Anda di halaman 1dari 41

KONSELING

= PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL =


Kelompok 2:

Melida Fuji
Salsabila Aurita
Dinda Rutri Ayang Bestari Mp
Nikmatika Sri Jolito
Satria Siddik
Mia Audina Putri
Aisha Rizyana Irzan
Adila De Mega Putri
Pendahuluan/Definisi

■ Pendekatan analisis transaksional merupakan pendekatan yang dapat digunakan


pada seting individual maupun kelompok
■ Pendekatan ini melibatkan kontrak yang dikembangkan oleh konseli dan
menekankan kapasitas konseli dalam membuat keputusan baru.
■ Analisis transasksional menekankan pada aspek kognitif, rasional dan tingkah laku
dari kepribadian.
■ “Secara umum, analisis transaksional adalah metode yang digunakan untuk
mempelajari interaksi antar individu dan pengaruh yang bersifat timbal balik yang
merupakan gambaran kepribdian seseorang.”
Sejarah (Eric Berne)
■ Pendekatan analisis transaksional dikembangkan oleh Eric Berne (1910) setelah ia
mendapatkan gelar M.D (Medical Doctor). Dari McGill University di Montreal pada tahun
1935.
■ Spesialisasi psikiatri di Yale University
■ Ketika mengabdi di Tentara Amerika Serikat, mulai bereksprimen tentang terapi kelompok.
■ Memulai praktik psikiatri di Carmel, California.
■ Pada usia 64 tahun, ia mengundurkan diri dari keanggotaan di the Psychoanalytic Institute.
■ Kemudian ia mendobrak asumsi dasar dari psikiatri tradisional dan mulai berpraktik dengan
Transactional Analysis.
■ Pada tahun 1964 ia menerbitkan buku Game People Play yang menjadi international best-
seller.
Empat tahap perkembanngan pendekatan analisis
transaksional menurut Dusay dan Dusay (1984):

■ Tahap pertama (1955-1962): Berne mengidentifikasi ego state yang terdiri dari
orang tua, dewasa, dan anak-anak.
■ Tahap kedua (1962-1966): Berfokus pada transaksi dan games.
■ Tahap ketiga (1966-1970): Perhatian Bene pada naskah hidup (Iife scripts) dan
analisis naskah hidup (scripts analysis).
■ Tahap keempat (1970-sekarang): Tahap ini dikarakteristikka sebagai tahap
penggabungan teknik-teknik analysis transactional yang baru dari pendekatan lain.
Pandangan Tentang Manusia

■ Pendekatan ini melihat individu dipengaruhi oleh ekspektasi dan tuntutan dari
orang lain yang dignifikan baginya terutama pada pengambilan keputusan pada
masa dimana individu masih bergantung pada orang lain
■ keputusan yang telah dibuat tersebut dapat ditinjau kembali dan didobrak bila
keputusan awal tersebut tidak lagi sesuai sehingga individu dapat membuat
keputusan baru.
■ Manusia dianggap memiliki pilihan dan tidak tergantung pada masa lalu.
Konsep Dasar

■ Pendekatan analisis transaksional memiliki asumsi dasar bahwa perilaku


komunikasi seseorang dipengaruhi oleh ego state yang dipilihnya
■ setiap tindakan komunikas dipandang sebagai sebuah transaksi yang didalamnya
turut melibatkan ego state serta sebagai hasil pengalaman dimasa kecil
Injunction dan Early Decision

■ Injunction adalah pesan yang disampaikan kepada anak oleh parent internal child
out dari kondisi kesakitan orang tua seperti kecemasan, kemarahan, frustasi, dan
ketidakbahagiaan.
■ Pesan ini menyuruh atau meminta anak untuk melakukan apa yang harus mereka
lakukan secra verbal dan tingkah laku
■ Menurut Golding, tidak semua injunction diterima dari pesan orang tua tapi juga
melalui penemuan anak sendiri dan anak melakukan interpretasi sendiri yang
dibawa anak hingga ia dewasa nantinya.
Injunction dan kemungkinan respon menurut Goulding
(1978,1979):
1. Don’t atau don’t do anything (jangan berbuat apa-apa)

