Anda di halaman 1dari 30

Oleh :

Hassezia Putri (13-091)


Yuni Asri Widyastuti (13-101)
Meldasari (13-203)
Hernika Irawan (13-207)

Pembimbing:
Dr . Dian Budianti M.Ked (KJ), Sp KJ
• Mood stabilizer
 agen yang digunakan untuk menangani bipolar
disorder.

• Bipolar disorder
suatu kelainan di mana munculnya episode
peningkatan mood (mania/hipomania), fungsi
kognitif dan enerjik dengan atau tanpa suatu atau
lebih episode depresi.
• Antara episode mania dan depresi dapat diselingi
mood normal, walau pada keadaan tertentu antara
mania dan depresi dapat berubah-ubah (alternating)
dengan cepat.
Mood stabilizer umumnya lebih
efektif mengobati mania ketimbang
depresi. Oleh karena itu terkadang
untuk mengatasi periode depresi
tersebut diberikan antidepresan.

Namun ada indikasi bahwa


pemberian antidepresan bisa
menimbulkan bahaya bagi pasien
bipolar.

Pemberian antidepresan tanpa


mood stabilizer bisa menginduksi
mania.
Antidepresan hanya boleh berikan setelah
pasien stabil atau diberikan bersama mood
stabilizer.

Obat pertama yang telah disahkan oleh


FDA yang mengandung antidepresan plus
mood stabilizer adalah Symbyax
(Olanzapin-Fluoxetine HCl)
Jenis
farmakol
ogi mood
satabilize
r:

Litium

Antikonvulsan : asam
folat dan karbamazepin
Litium

Litium karbonat adalah jenis garam litium yang


paling sering digunakan untuk mengatasi
gangguan bipolar, menyusul kemudian litium
sitrat.
Sejak disahkan oleh food and drug
admintrastration(FDA) pada 1970 untuk
mengatasi mania akut, litium masih efektif
dalam menstabilkan mood pasien dengan
gangguan bipolar
Farmakokinetik

Litium diabsorbsi di gastrointestinal


Absorbsi lengkap dalam 6-8 jam, kadar plasma
dicapai dalam 30 menit – 2 jam. Volume
distribusi 0,5 L/kg, eksresi terutama lewat urin,
dengan waktu paruh eliminasi 20 jam.
keseimbangan tercapai setelah 5-7 hari
Litium dieliminasi oleh ginjal,
Farmakodinamik
Mekanisme kerja yang pasti dari litium
sampai saat ini masih dalam penelitian, tetapi
diperkirakan bekerja atas dasar :

Efek pada elektrolit dan transpor ion yaitu


litium dapat mengganti natrium dalam
membantu suatu potensial aksi sel neuron,
tetapi litium bukan merupakan substrat yang
adekuat untuk pompa Na
Efek pada neurotransmitter,
diperkirakan litium menurunkan
pengeluaran norepinefrin dan
dopamin,

menghambat supersensitivitas
dopamin, juga meningkatkan sintesis
asetilkolin

Efek pada second messengers, yakni


litium menghambat konversi IP2
menjadi IP1 (inositol monofosfat) dan
konversi IP menjadi inositol
Mengatasi episode mania dari gangguan
bipolar. Gejala hilang dalam jangka waktu
1-3 minggu setelah minum obat.

Litium juga digunakan untuk mencegah


atau mengurangi intensitas serangan ulang
pasien bipolar dengan riwayat mania.
- Episode depresi
Kira-kira 80% pasien depresif
gangguan bipolar 1 berespon terhadap
terapi lithium

