Anda di halaman 1dari 28

Pemicu 2

fasilitator dr. Lia Susanti


MODUL RESPIRASI
Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun dibawa orang tuanya ke RS karena
terlihat sesak napas yang memberat sejak 2 jam sebelumnya, sejak 3hari
terakhir anak tersebut mengalami demam, pilek, bersin, dan kurang nafsu
makan. Demam hanya turun sedikit setelah minum obat penurun panas tetapi
kemudian naik lagi. Sering terdengar grok-grok saat batuk namun dahak sulit
dikeluarkan. Saat terjadi sesak napas, orangtua melihat bahwa anak terlihat
bernapas lebih cepat dan terlihat cekungan/tarikan pada dinding dada bagian
bawah sewaktu bernapas. Ayah pasien kwatir anaknya tertular oleh dirinya yang
menderita batuk berdahak sejak 1 minggu ini.
Kata Kunci
• Anak laki-laki usia 2 tahun
• Sesak napas memberat sejak 2 jam sebelumnya
• Sejak 3 hari terakhir:
- Demam
- Pilek
- Bersin
- < nafsu makan
• Demam turun setelah minum obat penurun panas lalu meningkat
lagi
• Sering terdengar grok-grok saat batuk dahak sulit di keluarkan.
• Anak terlihat bernapas lebih cepat
• Ayah menderita batuk berdahak sejak 1 minggu ini
Identifikasi Masalah
• Laki-laki 2 tahun dibawa orangtua ke RS karena terlihat
sesak napas yang memberat sejak 2 jam sebelumnya.
Sejak 3 hari terakhir anak mengalami demam pilek,
bersin dan kurang nafsu makan.
Analisis Masalah
• Laki-laki 2 tahun

Keluhan 3 hari terakhir keluhan 2 minggu yang


lalu

Infeksi
Di duga tertular
saluran
dari ayah
pernapasan

Definisi Fisiologi Etiologi patofisi Pemeriksaan Penatalaksaanan


ologi
Hipotesis
• Anak laki-laki 2 tahun mengalami infeksi saluran pernapasan akut
berdasarkan tanda dan gejala.
Pertanyaan Terjaring
1. Anatomi yang abnormal infeksi saluran pernafasan
2. ISPA
a. Definisi
b. Etiologi
c. Tanda dan gejala
d. Faktor resiko
e. Patofisiologi
f. Respon imun
g. Pemeriksaan
h. Tatalaksana
i. Edukasi
3. Mengapa demam naik lagi walaupun telah di beri obat
4. Hubungan batuk berdahak ayah dengan sesak napas anak
5. Mekanisme pilek
6. Bagaimana terjadinya bunyi grok-grok saat batuk
7. Pemeriksaaan penunjang infeksi saluran pernapasan
8. Bagaimana pencegahan infeksi saluran pernapasan pada anak
Retraksi Dinding Dada Bagian Bawah Saat
Bernapas
• Distres pernapasan oleh disfungsi atau pemutusan jalur
respirasi atau ventilasi dan atau sistem yang mengontrol
pernapasan.
• Bila sistem tidak mampu mempertahankan ambilan O2 atau
eliminasi CO2 secara seimbang dengan kebutuhan metabolik,
terjadi insufisiensi pernapasan mempengaruhi sistem
neuromuskular dinding dada
• 2 stadium insufisiensi pernapasan dapat dikenali. Pada stadium
awal, anak gelisah, ada peningkatan usaha bernapas seperti
cuping hidung dan retraksi interkostal dan sub kostal nyata
pada fase ini. Berkurangnya usaha bernapas dan menurun
kesadaran merupakan tanda stadium progresif gagal napas.
• Infeksi saluran napas  obstruksi jalan napas  retraksi
dinding dada pada pernapasan
Definisi ISPA
• Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran
pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat
menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari
penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah
dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor
lingkungan, dan faktor pejamu.
Etiologi ISPA
• Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari
genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus,
Hemofillus, Bordetelia dan Korine bakterium.

• Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan


Miksovirus, Adnovirus, Koronavirus,
Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-
lain
Tanda dan gejala
ISPA akan menimbulakan gejala yang terutama terjadi pada
hidung dan paru-paru, antara lain:

• Batuk

• Kesulitan bernapas

• Demam

• Sakit kepala
Faktor resiko ISPA

1). Jenis kelamin


2). Usia
3). Pendidikan
4) Status gizi
Patofisologi ISPA

Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora norm al di saluran nafas.

Infeksi oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri.

Timbul mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi
di rongga hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier
dan fagositosis.

Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka bakteri pathogen dapat
melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut akibatnya terjadi invasi di
daerah - daerah saluran pernafasan atas maupun bawah.
Pengobatan ISPA yang dilakukan meliputi non farmakologi
dan farmokologi yaitu :
A) Non Farmakologi
• Istirahat yang cukup.
• Konsumsi makanan yang bergizi
• Menghindari polusi udara
B) Farmakologi

• Analgesik-antipiretik untuk mengobati gejala demam seperti


parasetamol dan aspirin.
• Kombinasi dekongestan dan anti alergi untuk pilek dan flu.
Contoh : dekongestan antara lain pseudoefedrin, fenil
propanolamin. Contoh antialergi adalah dipenhidramin.
• Ekspektoran untuk batuk berdahak. Contoh : ammonium
klorida.
• Mukolitik untuk batuk berdahak. Contoh : ambroksol,
bromheksin, gliseril gualakolat.
• Antitusif untuk meringankan gejala batuk kering. Contoh :
dekstrometorfan.
• Antibiotik : golongan penisilin (misalnya amoksilin) dan
eritromisin.
Sebagai tindakan mencegah terjadinya penularan
penyakit ISPA, maka :

• Keadaan gizi dijaga agar tetap baik.


• Imunisaai lengkap.
• Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
terutama sanitasi rumah.
Edukasi ISPA
1. Mencuci tangan secara teratur terutama setelah beraktivitas di
tempat umum.
2. Hindari menyentuh bagian wajah, terutama mulut, hidung, dan
mata, agar Anda terlindung dari penyebaran virus dan bakteri.
3. Perbanyak mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin
terutama vitamin C. Vitamin sangat membantu dalam
meningkatkan dan menjaga sistem kekebalan tubuh Anda.
4. Hindari merokok.
5. Ketika Anda bersin, pastikan menutupnya dengan tisu atau tangan.
Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit yang bisa
menular kepada orang lain.
Pemeriksaan fisik dan Penunjang
Pemeriksaan fisik
- Keadaaan umum pasien
• Kesadaran
• Tekanan darah
• Frekuensi nadi
• Frekuensi napas
• Suhu tubuh
Kepala dan leher
• Telinga (inspeksi)
• Hidung (inspeksi)
• Tenggorokan (inspeksi) :
• Laring (denganlaringoskopi indirect)
• Faring
• Leher (inspeksidanpalpasi)
• Toraks (inspeksi,palpasi,auskultasidanperkusi)
• Ekstremitas ( inspeksidanpalpasi)
Pemeriksaan Penunjang
• Foto rontgen leher AP
Mencari gambaran pembengkakan jaringan subglotis
(steeple sign)

• Pemeriksaan laboratorium
Gambaran darah dapat normal jika disertai infeksi sekunder
maka leukosit dapat meningkat

• Pemeriksaan Kultur
Dapat dilakukan bila didapat eksudat di orofaring atau
plica vocalis. Dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab
penyakit, misalnya bakteri streptococcus grup A
Mengapa Demam Naik Lagi Walau
Telah Diberi Obat

• Di dalam tubuh manusia terdapat sistem imun terutama Monosit-


Makrofag atau. Sel mononuklear bertanggung jawab terhadap produksi
interleukin-1 (IL-1) dan terjadinya demam.
• Granulosit polimorfonuklear tidak lagi diduga sebagai penanggung
jawab dalam memproduksi interleukin-1 (IL-1) oleh karena demam
dapat timbul dalam keadaan agranulositosis.
• Demam adalah suatu keadaan suhu tubuh diatas normal, yaitu diatas
37,2˚C (99,5˚F) sebagai akibat peningkatan pusat pengatur suhu di
hipotalamus yang dipengaruhi oleh interleukin-1 (IL-1). Demam sangat
berguna sebagai pertanda adanya suatu proses inflamasi, biasanya
tingginya demam mencerminkan tingkatan dari proses inflamasinya.
Dengan peningkatan suhu tubuh juga dapat menghambat pertumbuhan
dan perkembangan bakteri maupun virus. Dengan pemberian antipirek
hanya dapat meringankan gejala dari demam tersebut tetapi tidak dapat
menyembuhkan secara total.
hubungan batuk berdahak ayah dengan sesak
napas pada anak?

• Penyebab batuk berdahak, paling umum adalah virus. Virus


itu menyebabkan batuk disertai dengan pilek.
• Ketika lendir itu masuk kedalam tenggorokan →hambatan
pada saluran pernapasan→merangsang pusat pernapasan
dengan salah satu manifestasinya di dapatkan sesak napas atau
tarikan napas menjadi lebih panjang.
• Penularannya virus: dapat di tularkan melalui udara, ketika
sudah terhirup ini yang akan →berpotensi untuk tertular.
• Namun kembali pada daya tahan dari tubuh sendiri.
MEKANISME PILEK
Alergen masuk tubuh ditangkap oleh makrofag sebagai

alergen diproses sel APC, alergen dipresentasikan ke sel Th.

Melalui penglepasan Interleukin 2 (II-2) oleh sel Th yang diaktifkan, kepada sel B
diberikan signal untuk berproliferasi menjadi sel plasthma dan membentuk IgE.

IgE diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalam sirkulasi.

Pernah terpapar allergen yang sama, akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada
permukaan mastofit dan basofil.

Ikatan tersebut akan menimbulkan influk Ca++ kedalam sel dan terjadi perubahan
dalam sel yang menurunkan kadar cAMP

Dalam proses degranulasi dikeluarkan adalah mediator yang mempunyai sifat


biologik, yaitu histamin, Eosinophil Chemotactic Factor-A (ECF-A),Neutrophil
Chemotactic Factor (NCF), trypase dan kinin.

Efek yang segera terlihat oleh mediator tersebut ialah obstruksi oleh histamin.

• Histamin menyebabkan Vasodilatasi, penurunan tekanan kapiler &


permeabilitas,sekresi mukus
• Sekresi mukus yang berlebih itulah yang menghasilkan pilek
Terjadinya grok-grok saat batuk
• Terdapat lendir dari dinding saluran nafas kemudian akan dibawa
keluar oleh suatu mekanisme seperti ban berjalan yang disebut
bersihan mukosilier. Bersihan mukoliser ini dapat di ibaratkan seperti
petugas kesehatan disaluran nafas.

• Lendir yang dibawa dari saluran nafas bawah kemudian akan sampai
ditenggorokan dan ditelan secara tidak sadar. Bila jumlah lendir ini
lebih banyak dari pada biasa, maka akan merangsang refleks batuk,
dan akan terjadi batuk yang tujuannya untuk mendorong gumpalan
lendir keluar. Suara udara nafas yang melewati cairan lendir itulah
yang menimbulkan suara grok-grok.
Daftar Pustaka

• Kendala Penanganan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), FK-USU: Medan


• Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2002). Pedoman Pemberantasan
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Jakarta : Depkes RI.
• Mutaqin (2008).Infeksi Saluran Pernafasan Akut. EGC. Jakarta
• Rustandi (2011). ISPA Gangguan Pernafasan pada Anak, Panduan bagi Tenaga
Kesehatan dan Umum. Yogyakarta: Nuha Medika.
• Suhandayani (2007). Infeksi Saluran Pernafasan Aku tdan Penanggulangannya.
Medan: Universitas Sumatera Utara.
• Powel R.K. 2004. Fever. In : Richard E.B., Robert M.K., Hal B.J. Nelson
Textbook of Pediatrics. Volume 2. 17th edition. Philadelpia. Saunders. 839-841.
• Sumarno S.P.S., Herry G., Sri Rezeki S.H. 2002. Demam, Patogenesis dan
Pengobatan. Buku Ajar Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. IDAI. Edisi 1.
Jakarta. Balai Penerbit FKUI.