Anda di halaman 1dari 18

PERBANDINGAN

EFISIENSI
ANESTESI PADA
SUBKONJUNGTIVA
VS DAN PERIBULBAR
PADA OPERASI
KATARAK-STUDI
BERBASIS RUMAH
SAKIT PEDESAAN
PENDAHULUAN
Anestesi pada peribulbar
untuk katarak merupakan
tehnik yang sangat populer
pada dekade sebelumnya.
Kelmin (1970) yang
pertamakali menerapkan
tehnik ini pada tahun 1970

Tidak seperti anestesi


Berkembanglah peran
peribulbar, anestesi Terdapat catatan mengenai
anestesi pada
subkonjungtiva kekurangan anestesi peribulbar,
subkonjungtiva, yang
menghilangkan resiko dimana memiliki durasi yang
digunakan sebagai tambahan
perforasi perdarahan pada lebih pendek dan metode
anestesi pada peribulbar
retrobulbar, dan trauma anestesi yang kurang invasif
pada saraf optik.
MANFAAT TUJUAN

• Untuk mengevaluasi
waktu operasi ( insersi
Untuk mengevaluasi efisiensi speculum mata dan
perbandiangan anestesi pada pelepasannya)
subkonjungtiva dan anestesi • Untuk mengobservasi
peribulbar selama control komplikasi operasi yang
nyeri pada injeksi dan operasi berhubungan dengan local
(operasi manual katarak anestesi
dengan sayatan kecil) • Untuk mengevaluasi
efektifitas harga
DESAIN PENELITIAN
– Studi cross sectional acak
Bahan dan Metode

– Penelitian dilakukan di Departemen Oftalmologi (AVBRH) .


– Pasien yang menjalani operasi katarak dipilih secara acak.
– Durasi penelitian 2 tahun
– Jumlah sampel 200 pasien (dibagi menjadi dua kelompok A dan B )
– 109 pasien laki-laki dan 91 pasien perempuan
– Usia rata-rata 61-70 tahun
KRITERIA KRITERIA
INKLUSI EKSKLUSI
1. Pasien yang sebelum operasi
menggunakan obat sedatif,
analgesik atau anxiolitik.
Semua pasien yang menjalani 2. Pasien dengan gangguan kognitif
operasi katarak tanpa adanya yang mendalam yang tidak bisa
penyakit okular yang lain. menilai rasa sakit atau yang tidak
dapat memberikan inform consent
secara tertulis
3. Pasien dengan sensitivitas terhadap
lignokain atau hyaluronidase
4. Penderita hipertensi, penyakit
jantung sistemik, diabetes,
glaukoma, asma bronkial, dan
operasi mata sebelumnya
– Kelompok A (100 pasien) = anestesi area subkonjungtiva
– 2 ml lignokain 2% dengan 1:200000 adrenalin dengan 150 unit hyaluronidase dan 2ml bupavicain
(0.75%) dimasukkan kedalam jarum suntik ukuran 5 ml. dari jumlah ini 4 ml, hanya 2 ml yang
diinjeksikan pada ruang subkonjungtival pada posisi jam 12. subkonjungtiva bagian superior dilubangi
dengan jarum 26G dengan tepi miring ke bawah.
– Kelompok B (100 pasien) = anestesi area peribulbar
– 3ml lignokain 2% dengan 1:200000 adrenalin dengan 150 unit hyaluronidase dan 2 ml bupivacaine
(0.75%) dimasukkan dalam jarum suntik 5 ml. 5 ml ini diinjeksikan dengan jarum 24G pada
persimpangan bawah 1/3 luar dan 2/3 dalam bagian bawah orbital rim. Demikian pula, disuntikkan 3
ml pada persimpangan 2/3 luar dan 1/3 dalam pada bagian atas orbital rim.
– Analisis nyeri untuk kedua kelompok saat disuntik dan saat operasi dicatat oleh
ahli bedah menggunakan skala analog visual.
– Waktu opersi dicatat oleh ahlli bedah untuk kedua kelompok dari penyisipan
dan pemindahan speculum.
– 20 menit dianggap sebagai waktu rata-rata dan lebih dari 20 menit dianggap
diatas rata-rata.
– Komplikasi harus diperhatikan
OBSERVASI
(tabel 1 : skor nyeri selama injeksi pada kedua
kelompok)
Nyeri selama Kelompok Kelompok N2-value P-value
penyuntikan A B
Grade 0 00 00
Grade 1 07 00
Grade 2 49 00
Grade 3 26 00
Grade 4 06 26
Grade 5 05 65
184.6 P<0.0001
Grade 6 04 03 Signifikan
Grade 7 02 04
Grade 8 01 02
Grade 9 00 00
Grade 10 00 00
Total 100 100
OBSERVASI
tabel 2 ( skor nyeri selama operasi pada kedua
kelompok)
Nyeri selama Kelompok Kelompok N2-value P-value
operasi A B
Grade 0 83 89
Grade 1 16 09
Grade 2 01 02
Grade 3 00 00
Grade 4 00 00
Grade 5 00 00
184.9 P<0.0001
Grade 6 00 00 Signifikan
Grade 7 00 00
Grade 8 00 00
Grade 9 00 00
Grade 10 00 00
Total 100 100
OBSERVASI
tabel 3 (skor nyeri setelah operasi pada kedua kelompok)
Nyeri selama Kelompok Kelompok N2-value P-value
operasi A B
Grade 0 00 00
Grade 1 12 18
Grade 2 48 52
Grade 3 26 20
Grade 4 10 03
Grade 5 02 04
184.9 P<0.0001
Grade 6 02 01 Signifikan
Grade 7 00 02
Grade 8 00 00
Grade 9 00 00
Grade 10 00 00
Total 100 100
OBSERVASI
tabel 4 ( waktu operasi pada kedua
keompok)
Nyeri Selama Kelompok A Kelompok B N2 value P value
Operasi
Rata-rata 20 97 94
menit 1.04 0.30 NS
Diatas 20 menit 3 6 P> 0.05

Total 100 100


OBSERVASI
Tabel 5 : komplikasi pada tehnik
Komplikasi Kelompok A Kelompok B N2 value P value
Kemosis 1 0
SCH 8 3
Mata hitam 0 1 4.20 0.52 NS
Edema palpebra 0 8 P> 0.05
Tanpa komplikasi 91 88
total 100 100
DISKUSI

– Skor nyeri pada saat injekis pada kelompok A 49% (grade 2) yang secara signifikan lebih rendah
daripada kelompok B dimana skornya adalah 65% (grade 5)
– Skor nyeri setelah opersi (VAS-OP) tidak ada perbedaan signifikan pada kedua kelompok, bahwa
kontrol nyeri pada anestesi subkonjugtiva sama dengan anestesi peribulbar selama MSICS.
– Tidak ada perbedaan signifikan yang dicatat dengan mengacu pada waktu yang ada di kedua
kelompok tersebut
– Anestesi subkonjungtiva menghilangkan resiko perforasi, kerusakan retrobulbar, dan trauma
saraf oprik, dan dikaitkan dengan ketidaknyamanan yang minimal
KESIMPULAN

– Anestesi subkonjungtiva menghasilkan anestesi yang adekuat


– Anestesi subkonjungtiva menunjukkan skor nyeri yang lebih rendah pada saat
pemberian, dan aman serta lebih nyaman dengan tingkat komplikasi yang lebih
rendah
– Anestesi subkonjungtiva ternyata lebih hemat biaya daripada anestesi
peribulbar
TERIMAKASIH