Anda di halaman 1dari 48

Pertemuan ke-2

Modul 3 (Perkembangan Pendidikan Sekolah


dasar) dan Modul 4 (Karakteristik
Perkembangan Siswa Sekolah Dasar)
Nama Kelompok :
Ayu Tika Ariani (836871425)
Endang Sumini (836871719)
Fitri Nurhayati (836869174)
Happy Susilowati (836869024)
Nurul Faikoh (836876678)
Martha Setyowati (836872237)
Mike Wadina (836868964)
KB 1. Perkembangan Pendidikan Sekolah
di Era Orde Baru
Perkembangan Pendidikan Sekolah Dasar
di Era Orde baru

Era orde baru berawal dari pemerintahan orde lama dibawah


kepemimpinan Ir.Soekarno (1945-1965), yang kemudian
dilanjutkan pada pemerintahan Soeharto (1967-1998) atau lebih
dikenal dengan era orde baru. Era orde baru berakhir pada masa
kepemimpinan BJ Habibie (21 Mei 1998) yang merupakan simbol
dari reformasi.
Ada 3 hal penting dalam perkembangan pendidikan sekolah
dasar pada era orde baru yaitu:
A. Perundang-undangan
Semua ketentuan perundang-undangan berdasar pada pasal 31 UUD 1945, jadi
Pendidikan Nasional merupakan produk sejarah dalam pemikiran bangsa
Indonesia untuk mewujudkan salah satu tujuan pemerintahan negara
Indonesia, seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia keempat.
Ketentuan perundang-undangan pertama yg mengatur sistem pendidikan
nasional sesuai Pasal 31 UUD 1945 adalah :
1. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Pengajaran Nomor 104/Bhg O,
Tanggal 1 Maret 1946 tentang Pembentukan Pengajaran Penyelidik Pengajaran
RI. Di bawah Ki Hajar Dewantara;
2. UU No. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan, Pengajaran, dan
Kebudayaan (PPK);
3. UU No. 12 tahun 1954 tentang Dasar –dasar Pendidikan, Pengajaran, dan
Kebudayaan (PPK), yg merupakan pemberlakuan UU No. 4 tahun 1950 tentang
Dasar-dasar Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK) diseluruh RI bekas
RIS;
4. Keputusan Presiden No. 145 Tahun 1965 tentang
Perumusan Tujuan Pendidikan sesuai dengan Manipol-
USDEK;
5. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966, tentang Agama,
Pendidikan, dan Kebudayaan, yg mengganti rumusan
tujuan Pendidikan Nasional menurut Keputusan
Presiden No. 145 Tahun 1965 tentang Perumusan Tujuan
Pendidikan sesuai dengan Manipol-USDEK;
6. UU No. 22 Tahun 1961, khusus mengatur tentang
Perguruan Tinggi
7. UU No. 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS), yg mengatur pendidikan
nasional dalam satu sistem-SISDIKNAS.
B. Kebijakan Strategis
 Kebijakan strategis artinya keputusan manajemen yang bersifat mendasar dan
menyeluruh dari sebuah organisasi , dalam hal ini negara merupakan organisasi
tertinggi yang memiliki kekuatan dan alat-alat untuk memaksa warganya.
 Kebijakan strategi bersifat nasional yang mencakup seluruh sektor kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (ideologi, politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan, dan keamanan, dan agama.
 Pengembangan pendidikan nasional pada Repelita V (1990/1991-1993/1994) secara
keseluruhan, didasarkan pada UU tersebut, sehingga setiap warga negara RI
diharapkan “...memperoleh sekurang-kurangnya pengetahuan dan kemampuan
dasar, yang meliputi kemampuan membaca, menulis, dan behitung, serta
menggunkan Bahasa Indonesia, yang diperlukan oleh setiap warga negara untuk
dapat berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
C. Isi dan Proses Pendidikan SD
Secara singkat isi dan proses pendidikan mencakup
kurikulum dan perangkat pendidikan lainnya serta
pengelolaan pendidikan secara keselurahan.
a. Kurikulum dan perangkat pendidikan
Isi pendidikan dasar diterapkan sekurang-kurangnya 13
bidang kajian, yaitu ; Pendidikan Pancasila,Agama,
Kewarganegaraan, bahasa Indonesia,Membaca dan
Menulis, Matematika,Pengantar Sains dan Teknologi, Ilmu
Bumi, SNSU, KTK, PenJaskes, Menggambar, dan Bahasa
Inggris.
b. Pengolahan
Dengan melaksanakan program perluasan dan pemerataan
kesempatan belajar yang kita kenal Wajib Belajar SD, yaitu :
1. Daerah terpencil secara geografis karena letaknya berjauhan dengan
daerah lain dan komunikasi yang sulit, SD yang terdiri atas dua atau
tiga guru untuk melayani murid pada 6 kelas dengan diterapkan
pembelajaran kelas rangkap melalui program satuan bakti guru
daerah terpencil seperti di Kepulauan Riau
2. Daerah dengan penduduk yang padat, daerah perkotaan
dikembangkan gedung bertingkat dengan ruang belajar lebih dari 6
ruangan agar dapat menampung murid lebih dari 300 orang.
3. Daerah normal, daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk di
bawah 1000 orang per kilometer persegi, sehingga dibangun gedung
SD dengan enam ruangan untuk enam kelas. Melalui SD Tradisional (
Konvensional), SD Pamong, Program Kejar Paket A, SLB, SDLB,
Sekolah Terpadu.
A.Ketentuan Perundang-undangan Terkait Pendidikan SD

