Anda di halaman 1dari 33

PERTANIAN ORGANIK

Mauludin Ahmad 155040201111312


Herlana Putri S. 155040201111325
Syamsul Arifin 155040207111011
Nadia Budi Lestari 155040207111033
Vanya Natasha 155040207111036
Novan Rozaq G. 155040207111100
Ryan Samuel G 155040207111117
Pendahuluan
• Limbah Industri merupakan bahan sisa yang
dikeluarkan akibat proses industri.Dari hasil penelitian
ditemukan bahwa beberapa limbah industri hasil
pertanian dapat digunakan sebagai pupuk organik yang
mampu memperbaiki kesuburan dan produktifitas
tanah. Pupuk organik sangat berpengaruh dalam
memperbaiki sifat-sifat tanah,memperbaiki daerah
perakaran , dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme
tanah. Pentingnya pemanfaat limbah industri sebagai
pupuk dalam membantu proses budidaya pertanian
sebagai alternatif daripada penggunaan pupuk
anorganik yang semakin mahal, juga dapat menjadikan
lingkungan lebih bersih dengan mengurangi daripada
tumpukan limbah industri.
limbah
Indust padat kepentingan
ri maupun pertanian
cair
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PABRIK
GULA TEBU
(INKUBASI DAN AERASI)
• Langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi
pencemaran, khususnya pencemaran air adalah
dengan mengolah air buangan tersebut sebelum di
buang ke badan sungai, salah satu langkah yang
dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat
pencemaran yaitu dengan penyerapan (adsorbsi)
menggunakan zeolit maupun bahan pengendap
(koagulan) tawas dan perlakuan menggunakan ozon
(O3). Zeolit digunakan untuk mengikat koloid-
koloid dalam limbah, tawas berfungsi
mengendapkan koloid dan ozon untuk mereduksi
senyawa organik, bau, warna dan menurunkan COD
dan BOD.
• Aerasi merupakan suatu usaha penambahan
konsentrasi oksigen yang terkandung dalam
limbah, agar proses oksidasi biologi oleh
mikroba akan dapat berjalan dengan baik.
• Variabel waktu inkubasi memiliki nilai
signifikansi yang lebih kecil dari taraf
signifikansi (P<0,05), sehingga waktu inkubasi
berpengaruh terhadap kemampuan bakteri
mendegradasi limbah cair kulit ditinjau dari
paramater BOD, COD, TSS, dan pH.
• Maka kesimpulanmnya yaitu, pemakaian bahan-
bahan koagulan dan absorben tawas, zeolit dan
kapur yang dikombinasikan dengan proses
ozonisasi dapat menurunkan nilai BOD dan
COD limbah cair industri gula dengan sangat
signifikan, yaitu BOD dari 324 ppm menjadi 19
ppm dan COD dari 660 ppm menjadi 40 ppm.
Sehingga dapat memenuhi baku mutu limbah
yang dipersyaratkan.
Penggunaan Limbah Industri Untuk
Pertanian
• Pengolahan limbah industri pabrik gula yaitu
dengan pemanfaatan limbah pabrik dari tebu, dapat
memberikan nilai lebih. salah satunya yaitu dapat
menghilangkan atau menyisihkan kontaminan,
walaupun secara umum pengelolaan limbah seperti
limbah cair, yang dikeluarkan pabrik gula merupakan
limbah organik namun limbah tersebut bukanlah
limbah bahan beracun dan berbahaya.
Pengaruh limbah cair terhadap sifat
fisik tanah
• berpengaruh agar limbah tersbut mempunyai
derajat kemasaman yang tinggi, limbah cair
pabrik gula tebu tersebut yang merupakan hasil
dari proses kristalisasi gula tebu yang
diantaranya menggunakan belerang dan melalui
penguapan bertingkat.
Pengaruh limbah cair terhadap sifat
kimia tanah
• berpengaruh pada pemberian limbah, namun
pengaruh tersebut tidak terlalu nampak
perubahannya terhadap peningkatan pH
(derajat kemasaman) tanah, tetapi perubahan
tersebut tampak pada pH hanya terjadi pada
pemberian limbah asli yang diperkaya, yang
disebabkan adanya asupan kapur dolomit.
Pengaruh terhadap kelimpahan
mikroorganisme tanah
• dipengaruhi oleh lingkungan berupa
ketersediaan sumber energi seperti bahan
organik dan hara tanah, suhu, udara, dan
kelembapan.
penggunaan sipramin untuk pertanian
Latar Belakang
Ketahanan pangan menduduki posisi penting dan
strategis dalam menjaga stabilitas dan ketahanan
nasional, Sektor pertanian berperan penting guna
membangun sistem ketahanan pangan nasional
yang tangguh berwawasan agribisnis.Upaya
memenuhi kecukupan dan perbaikan kualitas
pangan ditempuh melalui perbaikan aksesibilitas
petani terhadap pupuk, benih, dan
permodalan.Keberhasilan produksi pertanian
melalui kegiatan intensifikasi tidak lepas dari
kontribusi dan peranan sarana produksi pertanian.
Pendahuluan

melonjak
dana memburu
harga
subsidi k situasi
pupuk kelangkaa
pupuk perekono
menjadi n pupuk
tunggal mian
tak stabil
pupuk organik menurut sumbernya
Sumber Asal bahan Bentuk

