Anda di halaman 1dari 49

PENGARUH AERASI DALAM

MIKROREMEDIASI LIMBAH CAIR

KELOMPOK 4
H AV I D A P R I L I A N O P. P. 15308141036
A N I S A M A U L I D I YA 15308141041
DEVI WULANDARI 15308141048
YULI ANA DWI H. 15308141055
I S N A N I D E YA N A A . 15308144005
KELAS BIOLOGI E

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FA K U LT A S M AT E M AT I K A D A N I L M U P E N G E TA H U A N A L A M
U N I V E R S I T A S N E G E R I Y O G YA K A R T A
2018
TUJUAN

Mengetahui pengaruh mikroorganisme


dalam pengolahan limbah cair

Mengetahui pengaruh aerasi dalam


mikroremediasi limbah cair
TINJAUAN PUSTAKA

Limbah Cair Tahu


Limbah merupakan bahan sisa suatu aktivitas manusia
maupun proses alam yang tidak lagi dimanfaatkan.

Limbah tahu berasal dari buangan atau sisa pengolahan


kedelai menjadi tahu yang tidak dapat dikonsumsi

Limbah tahu dibagi menjadi dua yaitu limbah padat dan


limbah cair

Limbah cair memiliki potensi yang besar dalam


pencemaran lingkungan (Nohong, 2010)
Limbah cair pada proses produksi tahu berasal dari proses
perendaman, pencucian peralatan proses produksi tahu,
penyaringan, dan pengepresan atau pencetakan tahu.

Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri


pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari
gumpalan tahu yang disebut dengan air dadih. Cairan ini
mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera
terurai.

Limbah ini biasanya langsung dibuang ke lingkungan tanpa


adanya pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan
bau busuk dan mencemari lingkungan (Kaswinarni, 2007).
Kandungan Limbah Cair Tahu

Bahan Organik • Protein 40%-60%


(Sugiharto, • Karbohidrat 25%-50%
1994) • Lemak 10%

• O2
Gas • H2 S
(Herlambang, • NH3
2005) • CH4
Senyawa organik yang berada pada
limbah adalah senyawa yang dapat
diuraikan secara sempurna melalui proses
biologis baik aerob maupun anaerob.

Sedangkan senyawa anorganik pada


limbah adalah senyawa yang tidak dapat
diuraikan melalui proses biologi (Nurul
Latifah, 2011)
Penguraian bahan organik secara biologi oleh
miroorganisme menyangkut reaksi oksidasi dengan
hasil akhir karbondioksida dan air. Proses penguraian
bahan organik dapat digambarkan sebagai berikut
(Hanum, 2002) :

Zat organik + O2 CO2 + H2O


PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOMOR 7 TAHUN 2016
TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH
1. Derajat Keasaman (pH)

Air limbah industri tahu sifatnya cenderung asam, pada keadaan


asam ini akan terlepas zat-zat yang mudah untuk menguap. Hal ini
mengakibatkan limbah cair industri tahu mengeluarkan bau busuk.
pH sangat berpengaruh dalam proses pengolahan air limbah. Baku
mutu yang ditetapkan sebesar 6-9. Pengaruh yang terjadi apabila
pH terlalu rendah adalah penurunan oksigen terlarut.
2. Suhu
Air limbah yang mempunyai suhu tinggi apabila dibuang ke sungai
maka air sungai akan menjadi panas. Air sungai yang suhunya
naik akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme
lainnya karena kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun
bersamaan dengan kenaikan suhu (Wardhana, 2004). Berdasarkan
pengukuran suhu dapat diketahui bahwa suhu berpengaruh pada
perubahan oksigen terlarut.
3. BOD
Kandungan BOD5 merupakan suatu ukuran atau indeks
adanya pencemaran bahan organik, dimana semakin besar
kandungan BOD5 pada suatu perairan,maka semakin besar
pula kandungan bahan organik yang terkandung
didalamnya. Tingginya kandungan BOD5 menyebabkan
menurunnya kandungan oksigen terlarut, bahkan dapat
menjadi kondisi anoksik (tanpao ksigen). Hal ini
menyebabkan gangguan bagi kehidupan organisme akuatik
(Fardiaz, 1992).
Pengolahan Limbah Cair Tahu (Metcalf
dan Eddy, 2003)

• Proses koagulasi-flokulasi
Kimia • Proses netralisasi

• Proses filtrasi : penyaringan menggunakan media penyaring terutama untuk


menjernihkan atau memsiahkan partikal-partikel kasar dan padatan
Fisika tersuspensi dari limbah cair
• Proses sedimentasi : flok-flok padatan dipisahkan dari aliran dengan
memanfaatkan gaya gravitasi.