– Injunction ini diberikan oleh orang tua yang ketakutan


– Orang tua meminta anak untuk tidak melakuka aktivitas normal karena takut akan celakaan
yang mungkin terjadi.
– Bentuk dari pesan ini ialah “jangan berbuat apa-apa, nanti berbahaya”. Atau ‘’lebih aman
kalau kamu tidak berbuat apa-apa’’

Keputusan anak :
– ‘’Saya tidak dapat membuat keputusan untuk diri sendiri, jadi saya mencari orang lain yang
dapat membuat keputusan untuk saya’’.
– ‘’Saya takut membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan,saya tidak mau mengambil
keputusan’’.
2. Don’t be (don’t exist)

– pesan yang paling berbahaya


– Pesan ini diberikan secara non verbal melalui cara orangtua berkeyakinan tentang
anak mereka. Pesan orang tua dapat berupa “jangan hidup”, “jangan ada”, “jangan
lahir”.
– anak yang menerima pesan dont exist ini dapat melakukan bunuh diri, minder, tidak
berguna, tidak berharga, tidak menarik, sikap brutal, dan tidak peduli.
Keputusan :
– “saya akan berusaha supaya kamu mencintai saya, walaupun itu akan membunuh
saya”
– “Saya akan melakukan apa yang kamu inginkan dan berpura-pura saya tidak ada
dalam keluarga ini”
– “bila ini menjadi lebih buruk, saya akan bunuh diri”
3. Don’t be close (jangan dekat)

– Pesan ini dapat diberikan oleh orang tua yang tidak bisa mendekat secaara fisik atau
menjauhkan anaknya sehingga anak kurang mendapatkan kemesraan fisik dari
orangtua

Keputusan :
– “saya tidak memperbolehkan diri saya dekat dengan orang lain”
– “saya tidak akan ddekat dengan orang lain, sehingga saya tidak akan tersakiti”
– “saya tidak percaya laki-laki atau perempuan lagi”
■ 4. Don’t be important (jangan menjadi orang penting)

– Pesan injuction ini merupakan pesan orang tua yang tidak sadar membuang anaknya.
– Anak mungkin merasa tidak dihargai ketika mereka berbicara sehingga mereka
memutuskan bahwa mereka tidak penting, dan tidak perlu bertanya apa yang mereka
inginkan dan butuhkan.
– Orang yang menerima pesan ini biasanya panik ketika diberi taanggung jawab sebagai
pemimpin, tidak dapat berbicara dihadapan orang banyak.

Keputusan yang mungkin diambil :


– “saya tidak pernah merasa berharga”
– “bila saya menjadi orang yang penting, saya tidak akan membiarkan orang tahu tentang
ini”.
5. Dont be a child (jangan seperti anak kecil)

– Pesan ini biasa diterima anak tertua karena ia harus bertanggung jawab dan merawat
saudara-sudaranya.
– Pesan ini juga diterima oleh anak tunggal, ia memikirkan bahwa ia satu-satunya orang
yang dapat menyelesaikan masalah, ia harus cepat besar sehingga dapat berbuat
sesuatu.
– Orang tua tidak memperbolehkan anaknya untuk mengembangkan childnya dengan
terus mengirimi pesan “jangan seperti anak kecil”.
– orang yang memiliki sikap anti child biasanya tidak suka bergaul dengan anak kecil,
kaku, serius, menganggap orang lain bersikap kekanak-kanakan.

Keputusan yang mungkin diambil:


– “saya akan selaalu dewasa dan tidak boleh bertindak kekanak-kanakan”
– “saya akan merawat orang lain dan tidak boleh meminta sesuatu untuk diri saya”.
6. Don’t grow (jangan jadi besar)

– Pesan ini basanya diterima oleh anak bungsu.


