Anda di halaman 1dari 14

Capital and revenue

expenditures
Capital and Revenue Expenditures
Pengeluaran modal atau yang juga dikenal
dengan istilah capex (capital expenditure)
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh aset tetap, menambah kapasitas
output aktiva tetap, menambah tingkat
keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang
umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat
ekonomisnya lebih dari satu tahun buku).
Capital and Revenue Expenditures
Revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan
adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya
memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE
BERJALAN terjadinya pengeluaran.

Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset


tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN
pada laporan laba/rugi periode berjalan.
Recognition & Measurement Issues
• Semua metode akuntansi mengalami masalah
pengakuan dan pengukuran yang serupa.
Setiap metode alokasi biaya memerlukan
estimasi nilai sisa dan masa manfaat, serta
diberi lingkungan yang kompetitif yang
berubah – ubah dengan cepat, revisi perkiraan
ini mungkin diperlukan setiap periode
akuntansi.
IMPAIRMENT OF VALUE
• Akuntansi untuk asset jangka panjang
seharusnya sama dengan akuntansi asset lain.
• Ketika nilai asset berkurang, harus dilakukan
pencatatan.
• Menurut SFAS No.121:
- Impairment terjadi jika carrying amount
sudah tidak dapat dipulihkan.
- Kerugian diakui ketika book value nya
sudah tidak dapat dipulihkan.
Internasional Accounting Standards
• IASB mengeluarkan pengumuman terhadap issues yang
mempengaruhi item property, plan, dan equipment:
– Keseluruhan isu terkait dengan akuntansi untuk aset properti,
pabrik dan peralatan dalam revisi IAS No.16, “Property, Plant
and Equipment”
– Kapitalisasi bunga di IAS No.23, “Borrowing Cost”
– Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai aset di IAS No.36,
“Impairment of Assets”
– Perlakuan akuntansi untuk aset yang dimiliki untuk tidak dipakai
lagi di IFRS No.5, “Non-Current Assets Held for Sale and
Discontinued Operations”
– Akuntansi untuk sumber daya mineral di IFRS No.6 “Exploration
for and Evaluation of Mineral Resources”
IAS No.16, “Property, Plant and
Equipment”
• Revisi IAS Nomor 16 tidak mengubah pendekatan mendasar
untuk akuntansi untuk aktiva tetap tersebut:
– Akui item sebagai aset saat manfaat ekonomi akan
mengalir ke perusahaan dan biaya dapat diukur.
– Preferensi untuk terdepresiasi biaya historis aset.
– Memungkinkan revaluasi dengan nilai pasar saat ini
(current market value).
– Membutuhkan pencatatan impairment.
– Biaya penyusutan harus mencerminkan pola manfaat.
– Jika perubahan pola manfaat dicatat, maka ubah metode
penyusutan untuk mencerminkan pola baru.
IAS No.16, “Property, Plant and
Equipment”
• Klarifikasi utama dalam revisi IAS No.16:
1. Memerlukan pendekatan komponen untuk penyusutan
2. Biaya akuisisi properti, pabrik, dan peralatan harus memenuhi
– Jumlah dari IAS No.37 ketentuan jumlah untuk estimasi biaya dari
pembongkaran dan penghapusan asset dan mengembalikan situs
– Mencakup ketentuan ketika aset diperoleh dan ketentuan tambahan
yang diakui saat aset tersebut digunakan
3. Akuntansi untuk pendapatan isidental (dan biaya terkait) selama
konstruksi atau pengembangan aset akan bergantung pada:
– Apakah pendapatan isidentil adalah kegiatan yang diperlukan untuk
membawa aset ke lokasi
– Kondisi pekerjaan dibutuhkan untuk mampu beroperasi dalam cara
yang dimaksudkan oleh manajemen
IAS No.16, “Property, Plant and
Equipment”
4. Pengukuran nilai sisa (residual value):
• Harga saat ini untuk aset dari usia dan kondisi serupa dengan
estimasi umur dan kondisi aset saat mencapai akhir masa pakainya.

5. Pertukaran item serupa properti, pabrik, dan peralatan:


• Dicatat sebesar nilai wajarnya (fair value).
• Keuntungan atau kerugian akan diakui.
Kecuali, bukan nilai wajar aset tertera maupun nilai wajar dari
aktiva yang diperoleh dapat diukur secara handal
• Pengeluaran selanjutnya (subsequent expenditure) akan
dikapitalisasi hanya jika pengeluaran meningkatkan manfaat
ekonomi masa depan aset yaitu di atas yang tercermin dalam
penilaian tingkat kinerja saat ini.
IAS No.23, “Borrowing Cost”
• Membutuhkan:
– Penurunan nilai (impairment loss) harus diakui pada
item properti, pabrik dan peralatan.
– Setiap kali recoverable amount dari aset kurang dari
nilai bukunya.
Recoverable amount adalah lebih tinggi dari
– Harga jual aset.
– atau nilai pakai (present value of future cash flow)
• Revisi 2007: Pilihan dihapus dengan segera
mengakui semua biaya pinjaman sebagai beban.
IAS No.36, “Impairment of Assets”

• Memastikan aset dicatat tidak melebihi


jumlah terpulihkan (recoverable amount).
• Menentukan bagaimana recoverable amount
dihitung.
IAS No.40, “Investment Property”

• Menetapkan sebagai land atau building


digunakan untuk mendapatkan rental atau
untuk apresiasi modal.

• Akun diantaranya:
• Fair value dengan perubahan tercermin dari
modal.
IFRS No.5, “Non-Current Assets Held
for Sale and Discontinued Operations”
• Menetapkan klasifikasi untuk aset tidak lancar
’held for sale’
– Menggunakan kriteria yang sama seperti yang
tercantum dalam SFAS No.144 “Akuntansi untuk
Penurunan atau Penjualan Aktiva jangka panjang”.
• Oleh karena itu, operasi yang ditinggalkan
tidak akan memenuhi definisi
– Namun dapat diklasifikasikan sebagai dihentikan
setelah ditinggalkan.
IFRS No.6 “Exploration for and
Evaluation of Mineral Resources”
• Diperlukan untuk diukur diawal pada biaya
• Tipe pengeluaran yang diperbolehkan :
– Topografi, geologi, geokimia, dan geofisika studi
– Pengeboran eksplorasi, penggalian, pengambilan
sampel