Anda di halaman 1dari 99

Karbohidrat merupakan kelompok besar

senyawa polihidroksialdehida dan


polihidroksiketon

• Gugus hidroksil
• Gugus aldehida/keton

VIVI
Karbohidrat memiliki fungsi penting pada tanaman dan
hewan

Melalui fotosintesis, tanaman mengubah


karbondioksida menjadi karbohidrat,
yaitu dalam bentuk selulosa, pati, dan
gula-gula yang lain

Turunan karbohidrat dapat ditemukan


pada dinding sel dan DNA

VIVI
Penggolongan Karbohidrat

Karbohidrat yang tidak dapat


Monosakarida dihidrolisis menjadi senyawa
yang lebih sederhana

Karbohidrat yang mengandung 2


Disakarida
satuan monosakarida

Karbohidrat yang jika dihidrolisis


Oligisakarida menghasilkan 3 -8 satuan
monosakarida

Karbohidrat yang jika dihidrolisis


Polisakarida menghasilkan banyak satuan
monosakarida
VIVI
Sakarida = saccharum artinya gula
Bahasa latin

Hasil hidrolisis ketiga kelas utama dari karbohidrat

[C6H20O10]n nH2O nC12H22O11 nH2O 2 nC6H12O6


Pati Maltosa Glukosa
(polisakarida) (disakarida) (monosakarida)

VIVI
MONOSAKARIDA (CnH2nOn )
1. Berdasarkan jumlah atom karbon
Contoh : triosa, tetrosa, pentosa, heksosa,… dst

2. Berdasarkan gugus fungsi karbonil


 Aldehida (Aldosa)
Monosakarida yang mengandung gugus aldehida
Contoh : gliseraldehida, glukosa, dan galaktosa

VIVI
Gliseraldehida

VIVI
 Keton (Ketosa)
Monosakarida yang mengandung gugus fungsi
keton
Contoh : dihidroksiaseton, fruktosa

Fruktosa

VIVI
Proyeksi Fischer
Metode untuk menggambarkan atom karbon kiral pada
bidang datar

Proyeksi Fischer diputar 180°

VIVI
VIVI
Anita

GULA D DAN L

CH2OH CH2OH

R-gliseraldehida S-gliseraldehida
Anita
• R-gliseraldehida ditempatkan dalam polarimeter :
perputaran bidang cahaya terpolarisasi = ke kanan = d (dekstrorotatori) atau (+)
perputaran bidang cahaya terpolarisasi = ke kiri = l (levorotatori) atau (-).

• S-gliseraldehida ditempatkan dalam polarimeter :


perputaran bidang cahaya terpolarisasi = ke kiri = l (levorotatori) atau (-).
perputaran bidang cahaya terpolarisasi = ke kanan = d (dekstrorotatori) atau (+)
Anita
• Hampir semua monosakarida yang ada di alam seperti glukosa, fruktosa dsb akan
memiliki stereokimia yang sama dengan D-gliseraldehida pada atom karbon kiral yang
paling jauh dari gugus karbonilnya.

D-Gliseraldehida

Gambar proyeksi Fischer

Gula D
Anita

HO H

D-Gliseraldehida L-Gliseraldehida

Gambar proyeksi Fischer

Gula L
Anita
• Gula D : Semua gula di alam yang atom karbon kiral paling bawahnya mengikat gugus
hidroksil di sebelah kanan dalam proyeksi Fischer.

• Gula L : Semua gula yang atom karbon kiral paling bawahnya mengikat gugus hidroksil di
sebelah kiri dalam proyeksi Fischer.
Anita
• R-gliseraldehida = D-gliseraldehida
S-gliseraldehida = L-gliseraldehida

• Menurut Fischer, notasi D dan L harus dibaca ‘de’ atau ‘el’ dan tidak boleh dibaca
dektro atau levo sebab tidak berhubungan dengan arah putar bidang cahaya
terpolarisasi.

• Suatu gula D mungkin dektrorotatori (+) ataupun levorototatori (-).