Perkembangan Pendididkan nasional pada Era Reformasi tidak


bisa dilepaskan dari perkembangan pendidikan masa Orde Baru
(ORBA). Pada masa ORBA dibingkai secara komprehensif dalam
Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I) 1969/1970 – 1993/1994 dan
bagian awal dari PJP II tahun 1994/1995 -2018/2019.
Perundangan yang mengatur SISDIKNAS pada Era Reformasi
adalah pasal 31 UUD 45 sebelum dan sesudah diamandemen yang
dijabarkan dalam UU No.2 Tahun 1989
UU No 20 Tahun 2003 dengan Peraturan pemerintah RI (PP RI No 19
Tahun 2005) Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)
B. Berbagai Kebijakan Strategi Terkait Dan Atau
Tentang Pendidikan SD Dalam Konteks
Pembagunan Pendidikan Nasional.
 Pembangunan Pendidikan Nasional berdasarkan GBHN yang tertuang
dalam Tap MPR No II/MPR/1998. GBHN memeuat tentang kerangka
nasional tentang (PJP II) (1998-2023) sektor pendidikan digariskan sbb:
“ Terwujudnya masyarakat yang makin sejahtera lahir batin secara
adil dan merata, terselenggaraanya pendidikan nasional dan
pelayanan kesehatan yang makin bermutu dan meratayang
mampu mewujudkan yang beiman dan bertakwa tentang Tuhan
YM,berbudi luhur,sehat,cerdas,patriotik,berdisiplin,kreatif
,produktif dan profesioanal; makin mantapnya budaya bangsa
yang tercermin dalam meningkatnya peradapan ,harkat
martabat manusia Indonesia dan memperkuat jati diri dan
kepribadian bangsa”
 Untuk sektor Pendidikan digariskan sejumlah prinsip pembangunan,
(GBHN,1998: 124-128) yang secara singkat dapat dikemukakan bahwa
pendidikan nasional :
 Berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasrkan Pancasila dan UUD 45.
 Diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber
daya manusia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan YME ,berakhlak musia
berbudu pekerti luhur ,memiliki pengetahuan keahlian dan ketrampilan,kesehatan
jasmani dan rohani serta kepribadian yang mantap dan mandiri.
 Harus menumbuhakan dan mempertebal rasa cinta tanah air,meningkatnya
semnagat kebagsaa,wawasann keunggulan ,kesetiakawanan sosial dan kesadaran
pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan dan berorientasi masa
depan.
 Perlu ditata dan dikembangkan dimantapkan secara terpadu dan serasi baik antar
berbagai jalur,jenis dan jenjang pendidikan maupun antar sektor pendikan atau
sektor pembangunan lainya serta antar daerah dengan menggunakan menejemen
yang mutakhir efektif dan efisien..
 Mengutamakan pemerarataan dan peningkatan pendidikan dasar ,kualitas
pendidikan kejuruan,pendidikan profesional serta meningkatkan wajib belajar
sembilan tahun.
 Memberi kesempatan pada masyarakat seluas-luasnya berperan setta dalam
penyelenggaraan pendidikan nasional sesuai dengan perundang – undangan.
 Disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi dan tuntutan
kebutuhan serta perkembangan pembangunan.
 Melanjutkan dan meningkatkan pendiddikan pancasila termasuk P4,PMP,
pendidikan agama dan PKN disemua jalur,jenis dan jenjang pendidikan termasuk
prasekolah sehingga terbentuk watak bangsa yang kukuh.
Semua ketentuan perundang undangan yang menjadi turunan dari UU No 2
Tahun 1989 yang tidak bertentangandengan UU No 20 tahun 2003 masih
berlaku. Pada tahun 2004 di undangkan UU RI No 25 Tahun 2004.yang
mencakup Rencana Pembanguann jangka panjang ( RPJP) (20 tahun ) dan
menengah ( 5 tahun). Untuk pelaksanaannya di undangkan Perpres RI No 7
Tahun 2005 tentang (RPJM) .Peningkatan relevansi pendidikan cirinya:

 Meningkatna proporsi pendidik formal dan non formal yang memiliki


kualifikasi minimum dan sertiikasi sesuai dengan jenjang kewenangan
mengajar.
 Meningkatnya kualitas hasil belajar yang diukur dengan meningkatnya
presentasi siswa yang lulus evaluasi hasil belajar.
 Meningkatnya hasil penelitian,pengembangan dan penciptaan ilmu
pengetahuan dan tehnologi oleh PT dan lembaga Litbang serta
penyebarluasan dan penerapanya pada masyarakat.
Untuk SD sesuai UU No 4 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.Rincian
prioritas yang terkait pendidikan SD adalah sebagai berikut;

 Penyelenggara Wajar Dikdas 9 tahun termasuk didalamnya SD/MI 6 tahun


 Penyelenggara pendidikan non formal yang bermutu ,dalam hal ini pendidikan kesetaraan Paket
A yang setara SD,bagi masyarakat yang akses pendidikannya tidak terpenuhi oleh pendidikan
 Pengembangan kurikulum SD yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
tehnologi, perkembangan global,nasional dan lokal.
 Perkembangan pendidikan kewarganegaraan ,pendidikan multikultural,dan pendidikan budi
pekerti ,termasuk pendidikan kesenian ,kebbudayaan dan lingkungan hidup.
 Penyedia pendidik dan tenaga pendidikanSD/MI yang profesional.
 Penyedia sarana dan prasarana pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
 Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik SD/MI.
 Mengembangkan tehnologi komunikasi dan informasi dalm pendidikan.
 Mengembangkan sistem evalusi,akroditasi dan sertifikasi guru SD/MI.
 Menyempurnakan manejemen pendidikan dengan meningkatkan otonomi dan desentralisasi
pendiddikan.
 Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembnagunan pendiddikan.
 Menata sistem pembiayaan pendidikan yang bersifat adil efisien dan efektif ,tranfaran dan
akuntabel,termasuk penerapan pembiayaan pendidikan berbasis jumlah siswa.
 Peningkatan anggaran pendidikan hingga 20 % dari APBN danAPBD.
 Meningkatkan penelitian dan pengembangan untuk mendukung pelaksanaan Wajar Dikdas 9
tahun.
Ketentuan perundangan yang merupakan turunan dari UU No 20 tentang Tahun 2003
yang terkait pendidikan Dasar yakni PP RI No 19 tahun 2005 tentang SNP. Sistem dalam
desentralisasi pemeritah di undangkan UU NO 22 tahun 2002 tentang pemerintah
daerah kemudian di ganti UU No 32 Tahun 2004 pemerintah daerah yang dilengkapi PP
No 38 tahun 2007. Yang menjadi kewenagan pemerintah daerah:

 Pemerintah daerah Provinsi m3miliki kewenangan atas urusan wajib mengenai


pendidikan SD sebagai berikut:
 Perencanaan strategis
 Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan Satuan pendididkan Dasar bartaraf
internasional.
 Pemantauan dan evalusi Satuan Pendidikan Dasar bertaraf internasional
pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai dengan kewenagannya.
 Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar.
 Pengawasan pendayagunaan bantuan dan sarana dan prasarana pendidikan.
 Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga pendidikan Satuan pendididkan
Dasar bartaraf internasional. Sesuai denagn kewenanganya.
 Pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan antar kabupaten/kota.
 Peningkatan kesejahteraan,penghargaan dan perlindungan hukum
pendidik dan tenaga pendidikan Satuan pendididkan Dasar bartaraf
internasional.
 Pembinaan dan pengembangan pendididk dan dan tenaga pendidikan PNS
pada Satuan pendididkan Dasar bartaraf internasional.
 Membantu pelaksanaan ujian nasional.
 Penyedian biaya ujian sekolah sekala provinsi.
 Pelaksana evaluasi pengelola Satuan pendidikan Satuan pendididkan Dasar
bartaraf internasional.pelaksana evalusi pencapaian standar nasioanl.
 Membantu pemerintah dalam pelaksanaan akriditasi.
 Supervisi dan fasilitasi Satuan pendididkan Dasar bartaraf internasional.
Dalam penjaminan mutu standar internasional.
 Evaluasi pelaksanaan dampak penjaminan mutu satuan pendidikan skala
provinsi.
 Pemerintah daerah kabupaten/kota memiiki kewenangan atas urusan wajib mengenai pendidikan
SD/MI sebagai berikut:

 Penetapan kebijakan operasional pendiddikan dikabupaten kota.


 Perencanaan operasioanl pendidikan SD sesuai dengan perencanaan strategis tingkat provinsi dan
nasioanl.
 Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tinglat kabupaten.
 Pengelolaan dan penyelenggara pendiddikan.
 Pemberian ijin pendirian serta pencabutan izin pendirian satuan pendiddikan.
 Penyelengaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidik SD bartaraf internasional.
 Pemberian ijin pendirian serta pencabutan izin pendirian satuan pendidikan berbasis keunggulan
lokal.
 Penyelenggara dan/atau pengelola pendidikan berbasis keunggulan lokal.
 Peremajaan dat adalam sistem informasimanejemen pendiddikan nasional untuk tingkat
kabupaten/kota
 Penyediaaan bantuan biaya penyelenggara pendidikan sesuai denagn kewenangannya.
 Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendiddikan sesuai denag kewenagannya.
 Koordinasi dan supervisi pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
 Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum
 Sosialisasi standar isi dan standar kompetensi lulusan.
 Sosialisasi dan implementasi KTSP.
 Pengawasan pelaksanaan KTSP
 Pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional.
 Pengawasan terhadap bantuan sarana dan prasarana pendiddikan.
 Pengawasan penggunaan buku pelajaran.
 Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependiddikan.
 Pengangkatan dana peempatan pendidikan dan tenaga pendidikan PNS.
 Pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan PNS.
 Peningkatan kesejahteraan,penghargaan dan perlindungan hukum pendidik dan tenaga pendidikan.
 Pembinaan dan pengembangan pendididk dan dan tenaga pendidikan dan pemberhentian pendidik dan
tenaga pendidikanPNS.
 Membantu pelaksanaan ujian nasional.
 Koordinasi,fasilitas,monitoring,dan evaluasipelaksanaan ujian sekolah pada skala kabupaten.
 Penyediaan biaya ujian sekolah.
 Pelaksanaa Evaluasi pengelola Satuan pendidikan
 Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional.
 Membantu pemerintahdalam akreditasi sekolah.
 Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional.
 Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminan mutu pada skala kabupaten/kota.
C. Mengapa diperlukan Standar Nasional Pendidikan
 Perwujudan desentralisasi pendidikan Nasional memerlukan adanya
Standar Nasional Pendidikan sebagai sarana penjaminan mutu,yang
pengembangannya dan pemantauannya dilakukan oleh Badan
Standarisasi Nasional Pendidikan.(BSNP)
 Mulai dari kurikulum 1946 s/d kurikulum 1994 sarat isi dan hanya
menekankan pengusaan pengetahuan. Agar lebih fleksibel sesuai UU No
20 Tahun 2003, diperlukan strategi pengembangan kurikulum yang
bersifat sistemik atas dasar kajian komprehensif mengenai kebutuhan
dan kehidupan masyarakat Indonesia dan tututan kehidupan global.
 Untuk menghasilkan lulusan yang cerdas dan baik
dikembangkan,Standar Kompetensi Lulusan(SKL),Standar Isi
(SI),Standar Proses Pembelajaran, Standar Tendik,Standar Sarpras.
Proses Pembelajaran yang mendidik dan mencerdaskan menjadi
tuntutan baru.
Pendidikan Era Reformasi menekankan
 Mengembangkan potensi peserta didik dalam bentuk kemampuan
mencari ilmu ( learning to know) misal membaca
pengetahuan,penelitian dll
 Kemampuan untuk mengunakan kemampuan untuk bekerja ( learning
to do), misal bekerja secara mandiri menghasilkan produk.
 Kemampuan untuk hidup harmonis ( learning to live)
 Kemampuan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat (learning to be)
termasuk di dalamnya mampu hidup melalui kehidupan itu sendiri
(learning through life), misal jadi petani/pedagang.
D. Bagaimana Visi dan Misi Pendidikan Nasional
Pada Penjelasan UU Sisdiknas 20/2003, pendidikan nasional mempunyai visi “terwujudnya sistem
pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua
warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan
proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.”

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka dijabarkan misi pendidikan nasional yaitu :

1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu

2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa

3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan

4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan

5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pedidikan


 E. Apakah Esensi dari Sisdiknas
Ada empat prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional yang
digariskan dalam Pasal 4 UU Sisdiknas 20/2003, antara lain :
 Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa
 Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna
 Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat
 Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran
F. Bagaimana Hak dan Kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat
dan pemerintah
UU Sisdiknas 20/2003 (Pasal 6 ayat 2) menegaskan bahwa Setiap warga
negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar dan setiap warga negara bertanggung jawab terhadap
keberlangsungan penyelenggaran pendidikan.
Dalam Pasal 7 ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa orang tua berhak berperan
serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang
perkembangan pendidikan anaknya, dan orang tua dari anak usia wajib belajar
berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.
Pasal 8 dinyatakan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan dan
dalam Pasal 9 digariskan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan
dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.
Sementara itu dalam Pasal 10 diatur tegas bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa
diskriminasi dan dalam Pasal 11, pemerintah wajib menjamin tersedianya
dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia
tujuh sampai dengan lima belas tahun.
G. Kelembagaan Sistem Pendidikan Nasional di Era
Reformasi

Menurut pasal 13 bahwa pendidikan


diselenggarakan dalam struktur pendidikan yang
bersifat nasional-sistemik tercakup dalam
jalur,jenjang, dan jenis pendidikan.
Secara konstitusional menurut pasal 16 yaitu jalur,
jenjang dan jenis pendidikan dapat diwujudkan
dalam bentuk satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah
daerah, dan/atau masyarakat.
JALUR, JENJANG, DAN
JENIS PENDIDIKAN

JALUR JENJANG JENIS


PENDIDIKAN PENDIDIKAN FORMAL PENDIDIKAN

UMUM
PEND. FORMAL PEND. DASAR
KEJURUAN
NONFORMAL PEND. MENENGAH
AKADEMIK

INFORMAL PEND. TINGGI PROFESI

VOKASI

KEAGAMAAN

KHUSUS
H. Isi dan proses pendidikan SD
1. Kerangka Dasar Kurikulum
 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan
bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan,
dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
terdiri atas:
 kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
 kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan
kepribadian;
 kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
 kelompok mata pelajaran estetika;
 kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
2. Prinsip Pengembangan Kurikulum
 Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya
 Beragam dan terpadu
 Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni
 Relevan dengan kebutuhan kehidupan
 Menyeluruh dan berkesinambungan
 Belajar sepanjang hayat
 Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan
daerah
3. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
 Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta
didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya
 Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar
 Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar
 Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan
 Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang
saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat
 Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan
multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai sumber belajar
 Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta
kekayaan daerah
 Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal
dan pengembangan diri
Struktur Kurikulum SD/MI
 Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran, muatan lokal, dan
pengembangan diri
• Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan “IPA
Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
• Pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan
tematik, sedangkan Kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan
mata pelajaran.
• Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan
sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan
dimungkinkan menam-bah maksimum empat jam pembelajaran per
minggu secara keseluruhan.
• Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
• Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34-38
minggu.
Komponen Kelas dan Alokasi Waktu
I II III IV, V, VI
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
3
2. Pendidikan Kewarganegaraan 2
3. Bahasa Indonesia 5
4. Matematika 5
5. Ilmu Pengetahuan Alam 4
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7. Seni Budaya dan Keterampilan 4
8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan 4

