Anda di halaman 1dari 46

Percepatan Pencapaian Eliminasi

TBC 2030
Oleh
Drg. Anita Andryani
Kepala Bidang P2P
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
Bandar Lampung, 26 Maret 2018
Sistematika
• Beban TBC di Indonesia
• Capaian Program TBC
• Roadmap TBC 2030 dan Strategi Nasional
• Akses layanan
• Pembiayaan P2TBC
• Peran dan Kontribusi Lintas Sektor
• Terobosan & Inovasi
BEBAN TBC DI INDONESIA
Beban TB di Indonesia
1200
Sebelumnya, survey 1200
menggunakan 1,045
Setelah survey
1000 mikroskopis menggunakan kultur dan
1000 molekuler

800
800 647

600
600
453
443 399
400
272
400
206
2,37 kali lebih
200 183
200
65
tinggi
70
25
0 41
0
1990
1993
1996
1999
2002
2005
2008
2011

1990
1994
1998
2002
2006
2010
Prevalens Insidens Mortalitas 2014
Global Tuberculosis Report 2017
Under Reporting Kasus Tuberkulosis
1200 Insidens TBC 730.000 kasus TBC sudah
1.020.000 diobati di fasilitas
WHO, 2017 layanan kesehatan (Hasil
1000 Inventory study 2017)
290.000 kasus TBC
800 Unreacheable, undetected belum terjangkau
dan terdeteksi
(unreacheable and
659.435 undetected) : 28,4% Penemuan kasus
600 64,6% missing seharusnya 71,6%,
Under repoting 369.435 kasus TBC tetapi baru 35,4% yang
sudah diobati terlaporkan (36,2% under
400 401.130*
namun belum
dilaporkan (Under
reporting)
reported) : 36,2%
200
Thn 2016 : 360.565 360.565 kasus
35,4% reported in SITT TBC sudah
0 dilaporkan ke
1998
1990
1994

2002
2006
2010
2014

SITT (35,4%)

* Data per 1 Februari 2018


Beban Tb di Provinsi Lampung

TARGET SEMUA
2018 : 18.250 2019 : 21.900 2020 : 25.550
KASUS
50 % 60 % 70 %

TARGET TSR 90 % 90 % 90 %
CAPAIAN PROGRAM TBC
Case Detection Rate (CDR) TBC, Indonesia Tahun 1999-2017*
100%
80%
60% 41%
40% 26% 28% 28% 30% 29% 30% 32% 33% 32% 31% 32% 35%
16% 18% 22%
20% 7% 8% 9%
0%
1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017
Cakupan pengobatan TB (case detection rate/CDR)

Angka Keberhasilan Pengobatan Pasien TB, Indonesia Tahun 1999-2017 (Kohort


1998-2016)
100%
80% 91% 90% 92% 88%
84% 86% 88% 89% 90% 90% 90% 89% 88% 88% 85% 87% 85% 85% 87%
60%
40%
20%
0%

2016
1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2017
Angka keberhasilan pengobatan pasien TB (Success Rate/SR)
*Data per 1 Februari 2018
Case Detection Rate TBC Tahun 2017

140%
118%
120%
100%
80%
53% 53% 52%
60% 47% 46% 44% 43%
41% 38% 41%
36% 36% 35% 33% 33% 33% 32%
40% 31% 30% 27% 27%
26% 26% 26% 26% 26% 25% 23% 23% 23% 23% 22% 22%
16%
20%
0%

SULTENG
DKI JAKARTA

KALTARA

BABEL

BALI
SULTRA
PAPUA

BANTEN

SUMBAR

KALSEL
PAPUA BARAT
JATENG

KALTENG
MALUKU

SULSEL

NTB

MALUT
SULUT

SUMSEL
KEPRI

DIY

GORONTALO
KALBAR

LAMPUNG

INDONESIA
RIAU

JAMBI
JABAR

KALTIM

ACEH
SULBAR
SUMUT

NTT

BENGKULU
JATIM

*Data per 1 Februari 2018


Success Rate TBC Tahun 2017

Success Rate
95% 94% 93% 92% 92% 92% 91% 91% 90% 90%
100% 90% 90% 89% 88% 88% 88% 88% 88% 87% 87% 87% 86% 86%
85% 84% 84% 83% 82% 81% 81%
79% 78%
73% 71% 70%
80%
60%
40%
20%
0%
SULTRA
BANTEN

BALI
KALSEL

SUMBAR

KALTENG

BABEL

KALTARA
Indonesia

DKI JAKARTA

PAPUA BARAT
PAPUA
SULSEL
GORONTALO
SUMSEL
LAMPUNG

RIAU
MALUT
KALBAR

SULTENG

KEPRI
JAMBI
SULUT
JATENG

DIY
MALUKU
KALTIM

SUMUT

ACEH

SULBAR
NTB

NTT

JABAR
JATIM

BENGKULU

*Data per 1 Februari 2018


Grafik Case Detection Rate (CDR) Semua Kasus TB
Per Kab/Kota, 2016-2017
40.0 TARGET SRATANAS 38 %

35.0
30.0
25.0
20.0
15.0
10.0
5.0
0.0
BDL LS TUBA PB LT TGMS MTR LU PSN PSWU TBB Ltim WK MSJ LB PROP
2016 33.9 27.6 30.8 29.9 25.0 24.0 23.2 26.2 26.1 15.9 20.3 23.3 27.1 20.0 15.0 25.1
2017 36.4 34.4 34.1 31.0 29.7 28.1 23.8 22.5 20.0 19.9 19.3 19.1 11.4 6.8 6.5 26.4
Grafik Angka Kesembuhan dan keberhasilan pengobatan Semua Kasus TB
per Kab/Kota, 2015
120.0
TARGET TSR 90 %
100.0

80.0

60.0

40.0

20.0

0.0
PSW
PSN LS Ltim TUBA WK LT PN BDL TGM MTR LU TBB MSJ LB PROP
U
EVALUASI 100.0 99.7 100.0 99.5 99.1 87.3 78.0 95.1 85.7 75.5 57.2 49.3 42.0 23.8 0.5 81.7
CR 55.6 79.1 65.2 58.1 82.2 68.9 56.0 54.6 39.8 45.5 21.4 22.9 27.5 12.4 0.0 50.7
TSR 99.5 98.3 94.6 93.9 93.3 84.9 76.2 75.4 72.7 67.8 55.0 49.3 34.3 23.8 0.0 76.2
ROADMAP TBC DAN STRATEGI NASIONAL
ROADMAP ELIMINASI TBC SAMPAI TAHUN 2030
Milestone Menuju Eliminasi TB di Indonesia
Visi : “Indonesia Bebas TB 2050”
Goal : “Eliminasi TBC di Indonesia pada 2030”
1,200,000 100%
90% 90% 90% 90% 90%
90%
1,000,000 1,000,000 Target sesuai Target sesuai End
80%
SDGs 2030: TBC 2035:
• 80% penurunan • 90% penurunan 70%
800,000 800,000 insiden TB insiden TB
• 90% penurunan • 95% penurunan 60%
kematian TB kematian TB
600,000 dibandingkan tahun dibandingkan 50%
2014 tahun 2014
40%
400,000 PPM Faktor 500,000
Intensif, Aktif, Risiko
STR TB
2035 30%
2030
massif
20%
200,000 2016 STR MDR MDR
STR TB SO Faktor Risiko 200,000 110,659
Faktor risiko 10%
STR LTB
Vaksin TB
- 0%

2026

2028
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025

2027

2029
2030
2031
2032
2033
2034
2035
insiden success rate (SR) pengobatan kasus
Indikator dan target
Jumlah
Penduduk
Tahun 2016=
258.704.986

Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 2020


Insidens per 100.000 395 389 379 364 344 319
Kasus TBC Baru (insidens) 1.020.000 1.006.237 992.441 964.533 922.059 864.702
Case detection rate/CDR 33% 33% 44% 55% 65% 70%
Case notification per 100.000
penduduk 129 128 168 200 224 223
Prinsip dan Strategi Program TBC 2015 - 2020

Penguatan
kepemimpinan
program berbasis Peningkatan
kabupaten/kota akses layanan
yang bermutu Pengendalian
faktor risiko
penularan TB Peningkatan
kemitraan Peningkatan
Penguatan
kemandirian
manajemen
masyarakat
program dan
dukungan
sistem
Indikator Utama Program TBC Tahun 2016-
2020
• Indikator 1 : Cakupan penemuan semua kasus TB (case detection
rate/CDR)
• Indikator 2 : Angka notifikasi semua kasus TB (case notification
rate/CNR) per 100.000 penduduk
• Indikator 3 : Angka keberhasilan pengobatan kasus TB semua
kasus
• Indikator 4 : Cakupan penemuan kasus TB resistan obat
• Indikator 5 : Angka keberhasilan pengobatan kasus TB resistan
obat
• Indikator 6 : Persentase kasus TB yang mengetahui status HIV
Strategi 1 : Penguatan kepemimpinan program berbasis
kabupaten/kota
No Indikator Definisi Operasional
1.1 Jumlah provinsi yang memiliki RAD penanggulangan TB Jumlah provinsi yang memiliki RAD yang disertai dengan rencana
kegiatan termasuk pembiayaan sebagai pedoman
penanggulangan TB yang komprehensif

1.1 Jumlah provinsi yang memiliki RAD dan disahkan dengan kebijakan Jumlah provinsi yang memiliki RAD dan disahkan dengan
daerah kebijakan daerah (instruksi Kepala Daerah/ Peraturan Kepala
Daerah, Peraturan Daerah ) yang disertai dengan rencana
kegiatan termasuk pembiayaan sebagai pedoman
penanggulangan TB yang komprehensif

1.2 Persentase kabupaten/kota yang memiliki RAD Penanggulangan Jumlah kabupaten/kota yang memiliki RAD yang disertai dengan
TB rencana kegiatan termasuk pembiayaan sebagai pedoman
penanggulangan TB yang komprehensif di antara jumlah seluruh
kabupaten/kota

1.3 Persentase kabupaten/kota yang memiliki RAD Penanggulangan Jumlah kabupaten/kota yang memiliki RAD berupa kebijakan
TB dan disahkan dengan kebijakan daerah daerah yang disertai dengan rencana kegiatan termasuk
pembiayaan sebagai pedoman penanggulangan TB yang
komprehensif dan disahkan menjadi peraturan kepala daerah
(Perkada) di antara jumlah seluruh kabupaten/kota

1.4 Jumlah provinsi yang proporsi pembiayaan untuk program TB Jumlah provinsi yang mengalokasikan peningkatan anggaran dari
meningkat tahun sebelumnya berdasarkan perhitungan kebutuhan untuk
penanggulangan TB
Strategi 2 : Peningkatan akses layanan yang bermutu
No Indikator Definisi Operasional
2.1 Persentase kabupaten/kota minimal 80% fasyankesnya terlibat Jumlah kabupaten/kota yang 80% fasyankesnya baik Fasilitas
dalam PPM Kesehatan Tingkat Pertama (puskesmas, DPM yang berjejaring
dengan BPJS, klinik) maupun
Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (RS pemerintah dan
non pemerintah, BP4)
terlibat dalam PPM di antara jumlah seluruh kabupaten/kota

2.2 Jumlah semua kasus TB yang ditemukan dan diobati Jumlah semua kasus TB yang ditemukan dan diobati
2.3 Persentase kasus pengobatan ulang TB yang diperiksa uji kepekaan Jumlah kasus TB pengobatan ulang yang diperiksa dengan uji
obat dengan tes cepat molukuler atau metode konvensional kepekaan terhadap OAT dengan tes cepat molekular atau metode
konvensional di antara jumlah pasien TB pengobatan ulang yang
tercatat selama periode pelaporan

2.4 Persentase kasus TB resistan obat yang memulai pengobatan lini Jumlah kasus TB resistan obat (TB resistan rifampisin dan atau TB-
kedua MDR) yang terdaftar dan yang memulai pengobatan lini kedua di
antara jumlah kasus TB yang hasil pemeriksaan tes cepat
molekuler maupun konvensionalnya menunjukkan resistan
terhadap rifampisin (RR) dan atau TB-MDR

2.5 Persentase pasien TB-HIV yang mendapatkan ARV selama Jumlah pasien koinfeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV selama
pengobatan TB periode pengobatan TB baik yang melanjutkan ARV sebelumnya
atau baru memulai ARV di antara seluruh pasien TB-HIV
Strategi 2 : Peningkatan akses layanan yang bermutu (2)
No Indikator Definisi Operasional
2.6 Persentase laboratorium mikroskopik yang Jumlah laboratorium yang mengikuti uji silang 4 kal
mengikuti uji silang dalam 1 tahun di antara jumlah seluruh
laboratorium
2.7 Persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti Jumlah laboratorium mikroskopis yang mengikuti
uji silang dengan hasil baik uji silang 4 kali dalam 1 tahun dengan hasil baik di
antara jumlah laboratorium mikroskopis yang
mengikuti uji silang 4 kali dalam 1 tahun
2.9 Cakupan penemuan kasus TB anak Jumlah seluruh kasus TB anak yang ditemukan di
antara perkiraan jumlah kasus TB anak yang ada
disuatu wilayah dalam periode tertentu
2.10 Persentase WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) Jumlah WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) baru
baru yang diskrinning TB yang dilakukan skiring TB di antara WBP baru
2.11 Jumlah penemuan Kasus TB di Lapas/Rutan Jumlah seluruh kasus TB yang ditemukan dan
diobati di Lapas/Rutan
Strategi 2 : Peningkatan akses layanan yang bermutu (3)
Tingkat No Indikator
Nasional 1 Jumlah Provinsi yang mempunyai kinerja baik (good performance) dalam pelaksanaan PPM TB
Kab/Kota
Provinsi 1 Proporsi kabupaten/kota yang mempunyai hasil peringkat PPM Madya dan Utama

Kabupaten/Kota 1 Indikator Input:


Terbentuknya Tim PPM kab/kota yang ditandai dengan:
- Ada rencana kerja dan anggaran
- Terbentuknya district coalition networks
- Ada koordinator PPM kab/kota dan koordinator PPM Puskesmas
2 Indikator Cakupan
- Proporsi fasyankes yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes pelaksana TB

3 Indikator Kinerja
- Angka notifikasi kasus berdasarkan tipe fasyankes
- Angka keberhasilan pengobatan berdasarkan tipe fasyankes
4 Indikator Output
- Angka notifikasi semua kasus TBdi kab/kota
- Angka keberhasilan pengobatan pasien TB semua kasus TB di kab/kota
- Cakupan pengobatan semua kasus TB(Case Detection Rate)di kab/kota
Strategi 3 : Pengendalian faktor risiko penularan TB
No Indikator Definisi Operasional
3.1 Cakupan anak < 5 tahun yang mendapat Jumlah anak < 5 tahun yang mendapatkan
pengobatan pencegahan PP INH pengobatan pencegahan TB yang tercatat
dalam register TB.16 di antara perkiraan
anak < 5 tahun yang memenuhi syarat
diberikan pengobatan pencegahan

Strategi 4 : Peningkatan kemitraan


No Indikator Definisi Operasional
4.1 Persentase terbentuknya Forum Jumlah Forum Koordinasi TB Provinsi
Koordinasi TB Provinsi yang terbentuk dengan SK Gubernur
baik tim yang sudah pernah terbentuk
maupun tim baru di antara jumlah
seluruh provinsi
Strategi 5 : Peningkatan kemandirian masyarakat
No Indikator Definisi Operasional
5.1 Persentase kasus TB yang ditemukan dan Jumlah semua kasus TB yang dirujuk oleh
dirujuk oleh masyarakat atau organisasi masyarakat atau organisasi kemasyarakatan
kemasyarakatan yang tercatat (TB 01) di antara semua kasus
TB