D(+) glukosa D(-) glukosa L(-) glukosa L(+) glukosa


Anita

KONFIGURASI ALDOSA

Aldosa sederhana diturunkan dari gliseraldehida dengan menambahkan beberapa


atom kiral terhidroksilasi diantara C1 dan C2.

D-Gliseraldehida
Anita
1. ALDOTETROSA

gula yang memiliki 4 atom karbon dengan 2


atom karbon kiral.

2 D-Eritrosa Jumlah stereoisomer 22 = 4


atau 2 pasang enantiomer D,L
D-Gliseraldehida

D-Treosa
Anita
2. ALDOPENTOSA
Jumlah stereoisomer 23 = 8
atau 4 pasang enantiomer D,L
gula yang memiliki 5 atom karbon dengan 3
atom karbon kiral.

D-eritrosa
D-ribosa D-arabinosa

1
D-gliseraldehida
2

D-treosa
D-xilosa D-liksosa
Anita
3. ALDOHEKSOSA

D-gliseraldehida

D-treosa
D-eritrosa
1 1 1 1
2 2 2 2

D-ribosa D-arabinosa D-xilosa D-liksosa

D-alosa D-altrosa D-glukosa D-manosa D-gulosa D-idosa D-galaktosa D-talosa


Anita
3. ALDOHEKSOSA

gula yang memiliki 6 atom karbon dengan 4


atom karbon kiral.
D-gliseraldehida

Jumlah stereoisomer 24 = 16 D-treosa


D-eritrosa
atau1 8 pasang enantiomer D,L 1 1 1
2 2 2 2

D-ribosa D-arabinosa D-xilosa D-liksosa

D-ribosa D-ribosa D-ribosa D-ribosa D-ribosa D-ribosa D-ribosa D-ribosa


Maria

STRUKTUR SIKLIK MONOSAKARIDA :


PEMBENTUKAN HEMIASETAL
Maria
• Alkohol dapat melakukan adisi nukleofilik pada aldehida atau keton membentuk
hemiasetal.

Apabila gugus hidroksil dan gugus karbonil


terdapat dalam satu molekul, maka terjadi
reaksi adisi intramolekuler dan
menghasilkan hemiasetal siklik.

Hemiasetal beratom lima dan enam


bersifat stabil, dan pada beberapa
karbohidrat membentuk
kesetimbangan antara rantai terbuka
berbentuk siklik.
Contohnya, dalam larutan, glukosa ada dalam bentuk cincin piranosa (cincin Maria
beratom enam) yang terjadi dari reaksi adisi intramolekuler antara gugus hidroksil
pada C5 dengan gugus aldehida C1. Sedangkan untuk fruktosa hanya 20% sebagai
cicncin furanosa (cincin beratom lima) yang terjadi dari reaksi adisi intramolekuler
antara gugus hidroksil pada C5 dengan gugus keton pada C2.

Gambar 6.3. Struktur glukosa dan fruktosa dalam bentuk piranosa dan furanosa siklik
Maria

Apabila proyeksi Fischer diubah menjadi proyeksi


Haworth, maka gugus hikroksil yang ada di kanan
pada proyeksi Fischer digambarkan dibawah pada
proyeksi Haworth.

Gugus hidroksil yang ada disebelah kiri


digambarkan diatas.
Maria

• Gula D, CH2OH ujung selalu digambarkan diatas seperti gambar di bawah.

Gambar 6.4. Perubahan sruktur D-glukosa dari proyeksi Fischer menjadi proyeksi
Haworth
Anomer-anomer monosakarda:
mutarotasi
konformasi monosakarida
Khusni aminatus sa’adhah
150332602595
Khusni

