Anda di halaman 1dari 29

KELAINAN TEMPAT

KEHAMILAN

dr. Anita Deborah Anwar, SpOG

Bagian/SMF Obstetri & Ginekologi FKUP/RSHS


Bandung
KEHAMILAN EKTOPIK :

Kehamilan di tempat yang tidak biasa


(tuba, ovarium, rongga perut, cervix, dll)

Kebanyakan terjadi dalam tuba

1. Kehamilan tuba
Angka kejadian 1 : 150 kehamilan
Dipengaruhi faktor sosial kejadian
infeksi G.O. tinggi
SEBAB KEHAMILAN TUBA :
a. Keadaan yang mempersulit perjalanan ovum ke
dalam cavum uteri
 salpingitis kronika
 kelainan kongenital tuba
 tumor yang menekan tuba
 perlekatan tuba dg dinding sekitar
 migrasi eksterna

b. Tuba yang panjang


Pada hipoplasia uteri
c. Hal yang memudahkan nidasi
Endometrium ektopik dalam tuba
Menurut tempat nidasi dibedakan :

 Kehamilan ampuler
 Kehamilan isthmik
 Kehamilan interstitial

Catatan : Yang paling sering terjadi kehamilan


isthmik

Perkembangan kehamilan tuba : tidak dapat


mencapai cukup bulan, biasanya berakhir pada
minggu VI sampai minggu XII
Berakhirnya kehamilan tuba ada 2 cara :
 ABORTUS TUBA
 RUPTUR TUBA

ABORTUS TUBA
Sel telur bertambah besar menembus selaput
lendir tuba perdarahan timbul karena
abortus ke luar dari ujung tuba, mengisi cavum
Douglasi hematokel retrouterina
Pada keadaan ujung tuba tertutup karena
perlekatan darah terkumpul dalam tuba
hematosalphinx
RUPTURA TUBA :
Sel telur menembus lapisan otot tuba ke arah
cavum peritonei. Terutama terjadi bila
implantasi pada isthmus tuba
Ruptur bisa terjadi spontan atau violent,
misalnya pada toucher, defekasi, coitus
Ruptur biasanya terjadi ke dalam cavum
peritonei, tetapi kadang-kadang ke dalam
ligamentum latum
GEJALA :

Kehamilan ektopik biasanya baru memberi gejala


yang jelas dan khas kalau sudah terganggu.
 Nyeri perut
 Amenore
 Perdarahan pervaginam
 Syok
 Nyeri pada palpasi
 Nyeri pada vaginal toucher
 Pembesaran uterus
 Tumor dalam rongga panggul
 Kadar Hb menurun
DIAGNOSIS BANDING

Kehamilan ektopik harus dibedakan dari :


1. Radang alat-alat dalam panggul
2. Abortus biasa
3. Perdarahan karena pecah kista folikel atau
korpus luteum
Untuk membantu diagnosis dapat dilakukan :
 Test kehamilan
 Douglas punksi
 Ultrasonografi
 Laparoskopi
PENGOBATAN

Segera dilakukan tindakan operasi

PROGNOSIS

Kehamilan ektopik merupakan salah satu


penyebab kematian yang penting bila tidak
segera ditangani harus segera
ditentukan terapi
2. Kehamilan interstitial
Implantasi sel telur terjadi dalam pars
interstitialis tuba
Karena lapisan miometrium di sini lebih tebal,
maka ruptur terjadi lebih lambat bulan ke
3-4.

3. Kehamilan abdominal
Insidensi 1 : 1500 kehamilan
Terdiri dari 2 macam :
 Kehamilan abdominal primer
 Kehamilan abdominal sekunder
Kebanyakan kehamilan abdominal sekunder

Adakalanya mencapai cukup bulan, tapi


seringkali janin meninggal sebelum mencapai
aterm (bulan ke-5 - 6) karena intake
makanan tidak sempurna.