- Stabilisasi mood
- Agresif & gangguan tingkah laku
Kontrol jangka panjang:

 kadar serum litium yang diinginkan adalah


0,6 -1,2 mEq/l.
 Dosis bervariasi per individu, tapi biasanya
berkisar 900 mg -1200 mg per hari dalam
dosis berbagi.
 Monitor serum setidaknya dilakukan setiap
dua bulan.
 Pasien yang sensitif biasanya
memperlihatkan tanda toksik pada kadar
litium serum dibawah 1,0 mEq/l.
 Efek samping yang terjadi terutama pada
saraf yaitu tremor, koreatetosis,
hiperaktivitas motorik, ataksia, disartria,
dan afasia.
 Litium juga dapat menurunkan fungsi
tiroid, tetapi biasanya efek ini bersifat
reversibel. Di anjurkan pemeriksaan TSH
tiap 6-12 bulan selama penggunaan.
 Pada ginjal, litium dapat menyebabkan
nefrogenik diabetes insipidus yang
menyebabkan polidipsi dan poliuria, selain
itu juga dapat menyebabkan nefritis
interstisial kronik dan glumerulopati
minimal.
 Pasien yang mendapat litium harus
menghindari keadaan dehidrasi karena
dapat meningkatkan nefrotoksisitasnya.
Farmakodinamik
 Asam valproat selain sebagai antiepilepsi juga
menunjukkan efek antimania.
 Efikasinya pada minggu pertama pengobatan
seperti litium, tetapi asam valproat ternyata efektif
untuk pasien yang gagal dengan terapi litium.
Farmakokinetik
 Pemberian valproat peroral cepat
diabsorpsi dan kadar maksimal serum
tercapai setelah 1-3 jam.
 Bersifat asam dan masa paruh 8-10 jam,
kadar darah stabil setelah 48 jam terapi,
70% dari dosis asam valproat diekskresi di
urin dalam 24 jam.
1. Gangguan Bipolar
Valproate efektif dalam terapi mania
akut. secara spesifik pasien yang diobati
dengan valproate memiliki episode
manik yang lebih sedikit, kurang parah
dan lebih singkat saat menggunakan
valproate.
2. Gangguan skizoafektif
Menurut data dari penelitian dan
laporan kasus valproat efektif
dalam terapi fase jangka pendek
gangguan skizoafektif tipe bipolar.
Efek samping :
 Efek samping tersering adalah: mual.
 Efek pada SSP berupa kantuk, ataksia,
tremor.
 Toksisitas valproat berupa ganggan
saluran cerna, sistem saraf, hati, ruam
kulit, dan alopesia.
Farmakodinamik
Karbamazepin selain sebagai
antiepilepsi juga menunjukkan efek
nyata pada perbaikan psikis yaitu
perbaikan kewaspadaan dan perasaan,
sehingga dipakai juga untuk mengobati
kelainan psikiatri seperti mania/bipolar.
Karbamazepin diduga bekerja
dengan menstabilisasi kanal
sodium pada neuron sehingga
menjadi kurang dapat tereksitasi.
Karbamazepin juga mempotensiasi
reseptor GABA pada subunit α1, β2
dan γ2.
•Karbamazepin memiliki bioavailabilitas
80% dengan ikatan protein 76%.

•Karbamazepin dimetabolisme oleh enzim


CYP3A4 hati menghasilkan metabolit aktif
epoxide (karbamazepine 10,11 epoxide).
Waktu paruh 25-65 jam dan
ekskresi melalui urine.
Karbamazepin menurunkan kadar
asam valproat, fenobarbital, dan
fenitoin.
Indikasi

1. Gangguan bipolar 1 :efektif dalam mengobati


mania akut dengan kemanjuran yang sebanding
dengan lithium, pada penelitian menunjukan
efektif dalam profilaksis episode manik maupun
depresif pada gangguan bipolar 1, jika digunakan
untuk terapi profilaksis. Obat anti manik yang
efektif pada 50-70% dari semua pasien.
2. Skizofrenia dan gangguan skizoafektif. Pasien
dengan gejala positif (halusinasi) dan beberapa
gejala negatif
Pusing Vertigo Ataksia

penglihatan
diplopia
kabur
 Efek samping lainnya berupa mual, muntah,
anemia aplastik, agranulositosis, dan reaksi alergi
berupa dermatitis, eosinofilia, limfadenopati, dan
splenomegali.
 Gejala intoksikasi akut dapat berupa stupor/koma,
iritabel, kejang dan depresi napas.
TERIMAKASIH