Strategi 6 : Penguatan manajemen program dan dukungan


sistem
No Indikator Definisi Operasional
6.1 Persentase kabupaten/kota yang menggunakan SI TB Jumlah kabupaten/kota yang menggunakan sistem
informasi yang dikembangkan dan digunakan oleh
Program TB untuk pengumpulan data dan pelaporan TB,
baik untuk TB sensitif dan resistan obat di antara jumlah
seluruh kabupaten/kota
6.2 Persentase kabupaten/kota yang tidak mengalami stock out Jumlah kabupaten/kota yang tidak terjadi kekosongan OAT
OAT selama triwulan berjalan selama triwulan berjalan di antara jumlah seluruh
kabupaten/kota
AKSES LAYANAN
Akses Layanan
Penemuan intensif melalui Jejaring dan kolaborasi Layanan TBC
(Public-Private Mix) IDI
DPM
Klinik Koalisi Profesi
RS Swasta Lab Swasta
Apotik IAI
RS Paru RSU Daerah

Dinkes Kab/kota
Mandatory Puskesmas
notification Labkesda
BPPM

Penemuan Aktif integrasi pendekatan keluarga (PIS PK)


Ban putih, Kader,
posyandu, • Pelacakan kontak : 10 – 15 orang
posbindu • Penemuan di tempat khusus : asrama, lapas, rutan, pengungsi, tempat
kerja, sekolah
• Penemuan di masyarakat : penemuan massal
Dukungan Koalisi Profesi dalam PPM
Nasional
Koalisi Profesi Program
• Pengembangan/penguatan PPM
• Pembinaan profesi (NSPK, PNPK, ISTC)
• Mandatory Notification

Koalisi Profesi Dinas Kesehatan


• Mandatory Notification
Provinsi
• Jejaring Sistem Surveilans
• Surveilans Aktif
TB Officer
Koalisi Jejaring Dinas Kesehatan
PPM Kab/kota
PDPI/PAPDI/IDAI (spesialis)
IDI/PDUI (umum) Lab
RS Pemerintah
IAI (apoteker) Farmasi
PPNI / IBI (perawat) RS swasta Puskesmas
PDS patklin/Patelki/ Lab
Apotik DPM
LSM
Program Indonesia Sehat
Masyarakat/kader Pendekatn Keluarga PIS-PK
Peran Dinas Kesehatan Provinsi

1. Identifikasi mitra terkait (organisasi profesi, organisasi


kemasyarakatan)
2. Membangun Jejaring dan Memperkuat Jejaring termasuk
melakukan fasilitasi kerjasama lintas batas wilayah
3. Mendorong penguatan regulasi terkait kegiatan PPM;
Penyusunan SK di level provinsi melibatkan SKPD terkait 
berdasarkan kebutuhan masing-masing provinsi
4. Monitoring Evaluasi
5. Support/back-up teknis pelaksanaan di tingkat kab/kota
Peran Dinas Kesehatan Kabupaten Kota

1.Koordinator tim sekaligus anggota Tim


2.Pengorganisasian jejaring (kalau diperlukan, membuat surat
keputusan pembentukan)
3.Mengkoordinir organisasi komunitas yang ada di wilayahnya
4.Program Management termasuk Pembiayaan
5.Surveilans (pelaksanaan dilakukan berkoordinasi dengan
Puskesmas berdasarkan pembagian wilayah kerja)  SK
dikeluarkan oleh Dinas Kab/Kota
6.Supervisi terpadu (melibatkan pihak lain cth. organisasi profesi,
lintas program)
PERAN RUMAH SAKIT KABUPATEN/KOTA

1.Membentuk jejaring dan kolaborasi antar unit layanan di


RS
2.Memastikan layanan TB TOSS yg bermutu sesuai standar
3.Melaporkan kasus TB yang ditemukan ke sistem di Kab/
Kota (SITT, ETB)
PUSKESMAS
1.Memberikan layanan langsung mulai dari penemuan kasus sampai
pengobatan tuntas (TB TOSS)
2.Menerima laporan dari layanan FKTP lain di wilayah kerjanya
3.Melakukan penemuan secara aktif bekerjasama dengan organisasi
komunitas
4.Surveilans
Dokter Praktik Mandiri (DPM)/Klinik

1. Memberikan layanan TB TOSS yg bermutu sesuai standar


2. Melaporkan kasus TB yg ditemukan ke Puskesmas sebagai penanggung
jawab wilayah.
Peran Organisasi Profesi
Membina anggotanya di Kab/ Kota untuk menjalankan fungsi:

1. Di tempat praktik masing-masing


Sebagai praktisi ahli dalam pelayanan langsung pada pasien dan melaporkan
notifikasi kasusnya di sistem di Kab/ Kota
2. Di Rumah Sakit
Sebagai tenaga ahli yang menjadi motivator dan mendorong terbentuknya
layanan TB TOSS berkualitas
3. Dalam jejaring PPM di kab/kota
• Sebagai tenaga ahli klinis tim PPM di Kab/ Kota, melatih fasyankes dan
melakukan pembinaan melalui supervisi dan mentoring
• Menginformasikan nama anggota terlatih kepada Dinas terkait
• Pemilihan anggota tim yang akan dilibatkan dalam kegiatan PPM
• Membentuk koalisi organisasi profesi yang terlibat dalam jejaring PPM
Peran Komunitas
Membina komunitas di Kab/ Kota untuk menjalankan:
1. Edukasi masyarakat
2. Penemuan kasus secara aktif
3. Memastikan pengobatan yang lengkap dan tuntas
4. Advokasi
KONSEP PENGOBATAN PENDERITA TB PARU
Surveilens Sosial, Kesehatan, Lingkungan dan
Gizi
1. KELUARGA 3. PELAYANAN Laboratorium
2. MASYARAKAT dan LINTAS KESEHATAN dengan TCM
SEKTOR

SELURUH KELUARGA Suspek TB dan Kontak


Intervensi
1. Identifikasi anggota keluarga anak < 5 tahun *
jangka
yang memiliki gejala TB /
pendek faktor risiko TB Rumah Sakit
• Gizi Buruk TB Resistan Obat
• Kencing Manis UKBM / ORMAS Suspek TB dan Kontak
TB Dengan Penyulit
• Orang dengan HIV Positif • Penyuluhan atau anak < 5 tahun * TB Dengan Kormobid
• Anak < 5 Th Konseling
• Ibu Hamil • Penjaringan Suspek TB
• Merokok
• Tinggal kontak dg pasien TB
• Investigasi Kontak
• Penyakit paru kronik menahun • Pengawas menelan obat
2. Penyuluhan/Konseling TB;
Intervensi a. Tanda dan gejala TB PUSKESMAS
b. Cara pencegahan dan • TB Sensitif
jangka
menengah/
penularan Transport sputum •

TB Tanpa Penyulit
Pencegahan Dan
panjang 3. Penilaian Lingkungan Pengobata
Rumah (Kumuh Padat,
Profilaksis
Kumuh Miskin, Ventilasi)
• Investigasi Kontak
• Pelacakan Pasien Mangkir
Pengobatan sesuai
standar sampai sembuh DPM / KLINIK
TB Resistan Obat
TB Dengan Penyulit
TB Dengan Kormobid
Surveilens Sosial, Kesehatan, lingkungan dan Gizi

* Kontak anak < 5 Th adalah anak umur dibawah 5 tahun yang berkontak dengan pasien TB baik anak yang bergejala maupun tidak bergejala.
Daerah Yang Sudah Mempunyai Peraturan
Tentang Tuberkulosis
1. Peraturan Walikota Medan tentang Penanggulangan TB Tahun 2017
2. Peraturan Walikota Surakarta No. 12/2017 tentang RAD Penanggulangan TBC Kota Surakarta Tahun 2016-2021
3. Peraturan Bupati Jember tentang Penanggulangan TB tahun 2017
4. Peraturan Bupati Siak No. 46/2016 tentang Pemberantasan dan Eliminasi TBC
5. Peraturan Bupati Gowa tentang Penanggulangan TBC tahun 2017
6. Peraturan Bupati Serang No. 43/2013 tentang Penanggulangan TBC
7. Peraturan Bupati Tulungagung No. 36/2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TBC Kabupaten
Tulungagung Tahun 2017-2021
8. Peraturan Bupati Deli Serdang No. 511/2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TBC tahun 2017-2021
9. Peraturan Walikota Yogyakarta No.117/2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TBC tahun 2017-2021
10. Peraturan Bupati Kebumen No.62/2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TBC tahun 2017-2021
11. Peraturan Bupati Cirebon No.33/2017 tentang Penanggulangan kolaborasi TB-HIV
12. Peraturan Bupati Soppeng No.16/2018 tentang Pencegahan dan Pengendalian TBC
13. Peraturan Daerah Kabupaten Wajo tentang Penanggulangan Penyakit TBC tahun 2017
INOVASI & TEROBOSAN
TEROBOSAN UNTUK MENCAPAI ELIMINASI TB 2030
1 PPM berbasis Kabupaten/ Kota bekerja sama dengan koalisi profesi

2 Penemuan aktif dan masif melalui Pendekatan Keluarga

Penguatan surveilans aktif (penyisiran kasus, mandatory notification,


3 berbasis IT, penyederhanaan laporan)

4 Pengobatan TB RO jangka pendek dari 18-24 bulan menjadi 9-12 bulan

Ekspansi layanan TB RO di 360 RS dan balai di 34 provinsi (KMK RI no.


5
HK.01.07/MENKES/350/2017) dan desentralisasi layanan ke Puskesmas

6 Perluasan layanan TB melalui sinkronisasi JKN TB dan


sinkronisasi laporan (bridging)

