Anda di halaman 1dari 45

Avian influenza

Diagnostik dan tatalaksana

Aryo Pradityoutomo
03 - 047
Pendahuluan
• Tahun 1918 : Spanish flu
• tahun 1997 dilaporkan kejadian Avian
influenza: menyerang 18 penduduk di
Hongkong, 6 meninggal dunia
• 22 Desember 2003 : virus flu burung menyerang
unggas di Korea Selatan, muncul bentuk virus
yang dapat mematikan manusia.
• 29 Januari 2004 : Pemerintah menetapkan flu
burung sebagai bencana darurat nasional
Sumber : www.neatorama.com/.../
Sumber : www.vadscorner.com/internet68.html
Sumber : www.komnasfbpi.go.id/news_august_13_07_1.html
Definisi
• Adalah infeksi influenza pada burung, virus
pada burung dapat bermutasi dan menginfeksi
manusia, mutasi semacam itu dapat
mengakibatkan suatu epidemi di seluruh dunia.
Etiologi
• disebabkan oleh virus influenza tipe A dari
Family Orthomyxomiridae
• setiap tipe galur diberi kode menurut sifat-sifat
antigenik dari hemaglutinin ( H ) dan
neuramidase ( N ).
• dapat terjadi perubahan struktur antigenik dari
hemaglutinin dan neuramidase yang disebut
antigenic shift
• Dalam setiap kelompok hemaglutinin dapat
terjadi perubahan kecil yang disebut antigenic
drift.
Sumber : www.utheguru.com/i-hate-the-flu
Sumber : www3.niaid.nih.gov/.../AntigenicDriftShift.htm
Sumber : www3.niaid.nih.gov/.../AntigenicDriftShift.htm
Sumber : http://content.nejm.org/cgi/content/full/353/21/2209/F1
Patogenesis
• Virus influenza ditularkan melalui inhalasi dari
droplet yang infeksius
• faktor yang menentukan virulensi virus adalah
kemampuan membelah dari hemaglutinin yang
tinggi
• virus terus bermutasi dengan perubahan pada
antigenitas dan perubahan susunan gen, dan
pertambahan jenis host diantara unggas
• Penyakit influenza dimulai dengan infeksi virus
pada sel epitel saluran napas virus bereplikasi
dengan sangat cepat  lisis sel epitel 
deskuamasi lapisan epitel saluran napas.

• infeksi oleh virus influenza A H5N1 


pembentukan sitokin yang berlebihan (cytokine
storm) untuk menekan replikasi virus
kerusakan jaringan paru yang luas dan berat
• Proses berlanjut dengan terjadinya eksudasi dan
edema intraalveolar, mobilisasi sel sel radang
dan juga eritrosit dari kapiler sekitar,
pembentukan membran hyalin dan juga
fibroblast

• Difusi oksigen terganggu, terjadi


hipoksia/anoksia yang dapat merusak organ lain
(anoxic multiorgan dysfunction).
Sumber : killavianflu.com/about.htm
Gejala klinis

• Masa penularan pada manusia adalah sehari


sebelum sampai dengan 3-5 hari setelah timbulnya
gejala

• gejala seperti influenza biasa pada manusia yakni


berupa demam, batuk, rasa capai, sakit otot, sakit
tenggorokan, sesak napas, pilek, dan sakit kepala.

• dalam waktu singkat dapat menjadi lebih berat


dengan terjadinya peradangan di paru-paru (
pneumonia )
Diagnosis
• Setiap penderita dengan keluhan atau gejala
demam ( biasanya 38⁰C ke atas ) disertai gejala
respiratorik dan gejala sistemik ( seperti nyeri
otot ) kemudian dikaitkan dengan faktor kontak
akan diperlakukan ( dirawat ) sebagai kasus
suspek
• pemeriksaan radiologis : pemeriksaan foto
toraks PA dan lateral ( bila diperlukan ). Dapat
ditemukan gambaran infiltrat di paru yang
menunjukkan bahwa kasus ini adalah
pneumonia
• diagnosis laboratorium
▫ kultur dan identifikasi virus H5N1
▫ uji Real Time Nested PCR ( Polymerase Chain
Reaction ) untuk H5
▫ uji serologi
 imunofluoresence ( IFA ) test : ditemukan antigen
positif dengan menggunakan antibodi monoklonal
Influenza A H5N1.
 Uji netralisasi : didapatkan kenaikan titer antibodi
spesifik Influenza A/ H5N1 sebanyak 4 kali dalam
paired serum dengan uji netralisasi
 Uji penapisan :
 Rapid test untuk mendeteksi influenza A
 HI test dengan darah kuda untuk
mendeteksi H5N1
 Enzyme Immunoassay ( ELISA ) untuk
mendeteksi H5N1
▫ Pemeriksaan lain :
 Hematologi : hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung
jenis leukosit, total limfosit. Umumnya ditemukan
leukopeni, limfositopeni atau limfositosis relative dan
trombositopeni