– Pesan ini disampaikan orang tua karena ingin mempertahankan anak mereka tetaap
kecil sehingga memerlukan orang tua, atau orang tua takut bahwa mereka tidak dapat
mengontrol anak-anak mereka bila mereka tumbuh dewasa.
– Bentuk lain dari pesan ini adalah dont be sexy.

Keputusan yang mungkin diambil:


– “saya tidak boleh punya ketertarikan seksual,sehingga ayah saya tidak menolak saya”
– “saya akan selalu menjadi anak kecil yang tidak berdaya sehingga akan selalu
mendapat hadia dari orang tua saya”
7. Don’t succed atau don’t make it (jangan berhasil)

– Pesan ini biasanya disampaikan oleh orang tua yang biasa mengkritik anaknya.
– Pesannya seperti: “kamu tidak bisa melakukan ini” kamu tidak pernah melakukan
segala sesuatu dengan baik”.

Keputusan yang mungkin diambil:


– “saya pada dasarnya bodoh dan pecundang”
– “saya akan memperlihatkan padamu bahwa saya bisa melakukan ini, walaupun ini
akan membunuh saya”
– “tidak peduli seberapa baik saya, saya tidak pernah merasa cukup baik”.
8. Don’t be you ( jangan begitu)

– Pesan ini disampaaikan oleh orang tua yang ingin emiliki anak dengan jenis
kelamin yang berbeda dengan anak yang dilahirkan nya, atau memiliki harapan
terlalu tinggi pada anak-anaknya.
– Hal ini dapat dilihat dari perkataan dan sikap oraang tua yang sering mendandani
anak perempuan seperti laki-laki atau sebaliknya. Serta membanding -bandingkan
dengan anak-anak lain.
– Untuk mendpat penrimaan orang tua, anak berusa melakukan apa yang diinginkan
orang tua nya.
Keputusan yang mungkin diambil:
– "Tidak peduli seberapa baik yang saya lakukan, saya tidak bisa menyenangkan
mereka"
– "Saya akan berpura-pura menjadi perempuan (atau laki-laki) "
9. Dont be sane dont be well

– Beberapa anak mengalami stroke (pengakuan) ketika mereka sedang sakit


atau ketika bertingkah laku gila. Hal ini berakibat pada anak yang berpikir jika
mereka harus sakit untuk mendapatkan perhatiannya.
– Secara tidak sadar orang tua memberi pesan pada anaknya jangan sehat.
– Anak belajar pesan ini dari berdasarkan modeling dari orang tuanya dan anak-
anak tidak menggunakan cara-cara untuk memanipulasi orang lain dengan
sakit untuk mencapai tujuannya
– Anak-anak belajar bahwa sakit akan menyelesaikan masalahnya, sehingga
ketika dirinya sedang mengalami permalasahan maka ia akan jatuh sakit
Keputusan yang mungkin diambil:
– "Saya akan sakit (akan gila) Saya mendapat perhatian "
10. Don't belong (jangan jadi orang tua kita)

– Pesan ini mengindikasi keluarga bukanlah bagian dari komunitas atau kelompok
tertentu. Orang tua dapat menyampaikan pesan atribusi pada anaknya dengan nada :
■ "anak yangberbeda dengan anak yang lain
■ "anak aneh"
– Orang tua bisa juga menunjukkan sikap yang secara non verbal dengan memberi
pesan injunction pada anak bahnwa ia menyimpang dari orang tua dan berbeda anak
lain.
– Individu merasa asing karena ia di didik oleh orangtua yang kaku sehingga, ia merasa
tidak dapat diterima dalam lingkungan
Keputusan yang mungkin diambil:
– "Tidak seorangpun akan menyukai saya karena saya bukan bagian dari kelompok
manapun“
– " Saya tidak bisa merasa nyaman dimana pun "
11. Don't think ( jangan berpikir)

