Anda di halaman 1dari 38

Laporan Kasus Anak

IGD RSU Dr. Haryoto

Presentan : dr. Farah Sonya Anastasya


Pembimbing :
- dr. Tri Lestari, Sp.A
- dr. Dasit Riyadi
- dr. Guntur Sugiharto,
Identitas Pasien
• Nama Pasien : An. A.S
• Usia : 9 tahun 11 bulan
• Alamat : Purworejo
• No. ID : 851969
• No. RM : 215148
• Pekerjaan : Pelajar kelas 4 SD
• Tanggal MRS : 10 Juli 2017
Anamnesis
• Keluhan Utama : Sesak nafas
• Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang bersama dengan ibunya dengan
keluhan sesak nafas mengi sejak subuh ( 1
jam sebelum masuk rumah sakit) saat sedang
tidur.
Sesak nafas membuat pasien terbangun dari
tidurnya. Saat tidur pasien terkadang
menggunakan kipas angin.
Ibu pasien mengatakan bahwa pasien batuk
tidak berdahak sejak 1 hari lalu,
Ibu pasien menyangkal ada batuk lama lebih dari 2
minggu, demam, pilek, mual,muntah, penurunan berat
badan. Nafsu makan dan minum baik. Buang air kecil
dan buang air besar tidak ada keluhan. Status tumbuh
kembang sesuai usia
Pasien sering mengalami sesak nafas berulang sejak
usia 2 tahun.
Dalam seminggu ini, pasien mengalami sesak nafas 2
kali. Awalnya pasien sesak nafas sejak jam 3 sore
kemarin saat minum es dan membaik saat diuap di
puskesmas dan minum salbutamol 2 mg.
• Riwayat kesehatan/penyakit :
Pasien memiliki asma sejak usia 2 tahun dan meminum
obat salbutamol 3 x 2 mg per hari.
Pasien mengalami sesak nafas mengi lebih dari 1x tiap
bulan. Pasien akan mengalami sesak nafas bila terkena
dingin, minum es, dan makan mie sedap. Bila sesak
nafas, aktivitas pasien jadi terganggu.

• Riwayat keluarga:
Ayah pasien memiliki riwayat asma
• Kondisi lingkungan sosial dan fisik
• Kondisi lingkungan tidak lembap dan tidak dingin,
tidak berdebu, tidak menggunakan karpet,
menggunakan kipas angin menurut ibu pasien.

• Riwayat imunisasi :
Riwayat imunisasi dasar (BCG, DPT, Hepatitis B, Polio,
Campak) lengkap sesuai usia pemberian. Terakhir
imunisasi usia 9 bulan
Pemeriksaan Fisik
• Kesadaran : kompos mentis ; bicara penggal
kalimat
• Keadaan Umum : tampak sakit sedang, tampak
sesak napas (posisi
duduk)
• Nadi : 80 x/menit,teratur, kuat, penuh
• Suhu : 36.5°C
• Pernapasan : 30 x/menit
• Saturasi O2 : 97-98%
• Antropometri : BB 20 kg
• Status Nutrisi : dalam batas normal
• Kepala : normocephali, tidak ada kaku kuduk,
tidak ada deformitas
• Mata: mata tidak cekung, konjungtiva tidak pucat,
sklera putih
• THT : tidak ada pernapasan cuping hidung,
tidak terdapat sekret pada telinga, tonsil
dan faring normal
• Mulut : tidak pucat dan tidak sianosis, mukosa
mulut dan bibir basah
• Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar getah
bening
• Jantung : bunyi jantung S1/S2 reguler, murmur (-
) gallop (-)

• Paru
Inspeksi : simetris statis dan dinamis, tampak
retraksi dada, interkostal(+)
Palpasi : fremitus sulit dinilai
Perkusi: Sonor/sonor
Auskultasi : bunyi napas vesikuler (+/+),ronkhi (-/-)
Wheezing ekspirasi (+/+)

• Punggung : bunyi napas vesikuler (+/+),ronkhi (-/-


)Wheezing ekspirasi (+/+)
Assessment

•Serangan asma sedang pada asma


episodik sering
Planning
• Tatalaksana Awal
–Oksigen 6 lpm via face mask
–Nebulisasi combivent + NaCl 0.9%

• Terapi Farmakologis:
–Oksigen 6 lpm via face mask
–D5 ½ NS 1000 cc/24 jam
–Methylprednisolone 3 x ½ vial IV
–Ranitidine 2 x ½ amp IV
–Nebulisasi combivent + NaCl 0.9% / 8 jam
–Observasi keadaan umum, tanda-tanda
vital, saturasi oksigen
• Nonfarmakologis :
–Edukasi orang tua pasien mengenai
penyakit yang diderita pasien dan
komplikasinya
–Edukasi orang tua pasien bahwa ini
adalah penyakit alergi dan
pencegahan terjadinya serangan
kembali
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan
yang dihubungkan dengan hiperresponsif,
keterbatasan aliran udara yang reversibel dan
gejala pernapasan
Pedoman Nasional Asma Anak 2004
: ASMA :
• Wheezing dan / atau batuk dengan
karakteristik sbb : timbul secara episodik dan /
atau kronik, cenderung pada malam hari / dini
hari (nokturnal), musiman, adanya faktor
pencetus diantaranya aktivitas fisik, dan
bersifat reversibel baik secara spontan maupun
dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma
atau atopik lain pada pasien/keluarganya
sedangkan sebab–sebab lain sudah disingkirkan.
Epidemiologi
• WHO : 300 juta orang
• ISAAC 2005 :
prevalensi asma di Indonesia meningkat 4.2% 
5.4%
Faktor risiko
• Atopi
• Hiperreaktivitas bronkus
• Jenis kelamin
• Obesitas