• Memanfaatkan mikroorganisme (mikroremediasi) dan


Biologi tumbuhan air (fitoremediasi)
• Pemutusan molekul kompleks menjadi molekul sederhana
Mikroremediasi
Mikroremediasi adalah bioremediasi yang secara spesifik
menggunakan mikroorganisme sebagai pengurai.
Mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen remediasi
diantaranya adalah bakteri maupun fungi (Metcalf dan Eddy,
2003).
Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi
BOD, partikel tercampur serta membunuh organisme patogen.
Selain itu untuk menghilangkan bahan nutrisi, komponen
beracun, serta bahan yang tidak dapat didegredasi agar
konsentrasi yang ada menjadi rendah.
Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme
terpenting dalam penanganan air limbah. Kultur
bakteri dapat digunakan untuk menghilangkan
bahan organik dan mineral-mineral yang tidak
diinginkan dari air limbah (Kaswinarni, 2007)

Salah satu metode yang dapat diaplikasikan


adalah mengolah limbah cair tahu dengan
memanfaatkan aktivitas mikroorganisme EM dan
starbio (Kiky Amalia Rizky, 2013)
EM4

Merangsang
perkembangan
mikroorganisme

Menyebabkan
pembusukan
bahan organik
Starbio
Probiotik Starbio merupakan kumpulan bibit
mikroorganisme yang diambil dari lambung sapi yang
kemudian diproses dengan pencampuran tanah, akar
. rumput dan daun-daaunan atau ranting-ranting
daunan-daunan yang dibusukkan. Didalam
pencampuran tersebut mengandung mikroba khusus
yang mempunyai fungsi yang berbeda beda

Probiotik starbio adalah probiotik yang bersifat an-aerob fakultatif yang


dapat menghasilkan enzim yang berguna untuk memecah karbohidrat
seperti (selulosa, hemiselulosa, lignin), dan protein serta lemak.
Mikroorganisme yang terdapat pada probiotik Starbio antara lain
Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus casei, Streptococcus lactis,
Bifidobacterium bifisum, cellulomonas, Clostridium thermocellosa (Soeharto,
2001).
Aerasi

Aerasi merupakan metode pengolahan dalam pengaturan penyediaan udara pada bak
aerasi, dimana bakteri aerob akan menggunakan bahan organik didalam air limbah
dengan bantuan oksigen. Penyediaan udara yang lancar dapat mencegah terjadinya
pengendapan di dalam bak aerasi. Adanya endapan mengakibatkan terjadinya
penahanan pemberian oksigen ke dalam sel, dengan demikian mengakibatkan timbulnya
situasi bakteri anaerobik. Pemberian oksigen yang cepat melalui jet aerator serta
pemutaran dengan baling-baling untuk mencegah timbulnya gumpalan dan
meningkatkan penyerapan oksigen (Sugiharto, 1987).
METODE

WAKTU PENGAMATAN

Tanggal : 26 Februari, 2 Maret, 5 Maret, 9 Maret, 12 Maret

Tempat : Lab Mikrobiologi dan Lab Ekologi

Kegiatan : Pemberian Perlakuan, Pengamatan DO, BOD, suhu, kekeruhan, warna, bau,
perhitungan jumlah bakteri
ALAT DAN BAHAN

ALAT BAHAN
Alumunium
Bak plastik Akuarium
foil
EM4 H2SO4
Botol sampel Buret statif Aerator

Starbio Akuades
Gelas ukur Mikropipet Tabung reaksi
Limbah cair Media Nutrien
Rak tabung tahu Agar (NA)
Petridish DO-meter
reaksi
MnSO4 KOH-KI
Erlenmeyer Turbidimeter Pipet tetes

Amilum Na2S2O3
Bunsen dan
Termometer pH stik
korek api

Plastik wrap
CARA KERJA

Pemberian Perlakuan

Limbah cair tahu disiapkan 1 hari sebelum praktikum

4 liter limbah cair dicampurkan dengan 4 liter air (5 kali ulangan)

Ulangan 1 untuk kontrol, ulangan 2 untuk EM4 tanpa aerasi, ulangan 3 untuk EM4+aerasi,
ulangan 4 untuk starbio tanpa aerasi dan ulangan 5 untuk starbio+aerasi, .