Pertanian - Pangkasan tanaman legum - Padat

- Sisa hasil panen tanaman - Padat

- Limbah ternak besar - Padat dan cair

- Limbah ternak unggas - Padat

- Kompos - Padat

Nonpertanian - Limbah organik kota - Padat dan cair

- Limbah penggilingan padi - Padat dan cair

- Limbah organik pabrik gula - Padat dan cair

- Limbah organik pabrik kayu(serbuk gergaji) - Padat

- Gambut (abu bakar gambut)- Limbah pabrik bumbu masak - PadatPadat dan cair
Permasalahan yang timbul akibat
pupuk organik yang dikomposkan
• harga kompos mahal
• ketidakseimbangan hara dalam kompos
• penjualan kompos yang belum matang
• pencemaran lingkungan
• komposisi fisik kimia dan biologi tidak konsisten
• kurangnya pengawasan kualitas kompos
• penggunaan pupuk organik yang boros
Baku mutu pupuk organik
Limbah cair pabrik
CPO
1. Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap sifat fisik tanah
2. Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap sifat kimia tanah
3. Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap tanaman jagung
Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap sifat fisik
tanah
• Limbah yang dihasilkan secara terus-menerus dalam jangka
panjang akan menimbulkan masalah karena sifatnya yang
akumulatif. Akumulasi limbah berkaitan dengan daya sangga
tanah. Beberapa faktor yang mempengaruhi dayasangga tanah
diantaranya kapasitas jerapan, perkolasi (meloloskan), danlama
infiltrasi. tiap jenis tanah mempunyai daya sangga yang berbeda
terhadap limbah cair yang menggenanginya
Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap sifat kimia tanah

• Pengaruh pemberian limbah kolam terhadap kimia tanah Inceptisol


dan Ultisol terlihat pada Tabel 14. Hasil analisis menunjukkan
setelah masa inkubasi selama 1-3 bulan terjadi beberapa perubahan.
Pengaruh limbah cair pabrik CPO terhadap tanaman
jagung
• Pemberian limbah cair CPO pada tanaman
kontrol, menyebabkan
kecambah mati (Anwar et al., 2000). Pada
tanaman umur 3 minggu yang ditanam pada
tanah Inceptisol menyebabkan tanaman
mengalami klorosis dimulai dari pangkal batang
menjalar ke bagian atas tanaman kemudian mati
setelah 3 hari pemberian limbah
Pengelolaan Limbah Kelapa
Sawit
Limbah kelapa sawit berupa tandan buah kosong
umumnya sebagian telah dimanfaatkan untuk
keperluan khusus seperti keset, dan lain-lain.
Dalam pertanian limbah tandan buah kosong perlu
dikomposkan terlebih dahulu. Proses
pengomposan bisa dipercepat dengan
menambahkan dan mencampur tandan buah
kosong dengan mikroorganisme perombak,
kemudian dibenam ke dalam tanah
• Kedalaman pembenaman di dalam tanah
disesuaikan dengan jenis tanah. tanah yang
mengandung liat tinggi pembenaman cukup
sekitar 10 cm sedangkan pada tanah yang
mengandung pasir tinggi pembenaman perlu
dilakukan lebih dalam sampai 20 cm di bawah
permukaan tanah, agar proses dekomposisi bisa
berlangsung relatif lebih cepat
• Sisa proses pembuatan CPO dengan uap panas untuk
mengeluarkan minyak dalam buah kelapa sawit
melalui kondensasi dan penyaringan, dan sisanya
disalurkan dan ditampung di kolam. Kandungan
kation dan anion pada limbah cair CPO disajikan pada
Tabel 3 dan 4.
Pengelolaan limbah pabrik penyedap
masakan
• Limbah pembuatan penyedap masakan dapat
diolah menjadi pupuk bagi tanaman, yang
disebut sebagai sipramin / sisa proses asam
amino. Sipramin merupakan bahan organik cair
yang berasal dari hasil samping pembuatan
penyedap masakan (monosodium glutamate
atau MSG), dari bahan baku tetes tebu
• Proses kristalisasi/pemurnian MSG pada
sipramin Orgami
• Proses kristalisasi/pemurnian Saritana
menggunakan asam klorida (HCl)
• Sipramin Bagitani dan Amina selain menggunakan HCl juga
menggunakan asam sulfat H2SO4 dan karbon aktif
Penelitian empat macam sipramin dari: (1) Bagitani,
produksi PT Cheil Samsung Indonesia, Pasuruan;
(2) Amina, produksi PT Ajinomoto Indonesia,
Mojokerto; (3) Saritana, produksi PT Sasa Inti,
Probolinggo; dan (4) Orgami, produksi PT Miwon
Indonesia, Gresik telah dilakukan oleh Premono et
al. (2001). Pada empat jenis limbah penyedap
masakan terdapat adanya variasi proses pembuatan
sipramin dari keempat pabrik tersebut
Pada Tabel 5 dan 6. nampak bahwa kandungan hara sipramin yang menonjol adalah N bervariasi
dari 3,50–7,01%. Selain itu kadar bahan organik dapat mencapai 16,1%. Sementara itu natrium
(Na), belerang (S), dan khlor (Cl) merupakan unsur yang sering ditemukan agak tinggi dalam
cairan sipramin. Saritana memiliki variasi kadar Na lebih tinggi dibanding ketiga sipramin lainnya.