1. Anomer-anomer monosakarida: Mutarotasi


H O
Untuk membentuk struktur C

siklik furanosa atau piranosa. Gugus H C OH

hidroksil pada atom karbon-5 pada HO CH

D-glukosa menyerang karbon


H C OH

H C OH
aldehida yakni atom karbon-1. CH2OH
Terbentuklah suatu gugus
hemiasetal. Akibat reaksi siklisasi ini H C
*
OH
karbon anomerik
HO C
*
H

terbentuk sebuah karbon kiral baru H C OH H C OH

(karbon-1) dan dihasilkan sepasang HO C O HO C H O

diastereomer. Kedua diastereomer H C OH C OH

yang terbentuk disebut anomer- C


CH2OH
C

CH2OH
anomer dan atom karbon  - glukosa  - glukosa
hemiasetalnya disebut atom karbon ]= + 112
o
]= + 19
o

anomerik.
Khusni

Bentuk isomer monosakarida yang hanya berbeda dalam


konfigurasi pada atom karbon hemiasetal atau hemiketal disebut
anomer, sehingga atom karbonnya disebut karbon anomerik.
Khusni

Jenis Anomer

• Anomer alfa
Anomer yang lebih sedikit dengan gugus -OH pada Cl berkedudukan trans dengan
gugus-CH2OH (mengarah ke bawah dalam proyeksi Haworth), diberi nama 𝛼-D-
glukopiranosa
• Anomer beta
Anomer yang lebih banyak dengan gugus -OH pada Cl berkedudukan cis dengan
gugus-CH2OH (mengarah ke atas dalam proyeksi Haworth), diberi nama 𝛽-D-gluko-
piranosa
Khusni

Mutarotasi
• 𝛼-D-glukopiranosa
Titik lebur 146 0C
Sudut putar jenis [𝛼] D, 112,2 0
• 𝛽-D-gluko-piranosa
Titik lebur 148-155 0C
Sudut putar jenis [𝛼] D, +18,7 0
Jka salah satu anomer dilarutkan dalam air, terjadi perubahan rotasi optik dan
akhirnya dicapai harga konstan +52,6 0
Mutarotasi: Perubahan secara lambat rotasi anomer – anomer murni ke dalam campuran kesetimbangan
dengan perbandingan 36:64
Khusni

• Mutarotasi tejadi melalui pembukaan cincin secara reversible masing-


masing anomer ke dalam bentuk aldehida rantai terbuka dan diikuti
penutupan cincin kembali.
• Dalam larutan bentuk alpa dan beta dalam suatu larutan akan
mengalami perubahan yang disebut mutarotasi
Khusni

2. Konformasi monosakarida
Bentuk cincin piranosa tidaklah datar, tapimengalami perubahantannpa
memutus ikatan kovalennya dan membentukstruktur kursi
Ada 2 kemungkinan bentuk kursi
Reaksi-reaksi monosakarida
Reaksi-reaksi monosakarida

1 3
Pembentukan Ester dan
Eter Reduksi Monosakarida

2 4
Pembentukan Glikosida Oksidasi Monosakarida
Sifat kimia monosakarida menyerupai alkohol sederhana

Gugus-gugus hidroksil karbohidrat dapat


diubah menjadi ester dan eter

𝐶𝐻3𝐶𝑂 2𝑂

𝑝𝑖𝑟𝑖𝑑𝑖𝑛𝑎 0°𝐶

𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢kopiranosa Penta-O-asetil-𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢kopiranosa


𝐴𝑔2𝑂

𝐶𝐻3𝐼

𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢kopiranosa 𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢𝑘𝑜𝑝𝑖𝑟𝑎𝑛𝑜𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑡𝑎𝑚𝑒𝑡𝑖𝑙 𝑒𝑡𝑒𝑟 (85%)


Hemiasetal direaksikan dengan alkohol dibawah katalis asam,
menghasilkan suatu asetal

Hemiasetal Asetal
CH3OH, HCl
H3O+

𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢kopiranosa 𝛽 − 𝐷 − 𝑔𝑙𝑢𝑘𝑜𝑝𝑖𝑟𝑎𝑛𝑜𝑠𝑖𝑑𝑎
Asetal suatu karbohidrat disebut glikosida
Asetal diberi nama dengan menyebut nama gugus alkil dan ditambah
akhiran –osida pada nama karbohidrat /gulanya.
Asetal stabil dalam air
Glikosida tidak membentuk kesetimbangan dengan rantai terbuka dan
tida mengalami mutarotasi.
Reduksi Monosakarida
Reduksi Monosakarida

Untuk mereduksi aldosa dan


ketosa digunakan reduktor
NaBH4 membentuk polialkohol
yang disebut alditol.

