Anda di halaman 1dari 15

DISUSUN OLEH :

PEMBIMBING :
Fadhil Muhammad
dr. Julia E. Ginting, Sp. S
102117109

BAGIAN ILMU NEUROLOGI RSUD.DR.RM.DJOELHAM KOTA BINJAI MEDAN FAKULTAS


KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BATAM
2018
DEFINISI

• Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf


yang disebabkan oleh tetanospasmin yaitu neurotoksin
yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

• Penyakit ini ditandai oleh adanya trismus, disfagia, dan


rigiditas otot lokal yang dekat dengan tempat luka, sering
progresif menjadi spasme otot umum yang berat serta
diperberat dengan kegagalan respirasi dan
ketidakstabilan kardiovaskular.
EPIDEMIOLOGI
• Di Indonesia, insiden dan angka kematian akibat
tetanus masih cukup tinggi, karena tingkat
kebersihan masih sangat kurang, mudah terjadi
kontaminasi, perawatan luka yang kurang
diperhatikan, kurangnya kesadaran masyarakat
akan pentingnya kebersihan dan kekebalan
terhadap tetanus.

• Dengan adanya penyebarluasan program


imunisasi di seluruh dunia, maka angka kesakitan
dan kematian menurun secara drastic
ETIOLOGI
• Penyebab utama penyakit tetanus adalah bakteri Clostridium
tetani yang merupakan basil gram positif obligat anaerobik
yang dapat ditemukan pada permukaan tanah yang gembur
dan lembab dan pada usus halus dan feses hewan.

Gambar : Clostridium tetani


KLASIFIKASI
• Menurut ablett’s, kriteria tetanus ini dibagi menjadi 3
tingkatan, yaitu
I. Ringan Kasus tanpa disfagia dan gangguan respirasi

II. Sedang Kasus dengan spastisitas nyata, gangguan menelan


(disfagia) dan gangguan respirasi

IIIa. Berat Kasus dengan spastisitas berat disertai spasme berat

IIIb. Sangat Berat Sama dengan tingkat IIIa disertai adanya aktivitas simpatis
berlebihan (disotonomia).
PATOFISIOLOGI
GEJALA KLINIS
• Trias Gejala yaitu rigiditas atau kekakuan, spasme dari
otot, jika parah maka bisa disfungsi otonom

Karakteristik Dari Tetanus:


• Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama , dan
menetap selama 5-7 hari.
• Ketegangan otot terutama pada rahang dan leher.
• trismus / lockjaw.
• Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( nuchal rigidity)
• Risus Sardonicus
• Gambaran umum yang khas berupa badan kaku
dengan opistotonus
• dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan
dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak).
• Gambar : Trismus dan Risus • Gambar : Opistotonus
sardonicus
DIAGNOSIS
• Apakah dijumpai luka tusuk, luka kecelakaan atau patah
tulang terbuka, lukadengan nanah atau gigitan binatang?,
Apakah pernah keluar nanah dari telinga?, Apakah sedang

Anamnesis menderita gigi berlubang?, Apakah sudah mendapatkan


imunisasi DT atau TT, kapan melakukan imunisasi yang
terakhir?, Selang waktu antara timbulnya gejala klinis
pertama (trismus atau spasme lokal) dengan kejang yang
pertama.

Pemeriksaan • Trismus, Risus sardonicus , Opistotonus, Perut papan,


Pada tetanus yang berat akan terjadi
gangguan pernafasan sebagai Pada tetanus yang berat
fisik akan terjadi gangguan pernafasan sebagai .

• Laboratorium
Pemeriksaan • EKG dan EEG normal
penunjang • Kultur anaerob dan pemeriksaan mikroskopis
nanah yang diambil dari luka
DIAGNOSIS BANDING
1. Meningitis bakterial
2. Poliomyelitis
3. Rabies
4. Tetani
PENATALAKSANAAN
A. Umum

• Merawat dan membersihkan luka


• Diet cukup kalori dan protein
• Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara, cahaya
dan tindakan terhadap penderita
• Oksigen, pernafasan buatan bila perlu.
• Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
B. Khusus (Obat- obatan)

1. Antibiotika
• Diberikan parenteral Peniciline 1,2 juta unit/ hari selama 10 hari, IM.
2. Anti Tetanus Toksin
• dosis 50.000-100.000 u yang diberikan setengah lewat i.v. dan
setengahnya i.m. pemberian lewat i.v.diberikan selama 1-2 jam.
3. Antitoksin lainnya
• Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali
pemberian saja
4. Tetanus toksoid
• Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama, dilakukan bersamaan
dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat
suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M.
5. Antikonvulsan
• Diazepam 0,5 – 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM)
KOMPLIKASI
1. Saluran pernapasan
• asfiksia, pneumonia aspirasi, atelektasis, Pneumothoraks dan mediastinal
emfisema
2. Pada kardiovaskular
• berupa aktivitas simpatis meningkat antara lain berupa takikardia,
hipertensi, vasokonstriksi perifer dan rangsangan miokardium.
3. Pada tulang dan otot
• bisa terjadi perdarahan dalam otot. Pada tulang dapat terjadi fraktur
columna vertebralis
PROGNOSIS

Dipengaruhi oleh beberapa faktor

1. Masa inkubasi : umumnya bila inkubasi < 7 hari tergolong berat.


2. Umur : pada neonatus maka prognosanya makin buruk.
3. Onset : Kurang dari 48 jam, prognosanya dapat buruk.
4. Demam : Pada tetanus tidak selalu ada febris. Adanya hiperpireksia
prognosanya jelek.
5. Pengobatan : Pengobatan yang terlambat prognosanya buruk.
6. Ada tidaknya komplikasi
7. Frekusensi kejang, semakin sering prognosanya makin buruk.