Anda di halaman 1dari 41

Keuntungan cara pemberian injeksi :

Baik untuk obat-obat yang harus diabsorpsi dalam bentuk


aktif
Absorpsi biasanya lebih cepat dibandingkan dengan cara
oral
Takaran obat dapat ditentukan dengan tepat
Tepat untuk keadaan pengibatan darurat
Pasien yang tidak sadarkan diri dan tidak dapat bekerja
sama atau menurut petunjuk dokter
Kerugian :

• membutuhkan keahlian , kalau tidak , dapat menimbulkan infeksi


• dapat merusak kulit
• timbul rasa sakit pada waktu injeksi
• sukar bagi pasien untuk manjalankan injeksi diri sendiri
• lebih mahal dan kurang aman bila dibandingkan cara oral
catatan :
demi keamanan pasien , perawat harus mempunyai pengetahuan yang
memadai tentang cara pemberian obat secara parenteral termasuk cara
menyiapkan , memberikan obat dan menggunakan teknik steril . Setelah
jarum menembus kulit , muncul risiko infeksi
sebelum menyuntikan sebuah obat , perawat harus mengetahui volume obat
yang akan diberikan , karakteristikdan viskositas obat, dan struktur
anatomi tubuh yang berada di bawah tempat injeksi . (perdalam materi
anatomi-fisioogi)
Mencegah infeksi selama injeksi :

• untuk mencegah kontaminasi larutan , isap obat dari ampul dengan cepat
.jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka
• untuk mencegah kontaminasi jarum , cegah jarum menyentuh daerah
yang terkontaminasi (misalnya sisi luar ampul atau vial , permukaan luar
tutup jarum , tangan perawat , bagian atas wadah obat , permukaan meja)
• untuk mencegah spuit terkontaminasi ,jangan sentuh badan pengisap
(plunger) atau bagian dalam karet (barrel) . jaga ujung spuit tetap tertutup
oleh penutup atau jarum
• untuk menyiapkan kulit , cuci kulit yang kotor karena kotoran , drainase ,
atau fases dengan sabun dan air dan keringkan , lakukan gerakan
mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan
antiseptic usap dari tengah dan bergerak ke luar dalam jarak 5cm
menyiapkan injeksi dari vial/flacon :
persipan alat
• vial/flacon yang berisi cairan obat steril
• kapas alcohol
R: untuk desinfeksi (mengurangi penularan infeksi)
• jarum dan spuit sesuai ukuran yang di butuhkan
• air steril (akuades) atau normal salin bila diperlukan
R: digunakan untuk melarutkan obat dalam bentuk kering
• kartu obat atau catatan rencana pengobatan (lihat juga status
pasien
R: memastikan obat yang diprogram
Langkah-langkah :
• mencuci tangan
R: mengurangi / mancegah penularan infeksi
• menyiapkan alat
• periksa setiap kartu , format , atau huruf cetak nama obat pada label di setiap
vial
R: memastikan obat dan dosis yang disiapkan benar
• buka tutup metal
R: vial dikemas dengan penutup untuk mencegah kontaminasi pada
penyekat karet
• desinfekasitutup karet
R: mengurangi kontaminasi
• ambil spuit pastikan jarum terpasang kuat pada spuit , lepas tutup jarum
• hisap udara ke dalam spuit cairan yang akan dihisap
R: untuk mencegah tekanan udara menjadi negatif pada vial ketika obat
diasipirasi , udara harus terlebihi dahulu diinjeksi ke dalam vial . penghisap
dapat terdorong ke belakang akibat tekanan udara dalam vial
• (hisap akuades atau normal salin bila obat harus dilarutkan)
• Tusukkan jarum tegak lurus ke tengah karet penutup
R: bagian tengah penyekat lebih tipis dan lebih mudah untuk ditusuk
• Suntiksn udara ke dalam vial/flacon
• Balikkan vial sementara pegang spuit dan plunger (bila perlu carpur
larutan dengan memutar vial)
• Isi obat kedalam spuit
• Keluarkan udara dari dalam spuit dengan memegang jarum dan
spuit tetap tegak . ketuk badan spuit untuk melepaskan gelembung
udara . tarik pengisap sedikit kemudian dorong pengisap ke atas
untuk mengeluarkan udara . jangan sampai mengeluarkan cairan
R: memegang spuit dalam posisi vertical membuat cairan menempati
bagian bawah badan spuit
• Ganti jarum dan tutup
R: menginsersi jarum melalui penyekat karet membuat bevel tumpul
• Buang bahan yang kotor di tempat yang benar
R: mengurangi penularan mikroorganisme
• Bersihkan area kerja . cuci tangan
Sikap :
• Teliti
• Hati-hati
• Jujur
Menyiapkan injeksi dari ampul

• ampul berisi cairan obat steril


• kapas alcohol
• jarum dan spuit sesuai ukuran yang dibutuhkan
• air steril (akuades) atau normal salin bila diperlukan
• kasa pengusap
• kartun obat atau catatan rencana pengobatan
langakah-langkah :
• bila cairan obat ada terletak di bagian kepala ampul, ketok
perlahan-lahan dengan ujung jari pada ujung ampul
R: melepaskan cairan yang terkumpul di sekitar leher ampul
• bila perlu hisap air steril (akuades) sebagai pelarut (tanda panah)
untuk obat dengan molalitas tinggi yang diberikan intravena ,
• contoh : penition , anarsik , tradosik
R: obat dengan molalitas tinggi menimbulkan rasa nyeri , efek mual ,
muntah bahkan syok bagi individu tertentu . obat-obat ini biasanya
diberikan secara drif dalam klof infuse
• letakkan kapas alkohol di sekitar leher ampul
• ambil kasa steril letakkan di antara ampul dan ibu jari dengan jari-
jari anda
• patahkan leher ampul kearah berlawanan dengan anda
R: mencegah jari atau wajah anda terkena pecahan kaca
• hisap obat dari ampul , pegang ampul terbalik , masukkan jarum
spuit kedalam bagian tengah muara ampul . jangan biarkan ujung
batang jarum menyentuh tepi ampul

R: tepian ampul yang pecah di anggap terkontaminasi dan juga dapat


menyebabkan bevel tumpul . selama ujung atau batang jarum tidak
menyuntuh tepian ampul , larutan tidak akan menetes keluar
• pertahankan ujung jarum di bawah permukaan larutan . miringkan
ampul supaya semua cairan di dalam ampul terjangkau oleh jarum
R: mencegah aspirasi gelembung udara
• tarik jarum dari ampul , kalau perlu ganti jarum pada spuit
• keluarkan udara
• tutup jarum
R: mencegah kontaminasi jarum dan melindungi anda dari tusukkan
jarum
melakukan injeksi intrakutan

• injeksi intradermal / intrakutan merupakan injeksi


yang ditusukkan pada lapisan dermis atau di bawah
epidermis / permukaan kulit . daerah ID harus bebas
dari luka dan relative tidak berbulu , supaya dengan
jelas dapat melihat perubahan warna dan integritas
kulit . lokasi yang ideal ialah lengan bawah bagian
dalam dan punggung bagian atas . injeksi ini
dilakukan secara terbatas karena hanya sejumlah
kecil obat yang dapat dimasukkan .
cara ini lazim digunakan untuk :

• tes tuberculin dan tes untuk mengetahui reaksi alergi


terhadap obat tertentu
• vaksinasi ; contoh :BCG
• anestesi local (tanda panah) yang kemudian
dianjurkan untuk injeksi pada area yang lebih dalam
prosedur melakukan injeksi intrautan
persiapan alat :
• spuit steril
• kapas alkohol 70%
• alat tulis
• obat injeksi
• kartu obat (tanda panah) baca status pasien
untuk order pemberian terapi
• piala ginjal
• pulpen hitam

persiapan pasien :

