Anda di halaman 1dari 43

STUDI KASUS OKUPASI

DERMATITIS KONTAK IRITAN

Disusun oleh : Pembimbing:


Jessica Gakenti H1AP1011 dr. Fitri Desimilani
Zenit Djaja H1AP11038 dr. Eko Rahmi Nurhidayati
Ika Nofaza H1AP09020 dr. Mona Friska

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN OKUPASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BENGKULU
Identitas Pasien
 Nama : Ny. A
 Usia : 25 tahun
 Alamat : Kuala Lempuing, RT.16 NO.25
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Status : Istri
 Agama : Islam
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : Buruh Cuci
 Kedatangan : Pertama
 Telah diobati : Sudah tetapi pasien lupa
 Alergi obat :-
 Sistem pembayaran : BPJS
ANAMNESIS

A. Alasan Kedatangan
 Keluhan utama : Gatal pada kedua telapak tangan
 Kekhawatiran : Gatal di kedua telapak tangan bertambah luas dan tidak bisa
sembuh
 Harapan : Keluhan hilang dan dapat bekerja dengan baik
 Persepsi : Penyakit ini dikarenakan kontak dengan detergen

B. Keluhan lain/tambahan : -
ANAMNESIS

C. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang


Sejak + 2 bulan yang lalu, pasien mengeluhkan gatal pada kedua telapak
tangannya. Awalnya pasien mengeluhkan muncul bintik-bintik merah berair yang
terasa gatal dan perih pada ujung-ujung jari tangannya. Pasien mengatakan sering
menggaruk bagian yang gatal tersebut sehingga bintik-bintik merah berair tersebut
pecah dan mengeluarkan cairan bening dan disertai dengan kulit yang mengelupas.
Lama-kelamaan keluhan bintik-bintik merah berair dan gatal yang dirasakan pasien
menyebar hingga ke telapak tangan. Keluhan dirasakan berkurang ketika pasien
tidak mencuci pakaian dengan tangan. Keluhan muncul kembali ketika pasien
mencuci pakaian dengan tangan. Pasien sudah membeli obat ke apotek untuk
keluhan tersebut (pasien lupa nama obatnya). Bila pasien minum obat keluhan gatal
berkurang, namun bila pasien tidak minum obat keluhan gatal muncul kembali.
ANAMNESIS

D. Riwayat Penyakit Dahulu


 Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
 Riwayat alergi tidak ada, riwayat atopi tidak ada, riwayat asma tidak ada.

E. Riwayat Penyakit Keluarga


 Tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
 Riwayat alergi di keluarga tidak ada, riwayat atopi di keluarga tidak ada.
F. Riwayat Sosial
Pasien tinggal bersama suami dan satu orang anaknya. Lingkungan disekitar
rumah padat. Pasien tinggal di rumah yang sederhana, kebersihan rumah kurang,
dinding rumah berupa beton, lantai semen/keramik, ventilasi rumah pasien kurang.
Aliran limbah bagus. Sumber air berupa air sumur, air tersebut digunakan untuk
mandi dan konsumsi sehari-hari.
 Aktivitas pasien sehari-hari yaitu sebagai buruh cuci.
 Riwayat merokok (-), konsumsi alkohol (-).
 Pasien jarang berolahraga.
 Pasien berobat ke Puskesmas menggunakan BPJS
ANAMNESIS

G. Anamnesis Okupasi
a) Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan Bahan/material Tempat kerja Masa kerja
yang digunakan (perusahaan) (dalam
bulan/tahun)
1. Penjaga toko - Toko Baju Indah 1 tahun
2. Buruh cuci Air, detergen, - 5 bulan
softener, clorin
bleach, pelicin
pakaian
ANAMNESIS