– Orang yang selalu mengoreksi anaknya yang berpiikir akan memberi pesan injuction
pada anaknya "jangan berpikir ".
– Pesan "jangan berpikir" dapat berupa kritik terhadap hasil kerja anak disampaikan
oleh orangtua untuk menghindari pertanyaan anaknya tidak boleh memikirkan
sesuatu yang tabu dalam kebudayaan tertentu.
Cotoh pesan :
■ Anak-anak meminta pendapat ayah untuk studi tour disekolah dan ketika Ayah
berpendapat "ah itu urusan belakangan, tidak usah dipikir sekarang, sana bantu Ibu dulu"
Dengan jawaban ini, berikan pesan "jangan berpikir" kepada anak-anak.
■ Agus bercerita pada Ayahnya , Pak tadi saya bawa sepeda ke bengkel karena bannya
gembis terus" Ayahnya membentak, "Kok kamu tidak tanya-tanya dulu? Jangan lancang
ambil inisiatif sendiri, tanya Bapak dulu mau mau berbuat sesuatu.
– Orang dewasa yang memiliki naskah hidup yang mengandung pesan jangan berpikiri
menjadi bingung atau tidak senang ketika harus memikirkan sesuatu.
– Dia akan selalu menghindari pemikiran serius dan akan membagikan pemikirannya
kepada oranglain jika ditugaskan untuk memikirkan sesuatu .
12. Dont Feel (jangan merasa)
■ Orang yang tidak dapat mengekspresikan perasaan atau mencurahkan
perasaannya pada orang lain disebabkan karena pemalu, atau dalam
kebudayaannya tidak dibiasakan untuk mengungkapkan perasaannya kepada
orang lain dan membicarakan perasaannya sendiri.
■ Pada umunya injunction "jangan merasa"dapat menjadi sumber kelainan jiwa di
masa dewasa, menurut beberapa aliran dalam transaksional "jangan merasa" yang
tidak diterapi dapat menjadi kelainan psikosis.
Strokes
■ Dalam analisis transaksional, strokes adalah bentuk dari pengakuan.
■ Individu menggunakan strokes untuk berkomunikasi dengan orang lain.
■ Stroke dapat berupa sentuhan fisik atau bentuk simbolik seperti pandangan mata, kata-kata,
bahasa tubuh dan verbalisasi.

Tipe strokes:
– Positif :
a. Positif Bersyarat: positif untuk melakukan sesuatu ( positif for doing something)
b. Positif Tidak Bersyarat : psositif untuk menjadi diri ( positif by doing you)

– Negatif :
a. Negatif Bersyarat: negatif untuk melakukan sesuatu ( negatif for doing something)
b. Negatif Tidak Bersyarat : psositif untuk menjadi diri ( negatif by doing you)
Lanjutan :

■ Menurut teori analisis transaksional, stoke yang diterima oleh individu adalah stroke
yang ia berikan kepada orang lain.
■ Stroke positif maupun stroke negatif memberikan pengaruh pada individu, akan
tetapi stroke positif memberikan pengaruh penting untuk perkembangan kondisi
psikologis yang sehat.
■ Adapun stroke negatig menghambat perkembangan individu. Stroke negatif
mengambil harga diri individu dengan menghilangkan, mempermalukan dan
mempermainkan individu.
■ Menurut Bane setiap individu membutuhkan sentuhan dan pengakuan yang dapat
dipenuhi melalu stroke.
Naskah Hidup (Life Script)
■ Naskah hidup dirumuskan oleh Eric Berne, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh
Claude Steiner pada tahun 1960.
■ Naskah hidup dibentuk sejak awal kehidupan ketika individu belajar bahwa untuk bertahan
hidup secara psikologis atau fisiologis dimana individu harus menjadi individu tertentu.
■ Naskah hidup kita meliputi pesan orangtua yang diadopsi, pengambilan keputusan yang
dibuat individu dalam merespon injunction, games yang dimainkan individu untuk
mempertahankan keputusan tersebut, racket yang dialami untuk menjustifikasi keputusan,
juga harapan individu terhadap drama kehidupan yang akan dimainkan dan bagaimana
akhir drama tersebut.
■ Dengan demikian naskah hidup adalah sebuah lakon hidup yang disusun pada masa kecil,
kemudian diperkuat orangtua, lalu dibenarkan oleh pengalaman selanjutnya dan memuncak
pada pilihan tertentu
Lanjutan :