 Kimia : albumin/globulin, SGOT/SGPT, ureum,


kreatinin, keratin kinase, analisa gas darah. Umumnya
dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT/SGPT,
peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan kreatin
kinase, analisa gas darah dapat normal atau abnormal.
Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan
penyakit dan komplikasi yang ditemukan
Definisi kasus
• Pasien dalam observasi
Seseorang yang menderita demam > 38⁰C
disertai satu atau lebih gejala ini :
▫ Batuk
▫ Sakit tenggorokan
▫ Pilek
▫ Napas pendek/sesak napas ( pneumonia ) dimana
belum jelas ada/tidaknya kontak dengan unggas
sakit/mati mendadak yang belum diketahui
penyebabnya dan produk mentahnya
• Kasus suspek AI H5N1 ( under investigation
atau dalam pengawasan )
Seseorang yang menderita demam > 38⁰C
disertai satu atau lebih gejala di bawah ini
▫ Batuk
▫ Sakit tenggorokan
▫ Pilek
▫ Napas pendek/sesak napas
▫ Pneumonia , dan diikuti satu atau lebih keadaan
dibawah ini :
 kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum
diketahui penyebabnya dan produk mentahnya dalam 7 hari
terakhir sebelum timbul gejala di atas

 Pernah tinggal di daerah yang terdapat kematian unggas yang


tidak biasa dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala di
atas
 Pernah kontak dengan penderita Avian Influenza konfirmasi
dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
 Pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari
terakhir sebelum timbul gejala diatas
 Ditemukan leukopeni ≤3000 /µl atau mm
 Ditemukan adanya titer antibodi terhadap H5 dengan
pemeriksaan HI tes menggunakan eritrosit kuda atau tes
ELISA untuk influenza A tanpa subtipe
• Atau
Kematian akibat Acute Respiratory Distress
Syndrome ( ARDS ) dengan satu atau lebih
keadaan di bawah ini :
 Leukopenia atau limfopenia dengan atau tanpa
trombositopenia ( trombosit ≤ 150.000)
 Foto toraks menggambarkan pneumonia atipikal
atau infiltrat di kedua sisi paru yang makin meluas
pada serial
• Kasus probable AI H5N1
Kriteria kasus suspek ditambah satu atau lebih
keadaan di bawah ini :
▫ Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi
minimum 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan
HI tes menggunakan eritrosit kuda atau tes ELISA
▫ Hasil laboratorium terbatas untuk influenza H5 (
dideteksi antibodi spesifik H5 dalam specimen
serum tunggal ) menggunakan neutralisasi tes
▫ Dalam waktu singkat menjadi pneumoni berat/
gagal napas/ meninggal dan terbukti tidak ada
penyebab lain
• Kasus konfirmasi Influenza A H5N1
Kasus suspek atau probable dengan satu atau lebih
keadaan di bawah ini :
▫ Kultur virus positif Influensa A / H5N1
▫ PCR positif Influenza A / H5N1
▫ Pada IFA test ditemukan antigen positif dengan
menggunakan antibodi monoklonal influenza A
H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji
neutralisasi
Penatalaksanaan
• terutama bersifat suportif.

• Semua kasus suspek masuk ke RS melalui triage.


Pada waktu di triage pasien diharuskan memakai
masker dan petugas juga sudah mengenakan Alat
Pelindung Perorangan berupa masker dan sarung
tangan.
penilaian awal (assessment , verifikasi) mengenai:

• apakah memang benar suatu kasus suspek AI


dengan melihat riwayat epidemiologis dan gejala
klinis yang sesuai untuk kriteria suspek.
• menilai derajat berat penyakit
• tempat perawatan yang diperlukan (ruang isolasi,
ICU)
• atau apakah perlu dirujuk ke RS yang lebih
mampu
• pemeriksaan laboratorium hematologi rutin,foto
toraks, serta dilakukan “rapid test” untuk
influenza A/B.