DO, BOD5, suhu, kekeruhan pH, warna, bau dan jumlah total bakteri diukur pada awal (0
hari) yaitu sebelum perlakuan, 7 hari setelah perlakuan, dan 14 hari setelah perlakuan
Pengukuran DO dan BOD dengan Titrasi

Air sampel diambil dengan botol winkler secara hati-hati agar tidak ada gelembung air yang masuk ke dalam botol

Kemudian ditambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml NaOH-KI, ditunggu hingga 10 menit

Selanjutnya ditambah H2SO4 dan digojok hingga berwarna coklat kuning. Kemudian di tambah 10 tetes amilum
hingga sampel berwarna biru dongker

Jika sampel berwarna biru dongker setelah ditetesi amilum, ditritasi dengan Na2S2O3 kemudian dihitung dan
dicatat volume Na2S2O3 yang dibutuhkan hingga sampel berwarna bening

Jika sampel tidak berwarna biru dongker setelah ditetesi amilum, maka sampel tidak bisa ditritasi. Hal ini
dikarenakan DO yang terlalu rendah.
Perhitungan Jumlah Total Bakteri

Jumlah Total Bakteri dihitung dengan metode Total Plate


Count (TPC)

Sampel 1 ml diambil kemudian dimasukkan ke dalam 9 ml aquadest


steril (pengenceran 10-1) selanjutnya dilakukan pengenceran berseri
sampai pengenceran tertentu (tergantung kerapatan bakteri dalam
sampel)

Hasil pengenceran berseri (dua pengenceram terakhir)


ditanam dengan menggunakan metode pour plate
menggunakan media Nutrien Agar (NA)

Inkubasi selama 24-48 jam dan dihitung jumlah koloni


yang tumbuh. Jumlah colony forming unit per ml sampel
(cfu/ml) bakteri ditentukan.
HASIL
a. Kontrol

BOD
Hari ke- DO (ppm) pH Suhu (oC) Kekeruhan Bau Warna
(ppm)

0 0,11 ppm - 4 28 oC 7957 Asam Kuning

7 DO rendah - 7 28 oC 1900 Asam Kuning

Kuning
14 DO rendah - 8 28 oC 1767 Asam agak
pucat
TPC
PENGENCERAN

10-8 RERATA COLONI MO


HARI KE 10-7
(cfu/ml)

A B A B

0 0 0 0 0 Uncountable

7 2 300 1 345 162 x 107

14 2 338 4 428 192,5 x 107


b. Perlakuan air limbah + EM4

DO awal DO akhir BOD5


Hari ke- pH Suhu (oC) Kekeruhan Bau Warna
(ppm) (ppm) (ppm)

Kuning
0 0,10 ppm 0,08 ppm 0,1 ppm 4 28 oC 1531 NTU asam
keruh

DO DO
7 - 6 27 oC 6138 NTU Busuk Coklat
rendah rendah

DO 0,15 ppm Sangat Coklat


14 - 8 26 oC 8415 NTU
rendah busuk pekat
TPC
PENGENCERAN
RERATA PENGENCERAN
HARI 10-8
10-7 COLONI MO RERATA
KE HARI
(cfu/ml) 10-11 10-12 COLONI MO
KE
A B A B (cfu/ml)
A B A B
uncountable
0 6 6 0 0
14 230 259 102 252 100,725 x 1012

7 75 172 11 16 129,25 x 107


c. Perlakuan air limbah + EM4 + aerasi

DO awal DO akhir BOD


Hari ke- pH Suhu (oC) Kekeruhan Bau Warna
(ppm) (ppm) (ppm)

DO Kuning
0 0,11 - 4 29 2345 Asam
rendah keruh

DO DO Busuk/ Coklat
7 - 8 28 9461
rendah rendah asam keruh

Sangat
DO Coklat
14 0,16 - 8 26 7054 busuk/
rendah keruh
asam
TPC
PENGENCERAN

10-8 RERATA COLONI MO


HARI KE 10-7
(cfu/ml)

