Anda di halaman 1dari 18

KEBIJAKAN DEVIDEN

KELOMPOK 8:
1. Mutia Yulisman ( 16059012 )
2. Tita Vorisca ( 16059022 )
3. Sintia Devita ( 16059033 )
4. Hanafika Ihsan ( 16059046 )

ALLPPT.com _ Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts


1. PENGERTIAN

• menurut Agus Sartono (2008:281)


“ Kebijakan dividen adalah keputusan apakah
laba yang diperoleh perusahaan akan diba
gikan kepada pemegang saham sebagai di
viden atau akan ditahan dalam bentuk lab
a ditahan guna pembiayaan investasi dima
sa datang ”.

1
•Dividen = Laba bersih – [( Rasio ekuitas sasaran )( Tot
al anggaran modal )]
•atau NilaiLababersihsetelahpajak (EAT) dikurangideng
anLabaDitahan sebagaiCadanganbagiperusahaan.
2. Bentuk- bentuk Dividen

A. Dividen tunai (cash dividen)

B. Dividen saham (stock dividen)

2
Contoh:

•Saham biasa (nominal Rp 1000 : 3 000 000 lembar) = Rp 3 000 000 000
•Capital surplus = Rp 1 500 000 000
•Laba ditahan = Rp 7 500 000 000
•Modal sendiri = Rp 12000 000 000
•Perusahaan menentukan stock dividend sebesar 10%.
•Harga pasar saham Rp 4.000,-

•Bagaimanakah komposisi modal sendiri setelah stock dividend ?


•Jawab :
• Stock dividend 10%
Maka ada tambahan saham sebanyak 10% x 3 000 000 = 300 000 lembar.
•Stock deviden = 300 000 x Rp 4.000,- = Rp 1.200.000.000,-
Ditransfer dari laba ditahan ke saham biasa dan capital surplus
•Nilai nominal saham tidak berubah, maka 300 000 lembar x Rp 100= Rp 300.000.0
00, ditransfer ke modal saham biasa.
•Sisanya Rp 1 200 000 000 – Rp 300 000 000,- = Rp 900 000 000,- dimasukkan dal
am capital surplus, sehingga total modal sendiri tidak berubah

Setelah stock dividend maka komposisi modal sendiri PT Abadi :


-Saham biasa (nominal Rp 1000 ; 3 300 000 lembar) = Rp 3 300 000 000
- Capital surplus = Rp 2 400 000 000
- Laba ditahan = Rp 6 300 000 000
- Modal sendiri = Rp 12000 000 000
C. Pemecahan Saham (Stock Split)

• Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham ke d


alam nilai nominal yang lebih kecil.
• Tujuan stock split adalah untuk menempatkan harga pa
sar saham dalam trading range tertentu.
CONTOH : PT Abadi menentukan stock split dari satu menjadi dua saham.

Komposisi modal sendiri perusahaan adalah sebagai berikut:


•Saham biasa (nominal Rp 5000 ; 600 000 lembar) = Rp 3.000 000
•Capital surplus = Rp 1.500 000
•Laba ditahan = Rp 7.500 000
•Modal sendiri = Rp12.000 000 000

Setelah stock split, komposisi modal sendiri menjadi:


•Saham biasa (nominal Rp 2500 ; 1 200 000 lembar) = Rp 3.000 000
•Capital surplus = Rp 1.500 000
•Laba ditahan = Rp 7 500 000
•Modal sendiri = Rp12.000 000 000
D. Pembelian Kembali Saham (Repurchase Of Stock)

suatu transaksi di mana suatu perusahaan membeli kembali


Sahamnya sendiri, sehingga menurunkan jumlah lembar saham
beredar, meningkatkan EPS, dan sering kali menaikkan harga
saham.
CONTOH :
PT Abadi adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur yang memproduksi produk-produk
perlengkapan busana wanita dan pria.
• tahun 2005 memperoleh laba sebesar Rp 550 juta dan 50% dari jumlah tersebut akan dibagikan kepada para
pemegang saham dalam bentuk pembelian kembali saham.
• Jumlah saham yang beredar saat ini adalah sebanyak 1.100.000 lembar
• harga pasar sebesar Rp 2.500,- per lembar saham
• Manajer keuangan menawarkan kepada mereka yang mau menjual kembali saham biasa yang dimilikinya seh
arga Rp 2.750 , jadi seolaholah menawarkan cash dividend Rp 250 per lembar saham.

