Anda di halaman 1dari 50

Stimulasi, Deteksi dan Intervensi

Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)

Subulussalam, April 2018


LATAR BELAKANG
• Kualitas generasi penerus tergantung
tumbuh kembang anak, terutama
balita ( 0 – 3 tahun)
• Penyimpangan tumbuh kembang
harus dideteksi ( ditemukan ) sejak
dini, terutama berumur 3 tahun,
supaya dapat segera di intervasi
(diperbaiki)
• Bila deteksi terlambat, maka
penangan terlambat, penyimpangan
sukar diperbaiki
MENINGKATKAN KUALITAS ANAK

Pemantauan secara teratur dan berkala


sejak dini DETEKSI DINI

Mengoptimalkan stimulasi secara dini


sesuai tahap perkembangan anak
STIMULASI DINI

Melakukan tindakan intervensi dini jika ada


penyimpangan
INTERVENSI DINI
SDIDTK Anak
Meliputi :
• Deteksi dini penyimpangan
pertumbuhan
• Deteksi dini penyimpangan
perkembangan
• Deteksi dini penyimpangan
emosional
TUMBUH KEMBANG ANAK
Tinggi
badan

Pertumbuhan:
Peningkatan
ukuran tubuh
Lingkar Berat
kepala badan
1. Sensorik
(dengar, lihat,
raba, rasa, cium)

2. Motorik
6. (gerak kasar,
Kemandirian Perkembangan : gerak halus)
Peningkatan
fungsi – fungsi
individu
3. Kognitif
5. Emosi – (pengetahuan
sosial ,kecerdasan)
4.
Komunikasi/
berbahasa
Faktor Penentu Tumbuh
Kembang Anak
Internal Ras atau Eksternal
Gizi
Bangsa

Umur Penyakit

Keluarga
Aktifitas
fisik
Lingkung
Genetik an
(keluarga,
teman,
Jenis sekolah)
Kelamin
Cara Deteksi Dini PERTUMBUHAN :

1. Pengukuran Berat badan dan Tinggi badan


2. Pengukuran Lingkar kepala
Cara Deteksi Dini PERKEMBANGAN
1. Tanyakan perkembangan anak dengan
KPSP (Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan)
2. Tanyakan daya pendengarannya dengan
TDD (Tes Daya Dengar), Penglihatannya
dengan TDL (Tes Daya Lihat)
3. Tanyakan masalah perilaku dengan
kuesioner MME, autis dengan CHAT,
gangguan pemusatan perhatian dengan
kuesioner Corners
Bayi/anak dengan resiko tinggi perlu
mendapat prioritas, antara lain :
- bayi prematur,
- berat lahir rendah,
- riwayat asfiksia,
- hiperbilirubinemia,
-infeksi intrapartum,
- ibu diabetes melitus,
- gemeli
- dll.
Periode Tumbuh Kembang
1). Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam
kandungan).
2). Masa bayi (infancy) umur 0 - 11 bulan.
3). Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59
bulan). Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai
menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan
motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi.
4). Masa anak prasekolah (anak umur 60 - 72 bulan). Pada masa
ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi
perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan
meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir. Memasuki
masa prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya,
seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
Gangguan – Gangguan Tumbuh
Kembang Anak
Perawakan Pendek

Gangguan Bicara

Cerebral Palsy

Sindrom down

Retardasi Mental

Autis

Gangguan Pemusatan Perhatian


dan Hiperaktifitas (GPPH)
TERIMA KASIH 
Penentuan Status Gizi Anak
Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi
Badan (BB /TB) untuk menentukan status gizi
anak usia dibawah 5 tahun, apakah normal,
kurus, sangat kurus atau gemuk.

Pengukuran Panjang Badan terhadap umur


atau Tinggi Badan terhadap umur (PB/U atau
TB/U) untuk menentukan status gizi anak,
apakah normal, pendek atau sangat pendek.

Pengukuran Indeks Massa Tubuh menurut


Umur (IMT/U) untuk menentukan status gizi
anak usia 5 – 6 tahun apakah anak sangat
kurus, kurus, normal, gemuk atau obesitas.
Deteksi dini penyimpangan
perkembangan :

1. Pemeriksaan perkembangan anak


dengan Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan (KPSP)
2. Tes daya lihat (TDL)
3. Tes daya dengar (TDD)
1. KUESIONER PRA SKRINING
PERKEMBANGAN (KPSP)
Tujuan : mengetahui perkembangan anak normal atau
ada penyimpangan.

Pelaksana skrining : tenaga kesehatan, guru TK dan


petugas PAUD terlatih.

Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah : setiap


3 bulan pada anak < 24 bulan dan tiap 6 bulan pada
anak usia 24 - 72 tahun.