• memenuhi kriteria suspek dan perlu diinvestigasi


 pasien dirawat di ruang isolasi.
• Penilaian beratnya penyakit (pneumonia) dapat
memakai Sistem Skoring (Porte’s), Pneumonia
Severity Index atau CURB-65 (Confusion, Urea-
Nitrogen, Respiration rate, Blood presessure,
umur >65,)  pada orang dewasa
• Pada bayi dan anak usia 2 bulan – 5 tahun
▫ Pneumonia berat : bila ada sesak napas
▫ Pneumonia : tidak ada sesak napas, napas cepat
dengan laju napas > 50x/menit ( usia 2 bulan – 1
tahun ), > 40x/menit ( usia > 1 tahun – 5 tahun )
• Pemeriksaan ke arah diagnosis Avian Influenza :
dengan pengambilan usap nasal dan
tenggorokan untuk uji PCR setiap hari selama 3
kali berturut turut, dan pengambilan serum
darah untuk uji serologis
• pemberian antibiotika perlu dipertimbangkan :

▫ sebelum hasil konfirmasi Avian Influenza


diperoleh, biasanya dipikirkan juga pneumonia
bakterial

▫ pada pneumonia viral sering didapati juga infeksi


sekunder bakterial
• Diberikan pengobatan antivirus walaupun belum
ada bukti kuat tentang efektifitas antivirus
terhadap Avian Influenza pada manusia

• Golongan Neuraminidase Inhibitor seperti


oseltamivir yang saat ini merupakan satu satunya
antivirus untuk influenza yang banyak tersedia.
• Data penelitian klinis tentang efikasi dan
keamanan oseltamivir pada flu manusia
menunjukkan bahwa oseltamivir oral mengurangi
lama sakit dan beratnya penyakit pada kelompok
dewasa sehat dan dapat mengurangi kejadian
komplikasi sekunder bila diberikan dalam 36 jam
pertama sejak timbulnya gejala
• Baku terapi : pemberian selama 5 hari dengan
dosis terapi 2 kali 75 mg
Steroid
• masih kontroversial
• Sebagian penulis memberikan steroid hanya pada
kasus berat dan “lifesaving” karena steroid akan
menekan imunitas sehingga virus semakin tidak
tertahan.
• beberapa pakar justru menganjurkan pemberian
steroid pada tahap awal penyakit untuk mencegah
reaksi imunitas yang berlebihan (cytokine storm)
yang justru akan merusak jaringan paru (diffuse
alveolar damage).
• Indikasi penggunaannya didasarkan pada sistem
skor yang dianjurkan oleh Tim Pakar AI yang
antara lain melihat ada tidaknya demam > 39
derajat, frekuensi napas, ronkhi pada auskultasi
paru dan kelainan pada hasil lab rutin sederhana
(limfopenia, lekopenia)
Pencegahan dan pengendalian infeksi

• perawatan isolasi
• perawatan pengendalian
infeksi secara ketat (strict
barrier nursing) : alat
perlindungan personal dan
metode kewaspadaan isolasi
(isolation precaution) yang
baik.
• kewaspadaan standar (cuci
tangan, sarung tangan,
penggunaan bahan
dekontaminan/desinfektan)
Vaksin Avian Influenza
• uji coba klinis paling baru untuk vaksin Avian
influenza pada bulan Juni 2006 sampai
September 2006
▫ Vaksin berupa monovalen whole virus vaccine
yang diproduksi dari isolasi virus strain
A/Vietnam/1203/2004 yang di-nonaktifkan
▫ Vaksin dinilai mampu menghasilkan imunitas,
tetapi respon imun yang timbul tidak cukup
signifikan dan memuaskan.

▫ Efek samping yang paling banyak adalah reaksi


lokal di tempat suntikan dan sakit kepala
Prognosis
• umumnya mempunyai prognosis jelek
• Di RS Penyakit Infeksi angka kematian pasien
Avian Influenza di ICU yang mendapat bantuan
respirator mendekati 100%.
• CFR pasien Avian Influenza di Indonesia
berkisar 70-80%.
• CFR kasus global saat ini sekitar 59%
• faktor prognosis untuk menjadi berat dan
terjadinya mortalitas:
▫ usia
▫ keterlambatan tiba di RS
▫ leukopenia pada saat masuk
▫ kelainan paru bilateral difus
▫ saturasi O2 yang rendah