
diderita pasien serta prognosis yang mungkin akan
dicapai pasien.
• Memberikan informasi tentang obat, cara minum
obat, manfaat penggunaan obat, lama pengobatan,
dan kontrol pengobatan dan agar keluarga dapat
mendampingi pasien dalam kontrol pengobatannya.
• Memberikan informasi tentang efek samping obat
yang didapatkan oleh pasien.
24
IX. RENCANA PENATALAKSANAAN

a. Terapi non-farmakologis
2) Kepada keluarga pasien
• Memberikan edukasi kepada keluarga tentang
pentingnya hubungan dan dukungan di dalam
keluarga terutama dalam pendampingan pengobatan
untuk mencegah kekambuhan pada pasien.
• Mmberikan edukasi kepada keluarga pasien
pentingnya motivasi dari keluarga untuk
penyembuhan pasien.
• Memberikan edukasi kepada keluarga agar segera
memberitahukan kepada petugas kesehatan tentang
gejala-gejala yang mungkin akan timbul pada saat
pengobatan
25
IX. RENCANA PENATALAKSANAAN

b. Farmakologis
Oral :
IVFD RL 20 tpm
Inj pantoprazol 1x40 mg
Sucralfat 3 x 1 C
Alprazolam 1x0,5 mg

26
• munculnya
gangguan
panik mendadak tanpa
faktor pencetus
• kecemasan atau
ketakutan
gangguan terhadap situasi
fobik atau obyek
tertentu
(spesifik)

• kecemasan yang
gangguan timbul setelah
stress penderita mengalami
pasca peristiwa yang sangat
trauma
menegangkan.

gangguan • berlangsung
cemas
umum menahun (kronik)

• kecemasan yang
mendorong penderita
gangguan
secara menetap
obsesif
untuk mengulangi
kompulsif
pikiran atau perilaku
tertentu.
TANDA DAN GEJALA

 Empat Domain Gangguan Cemas


◦ Fisik
◦ Perasaan
◦ Pikiran
◦ Perilaku

19/04/2018
Tanda dan Gejala
 Fisik
◦ Anorexia
◦ Mual
◦ Muntah
◦ Nyeri perut
◦ Berdebar
◦ Berkeringat
◦ Mulut kering
◦ Sesak nafas
◦ Ketegangan otot
◦ Nyeri kepala

19/04/2018
Tanda dan Gejala

Pikiran

 Khawatir
 Pikiran yang berkaitan
dengan ancaman pada
emosi dan fisik

19/04/2018
Tanda dan Gejala
Perasaan

Kegelisahan dan
ketidaknyamanan atas
teror dan panik yang
terjadi

19/04/2018
Tanda dan Gejala
Perilaku

 Kecemasan memicu
perilaku untuk
mengurangi ataupun
menghindari
penderitaan yang terjadi

19/04/2018
Diagnosis

 Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari

penurunan kemampuan bekerja, hubungan social dan


melakukan kegiatan rutin.
PPDGJ-III
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh
Pedoman diagnostik
 Gejala anxietas primer yang berlangsung hampir setiap hari dalam
waktu beberapa minggu-bulan. Bersifat “free floating” atau
“mengambang”.
 Gejalanya mencakup:
◦ Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, perasaan gelisah seperti
diujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dsb)
◦ Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak
dapat santai)
◦ Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat,
jantung berdebar-debar, sesak nafas, keluhan lambung, pusing
kepala, mulut kering, dsb).
 Adanya gejala –gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa
hari)
Terapi

farmakoterapi

Terapi

psikoterapi
Benzodiazepin
Diazepam, Chlordiazepoxide, Lorazepam,
Clobazam, Bromazepam, Oxazolam,
Clorazepate, Alprazolam, Prazepam.
Merupakan pilihan obat pertama. Dimulai
dengan pemberian dosis terendah dan
ditingkatkan sampai mencapai respon terapi.
Lama pengobatan rata-rata 2-6minggu

Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)


PSIKOTERAPI
 Terapi kognitif perilaku
- Pendekatan kognitif mengajak pasien secara
langsung:
 mengenali distorsi kognitif dan
 pendekatan perilaku,
 mengenali gejala somatik secara langsung
- teknik pada pendekatan behavioral : relaksasi
dan biofeedback.
 Terapi suportif
- Pasien diberikan reassurance dan
kenyamanan,
- Digali potensi-potensi yang ada dan belum
tampak, didukung egonya  agar lebih
bisa beradaptasi optimal dalam fungsi
sosial dan pekerjaannya.
TERIMA KASIH