a. laba per saham dan PER sebelum kebijakan pembelian kembali saham
b. laba per saham setelah kebijakan pembelian kembali saham
c. harga saham setelah kebijakan pembelian kembali saham dengan asumsi PER konstan.
JAWAB:
•EAT = 550 juta Payout Ratio 50%
•Outstanding share = 1,1 juta1
•P saham = Rp 2500 / lembar
•P treasury stock = Rp 2750 / lembar

a.Sebelum kebijakan pembelian saham:


EPS = Rp.550,- juta / 1,1 juta = Rp 500 /lembar
PER = 2500 / 500 = 5 EPS
b.Setelah kebijakan pembalian kembali saham:
EAT untuk treasury stock = ½ x Rp.550,- juta = Rp.275,- juta
Jumlah saham yang dapat ditarik kembali = 275 juta / 2750 = 100 000 lembar
EPS = Rp.550,- juta / 1 juta = Rp 550,- / lembar
c.P saham = PER x EPS = 5 x Rp 550,- = Rp 2.750,-
3. Prosedur Pembayaran Dividen

• Tanggal Deklarasi (Declaration Date)

• Tanggal Pemilik tercatat ( Holder of Record Date)

• Tanggal Eks-dividen (Ex-Dividend Date)

• Tanggal Pembayaran (Payment Date)

3
4. faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden

• Kebutuhan dana perusahaan


• Likuiditas
• Kemampuan meminjam
• Keadaan pemegang saham
• Stabilitas deviden

4
5. Teori-Teori Kebijakan Deviden

A. Dividen irrelevance Theory(Dividen Tidak Relevan)

Pendukung dari tidak relevannya kebijakan dividen adalah Modigliani-Miller


(MM).
“ Mereka berpendapat bahwa bagaimanapun kebijakan dividen itu memang ti
dak mempengaruhi harga saham maupun kemakmuran pemegang saha
m. Lebih lanjut MM berpendapat bahwa nilai perusahaan ditentukan ole
h earning power dan asset perusahaan tersebut.”
Dengan demikian nilai perusahaan ditentukan oleh keputusan investasi.
Sementara itu keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam
bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.

5
B. Teori Bird in The Hand

Teori ini dikemukakan oleh Myron Gordon (1959) dan John Lintner (1956) yan
g berpendapat bahwa
“ekuitas atau nilai perusahaan akan turun apabila rasio pembayaran dividen di
naikkan, karena para investor kurang yakin terhadap penerimaan keuntun
gan modal (capital gain) yang dihasilkan dari laba yang ditahan dibanding
kan seandainya para investor menerima dividen.”
Gordon dan Lintner berpendapat bahwa sesungguhnya investor jauh lebih
menghargai pendapatan yang diharapkan dari dividen daripada pendapatan
yang diharapkan dari keuntungan modal.
C. Teori Preferensi Pajak

Ada tiga alasan yang berkaitan dengan pajak untuk beranggapan


bahwa investor mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang
rendah dari pada yang tinggi, yaitu:
- Keuntungan modal dikenakan tarif pajak lebih rendah dari pada pendapat
an dividen.
- Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual, sehingga a
da efek nilai waktu.
- Jika selembar saham dimiliki oleh seseorang sampai ia meninggal, sama s
ekali tidak ada pajak keuntungan modal yang terutang
DAFTAR PUSTAKA
Keown, AJ dkk. 2010. Manajemen Keuangan. Jakarta Barat: PT IN
DEKS
Brigham dan Houston. 2011. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat