Anda di halaman 1dari 20

REGULASI EKSPRESI

GEN PADA
EUKARIOTIK
Oleh:
Granitha Chandika Komsi
Dwi Pipit Indriyanti
Dimensi dari regulasi gen pada eukariotik
• Dimensi dari regulasi gen pada eukariotik terdapat perbedaan dengan prokariot, bila
pada eukariot transkripsi terjadi pada inti sel sedangkan translasi terjadi di
sitoplasma dan sebelum translasi hasil dari transkripsi di modifikasi,
• Regulasi ekspresi genetik di eukariot itu terdapat dibeberapa tempat yaitu di inti sel
dan sitoplasma
• Di eukariot terjadi modifikasi pada
• pasca transkripsi dalam modifikasi pasca transkripsi golongannya splicing,
penambahan poli A dan penambahan camp yang juga merupakan target dalam
regulasi ekspresi genetik.
Transkripsi DNA yang terkontrol
• Pada eukariot lingkungan juga bisa sebagai sinyal mengubah ekspresi genetik
tetapi mekanismenya lebih kompleks.
• Sinyal di lingkungan awalnya harus sampai ke membran sel dahulu,
selanjutnya sinyal tersebut harus melalui sitoplasma dan diteruskan hingga
melewati membran inti barulah sinyal tersebut mampu mencapai DNA untuk
meregulasi ekspresi DNA tersebut.
• Regulasi pada eukariot melibatkan protein, salah satu protein yang terlibat
dikenal sebagai faktor transkripsi.
Alternative splicing pada RNA
• Adakalanya ketika intron di buang
ekson nya juga dibuang. sehingga
ada seluruh ekson di pertahankan,
dan ada juga sebagaian ekson di
buang.
• Alternative splicing menyebabkan
suatu gen menghasilkan lebih dari 1
macam protein
Kontrol sitoplasmik stabilitas mRNA
• Umur dari mRNA menentukan banyaknya protein yang dihasilkan,
• apabila menginginkan protein yang sedikit maka umur mRNA harus pendek.
• Salah satu cara agar mRNA stabil dari nuclease dengan penambahan poli A.
Umur mRNA juga diatur oleh keberadaan mRNAi
Temperature: the heat – shock genes
• Kondisi lingkungan yang mampu
bertindak sebagai sinyal dalam
regulasi ekspesi gen di eukariot
adalah panas
• Contohnya pada drosophila mampu
menghasilkan protein HSP ketika
suhu lingkungan mencapai 33˚C.
Molekul sinyal: gen-gen yang merespon hormone.
Sekuen DNA yang terlibat dalam pengontrolan
transkripsi
• Enhancer ialah sekuen DNA yang mampu
meningkatkan laju transkripsi gen
targetnya.
• Ada 3 karakteristik enhancer: jaraknya jauh
dari gen target, independen of location
(tempatnya bebas), independen of
orientation (orientasinya bebas).
• Enhancer dikatakan spesifik jaringan yang
artinya hanya bekerja pada jaringan
tertentu saja
Protein yang terlibat dalam pengontrolan
transkripsi: faktor transkripsi
• Faktor transkripsi adalah protein, rantai
polypeptide. Secara garis besar faktor transkripsi
memiliki 4 motif:
• Zinc-Finger motif : ciri dari motif ini memiliki 2
sistein (asam amino) dan 2 histidin yang berikatan
menjadi satu dengan melibatkan ion zinc
• Helix-trun-helix motif: ciri dari motif ini setiap 2
helik terpisahkan oleh 1 trun (belokan)
• Leucine zipper motif: setiap asam amino ke 7
adalah leusin
• Helix-loop-helix motif: setiap 2 helik terpisah
oleh 1 loop dan bisa membentuk dimir
Regulasi pasca transkripsi ekspresi gen
yang melibatkan RNA interference (RNAi)
Jalur RNAi
• Protein diser memotong RNA
yang besar menjadi kecil
• RNA yang pendek ketempelan
protein (ribonukleoprotein),
masih unting ganda
• Unting ganda diubah menjadi
unting tunggal (satu unting
dibuang) dan membentuk RISC
• RISC mencari RNA target yang
akan ditempeli
Sumber/asal dari small interfering RNA dan
micro RNA (siRNA dan miRNA)
• Berasal dari transkripsi berarti ada
gen yang mengkode RNAi yaitu
gen mir. Ketika transkripsi
menghasilkan unting tunggal,
tetapi selanjutnya membentuk
struktur stem and loop
• Transkripsi menghasilkan stem and
loop. Karena ujung-ujung basanya
komplemen, dan jika komplemen
maka akan tarik menarik sehingga
bergabung membentuk loop
• Ada enzim drosha yang berfungsi
memotong loop. Sehingga sisanya
adalah stem (tampak seperti unting
ganda).
Ekspresi gen dan organisasi kromatin
• Eukromatin dan heterokromatin
Eukromatin: terang karena kromosomnya lebih
renggang
Heterokromatin : lebih gelap karena kromosomnya
lebih mampat/padat
Gen-gen yang aktif ditranskripsikan berada di
eukromatin. Ketika suatu gen yang aktif
ditranskripsikan dipindahkan dari eukromatin ke
heterokromatin ada 2 kemungkinan, yaitu:
1. Gennya tidak bisa ditranskripsikan sama sekali
2. Fungsinya menjadi tidak normal
• Organisasi molekuler DNA yang aktif
ditranskripsikan
Gen yang aktif ditranskripsikan itu lebih sensitif
ketika di nuklease (enzim yang dapat merusak
DNA). Salah satu jenis nuklease yaitu DNase 1.
Contohnya: ketika kita berikan DNase1 pada
eritrosit maka >50% gen globin terdegradasi,
sedangkan gen albumin hanya 10%. Hal ini
karena pada eritrosit gen globin adalah gen yang
aktif ditranskripsikan sehingga akan lebih
sensitif.
• Kromatin remodeling
Adalah perubahan nukleosom (DNA yang
meliliti histon) untuk mempersiapkan proses
transkripsi. Salah satu contoh kromatin
remodeling yaitu asetilasi (penambahan gugus
asetil pada histon). Ketika terjadi asetilasi, laju
transkripsi meningkat. Kromatin remodeling
yang kedua adalah kompleks SWI/SNF. Ketika
nukleosom ketempelan SWI/SNF, nukleosom
dapat berpindah sehingga transkripsi dapat
terjadi.
• Metilasi DNA
Adalah penambahan gugus metil pada DNA,
tepatnya pada basa sitosin. Kebalikan dari
asetilasi, gen yang mengalami metilasi laju
transkripsi menurun dan sebaliknya namun
mekanismenya masih belum diketahui. Tetapi
kemungkinannya, ketika suatu gen mengalami
metilasi akan menginduksi datangnya
komponen lain yang bisa mencegah terjadinya
transkripsi. Proses metilasi dikatalisis oleh
enzim DNA metil transferase.
• Imprinting
Adalah kondisi ketika ekspresi gen dikondisikan
berdasarkan asal orang tuanya. Contoh: suatu
gen A (diploid) dari ayah dan ibu. Namun gen
pada ayah ekspresinya dihentikan (imprinting),
dan pada ibu tetap diekspresikan. Contoh gen
yang mengalami imprinting adalah gen igfII.
Yang mengalami imprinting yaitu yang
ketambahan metil
Aktivasi dan inaktivasi kromosom secara
keseluruhan
• Pada laki-laki: kromosom X
• Pada perempuan: kromosom XX
Jika di kromosom X ada gen A, maka pada perempuan
akan memproduksi protein A lebih banyak dari pada
laki-laki padahal spesiesnya sama sehingga produksi
proteinnya harus sama. Oleh karena itu, harus ada
kompensasi dosis protein yang akan menyebabkan
aktivasi dan inaktivasi kromosom X.
Terima kasih....