Reaksi reduksi pada monosakarida terjadi


pada gugus aldehid / keton yang berada
dirantai terbuka berkesetimbangan
hemiasetal

Reduksi pada rantai terbuka yang telah terjadi menyebabkan


kesetimbangan hemiasetal bergeser ke arah rantai terbuka dan
akan menyebabkan reduksi terjadi lagi, demikian seterusnya
sampai semua tereduksi
Reaksi Reduksi Monosakarida
Oksidasi Monosakarida
Oksidasi Monosakarida

Asam Aldonat
Oksidasi Monosakarida

Asam aldonat
Pereaksi Tollens
dan cermin perak

Aldosa Asam aldonat


Pereaksi Benedict dan Tembaga(I)
(Gugus Aldehida) oksida

Monosakarida Asam aldonat


Berdasarkan Pereaksi Fehling dan Tembaga(I)
Gugus Fungsi oksida

Ketosa Asam aldonat


Pereaksi Tollens
(Gugus Keton) dan cermin perak
Oksidasi Monosakarida

Reaksi Aldosa dalam larutan Tollens, larutan Benedict, atau


larutan Fehling

• Larutan perak nitrat


Amoniakal
Atau
• Cu2+ dalam larutan
Ag(s)
natrium Sitrat
Atau
Atau Cu2O(s)
• Cu2+ dalam
larutan kalium
Natrium Tatrat
Oksidasi Monosakarida

Reaksi Oksidasi Fruktosa (ketosa) dalam pereaksi Tollens, dalam hal ini
fruktosa dapat mereduksi larutan Tollens.
Oksidasi Monosakarida

Pereaksi Fehling dan


Tollens kurang baik
untuk uji gula
pereduksi

Dalam suasana basa Tidak dapat


dapat menyebabkan digunakan untuk
peruraian kerangka membedakan Aldosa
karbohidrat dan ketosa

Dalam suasana basa


menyebabkan ketosa
berisomerisasi
dengan aldosa
Oksidasi Monosakarida

Uji Spesifik gula pereduksi untuk aldosa dan ketosa dapat digunakan
larutan Brom dalam Buffer, reaksi negatif terhadap ketosa
Oksidasi Monosakarida

Reaksi Oksidasi dengan zat pengoksidasi kuat seperti HNO3 , aldosa


teroksidasi membentuk asam dikarboksilat yang disebut asam aldarat.
Reaksi Perpanjangan Rantai :
Sintesis Kiliani - Fischer
Dwinofa
• Sintesis Kiliani-Fischer adalah metode perpanjangan
rantai aldosa dengan atom karbon bertambah satu.

• Tahapan :
1. Aldosa bereaksi dengan HCN membentuk
sianohidrin
2. Mengubah gugus nitril pada sianohidrin menjadi
gugusaldehida.
3. Hidrolisis sianohidrin menjadi asam hidroksi
karboksilat.
4. Asam hidroksi karboksilat segera membentuk lakton
dengan NaHg.
5. Aldosa dengan pertambahan 1 atom c
Dwinofa
• Contoh 1 : Aldopentosa diubah menjadi aldoheksosa
CHO
CHO CN
HCN H3O+
Na-Hg
CHOH
CHOH
CHOH
CHOH
CHOH
Aldosa

Sianohidrin Aldosa dengan rantai


yang lebih panjang
Dwinofa
• Contoh 2 : perpanjangan rantai D-Arabinosa dihasilkan
D-Glukosa dan D- mannosa

1. D-Arabinosa + HCN
Dwinofa
2. Hidrolisis senyawa dua sianohidrin
Dwinofa
3. Dua lakton + NaHg
Reaksi Perpendekan Rantai :
Degradasi Wohl
Dwinofa
• Degradasi Wohl merupakan kebalikan dari sintesis
Kiliani-Fischer.
• Tahapan degradasi Wohl :
1. Gugus karbonil diubah menjadi gugus nitril dengan
cara :
- Mereaksikan aldosa dengan hidroksilamina