• identifikasi pasien
• mengkaji riwayat alergi
• memberitahukan pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan
• menyiapkan lingkungan
• mengobservasi reaksi pasien
langkah-langkah :
• mencuci tangan
• kenakan hanscoend
R: injeksi dapat menyebabkan sedikit rembesan darah pada tempat injeksi ,
mengurangi risika terpajan
• menyiapkan dosis
• identifikasi pasien , tanya / panggil pasien
R: memastikan pasien yang benar
• menentukan lokasi tusukan , lengan pasien di atas permukaan datar .
bercakap-cakap dengan pasien
R: menstabilkan tempat injeksi . distraksi mengurangi rasa cemas
• menghapus hama lokasi tusukan
• dengan tangan yang tidak dominan , renggangkan kulit tempat injeksi
dengan jari telunjuk atau ibu jari
• menusukkan jarum injeksi dengan sudut 5o-15o , pertahankan behel
menghadap keatas , masukkan jarum melalui epidermis kira-kira 3mm di
bawah permukaan kulit
• R: mencegah cedera pada pasien dan memastikan distribusi obat
• memasukkan obat perlahan-lahan dengan diameter kira-kira 6mm
• R: mengindikasi obat telah tersimpan di dalam dermis
• mencabut jarum
• tidak di lakukan pengurutan
• R: memastikan obat tidak menyebar ke jaringan di bawah nya atau
keluar tempat suntikan
• lingkari batas pinggir gelembung dengan pen atau alat tulis , tulis
nama obat , tanggal dan jam , jika injeksi untuk test obat
• R: tempat injeksi harus di baca pada interval yang tepat untuk
menentukan hasil test / memungkinkan pengkajian selanjutnya
• membereskan alat-alat
• mencuci tangan
melakukan injeksi subkutan
• injeksi subkutan diberikan dengan menusuk area di
bawah dermis . injeksi harus tidak diberikan pada
area yang nyeri , merah , pruritus atau edema . pada
pemakaian injeksi subkutan jangka lama , maka
injeksi perlu di rencanakan untuk di berikan secara
rotasi . jenis obat yang lazim digunakan secara
subkutan : vaksin , obat-obat preoprasi, insulin dan
heparin .
Prosedur melakukan injeksi subkutan
Persiapan alat :
• spuit dan jarum steril (spuit 2mL, jarum ukuran 25 gauge)
• kapas alkohol
• piala ginjal
persiapan pasien :
• mengidentifikasi pasien
• mengkaji riwayat alergi
• memberitahu pasien tentang tindakan yang akan di lakukan
• menyiapkan lingkungan
• mengobservasi reaksi pasien
langkah-langkah :
• mencuci tangan
• menyiapkan dosis
• menentukan lokais tusukan
• menghapus hama lokasi tusukan
• cubit kulit pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk , tangan kiri anda
(kanan jika anda kidal ) untuk meninggikan jaringan subkutan dan
membentuk lipatan lemak
• menusukkan jarum injeksi dengan sudut 45o-90o
• melakukan aspirasi
• memasukkan obat perlahan-lahan
• mencabut jarum
• melakukan pengurutan di daerah injeksi (untuk obat tertentu tidak
di lakukan pengurutan)
• membereskan alat-alat
• mencuci tangan
• mengobservasi reaksi pasien
Kewaspaan klinis :
• Bila darah masuk kedalam spuit ketika anda menarik
plunger , berarti anda telah menusuk vena .
kemudian anda harus menarik jarum , membuang
spuit dan menyiapkan injeksi yang baru . hal ini
karena injeksi subkutan dapat membahayakan bila
masuk secra langsung kedalam aliran darah , karena
obat dapat diabsorbsi lebih cepat dari pada jaringan
lemak .
malakukan injeksi intarmuskular
• injeksi intramuskular dilakukan dengan beberapa
tujuan yaitu untuk memasukkan obat dalam jumlah
yang lebih besar di banding melalui subkutan .
absorpsi juga lebih cepat dibanding dengan
pemberian secara subkutan karena lebih banyak
subplai darah di otot tubuh . perawat harus hati-hati
dalam melakukan injeksi secara intramuskular karena
cara ini dapat menyebabkan luka pada kulit dan rasa