Janin yang mencapai cukup bulan prognosa-


nya kurang baik karena banyak yang meng-
alami kelainan kongenital.
Nasib janin yang mati intra abdominal dapat
mengalami :
 Pernanahan kantong kehamilan menjadi
abses
 Kalsifikasi lithopedion
 Perlemakan adipocere
Gejala :

 Semua tanda kehamilan ada


 Kontraksi Braxton Hicks (-)
 Gerak anak dirasakan nyeri
 BJA lebih jelas terdengar
 Di samping anak dapat teraba massa rahim yang
membesar
 X-foto : anak letak paksa
 Kalau sudah ada his/pembukaan cavum
uteri kosong
Pemeriksaan penunjang :
 Test oksitosin
 Foto sonde
 Histerografi

Terapi :
Segera dilakukan operasi karena bahaya
perdarahan, ileus, prognosis anak.
4. Kehamilan ovarial

Jarang terjadi & biasanya berakhir dengan


ruptur pada hamil muda

5. Kehamilan cervical

Jarang terjadi
Nidasi terjadi dalam selaput lendir cervix
Biasanya berakhir pada kehamilan muda
ABORTUS
Definisi :

Berakhirnya kehamilan pada umur


kehamilan  20 minggu atau berat janin 
500 gram.

Klasifikasi :
I. Abortus Spontan : 20%
II. Abortus Provocatus : 80%.
I. Faktor Zigot :
- Kelainan Ovum

Etiologi - Kelainan Sperma


- Kelainan Kromosom

II.Faktor Ibu :
- Infeksi
- Penyakit Kronis
- Kelainan Endokrin
- Malnutrisi
- Kelainan Alat Reproduksi
- Trauma Fisik
- Obat-obatan
- Faktor immunologis
Patofisiologi

Perdarahan desidua basalis



Nekrosis jaringan sekitarnya

“ Benda Asing “

Kontraksi Uterus

Ekspulsi
Abortus Imminens
Abortus mengancam, buah kehamilan masih
mungkin dipertahankan.

Klinis :
- Perdarahan sedikit
- Nyeri perut (-) atau ringan
- Ostium terbuka.

Terapi :
- Rawat jalan
- Tirah baring
Abortus Insipiens
Abortus sedang berlangsung & berakhir dengan
abortus komplit / inkomplit.

Klinis :
- Perdarahan banyak
- Kontraksi rahim (-)
- Ostium Terbuka

Terapi :
Evaluasi
Abortus Inkomplit
Sebagian buah kehamilan terus keluar dan masih
terdapat sisa dalam rongga rahim.

Klinis :
- Perdarahan banyak.
- Kontraksi rahim (+).
- Ostium terbuka, teraba jaringan

Terapi :
- Evaluasi
- Uterotonika
- Antibiotika
Abortus Komplit
Seluruh buah kehamilan telah ke luar dari
rongga rahim.

Klinis :
- Perdarahan sedikit
- Ostium tertutup / terbuka dengan rongga uterus
kosong.

Terapi :
- Antibiotika
- Uterotonika
Abortus Tertunda
Tertahannya hasil konsepsi yang telah mati > 8
minggu dalam rahim

Klinis :
- Perdarahan (+) / (-)
- FU lebih kecil
- BJA (-)

Terapi :
- Evaluasi
- Uterotonika
- Antibiotika
Mola Hidatidosa
1. MH. Komplit
2. MH. Parsial

Histologis :
- Villi Chorionic Abnormal
- Proliferasi trofoblas
- Edema Stroma Villus

Insidens 1 : 1000 kehamilan


Diagnosis
- Amenore
- Perdarahan per vaginam
- Uterus lebih besar
- Tanda pasti kehamilan (-)
- Gelembung Mola (+)

Pemeriksaan Penunjang :
- Lab :  hCG, T3, T4, TSH.
- USG
- Foto Thorax
Prognosis
± 20%  TTG

Terapi 1.Perbaiki KU
2.Evaluasi :
a.Kuretase Vakum
b.Histerektomi

3.Follow Up
Follow Up
Tujuan : - deteksi dini keganasan
- lama : 1 tahun dengan KB

Jadwal
1 mg pasca evaluasi
3 bulan I : 2 mgg sekali
3 bulan II : 1 bl sekali
6 bulan terakhir 2 bulan sekali

Pemeriksaan :
1.Klinis &  hCG
2.USG