CHO
CH=NOH
H OH H OH
HO H H2NOH HO H

HO H HO H

H H OH
OH
CH2OH CH2OH
D-galaktosa D-galaktosa oksim
- Dehidrasi oksim dengan anhidrida asetat Dwinofa

CH=NOH
CN

H OH H OH

HO H (CH3CO)2O HO H
NaO2CCH3
HO H HO H

H H OH
OH

CH2OH CH2OH

D-galaktosa oksim
Sianohidrin
Dwinofa

2. Dalam suasana basa sianohidrin membebaskan HCN


CN
CHO
H OH
H OH

HO H NaOCH3
HO H
-HCN
HO H
H OH

H OH CH2OH

CH2OH D-Xilosa

Sianohidrin
Andi Alfira

DISAKARIDA
Andi Alfira

Selobiosa

Maltosa DISAKARIDA Laktosa

Sukrosa
Andi Alfira
1. Selobiosa

β-D-Glukosa + β-D-Glukosa

Suatu disakarida yang diperoleh dari hidrolisis parsial


selulosa tersusun atas dua D-glukopiranosa yang terikat
dengan ikatan 1,4’- β-glikosida.
Andi Alfira
Struktur Selobiosa

Selubiosa, suatu 1,4’-β-D-glikoksida


[4-O-(β-D-glukopiranosil)-β-D-glukopiranosa]
Andi Alfira

• Merupakan gula pereduksi


• Dapat mengalami murotasi
• Tidak dapat dicerna oleh manusia
Andi Alfira
2. Maltosa

• α-D-Glukosa + β-D-Glukosa

Maltosa merupakan hasil antara dalam proses


hidrolisis amilum dengan asam maupun dengan anzim
Andi Alfira
Struktur maltosa

Maltose, suatu 1,4’-α-D-glikoksida


[4-O-(a-D-glukopiranosa)-β-D-glukopiranosa]
Andi Alfira
Ikatan Pada Maltosa
• Ikatan glikosidik terjadi pada atom C-1’ dari satu glukosa dengan atom
C-4 dari glukosa yang lain, sehingga ikatannya disebut ikatan 1’,4-
glikosidik
• Karbon anomerik di unit glukosa sebelah kanan berada dalam bentuk
hemiasetal, sehingga akan dapat berkesetimbangan dengan struktur
terbuka
• Maltosa bereaksi ditambah dengan Tollens
Andi Alfira
Mutarotasi pada Selubiosa dan Maltosa
Andi Alfira
3. Laktosa
α-D-Glukosa + β-D-Glukosa

Seperti halnya selobiosa dan maltose,


laktosa juga merupakan gula pereduksi,
dapat mengalami mutarotasi, dan
merupakan suati glikosida dengan
kerangkan 1,4’-β-glikosida.
Andi Alfira
Struktur Laktosa
Andi Alfira

• Merupakan gula utama pada ASI dan susu sapi (4-8 % laktosa)
• Karbon anomerik pada unit galaktosa mempunyai konfigurasi β pada
C-1 dan berikatan dengan gugus –OH pada C-4 unit glukosa
SUKROSA
Dewi

SUKROSA Merupakan disakarida yang tersusun atas glukosa dan fruktosa, dengan rumus molekul C12H22O11

Sukrosa biasa dikenal sebagai gula pasir, terdapat pada tumbuhan fotosintetik yang berfungsi
sebagai sumber energi. Misal : pada tebu.

Pada sukrosa kedua kabon anomerik pada kedua unit monosakarida terlibat dalam ikatan glikosida.
Ikatan glikosida terjadi antara C-1 pada unit glukosa dan C-2 pada unit fruktosa, sehingga tidak
mempunyai gugus hemiasetal.
Dewi
Sukrosa pada kondisi larutan dengan brix rendah dapat mengalami dekomposisi
oleh berbagai sebab :

Hidrolisis • Dalam larutan yang mengandung asam, sukrosa mengalami


hidrolisis menghasilkan D – Glukosa dan D – Fruktosa.

