Anda di halaman 1dari 19

Dosen Pembimbing : H. Marbawi ,SE.

MM

Kelompok 2

INDAH SRI HANIATUL ROFI’AH


GITA DELIANA SANTI AYU SIRAIT
BERUTU
(160430135)
( 160430101)

ANISTIA ZURRAHMI LIDYAWATI PADANG


( 160430110) (160430093)

Next
Arsitektur Perbankan Indonesia
Sistematika Arsitektur Perbankan Indonesia
Deregulasi Perbankan Kebutuhan stabilitas
Mulai 1980-an Keuangan Internasional

Krisis Ekonomi Mulai


Basel Committe
1997

Usaha Penyehatan Usaha Penyehatan


Perbankan Nasional Perbankan Nasional
API

Usaha Penyehatan
Perbankan Nasional

Usaha Penyehatan
Perbankan Nasional

Usaha Penyehatan
Perbankan Nasional
ENAM PILAR API
Menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat yang mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang
berkesinambungan.
ENAM PILAR API
Menciptakan sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan mengacu
pada standar internasional.

Menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta
memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko.

Menciptakan good corporate governance dalam rangka memperkuat kondisi internal


perbankan nasional.

Mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri


perbankan yang sehat.

Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan.


Tantangan Terbesar Perbankan
Jasa keuangan adalah salah satu industri yang
mengalami perubahan dan pertumbuhan paling cepat di
banyak negara. Diantara banyak tantangan yang saat ini
paling dirasakan dalam dunia perbankan adalah tantangan
untuk mengelola resiko dengan sebaik-baiknya. Bagi sistem
perbankan di indonesia, pengelolaan resiko dengan baik
masih merupakan sesuatu yang baru. Untuk mewujudkan
perbankan indonesia yang lebih kokoh, perbaikan harus
dilakukan di berbagai bidang, terutama untuk menjawab
tantangan-tantangan yang dihadapi perbankan dalam
beberapa tahun belakangan ini.
Tantangan-tantangan tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Pertumbuhan kredit perbankan yang masih rendah
2. Struktur perbankan Indonesia belum optimal
3. Pemenuhan Kebutuhan Layanan perbankan yang masih
kurang
4. Pengawasan Bank yang masih perlu ditingkatkan
5. Kapabilitas perbankan yang masih lemah
6. Profitabilitas dan efisiensi bank yang tidak mampu
bertahan
7. Perlindungan Nasabah yang masih harus ditingkatkan
8. Perkembangan Teknologi Informasi
1. Pertumbuhan kredit perbankan
yang masih rendah
Visi arsitektur perbankan indonesia menunjukkan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memerlukan
pertumbuhan kredit perbankan yang cukup besar. Sementara itu,
kemampuan permodalan indonesia saat ini mengindikasikan bahwa
pertumbuhan kredit yang cukup tinggi tersebut sulit dicapai jika
perbankan nasional tidak memperbaiki permodalannya. . Selain
hambatan dalam hal permodalan bank, penyaluran kredit dalam banyak
hal juga terhambat oleh keengganan sebagian bank unyuk menyalukan
kredit karena kemampuan manajemen resiko dan keahlian pokok
perbankan (core banking skills)yang relatif masih lemah, dan biaya
operasional yang relatif tinggi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri
terutama bagi masing-masing organisasi bank. Disamping karena
penyaluran kredit merupakan sumber penerimaan yang penting bagi bank,
pertumbuhan kredit menjadi penting juga karena ideal bank sebagai
lembaga keuangan mempunyai peran sebagai perantara keuangan.
2. Struktur perbankan Indonesia
belum optimal
Perkembangan jumlah bank dan struktur perbankan indonesia sejak
tahun 1980-an bukanlah didasarkan pada suatu skema besar untuk
mewujudkan struktur perbankan yang ideal.
Belum optimalnya struktur perbankan di indonesia ditndai oleh
terkonsentrasinya struktur perbankan hanya pada 11 bank besar (yan
menguasai 75% aset perbankan Indonesia).
Bank – bank kecil dalam hal ini perlu mendapat perhatian karena selain
jumlahnya relative banyak, bank – bank kecil tersebut juga memiliki cakupan
usaha yang relatif sama dengan bank – bank besar namun dengan
kemampuan operasional , manajemen risiko , dan corporate governance yang
relatif lebih terbatas.
Demikian pula , dibandingkan dengan negara – negara lain , kepemilikan
pemerintah Indonesia dalam perbankan tampak cukup tinggi , bahkan
tertinggi di kawasan Asia.Hal ini juga merupakan persoalan tersendiri terhadap
struktur perbankan karena dapat menimbulkan konflik kepentingan yang akan
mengganggu efisiensi pasar .Itulah sebabnya baik dalam API maupun core
basel principles struktur perbankan merupakan salah satu hal yang penting.
3. Pemenuhan Kebutuhan Layanan
perbankan yang masih
Masih lemahnya pemenuhan kebutuhan masyarakat atas pelayanan
perbankan ditandai dengan seringnya terdengar keluhan dari masyarakat
mengenai kurangnya aksses terhadap kredit dan tingginya suku bunga
kredit serta masih banyaknya praktik penyediaan jasa keuangan informal.
Pandangan masyarakat semacam ini cukup beralasan karena walaupun
kredit korporasi dan UKM sudah mulai tumbuh, tingkat penetrasi kredit
masih relatife rendah. Selain itu, meningkatnya kompleksitas jasa dan
prosduk keuangan sebagai akibat dari globalisasi sektor keuangan juga
memerlukan respons yang memadai dari berbagai pihak yang terkait .
Sejalan dengan perubahan sosial dan politik pada masyarakat , hal ini
semkain penting mengingat masyarakat pengguna jasa keuangan
khususnya perbankan semakin menuntut kualitas pelayanan dan akses
perbankan yang semakin tinggi dan berkualitas . Kualitas pelayanan tidak
hanya menyangkut manfaat ekonomi dari pelayanan jasa keuangan tetapi
juga antisipasi terhadap efek samping dari peningkatan peran jassa
perbankan , seperti kejahatan dan penipuan .