nyeri serta takut pada pasien .
ketika memilih suatu tempat IM , prawat mengkaji hal
berikut :
• apakah area tersebut bebas dari infeksi atau nekrosis
?
• apakah daerah setempat mengalami memar atau
abrasi ?
• dimana lokasi tulang , saraf , dan pembuluh darah
utama ?
• berapa volume obat yang akan di berikan ?
area yang lazim digunakan :
area deltoid
• area ini dapat ditemukan pada lengan bagian luar . namun
area ini jarang di gunakan untuk injeksi intramuskular karena
mempunyai resiko besar : tertusuk nya pembuluh darah ,
mengenai tulang , atau sarabut saraf . pada beberapa orang
dewasa , bayi dan kebanyakan anak , otot deltoid belum
berkembang baik . perawat jarang menggunakan daerah
deltoid, kecuali tempat injeksi lain tidak dapat di akses karena
ada balutan , gips atau obstruksi lain . tempat injeksi terletak
di tengah segitiga , sekitar 2,5-5 cm di bawah prosesus
akromion . perawat juga dapat menentukan lokasi injeksi
dengan menempatkan 4 jari di atas otot deltoid , dengan jari
teratas berada di sepanjang prosesus akromion . tempat
injeksi terletak 3 jari di bawah prosesus akromion
area dorsogluteal
• perawat harus hati-hati dan teliti sehinga
injeksi tidak mengenai saraf iskiadikus dan
pembuluh darah . lokasi ini tidak boleh
digunakan pada anak-anak di bawah 3 tahun
karena pada kelompok usia ini otot
dorsogluteal belum berkembang . pada pasien
yang jaringan nya kendur , tempat injeksi sulit
di temukan
area ventrogluteal
• area ini paling banyak digunakan untuk injeksi
intramuskular karena pada area ini tidak
terhadap pembuluh darah dan saraf besar . area
berbentuk huruf V , jarum injeksi di tusukkan di
tengah-tengah area ini .
perawat mencari otot dengan menempatkan
telapak tangan di atas trokanter mayor dan jari
telunjuk pada spina iliaka superior anterior
panggul . tangan kanan di gunakan untuk panggul
kiri dan sebalik nya . daerah dorsokluteus berada
di bagian atas luar kuadran atas luar bokong ,
kira-kira 5-8cm di bawah Krista iliaka .
area vastus lateralis
• area ini terletak antar sisi medial anterior dan sisi
medial lateral paha . bila melakukan injeksi pada bayi
, di sarankan menggunakan area ini karena pada area
tidak terdapat serabut saraf dan pembuluh darah
besar . sepertiga tengah otot merupakan tempat
terbaik injeksi
prosedur melakukan injeksi
intramuskular
persiapan alat :
• spuit dan jarum steril
• kapas alkohol 70%
• obat-obat injeksi
• piala ginjal
persiapan pasien :
• mengidentifikasi pasien
• mengkaji riwayat alergi
• memberitahu tentang tindakan yang akan di
lakukan
• menyiapkan lingkungan
• mengobservasi reaksi pasien
langkah-langkah :
• mencuci tangan
• menyiapkan dosis
• menentukan lokasi
• menghapus hama
• memasukkan jarum injeksi dengan suduk 90o
• melakukan aspirasi
Metode z-track
• Minimal iritasi jaringan dengan menyekat obat dalam
jaringan otot . perawat lebih memilih tempat injeksi IM
di otot yang lebih besar dan lebih dalam , misalnya otot
ventrogleteus .sebuah jarum baru harus di pasang
pada spuit stelah obat di siapkan sehingga tidak ada
larutan tertinggal di sisi luar jarum . perawat mengisap
0,2mL udara untuk menciptakan udara pengunci .
setelah menyiapkan tempat injeksi dengan terlabih
dahulu membersihkan nya dengan anti septic , perawat
menarik kulit dan jaringan SC sekitar 2,5-3,5cm kearah
samping . dengan memegang kulit yang tegang dengan
tangan yang tidak dominan , perawat belajar
memegang spuit dan mengaspirasi dengan 1 tangan .
perawat menginjeksi obat dan udara secara perlahan ,
jika tidak ada darah teraspirasi .
melakukan injeksi intravena

