Anda di halaman 1dari 23

SISTEM

RUJUKAN
NEONATUS

Brivian Florentis Yustanta, SST, M.Kes


Prodi DIV Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri
Sistem
Rujukan Rujukan Neonatus
yakni pelimpahan adalah suatu sistem
wewenang dan yang memberikan
tanggung jawab suatu gambaran tata
pengelolaan suatu cara pengiriman
kasus atau masalah neonatus resiko
kesehatan secara tinggi dari tempat
timbal balik secara yang kurang mampu
vertikal atau ke tempat yang
horizontal. dianggap lebih
mampu
Dalam rujukan
terjadi:
1.Penyerahan
tanggung jawab
2.Penyaluran
pengetahuan dan
keterampilan
3.Pengiriman bahan
untuk pemeriksaan
laboratorium
KOMPONEN SISTEM

Sistem merupakan suatu kerjasama yang


dihasilkan oleh berbagai komponen yang
membentuk satu kesatuan
BIDAN ALAT

KELUARGA

SURAT OBAT KENDARAAN UANG


1. Rujukan terlambat
Rujukan terlambat merupakan rujukan yang
disebabkan oleh mekanisme rujukan yang belum
dilaksanakan secara tepat dan terencana
2. Rujukan Terencana
Rujukan terencana merupakan suatu rujukan yang
dikembangkan secara sederhana, mudah di
mengerti dan dapat disiapkan atau direncanakan
a. Rujukan Dini Berencana (RDB)
b. Rujukan Tepat Waktu (RTW)
1. Rujukan Medis
Terdiri dari rujukan pasien dan rujukan laboratorium,
2. Rujukan Kesehatan
Terdiri dari pengiriman dokter ahli, pengiriman asisten
ahli senior, pengiriman tenaga kesehatan dan alih
pengetahuan serta keterampilan
3. Rujukan Manajemen
Terdiri dari pengiriman informasi secara resmi berupa
biaya, tenaga, peralatan dan obat serta berupa
permintaan atau bantuan.
1. KPD
Kehamilan 2. Ibu DM
Resiko 3. Gemelli
Tinggi 4. Hipertensi
Identifikasi 5. Sungsang
Neonatus Yang
Akan Dirujuk
1. Prematur
Bayi 2. Sepsis
Resiko 3. Asfiksia
Tinggi berat
4. Respiratory
distress
Berdasarkan faktor resiko dan kemampuan unit kesehatan,
pada dasarnya tingkat perawatan dibagi menjadi :
•Pelayanan dasar termasuk didalamnya adalah RS tipe D,
Puskesmas dengan tempat tidur, Rumah Bersalin.
•Pelayanan spesialistik didalamnya termasuk RS tipe C, RS
Kabupaten, RS Swasta, RS Propinsi.
•Pelayanan subspesialistis ialah RS tipe A, RS tipe B
pendidikan / non pendidikan pemerintah atau swasta.
1. Unit perawatan bayi baru lahir tingkat III
Memberikan pelayanan dasar penguasaan pertolongan
pertama (sepsis, ikterus, muntah, perdarahan)
2. Unit perawatan bayi baru lahir tingkat II
Dokter ahli berupa pelayanan kehamilan
persalinan normal maupun resti. Perawatan BBL (resusitasi,
terapi sinar dan transfusi tukar, hipoglikemi)
3. Unit perawatan bayi baru lahir tingkat I
Semua aspek yang menyangkut dengan masalah perinatologi
dan neonatologi
gi

PELAYANAN
T TINGKAT III U
DASAR Gangguan pernafasan,
I RS tipe D, puskesmas N
cacat bawaan, diare
N perawatan, rumah bersalin I
G T
K
A P
T TINGKAT II E
PELAYANAN
Resusitasi selama
SPESIALISTIK R
P pemasangan pita
RS tipe C, RS Kabupaten, RS endotrakeal, terapi sinar,
E Swasta, RS Propinsi tranfusi tukar, perawatan N
R BBLR E
A O
W N
A PELAYANAN
A
T SUBSPESIALISTIK
RS tipe A, RS tipe B
TINGKAT I T
A Masalah perinatologi dan U
pendidikan atau non
N pendidikan pemerintah atau neonatologi
S
swasta
• Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergency Dasar (PONED) yaitu
merupakan pelayanan dasar dalam bidang kegawatdaruratan
kebidanan dan bayi baru lahir yang dapat diberikan setidaknya oleh
bidan dan perawat. Pusat kesehatan yang menjalankan PONED
setidaknya harus tersedia sedikit mungkin 1 per 30.000 jumlah
penduduk
• RS Tipe D, Puskesmas Perawatan, Rumah Bersalin
Pelaksanaan :
- Rawat Jalan Tingkat Pertama
- Rawat Inap Tingkat Pertama
 Rawat Jalan Tingkat Pertama
• Pemeriksaan fisik pada ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan
balita.
• Laboratorium sederhana
• Pelayanan KB dan penyembuhan efek samping.
• Tindakan medis kecil
• Pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan
• Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan
 Rawat Inap Tingkat Pertama
• Akomodasi rawat inap dengan petugas terlatih siap dalam 24 jam
• Tindakan medis kecil
• Penanganan dini eklampsia
• Melakukan placenta manual,
• Penanganan terhadap abortus
• Melakukan pertolongan pervaginam dengan kegawatdaruratan,
• Pelayanan Obstetric Neonatal Emergency Komperhensif yaitu
merupakan bentuk pelayanan dalam bidang kegawatdaruratan
kebidanan dan bayi baru lahir yang bersifat luas dan meliputi
banyak hal.
• Biasanya dilakukan di Rumah Sakit yang memiliki kamar operasi.
• Pelayanan dapat diberikan oleh team dokter, anestesi, bidan dan
perawat. Pusat Kesehatan yang menjalankan PONEK setidaknya
harus tersedia 1 per 150.000 – 200.00 penduduk.
• Pelaksanaan :
- Rawat Jalan Tingkat Lanjut
- Rawat Inap Tingkat Lanjut
 Rawat Jalan Tingkat Lanjut
• Pemeriksaan fisik pada ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan
balita dengan resiko tinggi.
• Pemeriksaan penunjang diagnostik lengkap seperti laboratorium klinik,
radiologi, elektromedik.
• Pelayanan KB dan penyembuhan efek samping.
• Pemberian obat-obatan sesuai dengan kebutuhan contohnya
pengobatan terhadap ibu hamil dengan penyakit jantung.
• Pelayanan darah contohnya ibu hamil anemia berat yang
membutuhkan tranfusi darah.
• Konsultasi medis dengan dokter spesialis.
 Rawat Inap Tingkat Lanjut
• Akomodasi rawat inap 24/7
• Tindakan media kecil, sedang dan besar
• Pelayanan rehabilitasi medis
• Perawatan intensif
Bagan alur sederhana
tingkat rujukan PONED dan PONEK

pasien

puskesmas

Rawat Inap
Perlu pemeriksaan? Perlu rawat Tingkat Lanjut
RS inap? (RITL)
Tindakan spesialis?

Rawat Jalan Rawat Jalan


Tingkat Pertama Tingkat Lanjut
(RJTP) (RJTL)

Pelayanan obat

Pasien pulang
Mekanisme / alur rujukan secara sederhana dapat
digambarkan dalam bagan berikut ini :

Ket :
DUKUN BIDAN
Tugas dan Peran
Dukun : Kemitraan bagi bidan
puskesmas Bidan : Penerima pertama rujukan
dari dukun
Puskesmas : Tempat rujukan pertama
RS tipe D
dari bidan tugas mandiri
RS Tipe D : PONED
RS tipe C RS Tipe C : PONEK / Pelayanan
Spesialistik dengan tenaga terlatih
sebanyak 4 spesialis
RS tipe B
RS Tipe B : PONEK dengan
tenaga spesialis lengkap
RS tipe A RS Tipe A : PONEK dengan
tenaga Subspesialis
• Adanya indikasi rujukan
• Adanya kesepakatan antara tenaga kesehatan dengan
klien
• Adanya pencatatan tertentu, seperti :
• Adanya unit yang mempunyai tanggung jawab, baik
yang merujuk maupun yang menerima rujukan
• Adanya pengertian timbal balik antara pengirim dan
penerima
• Adanya pengertian petugas tentang sistem rujukan
• Sifat rujukan kearah yang lebih mampu dan lengkap
• Stabilisasi kondisi ibu dan bayi pada saat transportasi
Stabilisasi KU agar kodisi bayi tidak bertambh berat
dan meninggal di tengah jalan
 Bayi dinyatakan stabil apabila suhu tubuh normal,
tekanan darah, cairan tubuh dan oksigenasi cukup.
 Penanganan stabilisasi
-Dehidrasi infus
-Kejang antikonvulsi
-Sesak nafas oksigen
-Muntah-muntah selang nasogastrik
- Meningokele tutup dengan kassa yang dibasahi
cairan NaCl.
• Keadaan geografis yang bervariasi
• Kurangnya tenaga kesehatan baik secara kuantitatif
maupun kualitatif
• Tidak terpadunya sistem komunikasi, transportasi dan
logistik untuk mendukung pelayanan rujukan
• Pengkotak-kotakan dan duplikasi pembiayaan sistem
rujukan
• Kurangnya informasi para pembuat keputusan,
pengelolaan, pelayanan, maupun bagi masyarakat
sendiri
EVALUASI
ANALISIS KASUS

• Pukul 10 Malam Ny. A, 18 tahun, G1P0A0, datang ke tempat


praktik bidan B dengan keluhan hamil 36 minggu, keluar air –
air dan lendir bercampur darah dari kemaluan, ibu merasa
mules sejak pukul 8 pagi tadi, diketahui frekuensi his 3 kali
dalam 10 menit lamanya 30 detik. Ny. A mengaku pernah
melakukan 2 kali ANC di bidan ketika umur kehamilan
memasuki bulan ke-4 dan bulan ke-6. Hasil pemeriksaan TTV
normal. Hasil pemeriksaan palpasi didapatkan bahwa teraba
bagian keras, melenting di fundus dan lunak pada bagian
terendah janin. DJJ normal. Pada pemeriksaan dalam
didapatkan pembukaan 6 centi, selaput ketuban (-) dan teraba
sacrum.

Anda mungkin juga menyukai