A B A B

0 0 0 0 0 Uncountable

7 9 86 6 5 Uncountable

14 >300 >300 >300 >300 Uncountable


d. Perlakuan air limbah + starbio

DO awal DO akhir BOD


Hari ke- pH Suhu (oC) Kekeruhan Bau Warna
(ppm) (ppm) (ppm)

0 0,10 ppm 0,9 0,1 4 29 1286 Asam Kuning

DO DO
7 - 7 28 3973 Asam Coklat
rendah rendah

DO DO
14 - 8 28 6517 Asam Hitam
rendah rendah
Pengenceran Pengenceran Pengenceran Pengenceran
Hari TPC (cfu/ml)
10-7 10-7 10-8 10-8

0 0 0 0 0 -

7 255 278 >300 >300 2665 x 105

Pengenceran Pengenceran Pengenceran Pengenceran TPC


Hari
10-11 10-11 10-12 10-12 (cfu/ml)

14 >300 >300 >300 >300 -


e. Perlakuan air limbah + starbio + aerasi

DO awal DO akhir BOD


Hari ke- pH Suhu (oC) Kekeruhan Bau Warna
(ppm) (ppm) (ppm)

Asam, tidak
Kuning
0 0,11 0,10 0,05 4 29 1013 terlalu
keruh
menyengat
Asam, Kuning
Sangat menyengat, keruh
7 - - 8 28 6092
rendah bau tidak kecoklat
enak an
Asam, sangat
Sangat menyengat
14 - - 8 26 9085 Coklat
rendah dan tidak
enak
TPC
PENGENCERAN

10-8 RERATA COLONI MO


HARI KE 10-7
(cfu/ml)

A B A B

0 >300 >300 >300 >300 Uncountable

7 >300 >300 >300 >300 Uncountable

14 4 2 - 1 Uncountable
PEMBAHASAN
• Pada praktikum ini terdapat 4 erlakuan yaitu:
1. Limbah + EM4
2. Limbah + EM4 + aerasi
3. Limbah + starbio
4. Limbah + starbio + aerasi
• Secara umum karakteristik air buangan dapat digolongkan atas sifat
fisika, kimia, biologi. Parameter yang digunakan untuk menunjukkan
karakter air buangan industri tahu adalah (Kaswinarni, 2007) :
1. Parameter fisika : kekeruhan, suhu, bau dan lain-lain
2. Parameter kimia : Kandungan organik (BOD dan DO) dan kimia
anorganik (pH)
3. Parameter biologi : TPC (Total Plate Count)
A. Kekeruhan
• Kekeruhan air erat sekali hubungannya dengan nilai TSS (Total Suspended Solid ) karena
kekeruhan pada air salah satunya memang disebabkan oleh adanya kandungan zat padat
tersuspensi. Zat tersuspensi yang ada di dalam air terdiri dari berbagai macam zat,
misalnya pasir halus, tanah liat, dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan
anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang di dalam
air (Alaerts dan Santika, 1987).
• Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan: Pada kontrol, kekeruhan cenderung
semakin menurun. Sedangkan pada perlakuan (limbah+EM4, limbah+EM4+aerasi,
limbah+starbio, limbah+starbio+aerasi) kekeruhan cenderung meningkat.

Hari ke-
Perlakuan
0 7 14
Kontrol 7957 1900 1767
EM4 1531 6138 8415
EM4 + aerasi 2345 9461 7054
Starbio 1286 3973 6517
Starbio + aerasi 1013 1092 1829
B. Warna

