Anda di halaman 1dari 37

TERM SPEKRA

SENYAWA
KOORDINASI
AHMAD FADILLAH
SYIFA NURSHABRINA
A. Term Simbol

B. Spekra Elektronik Kompleks


Logam Transisi

C. Pembelahan Term Ion


Bebas dan Medan Kristal
TERM SIMBOL
 Menafsirkan keadaan spectra yang sifatnya kompleks atau lebih dari satu
puncak serapan
 Menekankan pada penggabungan atau interaksi antara spin dan orbital
yang dikenal dengan bilangan kuantum baru yaitu L, S, dan J
L = bilangan kuantum momentum sudut orbital total
S = bilangan kuantum spin total
J = bilangan kuantum momentum sudut total
 Memberikan gambaran mengenai energi dan kesimetrian dari atom atau
ion juga menentukan kemungkinan-kemungkinan transisi elektron dari satu
tingkat energi ke tingkat energi lain seperti terjadinya spektra dalam
senyawa koordinasi
Prinsip utama yang harus
Ada tiga jenis interaksi diperhatikan dalam
diantara elektron, yaitu: melakukan kopling
 Kopling spin-spin (MS = Σms)  Terjadinya kopling Rausell-
Saunders atau kopling L-S
 Kopling orbit-orbit (ML = Σml)
Menjelaskan sifat-sifat spektra
 Kopling spin-orbit (ML - MS)
logam transisi
 Terjadinya kopling J-J
Kekuatan relative transisi kopling
Hanya menjelaskan sifat-sifat
Russell-Saunder diasumsikan,
spectra logam transisi dengan nomor
(MS = Σms) > (ML = Σml) > (ML - MS) atom lebig besar dari 30
Kopling Spin-spin
 S adalah resultan bilangan kuantum spin dari suatu sistem elektron
Misal untuk d2 dengan spin berlawanan, maka S = 0

Kopling Orbit-orbit
 L menyatakan total dari bilangan kuantum momentum sudut orbital

Total Momentum Orbital


L 0 1 2 3 4 5
S P D F G H
Kopling Spin-orbit
 Kopling ini terjadi di antara resultan momentum spin dan orbital
suatu elektron yang menghasilkan bilangan kuantum momentum
sudut total J (L ± S)
 Melalui kopling L-S ini, maka term symbol Russell-Saunders
diungkapkan dengan lambing sebagai berikut:

L J=L±S
(2S + 1)

(2S + 1) = multiptisitas spin


J = bilangan kuantum momentum sudut total
L = bilangan kuantum sudut orbital
S = bilangan kuantum spin
Untuk konfigurasi elektron d1

L J=L±S
(2S + 1) S = +½
Harga multiplisitas = 2(½) + 1 = 2
L=2
J = (2 ± ½) = 3/2 dan 5/2

2D dan 2D
3/2 5/2
Term Simbol Untuk Konfigurasi d n
Penentuan Term Keadaan Dasar Berdasarkan Aturan Hund

 Term keadaan dasar adalah term yang memiliki harga multiplisitas spin
paling tinggi, (2S + 1) paling tinggi
 Apabila terdapat lebih dari satu jenis term yang memiliki multiplisitas pin
yang sama, maka term dengan energy terendah adalah yang memiliki
harga L tertinggi
 Apabila ditemukan dua term atau lebih yang memiliki multiplisitas dan
harga L yang sama, maka term yang menunjukkan energy terendah
ditentukan oleh harga J.
 Untuk konfigurasi elektron dalam orbital dibawah setengah penuh,
term yang menunjukkan energy terendah adalah yang memiliki
harga J terendah.
 Untuk konfigurasi elektron dalam orbitas diatas setengah penuh,
term yang menunjukkan energy terendah adalah yang memiliki
harga J tertinggi.
3F, 3P, 1G, 1D, 1S

(2S + 1) L
3F 3 3
3P 3 1
1G 1 4
1D 1 2
1S 1 0
Cara untuk menentukan term simbul keasaan
dasar dari suatu konfigurasi elektron
Cara menentukan term dimbol di luar keadaan
dasar (keadaan term tereksitasi)

