Anda di halaman 1dari 30

Preceptor :

dr. Saut Hutagalung, Sp.U

Oleh :
Gusti Ngurah P Pradnya Wisnu
Muty Hardani
Reffillia Irfa
Vinnyssa Anindita
Ukuran 4x3x2,5cm, volume 15-25ml
Bagian dalam  Tubulus seminiferus, sel
sertoli dan sel leydig
a. Spermatika interna

a. Deferensialis
Suplai arterial
a. Kremasterika

a. Testikularis
Tumor testis adalah pertumbuhan sel-sel di dalam
testis yang lepas dari kenali pertumbuhan secara
normal sehingga sel berbeda dari sel normal
dalam bentuk dan strukturnya.

 terbanyak pada pria yang berusia 15-35 tahun

 1-2% dari semua neoplasma pada pria


Faktor lainnya:
Belum pasti namun
berhubungan erat dengan: Genetik yang ditemukan pada keluarga, saudara, lahir
kembar

Maldesen Penggunaan hormon dietilstilbestrol (DES) oleh ibu pada


sus testis kehamilan dini meningkatkan resiko tumor maligna pada
Trauma alat kelamin bayi pada usia dewasa muda
testis
Atrofi atau
Sindroma Klinefelter
infeksi
testis
Pengaruh
hormon Riwayat keluarga dengan kanker testis.

Merokok
TUMOR SEL GERMINAL
1. Seminoma a. Klasik
b. Anaplastic
c. Spermatositik
2. Non Seminoma a. Embryonal Carcinoma
b. Tumor Yolk Sac
c. Teratoma
d. Koriokarsinoma

TUMOR SEL NON GERMINAL


Tumor sel stroma seks (Sex Cord Stroma Tumor) a. Tumor sel leydig
b. Tumor sel sertoli
c. Gonadoblastoma
INSIDENSI Tumor sel germinal yang paling sering, 30 %-40% dari semua jenis tumor
testis.
Biasanya ditemukan pada pria berusia 30 sampai 40 tahun dan terbatas
pada testis.
KLASIFIKASI Terdapat tiga jenis tipe seminoma yaitu : Klasik, anaplastic, dan
spermatositik.

DIAGNOSIS Penampakan nodular. Tidak nyeri saat dipalpasi. Penampakan mikros


tampak sel besar dengan sitoplasma jernih. Terdapat stroma fibrosa atau
septa, limfosit atau granuloma.

PROGNOSIS Seminoma bersifat radiosensitif dan prognosis baik.


 Memiliki ukuran diameter 5cm,
berlobus, berbatas tegas, tidak
berkapsul.
 Warnanya putih keabu-abuan
dan penampakannya homogen.
 Terkadang dijumpai area fibrosis
dan nekrosis yang jelas terlihat.
INSIDENSI Tumor ini sering terjadi sebelum pubertas.

SIFAT Tumor jenis ini tidak bersifat radiosensitive. Dapat bermetastasis dan
bersifat agresif.

TATALAKSANA Penanganan menggunakan kemoterapi.

KOMPLIKASI Bisa menjadi ca embryo dan chorio ca yang bersifat agresif.


Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler yang akhirnya mengenai seluruh
parenkim testis.

Sel-sel tumor menyebar ke testis, epididimis, funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit
skrotum.

Tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke kelenjar limfe retroperitoneal
(para aorta) sebagai stasiun pertama, kemudian menuju ke limfe mediastinal dan
supraklavikula, sedangkan korio karsinoma menyebar secara hematogen ke paru, hepar, dan
otak.
Pembesaran testis yang seringkali tidak nyeri.

Testis membesar atau teraba aneh (tidak seperti biasanya)

Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis

Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah

Rasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis atau skrotum terasa berat


Testis terdapat benjolan
padat keras, tidak nyeri
pada palpasi tetapi
kadang-kadang nyeri
pada perabaan dan
konturnya ireguler dan
tidak menunjukkan
tanda transiluminasi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
αFP
β- HCG
TUMOR
LDH
MARKER
PENUNJANG TUMOR PLAP
GGT
PEMERIKSAAN

Gambaran hipoekoik pada tunika


TESTIS

USG albuginea harus dicurigai sebagai


tumor testis

Untuk menentukan ada tidaknya


CT SCAN metastasis pada retroperitoneum

MRI
Pemeriksaan thorax rutin 
X- RAY melihat adanya metastasis
TUMOR MARKER
IMAGING PADA TUMOR TESTIS

CT Scan pada tumor testis

USG pada tumor testis


STAGING
N (Kelenjar getah bening
T (Tumor primer) M (metastase jauh)
regional)
• Tx : Tumor primer tidak dapat di • Nx : Adanya metastase ke kelenjar • Mx : Adanya metastase jauh tidak
nilai getah bening tidak dapaditentukan dapat ditentukan
• T0 : Tidak ditemukan adanya tumor • N0 : Tidak terdapat metastase ke • M0 : Tidak terdapat metastase jauh
primer kelenjar getah bening • M1 : Ditemukan adanya metastase
• Tis : kanker intratubular (karsinoma • N1 : Terdapat metastase ke kelenjar jauh di nodus limfa non regional
in situ ) getah bening dengan ukuran lesi atau paru
• T1 : Tumor terbatas pada testis dan • N2 : massa nodus >2 cm dan ≤5 cm. • M2 : metastasis visceral
epididimis, tidak terdapat invasi ke atau ≥6 positif nodus nonpulmoner
pembuluh darah • N3: massa nodus >5 cm.
• T2 : Tumor melewati tunika • ≤ 2 cm dan melibatkan ≤ 5 kelenjar
albugenia atau terdapat invasi ke geatah bening
pembuluh darah • N2 : Metastase > 5 kelenjar, ukuran
• T3 : Tumor mencapai funikulus massa 2-5 cm
spermatikus • N3 : Ukuran massa > 5 cm
• T4 : Tumor mencapai kulit skrotum
S (Tumor marker pada serum)
Stage T N M S
Stage 0 Tis in situ N0 M0 S0
Stage I T1-T4 N0 M0 Sx
Stage IA T1 N0 M0 S0
Stage IB T2-T4 N0 M0 S0
Stage IS T apapun N0 M0 S1-S3
Stage II T apapun N1-N3 M0 Sx
Stage IIA T apapun N1 M0 S0-S1
Stage IIB T apapun N2 M0 S0-S1
Stage IIC T apapun N3 M0 S0-S1
Stage III T apapun N apapun M1 Sx
Stage IIIA T apapun N apapun M1a S0-S1
Stage IIIB T apapun N1, N3, N apapun M0, M1a S2
Stage IIIC T apapun N1, N3, N apapun M1a, M1b S3
TATALAKSANA
Orkidektomi radikal

Radiasi
TERAPI TUMOR
TESTIS Kemoterapi

RPLND (Retroperitoneal
lymphe node dissection )
Orkidektomi Radikal
Orkidektomi Radikal
• Orkidektomi radikal dengan ligasi pada korda spermatikus
setinggi cincin internal  penanganan pertama pada suspek
keganasan testis
• Orkidektomi Radikal  mengambil seluruh bagian testis,
epididymis, dan funiculus spermatikus
RPLND
(Retroperitoneal lymphe node dissection)

• RPLND (Retroperitoneal lymphe node dissection) 


metode pengambilan nodus limfe yang terbukti
telah terkena metastasis sel kanker.
• Pada awalnya tehnik ini digunakan untuk tumor non
seminoma.
– Jenis seminoma memberikan respon yang yang
cukup baik terhadap radiasi sedangkan jenis
non seminoma tidak sensitif  pada
seminoma, radiasi eksterna dipakai sebagai
adjuvan terapi.
• Pada non seminoma yang belum melewati stadium
III dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal
atau retroperitoneal lymphnode disection (RPLND).
RADIASI & KEMOTERAPI

RADIASI KEMOTERAPI
• Terapi radiasi menggunakan Regimen kemoterapi tumor
sinar-X atau sinar dengan energi testis
tinggi  untuk membunuh sel
kanker dan mengecilkan tumor
• Radiasi dapat digunakan tunggal BEP VIP
(Bleomisin, (VP-16/ Etoposide,
atau dilakukan sebelum / Etoposide, Cisplatin) Ifosfamide, Platinum)
sesudah terapi pembedahan.
KEMOTERAPI GERM CELL TUMOR

• Regimen multiagent kemoterapi untuk germ cell tumor adalah


kombinasi dari 3 obat yaitu bleomycin, etoposide, dan
cisplatin (BEP). Pemberian diulang setiap 21 hari. Satu siklus
terdiri dari:
– cisplatin 20 mg/m2 IV day 1–5
– etoposide 100 mg/m2 IV day 1–5, a
– dan bleomycin, 30 units IV, day 1, 8, and 15.
SITOSTATIKA B.E.P. COURSE UNTUK KARSINOMA TESTIS
BLEOMYCIN (B) ETOPOSIDE (E) CIS-PLATINUM (P)
Dosis 30 unit perminggu intra vena 100 mg/m2 LPT/hari 20 mg/m2 LPT/hari
Cara Campur dengan 5-20 ml NaCl 0,9%, Diinfuskan dalam 250 ml NaCl 0,9% atau Diinfuskan dalam 1-2 liter NaCl 0,9% atau D5%
pemberian IV bolus D5%
Kecepatan Bolus  tetapi perlahan Infus minimal 30 menit 1 mg/menit
Hari 1,8,15 1,2,3,4,5 1,2,3,4,5
Toksisitas Nausea – vomiting Nausea – vomiting Nausea – vomiting
Phlebitis Myelosupresi Ototoksis
Lung – fibrosis Reaksi anapilaksis : Myelosupresi
Alopecia  Bronkhospasm Renal Failure
Erythema – pigmentasi  Tachycardia Diarrhea
Pyrexia – Mucositis  Dyspnoe dan hipotensi Mg  Ca 
Hyperkeratosis Phlebitis Neurotoksis
Metabolisme & Renal Hepar - renal Renal
ekskresi
Monitoring Fisik paru ; X-thoraks; tes fungsi paru Tes fungsi hati (SGPT, SGOT); darah Tes fungsi hati (SGPT, SGOT); darah lengkap ;
lengkap ; Teas fungsi ginjal (BUN, kreatinin); Tekanan;
Elektrolit serum (Natrium ,kalium , kalsium)
Teas fungsi ginjal (BUN, kreatinin);
Tekanan darah

Catatan : Dosis total < 250 mg Hindari ekstravasasi Usahakan diuresis > 150 ml/jam. Pre dan Post
diberikan infus k/p dengan manitol
PROGNOSIS
PROGNOSIS
• Prognosis umumnya baik, kecuali pada penderita dengan
metastasis di paru atau bila terdapat kekambuhan
dengan kadar tumor marker yang tinggi.
– Sebagian rekurensi terjadi dalam 2 tahun pasca terapi 
periksa ulang harus dilakukan tiap 1-2 bulan sekali, setelah 2
tahun diperiksa ulang tiap 3-6 bulan sekali.
• Prognosis tumor testis bukan hanya bergantung kepada
sifat histologiknya tetapi juga pada stadium tumor.
– Semakin dini ditemukan semakin baik prognosisnya.
TERIMA KASIH