Dekomposisi • Sukrosa- dapat terdekomposisi,bila dipanaskan dengan adanya


dalam ion OH . Kerugian dari dekomposisi ini adalah kehilangan gula
dan juga timbulnya zat warna yang dapat merusak warna kristal
suasana basa gula.

• Dalam bentuk kristal mengalami dekomposisi yang cepat


Dekomposisi pada suhu diatas titik lelehnya (2000 C). Pada suhu ini akan
termal terbentuk campuran senyawa berwarna coklat yang larut
dalam air (karamel).

Dekomposisi • Sukrosa dihidrolisis oleh enzim invertase yang menjadi


oleh glukosa dan fruktosa.
Mikroba
Dewi

α-D-glukopiranosida β-D-glukopiranosida

Sukrosa, suatu 1,2ˊ-glikosida

Fungsi Sukrosa bagi tubuh:

• Sebagai sumber energi tubuh


• Sebagai cadangan lemak
POLISAKARIDA
Dewi

Karbohidrat yang tersusun oleh banyak


monosakarida yang terikat dengan ikatan glikosida

Hidrolisis polisakarida secara sempurna akan menghasilkan


monosakarida

Bukan merupakan gula pereduksi dan tidak mengalami mutarotasi karena


tidak mempunyai gugus hidroksil anomerik bebas
JENIS-JENIS POLISAKARIDA Dewi

SELULOSA

KITIN POLISAKARIDA PATI

GLIKOGEN
Dewi

Selulosa
Selulosa merupakan polimer alam berupa zat karbohidrat
(polisakarida) yang mempunyai serat dengan warna putih, dan susah
mengalami degradasi

Selulosa mempunyai rumus molekul (C6H10O5)n, dengan n adalah


derajat polimerisasi.

Selulosa adalah polimer rantai lurus dari D-glukosa dengan ikatan


β-1-4 antara unit-unit glukosa seperti pada selobiosa
Dewi
Dewi

Macam-Macam Selulosa
1. Selulosa  (Alpha Cellulose) adalah selulosa berantai panjang, tidak larut dalam
larutan NaOH 17,5% atau larutan basa kuat dengan DP (derajat polimerisasi) 600 -
1500. Selulosa  dipakai sebagai penduga dan atau penentu tingkat kemumian
selulosa
2. Selulosa β (Betha Cellulose) adalah selulosa berantai pendek, larut dalam larutan
NaOH 17,5% atau basa kuat dengan DP 15 - 90, dapat mengendap bila dinetralkan
3. Selulosa µ (Gamma cellulose) adalah sama dengan selulosa β, tetapi DP nya
kurang dari 15. Selain itu ada yang disebut Hemiselulosa dan Holoselulosa
Dewi

Manfaat Selulosa
• Serat rami ini merupakan bahan yang dapat diolah untuk kain fashion
berkualitas tinggi dan bahan pembuatan selulosa berkualitas tinggi
(selulosa α)
• Pembuatan aneka jenis kertas pada industri
Fadila

Pati
Pati merupakan bentuk karbohidrat yang disimpan dalam
bentuk karbohidrat tanaman.

Biji-bijian, seperti beras, gandum, dll

Umbi-umbian, seperti kentang


Sumber Pati
Jagung

Beras
Fadila

Pati terdiri dari dua fraksi :

1. Fraksi yang larut dalam air dingin yang


disebut amilopektin

2. Fraksi yang tidak larut dalam air dingin


yang disebut amilosa
Fadila
Amilosa Amilopektin

20% bagian pati 80% bagian pati

Terdiri atas 50-300 unit glukosa Terdiri atas 300-5.000 unit glukosa
melalui ikatan 1,4’- 𝛼-D-glikosida melalui ikatan 1,6’-𝛼-D-glikosida
tidak bercabang dengan percabangan pada setiap
25 unit glukosa