• Warna pada limbah erat hubungannya dengan kekeruhan. Semakin


tinggi kekeruhan, semakin gelap warna pada air limbah. Berdasarkan
pengamatan pada warna, dapat diketahui bahwa semakin lama waktu
inkubasi, warna berubah menjadi semakin gelap. Hal ini terjadi pada
masing-masing perlakuan, dimana pada hari ke 0 inkubasi warna
limbah cenderung kuning keruh. Kemudian pada hari ke 7 warna
berubah menjadi lebih gelap yaitu kuning kecoklatan. Selanjutnya
pada hari ke 14 warna menjadi semakin gelap yaitu coklat.
• Namun, pada kontrol semakin lama waktu inkubasi warna menjadi
semakin terang. Pada hari ke 0 limbah berwarna kuning keruh,
kemudian pada hari ke 14 warna menjadi kuning pucat.
3. Bau
Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah adalah oksigen (O2),
hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), karbon dioksida (CO2), dan
metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan bahan
organik yang terdapat di dalam air limbah. Hal ini mengakibatkan
limbah cair industri tahu mengeluarkan bau busuk (Pohan, 2008).
Berdasarkan pengamatan pada masing-masing perlakuan, dapat
diketahui bahwa semakin lama waktu inkubasi, semakin busuk bau yang
dikeluarkan oleh limbah. Hal ini terjadi karena semakin lama waktu
inkubasi, bahan organik yang didekomposisi oleh mikroorganisme
semakin banyak sehingga gas yang dihasilkan juga semakin banyak.
Pada kontrol, bau yang dihasilkan cenderung stabil. Hal ini terjadi
karena pada kontrol, mikroorganisme yang ada pada air limbah hanya
mikroba indigen tanpa ada tambahan MO dari luar sehingga bahan
organik yang didekomposisi tidak terlalu banyak.
4. Derajat Keasaman (pH)
• Pengukuran pH air limbah dilakukan saat sebelum mendapatkan
perlakuan dan setelah mendapatkan perlakuan. Kadar pH limbah cair
sebelum perlakuan yaitu 4. Kadar pH setelah diberi perlakuan pada hari
ke-0 belum menunjukkan perubahan kadar pH yang berarti.
• Berdasarkan pengukuran pH, diperoleh data sebagai berikut :
Hari ke-
Perlakuan
0 7 14
Kontrol 4 7 8
EM4 4 6 8
EM4 + aerasi 4 8 8
Starbio 4 7 8
Starbio + aerasi 4 8 8
Dari hasil pengukuran tersebut, dapat diketahui bahwa pH pada kontrol
dan 4 perlakuan dari hari ke 0 hingga hari ke 14 mengalami
peningkatan.
• Berdasarkan penelitian Hanifah dkk (2001), bakteri yang terkandung di
dalam limbah menghasilkan amoniak yang dapat menaikkan kadar pH.
Bakteri asam laktat mengubah karbohidrat menjadi asam laktat. Asam
laktat digunakan oleh ragi dan jamur membentuk alkohol dan ester,
sehingga pH naik. Sedangkan menurut Jasmiati dkk (2010), kenaikan pH
yang terjadi pada limbah cair tahu yang diberi EM-4 dan satrbio
disebabkan karena adanya mikroorganisme yang ada di dalam EM-4 dan
starbio merombak sisa bahan organik dari limbah cair tahu.
• pH pada hari ke 14 ini telah sesuai dengan Baku Mutu Air
Limbah untuk Kegiatan Industri Tahu yaitu sebesar 6,0-9,0.
Sehingga air limbah ini sudah memiliki pH yang aman jika
dibuang ke lingkungan.
• Jika pH masih asam dan langsung dibuang ke lingkungan,
maka akan mengganggu kehidupan biota. Hal ini dikarenakan
pH terlalu rendah dapat menyebabkan penurunan oksigen
terlarut.
5. Suhu
• Pengukuran suhu air limbah dilakukan saat sebelum
mendapatkan perlakuan dan setelah mendapatkan perlakuan.
Suhu limbah cair sebelum perlakuan yaitu 280C dan 290C. Suhu
air limbah setelah diberi perlakuan pada hari ke-0 belum
menunjukkan perubahan kadar pH yang berarti.
• Pada pengamatan hari ke 7 dan hari ke 14, suhu cenderung
mengalami penurunan. Hasil pengukuran pH dapat dilihat pada
tabel berikut :
Hari ke-
Perlakuan
0 7 14
Kontrol 28 28 28
EM4 28 27 26
EM4 + aerasi 29 28 26
Starbio
Starbio + aerasi 29 28 26
• Adanya proses fermentasi bahan organik berjalan dengan cepat
sehingga suhu yang awalnya tinggi dapat langsung turun
hingga di bawah batas maksimal yang telah ditetapkan. Dari
pengukuran ini dapat dijelaskan pula semakin banyak
mikroorganisme yang terkandung dalam limbah semakin cepat
pula penurunan kadar suhunya.
• Air limbah yang mempunyai suhu tinggi apabila dibuang ke
sungai maka air sungai akan menjadi panas. Air sungai yang
suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan air dan
organisme lainnya karena kadar oksigen yang terlarut dalam air
akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu (Wardhana,
2004).
6. DO dan BOD
TPC
• Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting dalam
penanganan air limbah. Kultur bakteri dapat digunakan untuk
menghilangkan bahan organik dan mineral-mineral yang tidak
diinginkan dari air limbah (Kaswinarni, 2007)
• Di dalam limbah sebenarnya sudah ada bakteri yang akan
mendekomposisi bahan organik yang terdapat di dalam air
limbah. Namun, untuk mempercepat proses dekomposisi bahan
organik, diperlukan bakteri yang lebih banyak. Oleh karena itu,
perlu adanya penambahan bakteri dari luar. Salah satu sumber
bakteri dari luar adalah EM4 dan starbio
• Pada praktikum ini, terdapat perlakuan aerasi dan tanpa aerasi.
Teknik pengolahan secara aerasi yaitu mengontakkan udara
dengan limbah cair di dalam tangki aerasi agar biomasa atau
mikroorganisme berkembang dengan pesat. Biomasa atau
mikroorganisme inilah yang akan menguraikan senyawa
organik yang terdapat dalam limbah cair tahu.
• Berdasarkan perhitungan dengan TPC, dapat diketahui hasil :
Hari ke-
Perlakuan
0 7 14
Kontrol 0 162 x 107 192,5 x 107
EM4 0 129,25 x 107 100,725 x 1012
EM4 + aerasi 0 >300 (Uncountable) >300 (Uncountable)
Starbio 0 2665 x 105 >300 (Uncountable)
Starbio + aerasi >300 (Uncountable) >300 (Uncountable) <30 (Uncountable)

• Menurut data yang diperoleh, pada hari ke 0 setelah perlakuan,


mikroorganisme yang ada pada limbah sebesar 0 (kecuali pada perlakuan
starbio+aerasi). Sedangkan
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G dan Santika. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional.

Hanifah, TA., Jose C., Nugroho TT. 2001. Pengolahan Limbah Cair Tapioka Dengan Teknologi EM (Effective Microorganisms). Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau. Jurnal Natur Indonesia III (2):95 – 103 (2001).

Hanum, F. 2002. Proses Pengolahan Air Sungai untuk Keperluan Air Minum. Sumatera: Fakultas Teknik Program Studi Teknik Kimia
Universitas Sumatera.

Herlambang, A. 2005. Penghilangan Bau Secara Biologi Dengan Biofilter Sintetik. JAI. Vol.1, No, 1. Kelompok Teknologi Pengolaan Air
Bersih dan Limbah Cair, Pusat Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT.

Jasmiati, Sofia, A., Thamrin. 2010. Bioremidiasi Limbah Cair Industri Tahu Menggunakan Efektif Mikroorganisme (EM4). Ilmu
Lingkungan. Journal of Environmental Science. Program Studi Lingkungan PPS universitas Riau.

Kaswinarni, F. 2007. “Kajian Teknis Pengolahan Limbah Padat dan Cair Industri Tahu”. Thesis. Semarang: Program Studi Ilmu
Lingkungan Universitas Diponegoro.

Metcalf & Eddy. 2003. Wastewater Engineering Treatment and Reuse 4th Edition. New York : McGraw Hill.

Nohong. 2010. Pemanfaatan Limbah Tahu Sebagai Bahan Penyerap Logam Krom, Kadmiun dan Besi Dalam Air Lindi TPA. Jurnal
Pembelajaran Sains. Vol. 6, No. 2: 257-269. Kendari: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Haluoleo Kendari.

Nurul Latifah.2011. Limbah Organik, Anorganik, dan B3. http://limbah-organikanorganik-dan-b3. Diakses pada tanggal 28 April 2018.

Sucipto, CD. 2012. Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah. Yogyakarta: Goysen Publishing.

Sugiharto.1987.Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta: Universitas Indonesia.

Wardhana, Wisnu, 2004, Dampak Pencemaran Lingkungan (Edisi Revisi), Andi Offset, Yogyakarta.