B. Muatan Lokal 2
C. Pengembangan Diri 2*)
Jumlah 26 27 28 32
KB 1 :
Karakteristik Perkembangan Fisik,
Motorik, Emosi, dan Sosial anak.
A. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FISIK
Ada beberapa faktor yang berpengaruh
terhadap perkembangan anak :
 Pengaruh Keluarga/Keturunan
 Gizi
 Tingkat Sosial Ekonomi
 Faktor Emosional
 Jenis Kelamin
 Kesehatan
 Suku Bangsa/Ras
B. KARAKTERISTIK
PERKEMBANGAN MOTORIK
Motorik merupakan gerakan-gerakan tubuh yang
terkoordinasi karena adanya kerja sama antara otot,
otak dan saraf.
Keterampilan motorik akan berkembang dengan baik
bila dipelajari dan adanya bimbingan.
Motorik anak ada 2 macam yaitu motorik halus dan
motorik kasar
Semakin bertambah usia anak, maka semakin
sempurna gerakan motoriknya, seperti gerakan-
gerakan berikut :

1. Cara memegang
2. Cara berjalan
3. Cara menendang
C. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI
Cara mendidik anak yang bersifat demokratis dan
permisif akan menunjang ekspresi emosi yang
menyenangkan. Anak akan lebih terbuka, santai, dan
mudah bergaul. Usia Sekolah Dasar merupakan masa
peralihan antara masa anak dan menjelang remaja,
sehingga emosi anak kadang-kadang kurang stabil.
Dengan menanamkan pengertian perlunya menahan
luapan emosi yang sangat berlebihan. Hal tersebut
akan membawa kerugian bagi diri sendiri maupun
orang lain. Melalui bimbingan tersebut, emosi anak
bisa terkendali.
D. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN
SOSIAL
 Perkembangan sosial berarti suatu gambaran tentang perilaku anak
dalam kehidupan sosialnya. Pada usia Sekolah Dasar perkembangan
sosial anak dapat disebut sebagai usia berkelompok.
 Mereka merasa puas dengan perilaku hidup berkelompok dan bahagia
apabila dapat diterima menjadi anggota dalam suatu kelompok
tersebut. Agar anak dapat bersosialisasi dengan baik, perlu belajar
mengenal, menafsirkan dan melakukan reaksi secara tepat terhadap
situasi sosial yang mereka hadapi.
Motivasi berteman pada anak Sekolah Dasar
dapat dibedakan dalam beberapa tahap
Tahap Pemenuhan Kebutuhan
Tahap Balas Jasa
Teman Akrab