Larut dalam air dingin Tidak larut dalam air dingin


Fadila
STRUKTUR AMILOSA DAN AMILOPEKTIN
Fadila
Amilosa, 1,4’-(𝜶-D-glukopiranosida)

O 4 6 CH2OH
O
5
2
3
HO
HO 1

O 4’ 6’ CH2OH O
5’
2’
3’
HO
HO 1’

O CH2OH
O

HO
HO
O
Fadila
O CH2OH
O

HO
HO H
O
O 4 6 CH2OH O
5
2
3
HO
HO 1
O 4’
6’ CH
2
O
5’
2’
3’
HO
HO 1’
O CH2OH
O

Amilopektin, percabangan, 1,6’-𝜶-D-glikosida HO


HO
O
Fadila

Glikogen
Glikogen adalah polisakarida yang merupakan bentuk cadangan
glukosa dalam sistem hewan, disimpan dalam hati dan jaringan otot.

Kegunaan : untuk mensuplai energi jaringan tubuh pada saat latihan


dan bekerja keras.

Struktur : mirip dengan amilopektin, perbedaannya yaitu glikogen


mempunyai percabangan yang lebih banyak.
O CH2OH Fadila
O

O CH2OH HO
O HO
O
STRUKTUR GLIKOGEN
HO O
HO CH2OH
O

HO
HO H
O
O 4 6 CH2OH O
5 2
3
HO
HO 1
O 4’ 6’ CH2
O
5’ 2’
3’
HO
HO 1’
O CH2OH
O

HO
HO
O
Fadila

Kitin

Kitin adalah polisakarida linier yang mengandung N-asetil-D-


gluosamina yang terikat dengan ikatan 𝛽-glikosida.

Di alam kitin terikat pada molekul (protein dan lipid) bukan


polisakarida

Terdistribusi luas di banyak organisme terutama menyusun


eksoskeleton beberapa moluska dan artropoda
Fadila
STRUKTUR KITIN

O CH2OH
O

HO
NH O CH2OH
O
|
C ─ CH3

=
HO
O NH O
|
C ─ CH3

=
O

β – (1,4)-2-asetamido-2-deoksi-D-glukosamina
Fadila
Hidrolisis Kitin

O CH2OH
O
H
HO O CH2OH
NH O CH2OH
H2O, [H+] O
O
|
C ─ CH3
=

HO
NH O
HO
O NH2 O
|
C ─ CH3 H

=
O 2-amino-2-deoksi-D-glukosa

+
CH3 ─ C ─ OH

=
O
Asam asetat
Permasalahan Dalam
Kehidupan Sehari-Hari
Dewi

Fenomena Beras Plastik


Beras merupakan bahan makanan pokok sebagian masyarakat.
Seiring bertambahnya laju pertumbuhan penduduk kebutuhan beras pun
semakin meningkat.
Akhir-akhir ini terjadi fenomena yang mengejutkan bahwa
ditemukannya beras yang diduga berbahan plastik. Contohnya di Bekasi
seorang penjual nasi uduk di Perumahan Mutiara Gading Timur,
menduga beras yang digunakan untuk berjualan adalah beras plastik.
Karena pada saat dimasak beras tersebut sangat lembek, dan lama-
kelamaan akan mengeras seperti halnya sifat plastik. Beras plastik
(beras sintetis) mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi
kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.
Dewi

Hasil uji laboratorium Sucofindo, ternyata beras plastik yang ada


positif mengandung Polivinil Chloride (PVC). PVC ini biasa dipakai untuk
membuat polimer pipa, kabel dll. Sehingga akan sangat berbahaya jika
dikonsumsi masyarakat. Beras plastik ini diduga berasal dari China,
karena beras palsu buatan China sudah beredar di pasaran.
Beras palsu ini terbuat dari gabungan kentang, ubi jalar, dan resin
sintetis yang direkayasa sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti
beras. Resin sintetis ini sangat berbahaya, karena jika dikonsumsi dalam
jumlah banyak sifatnya karsinogenik.
TERIMA KASIH