■ Pembentukan naskah hidup dipengaruhi oleh:


– Injunction, yaitu pesan ini menyuruh atau meminta anak untuk melakukan apa
yang harus mereka lakukan secara verbal dan tingkah laku. Diterima melalui
pesan orangtua, penemuan sendiri dan misinterpretasi atas pesan orangtua
– Stroke, berupa penghargaan dan penerimaan baik positif maupun negative
– Hunger, yaitu kekurangan stroke positif
Konsep Ego State
1. Ego state orangtua (parent)
– Pada ego state orangtua, individu merasakan kembali pengalaman (re-
experience) yang individu imajinasikan bagaimana orangtua kita merasa pada
situasi tersebut, bagaimana orangtua bertindak
– Ego state orang tua cenderung memiliki ciri-ciri antara lain: menasihati, kritik,
berperilaku sesuai dengan aturan ketentuan institusi yang berperanan penting
selama masa pendidikan seseorang.

dua jenis ego state orangtua :


– Orangtua yang membimbing (nurturing parent)
– Orangtua yang mengkritik (critical parent)
2. Ego state orang dewasa (Adult)
– Ego state orang dewasa adalah pemrosesan data (the processor of data). Hal ini
ditandai dengan kesadaran bahwa data itu penting dalam berkomunikasi.
– Ego state orang dewasa adalah bagian objektif dari individu dimana ia menerima,
menyimpan, memproses, dan mengirim informasi kembali berdasarkan fakta bukan
opini atau perasaan.
– Ciri-ciri ego state ini adalah berpikir logis berdasarkan fakta-fakta obyektif dalam
mengambil keputusan, nalar, tidak emosional dan bersifat rasional. Kata-kata yang
ditampilkan netral, diplomatis, jelas dan tidak tergesa-gesa. Kespresi wajah tenang dan
nada suara datar.
3. Ego state anak-anak (child)
– Ego state anak-anak terdiri dari perasaan, impuls-impuls dan spontanitas biasanya
ditandai dengan ciri-ciri spontan, memili kebutuhan, perasaan dan keingnan untuk
berekplorasi atas peristiwa-peristiwa internal yang direspon dengan melihat,
mendengar dan memahami sesuatu, manipulasi lingkungan seperti menunjukkan
sikap manja, menangis dan merajuk.

Terdapat tiga jenis ego state anak, yaitu:


– Anak yang alamiah (freelnatural child)
– Professor kecil (the little professor)
– Ego state yang melakukan penyesuaian diri terhadap ego state orangtua yang
dimainkan oranglain. Tedapat dua jenis ego state dalam ego state anak yang
menyesuaikan diri, yaitu :
■ Anak yang penurut (conforming child)
■ Anak yang pemberontak (rebellious child)
Posisi hidup (life position)
■ Menurut berne, anak-anak sebelum menyusun naskah hidupnya sudah mempunyai
beberapa keyakinan tentang dirinya dan orang sekitarnya yang dipertahankan seumur
hidupnya.
■ Posisi hidup ini berhubungan dengan eksistensi hidup individu karena merupakan penilaian
dasar terhadap diri dan orang lain.
■ Posisi ini merupakan titik pangkal dari setiap kegiatan individu, setiap penggunaan waktu
(time structuring), game, perbuatan rencana dan reaksi terhadap perencanaan dijiwai oleh
posisi dasar ini.
■ keyakinan-keyakinan ini dinamakan posisi hidup (psychological position), yang terdiri dari
empat posisi hidup, yaitu I’m OK, you’re OK; I’m Ok, you’re not OK; I’m not OK, you’re OK; I’m
not OK, you’re not OK.
I'm ok, you're not OK