Berisi 10 pertanyaan singkat mengenai kemampuan


yang telah dicapai oleh bayi dan anaknya.
Interpretasi hasil KPSP :
1. Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
a. Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh menjawab: anak bisa atau
pemah atau sering atau kadang-kadang melakukannya.
b. Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh menjawab: anak
belum pernah melakukan atau tidak pemah atau
ibu/pengasuh anak tidak tahu.
2. Jumlah jawaban 'Ya' = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai
dengan tahap perkembangannya (S).
3. Jumlah jawaban 'Ya' = 7 atau 8, perkembangan anak
meragukan (M). Berikan intervensi stimulasi
perkembangan. Ulangi test 2 minggu kemudian.
4. Jumlah jawaban 'Ya' = 6 atau kurang, kemungkinan ada
penyimpangan (P). Rujuk ke RS.
* Untuk jawaban 'Tidak', perlu dirinci jumlah jawaban
'Tidak' menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak
halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
2. TES DAYA LIHAT (TDL)
Tujuan : mendeteksi secara dini
kelainan daya lihat agar segera
dapat dilakukan tindakan lanjutan

Jadwal tes daya lihat : setiap 6


bulan pada anak usia prasekolah
umur 36 sampai 72 bulan.

Pelaksana tes : tenaga kesehatan


lnterpretasi:
• Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan
melihat sampai baris ketiga pada poster "E".
• Bila kedua mata anak tidak dapat melihat baris ketiga
poster E atau tidak dapat mencocokkan arah kartu “E”
yang dipegangnya dengan arah "E" pada baris ketiga
yang ditunjuk oleh pemeriksa, kemungkinan anak
mengalami gangguan daya lihat.

lntervensi:
• Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya
lihat, minta anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang.
• Bila pada pemeriksaa berikutnya, anak tidak dapat
melihat sampai baris yang sama, atau tidak dapat
melihat baris yang sama dengan kedua matanya, rujuk
ke Rumah Sakit dengan menuliskan mata yang
mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya).
2. TES DAYA DENGAR (TDD)
Tujuan tes daya dengar : menemukan
gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat
segera ditindaklanjuti

Jadwal TDD : setiap 3 bulan pada bayi umur


kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada
anak umur 12 bulan keatas

Pelaksana : tenaga kesehatan, guru TK,


tenaga PAUD dan petugas terlatih lainnya.
Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
a. Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang
tua/pengasuh anak. Katakan pada Ibu/pengasuh untuk
tidak usah ragu-ragu atau takut menjawab, karena
tidak untuk mencari siapa yang salah.
b. Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring,
satu persatu, berurutan.
c. Tunggu jawaban dari orangtua/pengasuh anak.
d. Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak
dapat melakukannya dalam satu bulan terakhir.
e. Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh anak
tidak pernah, tidak tahu atau tak dapat melakukannya
dalam satu bulan terakhir.
Pada anak umur 24 bulan atau lebih:
a. Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui
orangtua/pengasuh untuk dikerjakan oleh anak.
b. Amati kemampuan anak dalam melakukan
perintah orangtua/pengasuh.
c. Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
d. Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak
mau melakukan perintah orangtua/pengasuh.
lnterpretasi:
• Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK,
kemungkinan anak mengalami gangguan
pendengaran.
• Catat dalam Buku KIA atau register SDIDTK,
atau status/catatan medik anak.

lntervensi:
• Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman
yang ada.
• Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi
Deteksi dini penyimpangan
mental emosional :
1. Kuesioner Masalah Mental Emosional
(KMME) bagi anak usia 36-72 bulan
2. Ceklis Autis Anak Pra Sekolah (Checklist
for Autism in Toddlers =CHAT) bagi anak
usia 18-36 bulan
3. Formulir deteksi dini Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas
(GPPH) bagi anak usia 36 bulan ke atas
Intervensi :
• Bila jawaban YA hanya satu : lakukan
konseling Buku Pedoman Pola Asuh
yang Mendukung Perkembangan Anak
• Evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada
perubahan rujuk ke RS
• Bila jawaban YA ditemukan 2 atau lebih
: rujuk ke RS (fasilitas tumbuh kembang
anak)
Intervensi :
• Enam pertanyaan No. 2, 7, 9, 13, 14, dan 15
adalah pertanyaan penting (crirical item) jika
dijawab tidak berarti pasien mempunyai risiko
ringgi autism.
• Jawaban tidak pada dua atau lebih critical item
atau tiga pernyaan lain yang dijawab tidak sesuai
(misalnya seharusnya dijawab ya, orang tua
menjawab tidak) maka anak tersebut mempunyai
risiko autism.
• Jika perilaku itu jarang dikerjakan (misal anda
melihat satu atau 2 kali) , mohon dijawab anak
tersebut tidak melakukannya.
Intervensi :
Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai
dengan "bobot nilai" berikut ini, dan jumlahkan
nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total
- Nilai 0: jika keadaan tersebut tidak ditemukan
pada anak.
- Nilai 1:jika keadaan tersebut kadang-kadang
ditemukan pada anak.
- Nilai 2: jika keadaan tersebut sering ditemukan
pada anak.
- Nilai 3: jika keadaan tersebut selalu ada pada
anak.
Bila nilai total 13 atau lebih anak
kemungkinan dengan GPPH.