Anda di halaman 1dari 24

BENIGN PROSTATIC

HYPERPLASIA
Disusun oleh :
Debora Putri P. Saragih
1261050257

Pembimbing :
dr. Egi Manuputty, SpU
Anatomi dan Fisiologi
Prostat adalah bagian dari sistem
reproduksi pria, berfungsi memproduksi
cairan semen, yang berguna sebagai
transport sperma

Terletak dibawah kandung kemih,


ditengahnya terdapat urethra, saluran
yang mengalirkan urin dari kandung
kemih keluar melalui penis.

Prostat normal pada pria dewasa


berukuran 15-20 cc
• Prostat berbentuk seperti
pyramid terbalik dan merupakan
organ kelenjar fibromuskuler
yang mengelilingi uretra pars
prostatica.
• tebalnya ± 2 cm dan panjangnya
± 3 cm dengan lebarnya ± 4 cm,
dan berat 20 gram.
5 lobus prostat :
• Lobus medius
• Lobus lateralis (2 lobus)
• Lobus anterior
• Lobus posterior
Zona prostat :
• Zona Anterior atau Ventral.
• Zona Perifer
• Zona Sentralis.
• Zona Transisional
• Kelenjar-Kelenjar Periuretra.
DEFINISI
• Hiperplasia Prostat Benigna sebenarnya adalah suatu
keadaan dimana kelenjar periuretral prostat
mengalami hiperplasia yang akan mendesak jaringan
prostat yang asli ke perifer.
• BPH merupakan pembesaran kelenjar prostat yang
bersifat jinak yang timbul pada laki-laki biasanya pada
usia pertengahan atau lanjut.
ETIOLOGI
•Teori dihidrotestosteron
Ketidakseimbangan antara esterogen-testosteron

Interaksi stroma-epitel

Berkurangnya kematian sel prostat

Teori stem sel


Manifestasi Klinis
Gejala Iritatif Gejala obstruksi

Frekuensi Hesistensi

Intermitensi
Urgensi
Stain
Nokturia
Terminal dribbly
Inkontinensia
Rest urine
Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis dapat menentukan adanya
leukosituria dan hematuria. Apa bila ditemukan
hematuria, maka perlu dicari penyebabnya. Bila
dicurigai adanya infeksi saluran kemih perlu
dilakukan pemeriksaan kultur urine.

Pemeriksaan
Obstruksi infravesika akibat BPH dapat
fungsi ginjal
menyebabkan gangguan pada saluran kemih
bagian atas. Gagal ginjal akibat BPH terjadi
sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%.
Pemeriksaan PSA (Prostat Specific Antigen)
• PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ
specific tetapi bukan cancer specific.

• Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan


penyakit dari BPH; dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti:
(a) pertumbuhan volume prostat lebih cepat, (b)
keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek, dan
(c) lebih mudah terjadi retensi urine akut
Uroflowmetry (Pancaran Urine )

Gambar 2.6 Hasil uroflowmetry LUTS


Residu urine
Residu urine atau post voiding residual urine
(PVR) adalah sisa urine di kandung kemih
setelah berkemih. Jumlah residu urine pada
pria normal rata-rata 12 mL.

Pemeriksaan residu urine dapat dilakukan


dengan cara USG, bladder scan atau dengan
kateter uretra.

Pengukuran dengan kateter ini lebih akurat


dibandingkan USG, tetapi tidak nyaman bagi
pasien, dapat menimbulkan cedera uretra,
infeksi saluran kemih, hingga bacteremia.
Pencitraan prostat

Pemeriksaan pencitraan prostat merupakan


pemeriksaan rutin yang bertujuan untuk
menilai bentuk dan besar prostat, dengan
menggunakan ultrasonografi transabdominal
(TAUS) atau ultrasonografi transrektal
(TRUS).

Pengukuran besar prostat penting


dalam menentukan pilihan terapi .
Selain itu, hal ini juga penting dilakukan
sebelum pengobatan dengan 5-ARI.
Tatalaksana
Watchful waiting
Pilihan tanpa terapi ini 1) jangan mengkonsumsi kopi atau alcohol setelah
ditujukan untuk pasien BPH makan malam,

dengan skor IPSS dibawah 7,


yaitu keluhan ringan yang 2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang
mengiritasi buli-buli (kopi/cokelat),
tidak mengganggu aktivitas
sehari-hari.
3) batasi penggunaan obat-obat influenza yang
mengandung fenilpropanolamin,

4) kurangi makanan pedasadan asin, dan

5) jangan menahan kencing terlalu lama


Penghambat reseptor adrenergik- α
Pengobatan dengan α1-blocker bertujuan menghambat kontraksi otot polos prostat
sehingga mengurangi resistensi tonus leher kandung kemih dan uretra.

Beberapa obat α1- blocker yang tersedia, yaitu terazosin, doksazosin, alfuzosin, dan
tamsulosin yang cukup diberikan sekali sehari.

Obat golongan ini dapat mengurangi keluhan iritsi dan obstruksi dan mampu memperbaiki
skor gejala berkemih hingga 30-45% atau penurunan 4-6 skor IPSS dan Qmax hingga 15-30%.

Tetapi obat α1-blocker tidak mengurangi volume prostat maupun risiko retensi urine dalam
jangka panjang.
Penghambat 5 α reductase
• 5α-reductase inhibitor bekerja • Finasteride digunakan bila volume
dengan menginduksi proses prostat >40 ml
apoptosis sel epitel prostat yang • dutasteride digunakan bila volume
kemudian mengecilkan volume prostat >30 ml.
prostat hingga 20 – 30%.
• Efek samping yang terjadi pada
• Menghambat pembentukan DHT pemberian finasteride atau
dari testosteron yang dikatalis oleh dutasteride ini minimal,
enzim 5α-reductase.
• dapat terjadi disfungsi ereksi,
• terdapat 2 jenis obat 5α-reductase • penurunan libido,
inhibitor yang dipakai untuk
• ginekomastia, atau
mengobati BPH, yaitu finasteride
• timbul bercak-bercak kemerahan di
dan dutasteride. Efek klinis
kulit.
finasteride atau dutasteride baru
dapat terlihat setelah 6 bulan.
PEMBEDAHAN
Indikasi (1) retensi urine akut;
tindakan
pembedahan (2) gagal Trial Without Catheter (TwoC);
, yaitu
(3) infeksi saluran kemih berulang;

(4) hematuria makroskopik berulang;

(5) batu kandung kemih;

(6) penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh obstruksi akibat


BPH;
(7) dan perubahan patologis pada kandung kemih dan
Invasi minimal
Transurethral
Resection of
Laser the Prostate
Prostatektomi (TURP)

Transurethral
Incision of the
Prostate
(TUIP)
Operasi Terbuka
• Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikal
(Hryntschack atau Freyer) dan retropubik (Millin).
• Pembedahan terbuka dianjurkan pada prostat yang volumenya
lebih dari 80 ml.
• Prostatektomi terbuka adalah cara operasi yang paling invasif
dengan morbiditas yang lebih besar.
• Penyulit dini yang terjadi pada saat operasi dilaporkan sebanyak 7-
14% berupa perdarahan yang memerlukan transfusi.
Terimakasih 