Posisi ini bertitik tolak dari posisi saya baik, tetapi yang lain tidak baik.
Sepintas dapat terlihat seperti sikap pemenang. namun kemenangannya
diperoleh deengab mengalahkan orang lain dengan banyak konflik dan
persaingan dan hanya merupakan kemenangan sepihak.

I'm not OK, your're OK


Posisi ini merupakan dasar naskah hidup banal (losing life history).
Individu yang memilih dirinya tidak baik dan menilai orangtua atau figur
orangtua baik, akan menyusun naskah hidup yang akan selalu menjadi
korban. Posisi ini dimiliki oleh individu yang merasa tidak punya kekuatan
dibanding orang lain. Posisi ini dapat mengarah pada depresi dan yang
lebih ekstrim bunuh diri
■ I'm not OK, you're not OK
■ Posisi ini merupakan dasar paling kuat untuk menyusun naskah hidup pecubdang (
loser script). Dalam situasii not ok-not ok ini kedua pihak kalah menurut childnya.
Seluruh dunia tidak baik dan hidup tidak berarti baik bagi diri maupun bagi orang
lain. Individu merasa tidak menarik, tidak pantas disayangi dan orangtua tidak
memperhatikan karena mereka sama buruknya. Posisi ini biasanya dimiliki oleh
individu yang tidak punya keinginan hidup, bahkan dapat mengarah pada
pembunuhan dan bunuh diri
Membuat Keputusan Ulang (Redecisions)
■ The Gouldings (1978, 1979) menekankan bahwa ketika keputusan awal telah dibuat,
keputusan tersebut tidak dapat diubah
■ Menurut mereka individu terlibat dalam membuat keputusan awal tentang arah hidup,
sehingga individu dapat membuat keputusan baru yang lebih sesuai dan memungkinkan
individu untuk mengalami kehidupan yang baru.
■ Dalam proses membuat keputusan ulang (redecision), konseli diajak untuk kembali ke masa
kecil di saat mereka membuat keputusan, kemudian membentuk ego state anak anak dan
memfasilitasi konseli untuk membuat keputusan baru
Games
■ Kebanyakan manusia mengikuti naskah hidup mereka dan belajar menggunakan transaksi
terselubung. Dengan kata lain manusia memainkan games.
■ Game adalah seri berkelanjutan dari transaksi ulterior yang saling melengkapi yang mengarah
pada tujuan yang dapat diprediksi individu. Saat bermain games dalam transaksi biasanya
diakhiri dengan perasaan tidak enak untuk salah satu pemain.
■ Pada umumnya individu mendesain games untuk mencegah intimasi dan bertujuan untuk
mendukung keputusan asal dan bagian dari naskah hidup individu
■ Berne (1964) percaya bahwa keuntungan game adalah fungsi stabilisasi (homeostatic).
Homeostatic adalah kecenderungan individu untuk mempertahankan keseimbangan psikologis
dengan mengatur proses intrapcychic.
■ Game berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan biologis, eksistensial, psikologis,
keseimbangan, area sosial dan eksternal.
■ Dengan demikian games merupakan bagian yang penting dalam interaksi individu dengan
orang lain dan individu harus memahami games yang dimainkannya untuk hidup lebih otentik
■ Tipe-tipe Analisis Teori analisis transaksional tentang manusia dan hubungan
manusia didapat dari pengumpulan data melalui empat tipe analisis yaitu:

– Analisis struktur (Structural analysis),

– Analisis transaksi (Transactional analysis),

– Analisis naskah hidup (script analysis),

– Analisis game (Game analysis)


1. Analisis struktural (structural analysis)
■ Menurut analisis transaksional, analisis struktural adalah dengan melihat kepribadian
individu yang terdiri dari tiga ego state yaitu orangtua (parent), dewasa (adult), dan anak-
anak (child).
■ Analisis struktur adalah alat yang digunakan individu untuk membantu individu menjadi
sadar atas isi dan fungsi ego statenya (orangtua, dewasa dan anak).
■ Analisis struktur membantu konseli mengatasi bentuk ego state yang membuatnya
terhambat dan membantu menemukan ego state yang mendasari tingkah laku sehingga
konseli dapat menentukan pilihan-pilihan hidupnya
■ Dan masalah dalam kepribadian yang dapat dipertimbangkan dalam analisis struktur
(structural analysis), yaitu kontaminasi atau pencemaran (contamination) dan eksklusi
(exclusion).
2. Analisis Transaksi ( Transactional Analysis )
■ Transaksi didefenisika sebagai sebuah unit dalam komunikasi maunsia atau
sebagai hubungan stimulus-respon antara dua orang ego state
■ Pada dasarnya analisis transaksi adalah deskripsi dari apa yang dilakukan dan
dikatakn oleh dirinya dan orang lain.
■ Analisis transaksional dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu :
– Transaksi komplementer : Menurut Berne dideskripsikan sebagai “ the
natural order of healthy juman relationship “ yaitu “ bentuk nyata dari
hubungan natar manusia yang sehat”.
– Transaksi bersilang : Terjadi ketika pesan disampaikan dari satu ego state
dan mendapatkan respons dari ego state yang tidak diharapkan.
– Transaksi terselubung ( ulterior atau covert transaction ) : Transaksi yang
kompleks melibatkan dua atu lebih ego state dan pesan yang disampaikan
tidak jelas.
3. Analisis Naskah ( Script analysis )

■ Naskah psikologis adalah program yang terjadi pada aindividu secara berkelanjutan seperti
sebuah drama kehidupan, dan hal ini mendikte perjalanan hidup manusia baik secara sadar
maupun tidak sadar bertingkah laku kompulsif tergantung program tersebut.
■ Berne berpendapat bahwa menurut nya life script adalah rencana hidup yang dipilih oleh
anak pada masa awal kehidupannya berdasarkan pesan yang diterima oleh anak dari orang
tua.
■ Berne percaya bahwa naskah hidup memiliki 5 komponen yaitu :
Arahan orang tua, Perkembangan pribadi yang berhubungan dengan individu, Keputusan
masa anak-anak yang disesuaikan dengan diri dan kehidupannya, Ketertarikan pada
kesuksesan dan kegagalan, Bentuk tingkah laku.
Tujuan Konseling
■ Tujuan utama konseling analisis transaksion adalah membantu konseli untuk membuat
keputusan baru tentang tingkah laku sekarang dan arah hidupnya.
■ Adapun tujuan-tujuan khusus dari pendekatan ini adalah :
– Konselor membantu konseli untuk memprogram pribadinya agar membuat ego state
berfungsi pada saat yang tepat.
– Konseli dibantu untuk menganalisis transaksi dirinya sendiri.
– Konseli dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain menjadi orang yang
mandiri dalam memilih apa yang diinginkan.
– Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat dan membuat
keputusan baru aatas dasar kesadaran.
Peran dan Fungsi Konselor
■ Konseling analisis transaksional dirancang untuk mendapatkan insight
emosional dan intelektual, tetapi fokus pada bagian rasional.
■ Menurut Harris (1967) peran konselor adalah sebagi guru, pelatih dan
penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli.
– Sebagai guru, konselor menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktur
(structural analysis), analisis transaksi (transacsional analysis), analisis
naskah hidup (script analysis), dan analisis game (game analysis).
■ Claude Stteiner, menekankan bahwa penting hubungan yang egaliter antara
konselor dan konseli. Konselor dan konseli bekerja sebagai partner dalam
konseling. Walaupun konselor memiliki pengetahuan dan keterampilan
konseling yang digunakan untuk membantu konseli. Konselor membantu
konseli menemukan kekuatan internalnya untuk berubah membuat keputusan
yang sesuai sekarang.
Teknik-teknik Konseling
■ Metode Didaktik (Didactic Methods) :
– Karena analisis transaksional menekankan pada domain kognitif , Prosedur mengajar
dan belajar merupakan dasar dari pendekatan ini
■ Kursi Kosong (Empty Chair) :
– Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan Gestalt. Teknik ini , biasanya digunakan
dalam analisis struktural. McNeel (1976) mendeskripsikan bahwa yang mengunakan
dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseli mengatasi konflik
masa lalu dengan orangtua atau orang lain pada masa kecil.
– Tujuan teknik ini adalah untuk menyelesaikan unfinished business masa lalu.
■ Bermain Peran (Role Playing)
– Bermain peran (role play) biasanya digunakan dalam konseling kelompk dimana
melibatkan orang lain
Lanjutan…
■ Penokohan Keluarga [Family Modeling]
– Family modeling adalah pendekatan untuk melakukan analisis struktrural, yang pada
umumnya berguna untuk menghadapi constant parent, constan adult atau constan
child.
■ Analisis Ritual Waktu Luang (Analysis of Rituals and pastime)
– Analisis transaksi termasuk didalamnya adalah identifikasi ritual dan mengisi waktu
luang (pastimes) yang digunakan dalam structuring of time. Time structuring adalah
materi penting untuk diskusi dan penilaian karena merefleksikan keputusan tentang
naskah hidup tentang bagaimana bertransaksi dengan orang lain dan bagaimana
mendapatkan stroke.
Kesimpulan
■ Secara umum, analisis transaksional adalah metode yang digunakan untuk mempelajari interaksi antar
individu dan pengaruh yang bersifat timbal balik yang merupakan gambaran kepribdian seseorang.

■ Derdapat Empat tahap perkembanngan pendekatan analisis transaksional menurut Dusay dan Dusay yaitu;
(1) Tahap pertama (1955-1962) yang mengidentifikasikan ego state, terdiri dari orang tua,dewasa,dan anak-
anak ; (2) Tahap kedua (1962-1966), berfokus pada transaksi dan games ; Tahap ketiga (1966-1970),
berfokus pada naskah hidup (Iife scripts) dan analisis naskah hidup (scripts analysis) ; dan Tahap keempat
(1970-sekarang), sebagai tahap penggabungan teknik-teknik analysis transactional yang baru dari
pendekatan lain.
■ Terdapat 3 Konsep Ego State (status) yang mendasari sifat manusia, yaiutu : Ego state orangtua (parent),
Ego state orang dewasa (Adult), dan Ego state anak-anak (child)
■ Adapun tujuan-tujuan khusus dari pendekatan ini adalah. Konselor membantu konseli untuk memprogram
pribadinya agar membuat ego state berfungsi pada saat yang tepat, Konseli dibantu untuk menganalisis
transaksi dirinya sendiri, Bermain menjadi orang yang mandiri dalam memilih apa yang diinginkan, saerta
Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat dan membuat keputusan baru aatas
dasar kesadaran.

■ Beberapa teknik yang digunakan dalam konseling dengan pendekatan analisis transaksional, yaitu Metode
Didaktik (Didactic Methods), Kursi Kosong (Empty Chair), Bermain Peran (Role Playing), Penokohan Keluarga
[Family Modeling] , Analisis Ritual Waktu Luang (Analysis of Rituals and pastime)
THANK YOU