2. Uraian Tugas/Pekerjaan
Pasien adalah seorang buruh cuci. Pasien bekerja 5 hari dalam seminggu dari hari
senin sampai hari jumat, bekerja dari jam 08.00-12.00 atau sekitar 4 jam dalam
sehari. Rata-rata dalam sehari pasien mencuci pakaian sebanyak ± 2 kg, selama ± 2
jam untuk mencuci pakaian dan ± 2 jam untuk menggosok pakaian. Proses
pencucian baju diawali dengan pemilihan jenis pakaian yaitu memisahkan pakaian
putih dan berwarna, pakaian bernoda berat yang memerlukan proses penghilangan
noda serta pakaian dengan bahan khusus. Kemudin pasien membersihkan noda pada
bagian kerah baju, lengan bawah dan pada noda-noda khusus (noda darah, noda tinta
dan lain-lain).
ANAMNESIS

Setelah itu, masuk ke proses pencucian; pakaian yang sudah dipisahkan direndam ke
dalam ember berisi air yang sudah dicampur detergen, selama 10-15 menit, setelah
proses perendaman selesai pasien mulai mengucek masing-masing pakaian, setelah
dirasa bersih pakaian kemudian dibilas dengan air, hal ini diulangi hingga semua
busa hilang, kemudian pakaian direndam kembali ke dalam baskom berisi air yang
sudah dicampur softener (pelembut pakaian), selama 10-15 menit, hal ini
difungsikan untuk melembutkan pakaian dan memberikan aroma pada hasil
pencucian. Setelah proses pencucian selesai, pakaian dipindahkan ke mesin
pengering untuk dikeringkan, kemudian pakaian dijemur. Pakaian yang sudah kering
selanjutnya disetrika sambil disemprotkan pelicin pakaian setelah itu pakaian dilipat
dan disimpan.
ANAMNESIS
ANAMNESIS
C. Tabel Bahaya Potensial
ANAMNESIS
ANAMNESIS

D. Hubungan Pekerjaan dengan Penyakit yang dialami:


Pasien bekerja sebagai buruh cuci sejak 5 bulan yang lalu, dengan waktu kerja 4 jam
per hari. Dalam pekerjaannya pasien selalu kontak dengan berbagai macam bahan
iritan yang berasal dari bahan kimia, seperti detergen, pemutih, softener dan pelicin
pakaian. Pasien melakukan pekerjaan tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti
sarung tangan dan sepatu boot
BODY DISCOMFORT MAP (Tidak ditemukan)

Keterangan :
1. Tanyakan kepada pekerja atau pekerja
dapat mengisi sendiri
2. Isilah : keluhan yang sering dirasakan oleh
pekerja dengan memberti tanda/mengarsir
bagian-bagian sesuai dengan gangguan
muskulo skeletal yang dirasakan
pekerja
Tanda pada gambar area yang dirasakan :
Kesemutan = x x x Pegal-pegal = / / / / /
Baal = v v v Nyeri =
B R I E F ™ SURVEY Berikan tanda ‘v’ pada bagian kanan atau
kiri sesuai dengan hasil anamsesis / observasi
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI
PEMERIKSAAN FISIK OKUPASI

KULIT :
Eflouresensi regio manus dextra et sinistra :
Tampak makula eritema, ukuran lenticular-numular, jumlah multipel, batas tegas,
terdistribusi secara regional. Diatas efloresensi primer terdapat efloresensi sekunder
berupa erosi eritema akibat garukan pasien.
RESUME KELAINAN YANG DIDAPAT

 Seorang perempuan, 25 tahun, bekerja sebagai buruh cuci, datang dengan keluhan
gatal pada kedua telapak tangannya sejak + 2 bulan yang lalu. Awalnya pasien
mengeluhkan muncul bintik-bintik merah berair yang terasa gatal dan perih pada
ujung-ujung jari tangannya. Pasien mengatakan sering menggaruk bagian yang
gatal tersebut sehingga bintik-bintik merah berair tersebut pecah dan
mengeluarkan cairan bening dan disertai dengan kulit yang mengelupas. Lama-
kelamaan keluhan bintik-bintik merah berair dan gatal yang dirasakan pasien
menyebar hingga ke telapak tangan. Keluhan dirasakan berkurang ketika pasien
tidak mencuci pakaian dengan tangan. Keluhan muncul kembali ketika pasien
mencuci pakaian dengan tangan. Pasien sudah membeli obat ke apotek untuk
keluhan tersebut (pasien lupa nama obatnya). Bila pasien minum obat keluhan
gatal berkurang, namun bila pasien tidak minum obat keluhan gatal muncul
kembali.
RESUME KELAINAN YANG DIDAPAT

 Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada status
dermatologi, regio manus dextra et sinistra. Tampak makula eritema, ukuran
lenticular-numular, jumlah multipel, batas tegas, terdistribusi secara regional.
Diatas efloresensi primer terdapat efloresensi sekunder berupa erosi eritema
akibat garukan pasien.
A. PEMERIKSAAN PENUNJANG D. DIAGNOSIS KERJA
 Uji tempel (patch test)  Dermatitis Kontak Iritan Kronik

B. HASIL BODY MAP E. DIAGNOSIS DIFFERENSIAL


 Tidak ditemukan  Dermatitis Kontak Alergi

C. HASIL BRIEF SURVEY


 Tangan/pergelangan dan leher risiko sedang
 Punggung, siku, bahu dan kaki risiko rendah
DIAGNOSIS OKUPASI
DIAGNOSIS OKUPASI
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Dermatitis kontak adalah suatu inflamasi pada kulit yang dapat disertai dengan adanya
Based edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bahan-bahan kimia yang
berkontak dengan kulit. Berdasarkan penyebabnya, dermatitis kontak ini dibagi menjadi
dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. (Harahap, 2000)
Dermatitis kontak iritan merupakan respon inflamasi yang tidak berkaitan dengan reaksi
imun dikarenakan paparan langsung dari agen bahan iritan dengan kulit. Dermatitis kontak
iritan dibagi menjadi dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronik.
(Sularsito & Djuanda, 2005)
Dermatitis kontak iritan akut biasanya timbul akibat paparan bahan kimia asam atau basa
kuat, atau paparan singkat serial bahan kimia, atau kontak fisik. Sedangkan dermatitis
kontak iritan kronik disebabkan karena pajanan berulang oleh iritan lemah. Bahan iritan ini
biasanya berupa sabun, deterjen, surfaktan, pelarut organik dan minyak.
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Epidemiologi dan faktor risiko:


Based • Menurut American Academy Dermatology (1994), dari semua penyakit kulit akibat kerja,
lebih dari 90% berupa dermatitis kontak. (Rice & Cohen, 1996)
• Dermatitis kontak merupakan penyakit akibat kerja yang paling sering ditemukan, kira-
kira 40% dari seluruh penyakit akibat kerja adalah penyakit kulit dermatitis kontak (W.J
Cunliffe dalam Harrianto, 2008).
• Menurut Fregert (1998), beberapa pekerjaan yang mempunyai risiko terjadi dermatitis
kontak adalah petani, industri mebel dan pertukangan kayu, pekerja bangunan, tukang las
dan cat, salon dan potong rambut, tukang cuci, serta industri tekstil.
• Menurut Perdoski (2009), pekerjaan dengan risikobesar untuk terpapar bahan iritan yaitu
pemborong, pekerja industri mebel, pekerja rumah sakit (perawat, cleaning services, juru
masak), penata rambut, pekerja industri kimia, pekerja logam, penanam bunga, dan
pekerja di gedung.
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Patogenesis :
Based Mekanismenya yaitu sebagai berikut:
• Zat iritan yang memajan kulit berkali-kali akan secara berangsur-angsur menganggu
lapisan terluar kulit.
• Setiap kali kulit terpajan, mediator inflamasi dilepaskan.
• Lapisan atas kulit (epidermis) secara bertahap akan menebal (sebagai konsekuensi dari
pencetus inflamasi/zat iritan, sehingga sel-sel inflamasi memproduksi different growth
factor, termasuk epidermal growth factor/EGF dan keratinocyte growth factor/KGF yang
menstimulasi proliferasi sel fibroblast dan sel keratinosit, sehingga mengakibatkan
hyperkeratosis
• Lipid lapisan dalam kulit secara bertahap juga akan rusak.
• Lambat laun, kulit yang terkena dapat kehilangan kemampuannya sebagai barrier,
sehingga pajanan lebih lanjut akan mengakibatkan yang kerusakan lebih parah.
• Hasil akhirnya, kulit akan mengalami kekeringan, bersisik (scaling), dan penebalan.
(Johansen et al., 2011)
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Gejala klinis :


Based Awalnya pada dermatitis kontak kronik dapat muncul rasa gatal, perih dan seperti
terbakar, kemudian eritema, hiperkeratosis, dan fisur dapat timbul. Gejala tidak segera
timbul setelah paparan, tetapi muncul setelah beberapa hari, bulan atau bahkan tahun. (Wolf
et al., 2009)
Di bawah ini merupakan salah satu contoh gambaran klinis dermatitis kontak iritan
kronik akibat mencuci pakaian.
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Dasar diagnosis :


Based 1. Riwayat Klinis dan Pemeriksaan
Riwayat pekerjaan berupa deskripsi pekerjaan, seperti tugas kerja, jenis hazard (bahan,
kondisi lingkungan), alat pelindung diri yang digunakan, hubungan temporal dermatosis
dengan pekerjaan (misalnya, adanya pengurangan gejala dermatitis ketika berlibur atau
bertambah berat tanda dan gejala dermatitis ketika kembali bekerja), dan apakah ada
pekerja lain yang terkena. Selain itu, riwayat medis terdahulu, termasuk riwayat atopi dan
riwayat dermatitis pada pekerjaan sebelumnya harus dicantumkan. (Chew, 2006)
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara melihat tanda-tanda dan gejala penyakit dermatitis
kontak iritan.
2. Patch Testing
Patch testing digunakan untuk membedakan apakah dermatitis kontak merupakan
dermatitis kontak alergi atau dermatitis kontak iritan. Patch testing umumnya diaplikasikan
selama 48 jam dan biasanya dibaca dua kali, yaitu pada 48 jam dan 96 jam setelah aplikasi.
Hasil yang positif menunjukkan adanya alergi.
DIAGNOSIS OKUPASI

Evidence Bahan kimia dalam industri laundry:


Based Berikut ini merupakan bahan-bahan kimia yang digunakan dalam industri laundry :
• Detergen, merupakan bahan iritan lemah yang didalamnya mengandung surfaktan seperti
alkil benzene sulfonat yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan, adanya bahan ini
dapat mempengaruhi lapisan lipid di kulit superfisial dan kondisi hidrasi kulit.
• Pelembut pakaian, mengandung supersoft, methanol sebagai pelarut, dan senyawa aktif
ammonium kuartener klorida bersifat antibakteri terutama efektif untuk bakteri gram
positif, bersifat stabil, tidak korosif, tidak mengiritasi kulit, mampu menghilangkan dan
mencegah timbulnya bau tidak enak, selain itu biasanya juga terkandung parfum dan
pewarna.
• Penghilang noda, terdapat kandungan surfaktan sebagai pelarut noda dengan kekuatan
yang lebih dibandingkan yang ada pada deterjen dalam komposisinya, selain itu ada pula
peroksida yang memiliki sifat dapat mengoksidasi kulit.
Evidence Parfum laundry, jenis bahan kimia yang terkandung dalam parfum tergantung dari aromanya
Based dan bahan ini termasuk bahan yang sering menimbulkan terjadinya dermatitis kontak jenis
alergika, selain biang parfum sendiri ada bahan tambahan lain berupa air untuk
mengencerkan dan alkohol sebagai pelarut, alkohol ini bila konsentrasinya masih tinggi dapat
bersifat iritan. (Taylor et al., 2008; Diepgen & Coenraads, 1999)

Hubungan lama kontak dan masa kerja terhadap kejadian dermatitis kontak iritan:
• Menurut Chew, pekerja yang terpapar bahan iritan 2 jam perhari atau lebih, akan
memberi peluang besar terkena dermatitis kontak iritan.
• Hasil penelitian Loffler at al. (2006) menyatakan bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 3
tahun memiliki risiko sebesar 4,8 kali untuk berkembang menjadi dermatitis kontak iritan.
Namun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Afifah (2012), menyatakan
bahwa masa kerja tidak memiliki hubungan dengan terjadinya dermatitis kontak iritan.
(Loffler at al., 2006; Afifah A, 2012)
DIAGNOSIS OKUPASI
DIAGNOSIS OKUPASI
KESEHATAN PASIEN

 Kesehatan baik (sehat untuk bekerja = physical fitness)


 Kesehatan cukup baik dengan kelainan yang dapat dipulihkan (sehat untuk
bekerja dengan catatan)
 Kemampuan fisik terbatas untuk pekerjaan tertentu
PENGKAJIAN MASALAH KESEHATAN PASIEN

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Perempuan, 25 tahun, bekerja sebagai buruh cuci selama 5 bulan
Keluhan utama gatal pada kedua telapak tangannya sejak + 2 bulan yang lalu.
Awalnya pasien mengeluhkan muncul bintik-bintik merah berair yang terasa gatal dan
Aspek InternalAspek Internal
perih pada ujung-ujung jari tangannya. Lama-kelamaan bintik-bintik merah berair Pasien tidak memiliki kesadaran menggunakan
APD dan tidak memiliki APD yang sesuai standar
tersebut menyebar hingga ke telapak tangan. Keluhan dirasakan berkurang ketika
untuk pekerja
pasien tidak mencuci pakaian dengan tangan. Keluhan muncul kembali ketika pasien
mencuci pakaian dengan tangan. Pasien sudah membeli obat ke apotek untuk keluhan
tersebut (pasien lupa nama obatnya). Bila pasien minum obat keluhan gatal berkurang,
namun bila pasien tidak minum obat keluhan gatal muncul kembali.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada status dermatologi,
regio manus dextra et sinistra. Tampak makula eritema, ukuran lenticular-numular,
jumlah multipel, batas tegas, terdistribusi secara regional. Diatas efloresensi primer
terdapat efloresensi sekunder berupa erosi eritema akibat garukan pasien.
PROGNOSIS

PROGNOSIS DIAGNOSIS
Klinik
Ad Vitam Bonam
Ad Sanationam Bonam
Fungsionam Bonam
Okupasi
Ad Vitam Bonam
Ad Sanationam Bonam
Fungsionam Bonam
PERMASALAHAN PASIEN DAN RENCANA
PENATALAKSANAAN
DAFTAR PUSTAKA

 Chew, Ai-Lean dan Howard I. Maibach. (2006). Irritant Dermatitis. Heidelberg: Springer.
 Diepgen TL, Coenraads PJ. 1999. The Epidemiology of Occupational Contact Dermatitis. Springer-Verlag.
 Fregert, S. 1981. Contact Dermatitis (Manual of Contact Dermatitis). Yogyakarta; Yayasan Essentia Medika.
 Harahap M. 2000. Ilmu Penyakit kulit. Jakarta: Hipokrates.
 Harrianto. 2008. Penyakit Akibat Kerja Karena Pajanan Zat Kimia (Buku Ajar Kesehatan Kerja). Jakarta: EGC.
 Johansen, Jeanne D, Peter JF dan Jean PL (ed). 2011. Contact Dermatitis Fifth Edition. Heidelberg: Springer.
 Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI). 2009.
http://www.perdoski.org/index.php/public/information/news-detail/17.
 Rice RH, Cohen DE. 1996. Toxic Responses of The Skin. In: Klassen CD, editors. Toxicology The Basic Science of Poisons 5th ed. USA:
Donnelly and Sons Company.
 Sularsito SA dan Djuanda S. 2005. Dermatitis. In: Djuanda A, kepala editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi ke-4. Jakarta: FKUI.
 Taylor JS, Sood A dan Amado A. 2008. Occupational Skin Diseases Due to Irritans and Allergens. Dalam : Fitzpatricks et al, editors.
Dermatology in general medicine vol.2 7th ed. New York: Mc Graw Hill Medical.
 Wolff, Klaus dan Richard Allen Jhonson (ed). (2009). Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology Sixth Edition. New
York: The McGraw-Hill Companies.
LAMPIRAN