Peningkatan Penelitian dan pengembangan TB dgn kerja sama semua lembaga penelitian
7
termasuk dukungan sumber daya melalui JETSET (Jejaring Riset) TB
KONTRIBUSI LINTAS SEKTORAL SANGAT
MENENTUKAN KEBERHASILAN ELIMINASI TB
Dukungan Kebijakan disetiap sektor untuk percepatan Eliminasi
TB
Bappenas Kemendagri
Sinkronisasi Kemenaker Kemenlu
Fasilitasi layanan & Kerjasama
Perencanaan program, regulasi pencegahan TB di penanggulanga
multisektoral dan pencapaian
tempat kerja, n TB antar
dan mobilisasi indikator SPM,
mobilisasi sinkronisasi negara baik
sumber daya
sumber daya di penyiapan TKI ke tingkat regional
Lintas Sektor
Kemendikbud/ daerah
Kemenhan/ TNI/ Polri
LN
Kemen PUPR dan global
Kemendesa
Layanan, Promosi dan
Kemenristek Dikti
Kurikulum TB, pencegahan, dan Pemanfaatan
penyediaan
edukasi & deteksi penemuan TB di dana desa
rumah sehat dan
TB pada siswa/ lingkungan TNI/ untuk
mahasiswa, Polri dan terjaminnya
pendampingan
perluasan jaringan masyarakat di distribusi air 40
KONTRIBUSI LINTAS SEKTORAL SANGAT
MENENTUKAN KEBERHASILAN ELIMINASI TB
Dukungan Kebijakan di setiap sektor untuk
percepatan Eliminasi TB
Kemenag
Edukasi TB lewat Kemenhukham Kemenpora Kementan
jalur pendidikan Layanan & Melakukan
pencegahan TB Mendukung
agama dan kampanye dan
di Rutan/Lapas, perbaikan gizi
poskestren, menggerakkan
regulasi hak-hak masyarakat untuk
pemberdayaan pemuda peduli
pasien TB mencegah TB
santri pesantren bebas TB
Kementerian
sebagai kader TB Kementerian
Kelautan dan Kemenhub Lingkungan Kemendag
Perikanan Pemanfaatan Hidup dan Kehutanan
Mendukung gizi Regulasi tentang
transportasi Mewujudkan
bersumber ikan, tembakau dan
publik untuk lingkungan sehat
pencegahan dan ketersediaan
edukasi TB, untuk pengendalian
layanan TB untuk farmasi dan alat
mendukung akses faktor risiko TB 41
nelayan kesehatan TB
KONTRIBUSI LINTAS SEKTORAL SANGAT
MENENTUKAN KEBERHASILAN ELIMINASI TB
Dukungan Kebijakan setiap sektor untuk
percepatan Eliminasi TB
Kemenkeu Kemenpan Kemkominfo Kemenpppa
Ketersediaan SDM Kampanye dan Pemberdayaan
Menjamin
yang kompeten, edukasi TB melalui perempuan
ketersediaan dana
profesional, dan media cetak , dalam edukasi
penanggulangan TB
melayani untuk elektronik, dan online TB, stigma dan
di pusat, daerah, Gubernur/ Bupati/
mendukung masalah gender
dan lintas sektor Memastikan
Walikota adanya
Dukungan
BPOM proses eliminasi TB
BPJS Lembaga Yudikatif
Optimalisasi JKN regulasi, sinkronisasi
registrasi obat program dan jaminan
untuk layanan dan
dan reagen TB kesediaan sumber daya Dukungan
notifikasi kasus
yang baru, serta (dana, tenaga, sarpras) terhadap hak
TB, pembiayaan
pengawasan yang mencukupi untuk dan keadilan
katastropik TB, mendukung pencapaian
kualitas obat TB sosial pasien TB
dan peningkatan SPM dalam mencapai
42
dan peredaran di
KONTRIBUSI ELEMEN MASYARAKAT SANGAT
MENENTUKAN KEBERHASILAN ELIMINASI TB
Dukungan kegiatan&sumber daya untuk
percepatan eliminasiKeluarga
TB
Organisasi Organisasi dan anggota
Pelaku usaha profesi
Mobilisasi keagamaan/ keluarga Media massa
dana CSR Penguatan organisasi
Edukasi TB
untuk TB, Public Private kemasyarakatan Deteksi dini
dukungan Mix (PPM) dan kasus TB di yang benar
pencegahan penguatan keluarga/ dan efektif,
Edukasi,
dan pelayanan kompetensi masyarakat, serta
penguatan
TB di fasilitas anggota untuk pendampingan penghapusan
kesehatan (RS penemuan,
penemuan dan
pengobatan, stigma/
dan klinik) pengobatan pendampingan
pencegahan dandiskriminasi
milik pelaku dan mandatori pengobatan
pengendalian
usaha notifikasi TB
faktor risiko 43
Edukasi TB melalui transportasi publik
Penyisiran Kasus TBC di 17 Rumah Sakit pada 11 Provinsi, 2017
Kasus TB yang
Kasus TB yang Perkiraan Missing
No. Nama Rumah Sakit Dilaporkan di %
ditemukan RS Cases
SITT*)
1 RS Adam Malik-Medan 2.615 218 2.397 92%
2 RSUD Deli Serdang 494 146 348 70%
3 RS dr. Moh. Husein-Palembang 1.428 25 1.403 98%
4 RSUD Balaraja-Tangerang 532 124 408 77%
5 RSUP dr. Cipto Mangunkusumo 1.160 164 996 86%
6 RS dr. Hasan Sadikin-Bandung 2.203 314 1.889 86%
7 RSUD Kota Bekasi 2.836 700 2.136 75%
8 RSUD Kabupaten Bekasi 418 149 269 64%
9 RS dr. Kariadi-Semarang 749 318 431 58%
10 RS dr. Moewardi-Surakarta 814 43 771 95%
11 RS Soetomo-Surabaya 1.861 51 1.810 97%
13 RS dr. Saiful Anwar-Malang 1.903 121 1.782 94%
14 RSUD Ulin-Banjarmasin 1.053 51 1.002 95%
15 RS A.W. Syahranie-Samarinda 467 3 464 99%
16 RSUD Kota Jayapura 663 180 483 73%
17 RSU Manokwari 2.246 76 2170 97%
Total 21.442 2.683 18.759 87%
Catatan : Data Per November 2017
*)SITT Online
TERIMA KASIH