BACK
4. Pengawasan Bank yang masih perlu
ditingkatkan
Seperti telah menjadi fokus utama dari 25 Basel Core
Principles, pengawasan bank juga merupakan bidang yang
memerlukan peningkatan dan penyempurnaan . Hal ini disebabkan
masih terdapatnya beberapa prinsip kehati-hatian yang belum
diterapkan secara baik, koordinasi pengawasan yang masih perlu
ditingkatkan , kemampuan SDM pengawasan yang belum optimal,
pelaksanaan law enforcement pengawasan yang belum efektif,
danmasih lemahnya pengawasan terkonsolidasi apalagi secara
internasional . Mengingat pengawasan bank merupakan bidang yang
sangat dinamis dan luas cakupannya , peningkatan kualitas
pengawasan merupakan upaya yang patut dilaksanakan secara
terus-menerus oleh bank Indonesia.Lembaga otoritas jasa
keuangan(OJK) merupakan lembaga lain yang suatu saat diharapkan
dapat mengefektifkan pengawasan tidak hanya pada perbankan
tetapi juga kepada lembaga keuangan yang lain.
BACK
5. Kapabilitas perbankan yang masih
lemah
Dari sisi internal, Corporate governance dan core
banking skills merupakan ukuran yang dapat dijadikan
pedoman untuk menyatakan masih lemahnya kapabilitas
perbankan . Meskipun kapabilitas beberapa bank sudah cukup
kuat, kapabilitas perbankan secara umum masih dibawah
praktik internasional terbaik,terutama dalam hal
mengantisipasi dan mengelola risiko operasional .Pentingnya
penerapan prinsip kehati-hatian, termasuk didalamnya
pengelolaan risiko, semakin menunjukkan pentingnya
penciptaan sistem pengendalian internal yang berkualitas dan
tepat .
6. Profitabilitas dan efisiensi bank
yang tidak mampu bertahan
Semua menyadari bahwa perekonomian selalu mengalami fluktuasi .
Siklus usaha ( business cycle ) tidak hanya dirasakan pada investasi disektor rill
saja tetapi juga sangat erat kaitannya dengan sektor keuangan. Tingkat
profitabilitas dan efisiensi operasional yang dicapai oleh perbankan pada
umumnya bukan merupakan profitabilitas dan efisiensi yang tidak mampu
bertahan ( Sustainable ) .Profitabilitas dan efisiensi yang berkesinambungan
memungkinkan bank mampu bertahan dan bahkan berkembang dalam
menghadapi siklus bisnis . Hal ini disebabkan oleh lemahnya struktur aktiva
produktif bank – bank . Margin yang diperoleh bank – bank semakin mengecil
karena adanya kecenderungan suku bunga yang menurun . Faktor lain dari
profitabilitas dan efisiensi yang tidak mampu bertahan ini adalah karena
sebagian pendapatan perbankkan berasal dari aktivitas perdagangan yang
fluktuatif serta rendahnya rasio asset per nasabah negara – negara lain
.Meskipun demikian , masalah rasio asset per nasabah ini bukanlah masalah
yang sederhana. Di satu sisi peningkatan asset memerlukan semakin banyak
nasabah , dan di sisi lain peningkatan nasabah secara tidak proporsional
berarti peningkatan biaya rata – rata.
7. Perlindungan Nasabah yang masih
harus ditingkatkan
Landasan dari kegiatan usaha perbankan , dan juga jasa lembaga
keuangan secara umum ,adalah kepercayaan . Tanpa adanya kepercayaan
fungsi intermediasi oleh bank tidak akan berjalan dengan lancer, dalam
kaitannya dengan penciptaan kepercayaan , perlindungan terhadap
nasabah merupakan tantangan perbankan yang berpengaruh secara
langsung terhadap sebagian masyarakat kita . Oleh karena itu , menjadi
tantangan yang sangat besar bagi perbankan dan bank Indonesia serta
masyarakat luas untuk secara bersama – sama menciptakan standar yang
jelas dalam membentuk mekanisme pengaduan nasabah dan transparansi
informasi produk perbankan . Di samping itu , edukasi pada masyarakat
mengenai jasa dan produk yang ditawarkan oleh perbankan perlu segera
diupayakan sehingga masyarakat luas dapat memahami resiko dan
keuntungan yang akan dihadapi dalam menggunakan jasa dan produk
perbankan. Salah satu perwujudan dari upaya diatas adalah munculnya
lembaga ombudsman yang mulai ada di masyarakat .
8. Perkembangan Teknologi Informasi

Risiko pengelolaan lembaga keuangan semakin bervariasi


dengan addanya kemajuan teknologi informasi . Hal ini ikut
menambah tantangan yang dihadapi oleh perbankan .
Perkembangan teknologi informasi menyebabkan makin
pesatnya perkembangan jenis dan kompleksitas produk dan
jasa bank sehingga resiko – resiko yang muncul menjadi lebih
besar dan bervariasi . Dengan adanya teknologi informasi ,
persaingan industri perbankan yang cenderung bersifat global
juga menyebabkan persaingan antarbank menjadi semakin
ketat sehingga baik bank nasional maupun bank berskala lebih
kecil juga harus mampu beroperasi dengan lebih efisien.