Perkembangan sosial anak usia SD merupakan suatu


tahapan yang dapat menentukan kualitas sosial
mereka setelah dewasa.
Guru memegang peran untuk membangun kehidupan
sosial siswanya. Untuk mengetahui hubungan antar
siswa dalam satu kelas, guru dapat mempergunakan
teknik sosiometri.
Dalam hal ini, guru dapat mempergunakan teknik
sosiometri untuk mengetahui hubungan sosial
mereka. Sosiometri adalah suatu teknik untuk
menggambarkan struktur hubungan yang ada dalam
bentuk sosiogram.
Adapun kegunaan sosiometri bagi guru atau konselor
adalah dengan sosiometri tersebut dapat di
identifikasi siswa mana yang memerlukan bantuan
dalam menyesuaikan dirinya terhadap kelompok.
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Perkembangan intelektual disebut juga
perkembangan intelegensi
Pada anak usia SD, perkembangan intektualnya
berada dalam tahap operasional konkret dimana pada
tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan
realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa
ingin tahunya.
Pada tahap ini, interaksinya dengan lingkungan,
termasuk dengan orang tuanya sudah semakin
berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah
semakin berkurang.
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Anak sudah dapat mengamati, menimbang,
mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang
lain dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih
objektif
Pada tahap ini, kemampuan intelektual anak
meliputi:
a. Desentrasi dan Konservasi
b. Seriasi
c. Pemikiran Rasional
d. Inklusi Kelas
PERKEMBANGAN BAHASA
Tahap-tahap bicara:
a. Menangis
b. Berceloteh
c. Holofrase
d. Mengobrol
Faktor-faktor yang memacu anak cepat bicara
a. Keluarga
b. Media elektronik
c. Sekolah
PERKEMBANGAN BAHASA
Tiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan
menyatakan atau mengekspresikan pikirannya dan
menangkap pemikiran orang lain melalui bahasa, sehingga
komunikasi menjadi efektif
Anak-anak lebih dapat mengerti apa yang dikatakan orang
lain daripada mengutarakan pikiran dan perasaan mereka
dengan kata-kata.
Semakin matang organ-organ yang berkaitan dengan
proses berbicara seperti alat bicara dan pertumbuhan atau
perkembangan otak, anak semakin jelas dalam
mengutarakan kemauan, pikiran maupun perasaannya
melalui ucapan atau bahasa
PERKEMBANGAN BAHASA
Fungsi bahasa antara lain:
a. Untuk mengekspresikan perasaan
b. Merupakan kalimat spontan yang terucap tanpa ada
tujuan apapun dan kepada siapapun
c. Untuk mempengaruhi orang lain
d. Merupakan kalimat batau isyarat yang dapat
menyebabkan orang lain terpengaruh
e. Untuk menyampaikan informasi
f. Merupakan kalimat untuk menyampaikan informasi
atau pemberitahuan kepada orang lain
PERKEMBANGAN MORAL
Tingkah laku yang bermoral adalah tingkah laku yang
sesuai dengan nilai-nilai tata cara/adat yang terdapat
dalam kelompok atau masyarakat.
Nilai moral bukanlah sesuatu yang diperoleh dari
lahir, melainkan sesuatu yang diperoleh dari luar.
Pada mulanya anak mempelajari nilai-nilai moral yang
berlaku di rumah, kemudian di sekolah, dan
selanjutnya setelah mereka bergaul dan menyesuaikan
dengan dengan norma kelompoknya
PERKEMBANGAN MORAL
Menurut Piaget:
Anak usia 5 tahun mempunyai konsep bahwa benar
salah masih dipahami dengan kaku. Tetapi pada
anak usia 11 tahun, proses berpikirnya sudah mulai
berkembang, banyak bergaul dengan teman
sebayanya dan adanya pengaruh dari lingkungan,
kadang-kadang mengangggap bahwa berbohong
tidak selalu buruk.
PERKEMBANGAN MORAL
Menurut Kohlberg :
Kohlberg menamakan ”moralitas anak baik” untuk tingkat
pertama pekembangan moral anak-anak. Pada tahap ini
anak mengikuti semua peratutan yang telah diberikan,
dengan tujuan untuk mengambil hati orang lain dan
berharap dapat diterima dalam kelompok.
Sedangkan pada tingkat kedua tingkat perkembangan
anak, ia sebut dengan “morallitas konvensional atau
moralitas dari aturan-aturan”. Pada tahap ini anak
menyesuaikan diri pada aturan-aturan yang ada dalam
kelompok dan disepakati bersama oleh kelompok tersebut.
PERKEMBANGAN MORAL
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Moral
a. Lingkungan rumah
b. Lingkungan sekolah
c. Teman sebaya dan aktivitasnya
d. Intelegensi dan jenis kelamin
PERKEMBANGAN AGAMA
Pendidikan agama di sekolah meliputi dua aspek yaitu aspek
pembentukan kepribadian (ditujukan kepada jiwa) dan
aspek pengajaran agama (ditujukan kepada pikiran).
Metode yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Agama:
1) Metode bercerita
2) Metode bermain
3) Metode karyawisata
4) Metode demonstrasi
5) Metode pemberian tugas
6) Metode diskusi dan tanya jawab

Anda mungkin juga menyukai