• jalur vena di pakai khusus nya untuk tujuan agar obat


yang di berikan dapat bereaksi dengan cpat ,
misalnya pada situasi gawat darurat obat di
masukkan kedalam vena sehingga obat lagsung
masuk system sirkulasi yang dapat menyebabkan
obat bereaksi lebih cepat dibanding dengan cara
emperal atau enteral atau parenteral yang
memerlukan waktu absorbsi
bolus intravena / I.V. dorong
bolus I.V.
• digunakan pada situasi darurat , diberikan
pada pasien ketika dibutuhkan respon yang
cepat . bolus I.V. adalah metode yang paling
berbahaya dalam perberian obat karena tidak
ada waktu untuk mengoreksi kesalahan .
kecepatan pemberian obat yang standar ialah
1Ml / jika tidak ada kecepatan pemberian
tertentu yang di anjurkan (burman ,
berkowitz, 1986).
1. Infuse volume besar
• di drif dalam infus (500Ml atau 1000ml).
• pada kolf botol infuse harus di tulis lebel obat yang diberi drif
atau lebel obat di temple pada botol / kolf infuse .
karena obat yang tersedia tidak kental , resiko efek samping atau
reaksi fatal berkurang .
2. infuse volume terkontrol
• di drif dalam infuse (50ml atau 100ml) .
• cairan berada dalam sebuah wadah cairan sekunder yang
terpisah dari kantong cairan I.V. utama .
prosedur melakukan injeksi intravena
persiapan alat :
• spuit dan jarum steril
• kapas alkohol 70%
• obat-obat injeksi
• perlak
• pengikap pembendung / torniket
• piala ginjal
• plester kalau diperlukan
• kartu obat (tanda panah) periksa status untuk memastikan
jenis obat , dosis dan rute
persiapan pasien :
• mengidentifikasi pasien
• mengkaji riwayat alergi
• memberitahu tentang tindakan yang akan di
lakukan
• menyiapkan lingkungan
• mengobserfasi reaksi pasien
langkah-langkah :

• mencuci tangan
• menyiapkan dosis (tanda panah) jika IV langsung ganti jarum
berukuran kecil 21g (pada spuit 3ml)
• menetukan lokasi
• meletakkan perlak kecil di bawah lengan yang akan di lakukan
punski
• melakukan pembendungan pada L.V. langsung . melakukan klem
infuse bila via infus
• menghapus hama lokasi tusukan
• memasukkan jarum injeksi dengan sudut 15o-30o
• melakukan aspirasi (tanda panah) bila darah tidak ada yang keluar,
maka obat tidak boleh diberikan dulu

R: ketidak mampuan mendapatkan darah tersebut
memberikan kesanbahwa jarum atau kateter berada
dalam jaringan atau mengenai dinding vena . obat
tidak pernah boleh diberikan jika tempat injeksi
tanpa bengkak atau edema atau cairan I.V. tidak
dapat mengalir pada kecepatan yang sesuai .
• pembendungan dilepas
• memasukkan obat perlahan-lahan
• mencabut jarum
• menekan bekas tempat bekas tusukan jarum dengan
kapas alkohol kalau perlu di plester
• membereskan alat-alat
• mencuci tangan
• mengobservasi reaksi obat
memeberikan cairan intravena dan
obat dengan aman :
• lakukan prinsip 5 benar
• kebanyakan obat memerlukan mengenceran minimum dan /
kecepatan aliran
• hanya 1 antibiotik yang diberikan sekali secara I.V. jalur I.V. dibilas
diantara pemberian antibiotic
• jangan pernah memberikan obat , air steril , atau air dekstrosa
dengan darah atau produk darah .
• anda harus memantau dengan cermat semua pasien yang
mendapat terapi I.V. perhatikan pasien terhadap adanya tanda
reaksi merugikan , termasuk ruam , masalah pernapasan ,
peningkatan nadi , muntah dan tanda dehidrasi atau kelebihan
beban cairan
• periksa tempat pemasangan infuse terhadap adanya
pengbengkakkan , kemerahan , kekerasan , nyeri atau hangat
• periksa kecepatan I.V.untuk meyakinkan kecepatan aliran yang tepat
, pantau dengan cermat dan sering pada bayi , anak, lansia , pasien
sakit akut , dehidrasi , penyakit jantung , atau ginjal atau diabetes.