Faktor Pencetus:
• Faktor lingkungan
• Alergi makanan
• Alergi obat – obat tertentu
• Emosi berlebih
• Asap rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif
• Polusi udara dari dalam dan luar ruangan
PATOFISIOLOGI
Diagnosis
• Untuk menegakkan diagnosis asma :
• Gejala episodik akibat adanya obstruksi atau
hiperresponsivitas saluran napas.
• Obstruksi aliran udara bersifat reversibel
• Eksklusi diagnosis lain yang mungkin
Anamnesis
• Mengi
• Terdapatnya riwayat:
– Batuk, memburuk terutama pada malam hari
– Mengi berulang
– Sesak napas berulang
– Dada terasa berat
• Faktor yang memperburuk gejala
• Gejala terjadi atau memburuk pada malam hari, dan
membangunkan pasien.
Pemeriksaan fisik
• Suara napas wheezing saat bernapas biasa,
memanjangnya fase ekspirasi
• Hiperekspansi toraks
• Meningkatnya sekresi nasal, edema mukosa
dan polip nasal
• Dermatitis atopik/ekzema atau manifestasi
kulit lain dari alergi
• Spirometri  adanya obstruksi dan menilai
reversibilitas, termasuk pada anak usia > 5 tahun
– ada peningkatan FEV1 ≥12% setelah inhalasi short-
acting bronkodilator
• Bronkoprovokasi dengan methakolin, histamin,
udara dingin, atau olahraga.
• Test alergi
• Biomarker inflamasi : eosinophil
• Rontgent thorax
Penilaian beratnya serangan asm
Parameter Serangan Serangan Serangan Ancaman
klinis, fgs ringan sedang berat henti nafas
paru, lab
Aktivitas Berjalan Berbicara Istirahat -
Bayi : Bayi : tangis Bayi :
pendek dan
menangis berhenti
lemas
keras Kesulitan makan
Bicara Kalimat Penggalan Kata-kata -
makan
kalimat
Posisi Bisa Lebih suka Duduk,
berbaring duduk topang
tangan
Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya Kebingung
teragitasi teragitasi teragitasi an
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada -

Mengi Sedang, Nyaring, Sangat Sulit/Tidak


sering, sepanjang nyaring, terdengan
ekspirasi 
hanya pada terdengan
inspirasi
Sesak nafas akhir
Minimal Sedang tanpa
Berat
stetoskop
Otot bantu Biasanya Biasanya Ya Gerakan
nafas tidak ya paradok
thorako-
Retraksi Dangkal, Sedang, Dalam, abdominal
Dangkal/hil
retraksi 27
ditambah ditambah ang
interkostal retraksi nafas cuping
penilaian beratnya serangan as
Laju nafas Meningkat  Meningkat Meningkat Menurun
+ ++
Pedoman nilai baku laju nafas pada anak sadar

Laju nadi Normal Takikardi Takikardi Bradikardi

Pedoman nilai baku laju nadi pada anak

Pulsus Tidak ada Ada Ada Tidak ada


paradoksus (< 10 (10–20 (> 20 Tanda
mmHg) mmHg) mmHg) kelelahan
PEFR atau % nilai dugaan/% nilai terbaik otot nafas
FEV1
- Pra > 60 % 40 – 60 % < 40 %
bronkodilator > 80 % 60 – 80 % < 60 %
-SaPaska
O2 > 95 % 91 – 95 %  90 %
bronkodilator
PaO2 Normal > 60 mmHg < 60 mmHg

Pa CO2 < 45 mmHg < 45 mmHg > 45 mmHg


TATALAKSANA
Tujuan tatalaksana serangan asma
• Meredakan penyempitan saluran respiratorik secepat
mungkin
• Mengurangi hipoksemia
• Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal
secepatnya
• Rencana re-evaluasi tatalaksana jangka panjang
untuk mencegah kekambuhan
Tatalaksana jangka panjang
• Tujuan :
– Menjalani aktivitas normal
– Sesedikit mungkin angka absensi sekolah
– Gejala tidak timbul siang dan malam hari
– Uji fungsi paru senormal mungkin
Tatalaksana jangka panjang
• Asma episodik jarang
– Short Acting β-Agonist atau gol. xantin bila
serangan
• Asma episodik sering
– Kortikosteroid dosis rendah hirupan
• Usia< 12 tahun : 100-200 μg/hari budesonide (50-100
μg/hari flutikason)
• Usia < 12 tahun : 200-400 μg/hari budesonide (100-200
μg/hari untuk flutikason)
• Asma persisten
– Kortikosteroid dosis rendah / kortikosteroid dosis
tinggi
Syarat Step-Up:
– pengendalian lingkungan dan hal-hal yang
memberatkan asmanya sudah dilakukan
– Pemberian obat udah tepat susunannya dan
sudah tepat caranya
– Tindakan 1 dan 2 sudah dicoba selama 4-6 minggu
– Efek samping ICS tidak ada
Syarat-syarat step down:

• Pengendalian lingkungan harus tetap baik


• Asma sudah terkendali selama 3 bulan berturut-
turut
• ICS hanya boleh diturunkan 25% setiap 3
bulannya sampai dengan dosis terkecil yang
masih dapat mengendalikan asmanya
• Bila step down gagal perlu dicari sebab-sebabnya
dan kalau sudah dikoreksi maka ICS dapat
diturunkan bersama-sama dengan penambahan
LABA dan/atau ALTR
Komplikasi
• Kejang
• Pneumomediastinum
• Pneumothorax
Prognosis
• 1/3 pasien asma : persisten sampai dewasa
• 2/3 pasien asma : mengalami perbaikan
selama masa remaja
• Keparahan asma usia 7-10 tahun  tanda
persisten asma dewasa