 Menetapkan konfigurasi elektron yang akan dicari termnya


Contoh:
Untuk konfigurasi d2
 Menentukan jumlah konfigurasi elektron yang diperbolehkan (tidak
melanggar kaidah larangan Pauli). Jumlah ini menyatakan keadaan
bilangan kuantum dalam keadaan mikro (microstate)
2𝑛𝑜 !
Π=
𝑛𝑒 ! 2𝑛0 − 𝑛𝑒 !
Π = jumlah microstate
n0 = jumlah orbital di mana elektron berada
ne = jumlah elektron dalam orbital

d2
n0 = 5 ne = 2
2(5)!
Π= = 45
2! 2(5)−2 !
 Membuat tabel microstate dengan memetakan keadaan elektron
pada harga ML dan MS
 Membuat tabel untuk menghitung jumlah microstate pada setiap
hubungan antara ML dan MS kemudian memecahnya menjadi tabel-
tabel kecil hingga menentukan term simbolnya
d2
Elektron ke-1, l = 2
Elektron ke-2, l = 2
L=4
ML = +4, +3, +2, +1, 0, -1, -2, -3, -4
MS = +1, 0, -1
L = 4, S = 0, term simbol 1G

L = 3, S = 1, term symbol 3F
L = 2, S = 0, term symbol 1D L = 1, S = 1, term symbol 3P

L = 0, S = 0, term symbol 1S
 Memeriksa jumlah microstate dari term-term symbol yang disusun

Term Simbol Microstate


3F 3 x 7 = 21 microstate
3P 3 x 3 = 9 microstate
1G 1 x 9 = 9 microstate
1D 1 x 5 = 5 microstate
1S 1 x 1 = 1 microstate
Jumlah 45 microstate

 Menentukan term yang menunjukkan konfigurasi keadaan dasar dan keadaan


tereksitasi
(2S + 1) L
3F 3 3
3P
3F < 3P < 1G < 1D < 1S
3 1
1G 1 4
1D 1 2
1S 1 0
SPEKRA ELEKTRONIK KOMPLEKS
LOGAM TRANSISI
Timbulnya spektra serapan disebabkan oleh naiknya elektron
dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya. Transisi elektronik
ini perlu lebih besar dibandingkan tansisi vibrasi dan rotasi yang
menyertainya. Pita serapan tersebut umumnya berada pada 100-
300nm.
spektrum larutan berwarna lebih mudah diukur dengan
spektrofotometer dengan menghasilkan data yang
menghubungkan absorbansi atau tetapan absorptivitas molar
pada panjang gelombang maksimum.
Karena tidak semua transisi dapat di amati, maka dibedakan menjadi:
1. Transisi diperbolehkan (allowed transition) lebih sering terjadi
2. transisi terlarang (forbidden transistion)

Pengaturan transisi ini disebut aturan seleksi.


Ada 2 jenis aturan , yaitu:
1. Aturan seleksi orbital laporte (Δl = ±1)
2. Aturan seleksi spin (ΔS = 0)
1. Aturan seleksi orbital laporte
Aturan seleksi orbital laporte menyatakan transisi yang melibatkan
perubahan bilangan kuantum orbital yaitu Δl = ±1.
Yang mengikuti aturan ini menunjukan absorptivitas tinggi/intensitas
serapan tinggi.

Contoh:
Ca, mengalami transisi S2  s1 p1 dengan perubahan l sebesar 1.
koefisien serapan molar nya sebesar 5.000-10.000 L Mol-1 cm-1
(termasuk transisi diperbolehkan)
 Sedangkan transisi d-d termasuk transisi terlarang karena Δl=0
spektra ini dapat termati walau intensitasnya rendah (5-10 L Mol-1
cm-1) karena mengabaikan aturan laporte disebut transisi
terlarang.

Pada kenyataannya timbulnya warna tidak hannya di sebabkan oleh


transisi d-d tetapi juga ada campuran orbital d dan p.
campuran orbital d dan p.

Yang terjadi apabila:


Kompleks yang tidak memiliki pusat simetri, ex: kompleks tetrahedral
[MnBr4]4- dan oktahedral tersubtitusi [Co(H2O)Cl]2+.
Tidak terjadi apabila:
Kompleks oktahedral yang memiliki pusat simetri, ex: [Co(H2O) 6]2+ atau
[Cu(H2O)6]2+.
 Tabel serapan (hal 308)
2. Aturan seleksi spin
Transisi spin yang diperbolehkan adalah jika ΔS = 0.
Misalnya: 3F  3p atau 4A2  4T1

Sedangkan spin yang terlanggar, jika ΔS ≠ 0.


Misalnya : 3F1  1G atau 4A2  2A2

Contoh kasus:
[Mn(H2O)6]2+ berada dalam medan oktahedral lemah, terjadi transisi
d-d dengan spin terlanggar . Sehingga dihasilkan warna putih atau
warna pucat.
Pembelahan Term Ion Bebas
dalam medan Kristal
 Telah diketahui:
orbital s = simetri bola dan tidak dipengaruhi medan kristal
oktahedal maupun medan kristal yang lainnya.
orbital p = mengarah tepat pada sumbu-sumbu koordinat,
sehingga orbital p dipengaruhi oleh medan kristal
oktahedral, akan tetapi dengan energi yang sama
orbital d = akan terpecah dalam orbital oktahedral jadi 2 tingkat
yaitu T2g dan Eg dengan perbedaan energi 10 Dq atau
Δo.
T2g = memiliki 3 orbital yaitu dxz, dyz, dxy dengan energi
4Dq dibawah tingkat orbital d bebas.
Eg = memiliki 2 orbital yaitu dz2 dan dx2-y2 dengan energi
6Dq diatas energi d bebas.
Pembelahan Term Ion Bebas dalam medan kristal

Misal : dalam d1

Konfigurasi ion bebas d1 akan memiliki term simbol


spektroskopi ion bebas keadaan dasar 2D dan term
simbol spektroskopi oktahedral yaitu 2T2g, 2Eg dengan
tingkat dasar 2T2g.
Misal : dalam d2

Konfigurasi ion bebas d2 memiliki term


keadaan dasar 3F . Term ini dalam
oktahedral akan pecah jadi 3 tingkat
energi yaitu T1g dengan energi 6Dq
dibawah term F ion bebas, T2g dengan
2Dq diatas energi ion bebas dan A2g
dengan 12 Dq diatas energi ion bebas.
Dengan demikian ion bebas 3F dalam
medan kristal oktahedral akan memiliki
term 3T1g
Contoh 1
Tentukan term keadaan dasar ion yang memiliki konfigurasi elektron d1 sebagai
ion bebas dan sebagai ion yang berada dalam medan oktahedral.

Jawab:
total spin, S = ½
multiplisitas spin, (2S+1) = 2
total bilangan kuantum orbital, L= 2
jadi term simbol (term spektroskopi) d1 sebagai ion bebas = 2D
(term simbol melibatkan harga J untuk d2 = 2D3/2)

term simbol keadaan dasar d1 dalam oktahedral = 2T2g


term simbol keadaan eksitasi d1 dalam oktahedral = 2Eg
Contoh 2
Tentukan term keadaan dasar ion yang memiliki konfigurasi elektron d9 sebagai
ion bebas dan sebagai ion yang berada dalam medan oktahedral.

Jawab:
total spin, S = ½
multiplisitas spin, (2S+1) = 2
total bilangan kuantum orbital, L= 2
jadi term simbol (term spektroskopi) d1 sebagai ion bebas = 2D
(term simbol melibatkan harga J untuk d9 = 2D5/2)

term simbol keadaan dasar d9 dalam oktahedral = 2Eg


term simbol keadaan eksitasi d9 dalam oktahedral = 2T2g
Contoh 3
Tentukan term keadaan dasar ion yang memiliki konfigurasi elektron d4 dan d6
sebagai ion bebas dan sebagai ion yang berada dalam medan oktahedral.

Jawab:
total spin, S = 2
multiplisitas spin, (2S+1) = 5
total bilangan kuantum orbital, L= 2
jadi term simbol (term spektroskopi) d1 sebagai ion bebas = 5D
(term simbol melibatkan harga J untuk d9 = 2D5/2)

Untuk d4 ; (untuk d6 kebalikannya)


term simbol keadaan dasar d4 dalam oktahedral = 5Eg
term simbol keadaan eksitasi d4 dalam oktahedral = 5T2g
Contoh 4
Tentukan term keadaan dasar ion yang memiliki konfigurasi elektron d2 dan d8
sebagai ion bebas dan sebagai ion yang berada dalam medan oktahedral.

Jawab:
total spin, S = 1
multiplisitas spin, (2S+1) = 3
total bilangan kuantum orbital, L= 3
jadi term simbol (term spektroskopi) d2 sebagai ion keadaan dasar = 3F
term simbol (term spektroskopi) d2 sebagai ion keadaan tereksitasi = 3P

Untuk d2 ; (untuk d8 kebalikannya)


term simbol keadaan dasar d2 dalam oktahedral = 3T1g
term simbol keadaan eksitasi d2 dalam oktahedral = 3A2g
Contoh 5

Tentukan term keadaan dasar ion yang memiliki konfigurasi elektron d3 dan d7
sebagai ion bebas dan sebagai ion yang berada dalam medan oktahedral.

Jawab:
total spin, S = 3/2
multiplisitas spin, (2S+1) = 4
total bilangan kuantum orbital, L= 3
jadi term simbol (term spektroskopi) d2 sebagai ion keadaan dasar = 4F
term simbol (term spektroskopi) d2 sebagai ion keadaan tereksitasi = 4P

Untuk d3 ; (untuk d7 kebalikannya)


term simbol keadaan dasar d2 dalam oktahedral = 4A2g
term simbol keadaan eksitasi d2 dalam oktahedral = 4T1g
SELESAI